
Satria Pengawal Samudra untuk Indonesia Tumbuh Indonesia Maju adalah tema dalam peringatan Hari Armada ke 76 tahun ini. Seluruh anggota berlatih untuk memperingati hari armada tersebut. Seluruh kota pahlawan gegap gempita menyambut hari perayaan Navy Day. Pameran Alat Utama Sistem Senjata Tentara Nasional Indonesia (Alutsista) di sepanjang jalan Tunjungan sampai Grahadi. Pelaksanaan rekayasa lalu lintas untuk mencegah kemacetan.
Aku mempersiapkan anggota dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, mulai dari pagi yaitu apel kesiapan, gladi dan banyak lagi lainnya, pokoknya super sibuk deh.
Pameran Alutsista digelar mulai pukul lima belas, tapi sejak siang hari Tunjungan sudah dipenuhi orang yang ingin menyaksikan pameran tersebut. Stand bazar dan pedagang UMKM berjajar sepanjang jalan, segala jenis makanan dan jajanan tersedia disana.
Pada saat pameran, aku dan prajurit TNI AL lainnya defile pasukan di sepanjang jalan Tunjungan. TNI AL merupakan kebanggaan warga Surabaya. Setiap acara yang diadakan selalu meriah dan membangkit semangat juang tinggi.
Hingga malam pawai dan acara lainnya masih digelar. Latihan berminggu-minggu ditutup dengan manis, semua berjalan sesuai rencana. Lelah, tapi bahagia, lega rasanya menyelesaikan semua dengan sebaik-baiknya.
Pawai telah usai tapi keramaian warga pengunjung masih tetap padat. Mereka banyak yang meminta foto selfie, wefie dengan para anggota dan kendaraan perang lainnya. Aku membuka beberapa atribut di badan sambil melepas lelah. Secangkir kopi memberikan ketenangan, sambil menyandarkan kepala ke dinding, kantuk menyerang.
“Pak Imam!” aku dibangunkan seseorang yang menggoyang-goyangkan tubuhku. Aku membuka mata lalu menegakkan badan.
“Lita, sejak kapan disini?” tanyaku pada sosok yang tengah berdiri tepat di depanku.
“Dari tadi saya cari Bapak, akhirnya ketemu juga. Di telpon gak ngangkat!” Lita berkata manja. Aku menguap dan mengedipkan mata berkali-kali, ngantuknya belum hilang.
“Duduk sini!” aku menggeser baret dan senjata agar kursi disebelahku bisa diduduki Lita.
“Pak, pake lagi topinya. Pengen foto bareng!” pinta Lita.
“Foto aja sama anggota yang masih pake atribut lengkap, lagi males pake ini!” aku menunjuk atribut didekatku.
Lita memajukan mulutnya, imut sekali. “Mau minum apa?” tanyaku.
“Kopi itu!” Lita menunjuk cangkir kopiku yang tinggal setengah.
“Mau yang itu? Nanti kamu ketularan penyakit saya lho!” aku suka mati kutu didepan Lita gini, bucin banget rayuannya deh.
“Kalau kita punya penyakit yang sama berarti jodoh!” ucapnya sambil mengambil cangkir yang di meja. Aku segera merebutnya, “sudah dingin, ganti aja yang panas ya!” aku membuang isi cangkir tersebut.
“Yang panas itu disini!” Lita menunjuk keningnya, lalu aku menyentuh keningnya dengan punggung tangan, “gak panas tuh!”
“Owh, berarti yang ini,” Lita menyentuh dadanya.
“Berarti kamu butuh minuman dingin, nih beli sana!” aku merogoh kantong lalu memberikan selembar uang merah pada Lita.
“Jagain tempat duduk saya ya Pak. Jangan boleh ada yang duduk disini selain saya!” Lita memberi mandat lalu menjauh. Baru lima langkah, Lita kembali lagi, “Bapak mau minta beliin apa? Mumpung saya yang beliin nih!” Lita melebarkan uang merah yang tadi kuberi di depan wajahnya sambil tersenyum.
__ADS_1
“Samain aja sama yang kamu beli, kebetulan saya belum makan!” jawabku.
“Oke, siap Ndan!” Lita memberi hormat padaku dan berlalu pergi.
Lita kembali dengan membawa bungkusan besar, lalu dia meletakkan bungkusan itu diatas meja. Dua meal box dan dua gelas jumbo minuman dingin.
“Kok belinya cuma dua?” tanyaku. Lita melotot melihatku, “siapa lagi yang mau dibeliin? Tadi Bapak gak bilang!”
“Saya Lapar, segini kurang!” aku menunjuk meal box yang beli Lita.
“Ini ada snack lagi yang lain!” Lita kelihatan bersalah.
“Gak kok, cuma bercanda. Aku bangkit lalu mencuci tangan lalu membuka meal box yang dibeli Lita. Nasi biryani dan kari kambing yang masih mengepul, boleh juga seleranya, padahal di sekitar sini banyak makanan tradisional. Aku menyeruput minuman yang dihidangkan Lita, kurang familiar di lidah tapi enak juga. Mungkin di kalangan anak muda seperti Lita, minuman seperti ini banyak digandrungi.
Setelah selesai, Lita membersihkan meja dan duduk manis disebelahku. “Kenyang?” tanyaku, dia mengangguk sambil menyedot minumannya.
“Oh iya, ini nota dan uang sisanya,” Lita memberikan secarik kertas dan beberapa uang kembalian. Aku membaca struk belinya dan menghitung sisa uang, sama persis sisa uangnya. “Sisanya buat kamu!” aku menyodorkan uang yang tadi diberikan Lita padaku.
“Terima kasih,” Lita kelihatan senang menerima uang yang tak seberapa itu.
“Pak…!” Lita menepuk punggung tanganku.
“Apa?” jawabku.
Aku mengangguk, malas menjawab. “Kan kita gak ada apa-apa, kok dia marah sampai minta putus sih? Apa beneran Bapak suka sama saya? Terus ketauan mbak Utami?” Lita merubah posisi duduknya ke hadapanku.
“Siapa bilang kita gak ada apa-apa?” aku membuang muka menghindari tatapan matanya.
“Jadi Bapak beneran suka sama saya? Kita sama-sama suka?” Lita menunjuk aku dan dirinya sendiri.
“Kamu mau ngeprank saya lagi? Sebentar lagi saya mau menikah. Tunggu aja undangannya!” ucapku.
“Kalau undangannya datang setelah saya lulus, gimana? Saya mau balik lagi ke Lampung, Bapak mau nyusul?” tanya Lita serius. Asemlah anak satu ini, gimana cara mengalahkannya.
“Nikahnya kan gak sama kamu, kalaupun kamu gak datang, saya masih tetap bisa melangsungkan pernikahan kok!” aku mencibirnya.
“Iya, saya tau. Maksudnya, Bapak mau nikah tapi gak tau kapan, bisa jadi setelah saya lulus dan gak di Surabaya lagi!” Lita balas mencibir.
“Kok kamu gak percaya banget sih!” aku mengepalkan kedua tangan dibawah dagu.
__ADS_1
“Iya, percaya. Kalau dipaksa untuk percaya, saya bakal percaya kok!” Lita memberikan jempolnya, aku tersenyum melihatnya. Menggemaskan sekali sih, rambut sekuping, postur badan tinggi, tegap, pantas sekali jadi kowal, kayak Resti, eh Resti lagi.
“Eh, Pak. Nikahnya sama laki apa perempuan?” Lita mencolek lenganku.
Aku menyentil tangannya, “saya normal, pasti nikahnya sama perempuan, bukan laki kayak kamu!”
Ha … ha …. Lita tertawa lepas, garis di pipinya membentuk kumisnya kucing, kayak ada manis-manisnya gitu.
“Sudah malam lho, kamu pulang sama siapa?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Ojek banyak Pak! Nanti ya pulangnya, pengen ngomong sama Bapak dulu!” Lita memohon.
“Dari tadi kan sudah ngomong, apa lagi yang mau diomongin?” aku bertanya.
“Ehm, saya mau minta maaf. Karena saya, Bapak dan mbak Utami jadi putus!” Lita menunduk. Bisaan aja sih anak kecil satu ini.
“Iya, sudah saya maafkan, pulang sana! Uang yang dari saya tadi cukup untuk ojek pulang kan?”
“Iya, cukup. Tapi Pak…,”
“Apa lagi?” potongku.
“Saya merasa gak enak sama Bapak dan mbak Utami,” Lita mengecilkan suara lalu menunduk lagi.
“Sudah lewat, biarin aja. Alasan putusnya juga bukan hanya karena kamu. Ini masalah saya dan Utami, kamu gak terlibat kok,” kataku.
“Waktu itu Bapak ngaku suka sama saya kan?” Lita kini berani melirikku.
“Iya, kamu juga ngaku cemburu kalau saya dekat-dekat Utami kan?” aku memaksanya mengaku.
Lita mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar, “Mbak Utami itu sengaja banget mesra-mesraan sama Bapak di depan saya!”
“Dia juga cemburu sama kamu, makanya dia begitu. Kalau gak ada kamu ya biasa aja dia, jarang mepet saya,” aku tersenyum. Lita menutup wajah lalu geleng-geleng kepala. “Orang dewasa itu aneh ya, enakan jadi anak-anak aja. Eh, remaja maksudnya,”
“Selain usia dewasa, jam segini gak boleh diluar rumah,” aku melihat jam tangan yang melingkar di tangan kanan. Lita membuka tangannya dari wajah. “Pak, sebenarnya kita ini sama-sama suka, tapi kok kayaknya gak pantas bersama, kenapa ya?”
“Karena saya sudah dewasa, kamu belum. Ayo sana pulang, sudah malam!” aku mengusirnya sebelum bucin-bucinnya keluar semua.
“Pak, salanghae,” Lita menjepitkan jari telunjuk dan jempolnya ke arahku. Aku membalasnya dengan dua tangan membentuk hati dengan jari telunjuk dan jempol, “pulang sana!”
__ADS_1
“Ih, gak romantis banget sih Pak!” Lita mendelik lalu menjauh pergi, tak jauh dari tempat dudukku, dia berbalik, “makasih ya Pak!” lalu melambaikan tangan.
Sudah pukul sepuluh malam lebih tapi suasana masih juga ramai, aku mengaktifkan ponsel. Banyak sekali panggilan masuk dari Lita sejak siang tadi. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk, ‘Kembalilah separuh jiwaku.’ Aku membuka foto profil dari pengirimnya, Almayra Restita Tunggadewi.