Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
46. Pesiar


__ADS_3

Entah ada angin apa Erwin datang ke mess magrib ini. Aku santai shalat, tapi dia heboh minta aku untuk cepat-cepat.


“Mau kemana sih?”


“Pesiar, kalau gak dijemputin satu-satu kayak gini, pasti ada aja alasannya.”


“Iya, sekarang kita jemput siapa lagi?”


“Suryo, Frans, Dimas, Hendrik kamu aja yang manggil, gak susah kan dia?”


“Ritonga?”


“Sudah nunggu disana dia!”


“Bagas?”


Erwin menoyor kepalaku, “ayo cepat!”


Dijalan aku mengontek Hendrik untuk segera ke Metropool. Bagas adalah Komandan Kompi kami, Kapten Bagas.


Letak rumah dinas Suryo berdekatan dengan rumah Dimas jadi kami berbagi tugas untuk menjemput kedua.


“Assalamualaikum,” aku memberi salam sambil mengetuk pintu rumah Suryo.


“Waalaikumsalam, masuk bro. Sama siapa?” tanyanya melirik keluar, tak ada mobil terparkir didepan rumah.


“Erwin, mobilnya didepan rumah Dimas. Ayo ikut!”


“Kemana? ayo makan dulu, istriku lagi pulang kerumah orang tuanya.”


“Pas, cocok. Makan disana aja. Yang lain juga belum makan. Ayolah, cepat!”


“Kemana?”


“Pesiar, Erwin dah nungguin tuh. Ritonga sudah disana sama Hendrik. Frans kamu yang manggil aja! Metropool.”


“Pesta bujang nih?”


“Iya, makanya cepet!”


Suryo mempersiapkan dirinya, lalu keluar dari kamar, “ajak siapa lagi? Koh Benny ajak ya!"


"Boleh, ajakin aja bos-bos yang lain juga!"


"Siap!"


Koh Benny adalah bos perhiasan yang sering meminta bantuan keamanan pada Suryo dan anak buahnya.


Agak drama untuk menjemput Dimas, karena istrinya ngotot minta ikut, setelah aku dan Suryo mendatangi rumahnya, barulah istri Dimas agak luntur dan memperbolehkan Dimas ikut kami untuk pesiar.


Sepanjang jalan kami membahas istri masing-masing, sudah jarang sekali kami pesiar bersama. Diantara teman leting kami hanya aku dan Frans yang belum menikah, tapi Frans sudah punya tunangan, step a head dibanding aku dan ini jadi bahan bulian mereka padaku.


Hendrik dan Ritonga sudah menunggu ditempat, kami langsung mengambil meja yang sudah dipilih Hendrik.


Koh Benny datang agak telat bersama Tomi, pengusaha kuliner yang juga teman kami.


“Jadi setelah ini, siapa yang mau nikah?” tanya Anton anak dari pemilik metropool.

__ADS_1


“Imam.”


“Koh Benny.”


“Frans, mana Frans? Kok belum dateng?”


Kami bersahutan saling tunjuk.


“Frans izin, lagi cuti melahirkan,” jawab Suryo, jawaban Suryo membuat kami tertawa.


“Koh, mau saya kenalin cewek ga? Janda anak satu, tapi anaknya sudah meninggal. Cuantiknya sampe tumpah-tumpah deh,” kata Hendrik sambil cengengesan melihat kearahku.


“Mana? ada fotonya gak?”


“Imam yang suka ngoleksi fotonya! ha ....” Erwin tertawa puas sekali.


“Saingan sama Imam? Berat nih kayaknya!” Koh Benny melirikku.


“Cewek biasanya kalau dikasih hadiah gampang luntur Koh! apalagi perhiasan,” kataku.


“Kalau dia sukanya sama kamu, terus aku ngasih perhiasan ke dia, gimana kalau dia gak ada respon ke aku? Gak balik modal aku!”


“Perhitungan banget sama cewek sih!”


Kami tertawa bersama , aslinya sebel juga kalau mereka ngebahas Resti disini.


Disela obrolan kami, Frans datang dan langsung ikut nimbrung dimeja kami. Koh Benny sudah setahun lebih ditinggal istrinya. Sebagai pengusaha sukses sebenarnya mudah saja baginya untuk mendapatkan istri baru tapi sejak menjadi mualaf, Koh Benny lebih selektif memilih teman atau istri.


“Frans, coba carikan foto Resti, Koh Benny mau lihat orangnya!” Suryo memerintahkan wandannya itu.


“Aku nyimpen deh kayanya,” Frans membuka galeri dalam ponselnya. Waduh bisa bahaya kalau foto dan Resti dibuka Frans disini.


“Tinggi semampai, kaya model ya! Ada yang kelihatan mukanya?” tanya koh Benny.


“Ada nih, lihat aku sosmednya. Fotonya kece badai!” Ritonga memperlihatkan isi foto dengan berbagai pose pada sosmed milih Resti, dia memang pantas menjadi model, postur badannya, wajahnya, perfect.


“Jangan ngiler, Mam!” Suryo menepuk pipiku.


“Sebenarnya, dia siapanya Imam?” tanya Koh Benny.


“Mantannya,” jawab mereka kompak.


“Lah, aku dikasih bekasnya Imam, gak mau lah,” kata Koh Imam.


“Koh Benny aja bekasan orang kok, sama-sama second cocok lah!” ucapku.


“Nanti kalau Koh Benny nikah sama Resti kamu tenggelam lagi Mam, mati kamu! gak ada Utami lagi yang bisa nolong!” Hendrik meledekku.


Semua tertawa mendengar lelucon Hendrik, asem lah!


"Jadi intinya boleh gak nih, Mam?" Tanya Koh Benny.


"Boleh, gak usah izin Imam lagi. Gak ada apa-apa lagi Resti sama Imam," Suryo menjawab lebih dulu daripada aku.


"Berat kayaknya Koh!” Frans melirikku jahil.


“Coba aja Koh!” jawabku pasrah.

__ADS_1


“Dia tentara ya?” tanya Koh Benny.


“Iya,” jawab kami serentak.


“Kalau punya istri Resti, gak usah pake pengamanan dari Suryo lagi Koh! lebih hemat,” timpalku.


“Wah, bener juga. Gimana Sur? Berkurang mata pencaharian,” ledek Koh Benny. Suryo hanya tersenyum tanpa menjawab.


“Kayaknya orang ini cocok sekali ya sama Koh Benny, gak kalah sama istrinya yang dulu. Aku dukung deh!” Tomi memberi semangat pada koh Benny.


“Jadi kapan aku bisa dikenalin sama cewek cantik ini, siapa namanya?” tanya Koh Benny.


“Resti, Almayra Restita Tunggadewi bin Teguh Irawan,” jawabku lengkap diiringi tepuk tangan teman-teman.


“Tunggu, pelan-pelan, Mam. Dicatat dulu biar Koh Benny gampang ngirim mustika pemikat,” Dimas menambahkan.


"Coba aku ngirim juga lah. Adu ilmu sama Koh Benny, mustika siapa yang duluan berhasil memikat Resti," kata Anton.


Baiklah, kita lihat kesetian Resti, kalau memang dia matre berarti memang tak cocok untukku, kalau dia gak matre berarti dia memang milikku.


“Besok kita mulai ngenalin Koh Benny dengan Resti ya!”


“Siap!” aku menaruh tangan diatas meja diikuti teman-teman yang juga menaruh tangannya diatas tanganku lalu kami berteriak bersama. Grup kami menjadi grup yang paling ramai diantara meja-meja lainnya.


***


Ternyata teman-teman benar mengatur waktu dan tempat untuk memperkenalkan Koh Benny dan Resti, luar biasa, gak mandang aku banget sih. Kalau dibilang sedih ya pastilah, tapi aku mencoba ikhlas agar mengetahui sejauh mana kesetiaan hati Resti.


Direstoran milik Tomi, mereka menggunakan namaku untuk membuat janji dengan Resti, keterlaluan.


Aku diminta tidak datang, sedang Tomi mempersiapkan candle light yang sangat romantis untuk mereka.


Dari info yang aku terima, Resti menyambut baik kehadiran Koh Benny, meski terlihat kaget dan gugup. Lebih dari dua jam perkenalan mereka. Dari mess aku mendengarkan apa yang terjadi diantara mereka. Sakit? Gak usah ditanya lagi, sudah pasti itu. Rasa cemas dan kecewa sudah memenuhi dada, aku menonaktifkan ponsel dan memejamkan mata. Benar, dia mudah sekali berubah hatinya.


Aku meminjam motor milik anggota dan keluar tanpa arah tujuan hingga aku sadar bahwa motor ini membawaku ke bilangan Keputih. Tak tahu kenapa motor ini melaju ke arah kosan Lita. Sudah berapa purnama aku tak melihatnya. 


Tepat didepan gerbang kosan Lita aku menghentikan laju sepeda motor lalu meminta izin pada penjaga gerbang untuk menemui Lita.


Lita turun mengenakan kaos oblong dan jeans yang sobek dengkulnya, rambutnya kini menutupi lehernya, lebih panjang dari yang dulu, bukan potongan kowal lagi.


“Ada apa Pak?” tanyanya santai.


Aku menatapnya dengan diam.


“Saya siap-siap dulu ya, tunggu sebentar!”


Lita naik lagi ke kamarnya lalu keluar lagi dengan menggunakan jaket jeans dan sepatu kets.


“Oke, siap. Kita berangkat!” Lita menggandengku tanpa bertanya terlebih dahulu.


“Wah, Bapak bawa motor ya? Saya suka banget ngebut-ngebutan naik motor. Ada helm untuk saya?” tanya Lita, aku menggeleng.


“Saya cari pinjaman dulu ya!”


Aku menunggu diatas motor, tak lama Lita naik dibelakangku tanpa aba-aba.


“Siap?” tanyaku.

__ADS_1


“Siap, Ndan!” jawabnya lantang. 


  


__ADS_2