
Aku memimpin anak buahku untuk latihan fisik minggu ini. Latihan yang rutin dapat menjaga stamina dan kemampuan anggota, sehingga suatu saat dibutuhkan para anggota selalu siap menghadapi.
Selain latihan fisik aku juga membiasakan anggota untuk latihan bela diri.
Pagi ini gerimis tipis datang, membuat siapapun enggan bergerak dari peraduannya. Tapi aku tetap mengumpulkan anggota dan ikut bersama melakukan pemanasan. Pemanasan yang dilakukan cukup lari kecil mengelilingi markas dan kawasan sekitarnya. Bagi seorang abdi negara, hujan deras saja tak dapat menghalangi jalannya sebuah kegiatan, apalagi hanya gerimis tipis.
Setelah berkeliling kurang lebih lima kilometer, kami sarapan pagi. Hendrik telah mempersiapkan menu sarapan yang sehat, bergizi dan mengenyangkan.
Satu berlalu setelah istirahat makan, kami meneruskan latihan taekwondo. Seluruh anggota ikut dalam latihan ini. Matahari mulai menampakkan diri, sambil berlatih kami dapat mengeringkan pakaian yang kami kenakan karena gerimis pagi tadi.
Ditengah-tengah latihan sebuah mobil SUV mendekat. Seorang pegawai tampak tergesa-gesa mencariku.
"Pak Imam!" teriaknya memanggilku.
Aku keluar dari barisan dan menemuinya, "ada apa?"
"Ada tamu yang mencari anda," katanya.
"Siapa?" tanyaku.
"Ibu yang dulu pernah datang, dia marah-marah lagi dikantor padahal saya sudah bilang Bapak tidak ada dikantor," jawabnya.
"Ibu-ibu? Siapa ya?" aku penasaran.
"Itu lho, besannya kolonel Teguh," bisik pegawai itu.
"Oh, bilang saja saya masih latihan. Kalau masih ingin menemui saya, silahkan tunggu dikantor sampai istirahat siang. Saya gak bisa meninggalkan anggota yang sedang latihan sekarang."
"Aduh Pak, ibu tadi ngamuk luar biasa. Pusing saya dengerin ibu itu ngomel dari tadi. Gimana cara ngusirnya?"
"Jangan diusir, katakan dengan baik bahwa saya sedang memimpin anak buah latihan. Oh ya, satu lagi, tidak usah terpancing emosi," saranku.
__ADS_1
"Bapak aja yang nemuin orang itu ya. Pusing saya sama ocehannya."
"Coba dulu, saya melatih anggota disini. Tolong dibicarakan dengan baik dan hati-hati. Nanti kalau dia masih ngotot ingin bertemu saya, silahkan diarahkan kesini aja. Yang jelas, sekarang saya gak bisa meninggalkan tempat ini sampai dengan selesai latihan."
"Baik Pak, saya akan coba jelaskan pada ibu itu," jawab pegawai itu.
"Sip, terima kasih ya. Ingat, hati-hati dan jangan terpancing emosi," aku mengangkat jempol kanan.
"Siap Pak," jawab staf pegawai kantor itu ragu ragu lalu meninggalkan lapangan tempatku berlatih dengan mobilnya. Mau apalagi sih ibu itu, aneh.
Ketika sparing satu lawan satu, aku melihat ibu mertua Resti mendekati lapangan. Nyalinya ternyata gede juga nih, tapi tata kramanya sangat kurang. Pegawai yang tadi pagi mendatangiku ikut turut bersamanya, tampaknya dia berusaha mengulur waktu.
Tiba-tiba bruuk, aku kurang fokus hingga berhasil dibanting Hasyim, lawan sparingku.
"Mana yang namanya Imam?" teriak ibu itu lantang.
Aku merasa nyeri dibokong dan punggung mencoba berdiri dengan dibantu Hasyim, "maaf ya Ndan!" kata Hasyim padaku.
"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku pada ibu itu.
"Kamu jangan ngajarin Resti untuk jual rumah Irvan ya! Saya gak terima!" teriak ibu itu. Panas telingaku mendengarnya, semua anak buahku memandang kami.
"Mari kita keruangan saya, kita bicarakan disana," aku memberi isyarat tangan ke arah kantor.
"Tidak perlu, tadi saya sudah lama sekali menunggu disana! Saya minta anda jauhi Resti sekarang juga, jangan pernah dekati dan pengaruhi dia untuk menjual harta peninggalan Irvan! Karena harta milik Irvan adalah milik saya. Resti tidak berhak sama sekali atas rumah dan harta benda milik Irvan, apalagi kamu yang bukan bagian dari keluarga kami!"
Aku menyeka keringat dikening dengan lengan baju dan berkata, "saya tidak mengerti dengan apa yang anda bicarakan."
"Jangan pura-pura bodoh, pokoknya jangan dekatin Resti lagi. Jangan campuri urusan keluarga saya," kata ibu itu dengan nada yang masih tinggi.
"Maaf Bu, saya gak berhubungan dengan keluarga anda maupun Resti, apalagi mempengaruhi, menyuruh dia untuk melakukan suatu hal yang diluar hak dan kendali saya, itu sangat tidak mungkin saya lakukan. Tuduhan anda sangat tidak berdasar. Sebaiknya selesaikan masalah anda dengan menantu anda sendiri tanpa melibatkan saya."
__ADS_1
"Tanpa campur tangan anda, tak mungkin Resti berniat menjual rumah itu, iya kan?" cecarnya.
"Saya baru tahu kalau rumah itu akan dijual hari ini, sebelumnya gak pernah tau," terangku.
"Halah pandai sekali berpura-pura, sudahlah ngaku aja. Sejak Resti dekat lagi sama kamu, dia mulai berani bertingkah, berani pada saya, bahkan berani menjual rumah itu."
"Anda punya bukti?" tantangku.
"Resti sendiri yang bilang begitu!" jawabnya tegas.
"Kapan dia mengatakan hal itu pada anda?" tanyaku untuk memastikan.
"Kemarin," jawabnya singkat.
"Oh ya? Sudah lama sekali saya tidak bertemu Resti. Saya rasa sangat tidak mungkin saya dengan sengaja mempengaruhi dia untuk melakukan hal tersebut. Mungkin kita perlu bertemu bersama dan meluruskan hal yang salah."
"Tidak perlu. Kamu kan yang ngejar-ngejar Resti, setelah dia termakan rayuanmu, kamu bebas mempengaruhi Resti! Jadi sekarang kamu yang harus bertanggung jawab merubah pendirian Resti untuk tidak menjual rumah itu!"
"Saya merasa hal ini tak ada kaitannya dengan saya. Jadi maaf permintaan anda tidak dapat saya laksanakan."
"Keterlaluan sekali kamu, sudah berbuat tapi tidak mau bertanggung jawab!"
"Apa yang harus saya pertanggungjawabkan? Tuduhan ini sangat tak berdasar sama sekali."
"Didunia ini mana ada maling yang mau ngaku! Dulu sewaktu Irvan masih hidup saja, kamu berani mengganggu rumah tangga anak saya, apalagi setelah anak saya gak ada. Puas kamu sudah membunuh anak dan cucu saya? Sekarang malah berani nyuruh Resti menjual rumah itu. Jadi selain Resti yang kamu incar, sekarang kamu kamu juga mengincar harta benda milik Irvan? Selama saya masih ada didunia ini, jangan harap kamu bisa melakukan semua apa yang kamu inginkan!"
"Mohon maaf, saya masih sibuk melatih anggota saya. Silahkan meninggalkan tempat ini," ucapku berbalik badan dan berjalan mendekati para anggota masih masih sparing.
"Bilang saja kalau kamu mau dengan Resti karena harta peninggalan Irvan kan?" ibu itu berteriak saat aku mulai menjauh, sehingga hampir semua anggota mendengarnya. Sesaat para anggota berhenti melakukan aktifitas karena teriakan ibu itu.
Aku berbalik badan dan mendekati ibu itu lagi dengan penuh emosi, "anda benar, setelah ini saya akan menikahi Resti. Semoga anda puas, saya tunggu restu dari anda dan suami anda. Terima kasih dan silahkan pergi dari sini."
__ADS_1
"Imam, saya tunggu diruangan saya sekarang juga!" suara kolonel Teguh tiba-tiba dari samping kami.