
"Imam, keruangan saya sekarang!" kapten Bagas menelponku tanpa basa-basi lalu mematikan sambungan teleponnya meski belum sempat kujawab.
Fix, tebakan Lita benar. Ah, cuma dipanggil, gak dihukum, kataku dalam hati.
Aku mengetuk pintu ruang Danki, lalu masuk. Aku memberi hormat pada Danki, "duduk!" kata kapten Bagas.
Aku melepas baret lalu duduk dikursi tepat didepan kapten Bagas.
"Ada surat panggilan untukmu dari pomal terkait kasus penculikan. Apa kamu terlibat?" tanya kapten Bagas.
"Penculikan? Siapa? Saya tidak mengerti maksud Komandan," aku masih bingung.
"Seorang dokter bernama Utami Puspita di Malang. Dari pengembangan kasus, kamu adalah orang yang diduga kuat terlibat dalam kasus tersebut!" jelas kapten Bagas.
"Utami diculik? Saya benar-benar gak tau berita penculikan ini. Dimana Utami sekarang?" aku langsung cemas mendengar berita ini.
"Hari Minggu kemarin adalah hari pernikahan Utami dengan dokter Harun, semua persiapan sudah selesai, tapi tiba-tiba malam sebelum hari H kediaman orang tua Utami dibobol, beberapa benda berharga hilang termasuk Utami. Apa kamu terlibat?" kapten Bagas menanyakan aku lagi.
"Siap, tidak Ndan, sama sekali saya gak pernah berhubungan lagi dengan Utami sejak kami putus beberapa bulan yang lalu," sanggahku.
"Ingat, tidak ada satu anggota pun yang bersalah bisa lolos dari hukum!" hardik kapten Bagas.
"Tidak, Ndan. Saya tidak pernah bertemu, tidak pernah berhubungan, tidak pernah tau lagi kabar tentang Utami. Bahkan saya baru tahu kalau kemarin dia akan menikah, saya pikir sudah dari kemarin-kemarin nikahnya," ucapku.
"Jangan kamu pikir, kamu dekat dengan Danyon, kamu bisa lolos dari hukum!" bentak kapten Bagas.
"Siap, saya akan buktikan bahwa saya tidak terlibat dalam kasus tersebut," ucapku lantang.
"Bawa surat panggilan ini ke Mako Pomal. Minta arahan dari Danyon sebelum berangkat kesana, tadi saya sudah sounding ke beliau!" Danki mengarahkanku.
"Siap, laksanakan!" aku menerima surat panggilan itu, lalu kubaca dengan teliti. Setelah selesai membaca surat panggilan tersebut, aku berdiri lalu memberi hormat pada Danki dan meninggalkan tempat.
Ruang Danyon berada di lantai tiga, aku setengah berlari menuju ruangannya. Meski Danki marah dan menuduh aku, tapi beliau tetap mengarahkan aku untuk minta saran pada Danyon sebelum pergi ke Mako Pomal.
Sampai di lantai tiga, seorang kowal yang duduk di depan ruang Danyon segera mengarahkan aku ke ruangan kolonel Teguh. Aku masuk ke ruangannya lalu memberi hormat padanya.
"Siapa dokter Utami itu?" tanya kolonel Teguh sebelum aku duduk.
Aku duduk dikursi lalu berkata, "Utami itu mantan pacar saya Ndan. Kami putus beberapa bulan yang lalu. Setelah itu saya gak pernah tahu atau berhubungan dengan dia lagi. Bahkan saya baru tau kalau dia baru mau menikah kemarin, saya pikir sudah dari dulu nikahnya dengan dokter Harun," jawabku.
__ADS_1
"Kamu kenal dengan dokter Harun?" tanya kolonel Teguh.
"Saya baru sekali bertemu, lalu tidak pernah bertemu lagi. Di depan saya, Utami memilih dokter Harun dibanding saya. Dari situ saya melepasnya, dan menjauh. Saya gak pernah tau atau sengaja mencari tau kabar dia," aku menjelaskan.
"Kamu dalam bahaya Mam, dokter Harun itu orang yang berpengaruh di Malang. Kalau kamu benar-benar terlibat, saya gak bisa nolong kamu!" kolonel Teguh terlihat ragu padaku.
"Siap, Ndan. Saya tidak akan berbuat senekat itu," tandasku.
"Baiklah, sekarang kamu berangkatlah ke Mako Pomal, katakan sejujurnya pada penyidik. Bawa nama baik kesatuan. Dan jangan lupa berdoa," kolonel Teguh berpesan.
"Siap, laksanakan!" aku berdiri lalu memberi hormat. Kolonel Teguh memegang kedua bahuku, "hati-hati, pertanyaan mereka bisa menjebakmu, jangan berhenti dzikir. Mereka akan membuatmu marah, emosi, stress, kecapean, bingung dan lain sebagainya. Fokus!"
"Siap, Ndan!" teriakku lantang.
Aku tiba di Mako Pomal pukul sembilan lebih empat puluh menit. Aku berdoa, bermunajat, meminta perlindungan Allah lalu menelpon Hendrik, "halo Ndan, dimana? Tadi dicari kapten Bagas!"
"Saya dipanggil ke Mako Pomal. Utami hilang kemarin sebelum pernikahannya dengan dokter itu, saya diduga terlibat atas hilangnya Utami. Mohon doanya ya!" jawabku.
"Yang bener Ndan?" Hendrik tak percaya.
"Iya, saya titip anak buah ya! Sebelum kesini saya sudah menghadap Danki dan Danton untuk minta petunjuk. Minta tolong doanya ya!" aku berpesan pada Hendrik.
"Siap, Ndan!" jawab Hendrik lantang.
Kurang lebih satu jam aku menunggu diruangan ini sendiri. Lalu seorang anggota pomal memanggilku, dia mengantarku ke ruangan penyidikan.
Hal pertama yang ditanyakan penyidik adalah identitasku, lalu hubunganku dengan Utami dan lain-lain. Semua pesan yang dikatakan kolonel Teguh terbukti, pertanyaan penyidik membuatku terdesak, emosi, gugup, bingung dan lain-lain. Lelah, itu sangat aku rasakan. Pemeriksaan secara maraton ini berlangsung hingga pukul sembilan malam, dengan waktu istirahat hanya sebentar, yaitu waktu makan dan shalat. Luar biasa sekali.
Sampai di mess, teman-teman sudah ramai menungguku. Aku disambut seperti pejuang yang lolos dari kematian dalam peperangan. Di meja, berbagai hidangan tersedia. Setelah membersihkan diri, kami makan bersama, sambil makan kami bercanda bersenda gurau. Kehangatan teman-teman dalam menjamuku, sedikit menghilangkan penat dibadan dan kepala.
Setelah selesai makan, Suryo mengawali bertanya tentang penyidikan hari ini. Aku menceritakan secara detail apa yang aku alami hari ini, mulai dari panggilan dari kapten Bagas, lalu ke ruangan Danyon sampai penyidikan malam ini.
"Jadi aslinya kamu ada hubungan lagi gak sama Utami?" tanya Suryo.
"Ya gak ada. Terakhir ketemu itu ya seminggu sebelum lamaran Aisyah. Tanggal dua puluh Juni. Setelah itu gak pernah ada komunikasi sedikitpun. Aku malah gak tau kalo dia belum nikah, kirain udah nikah dari dulu-dulu," jawabku.
"Kira-kira Utami sengaja kabur apa memang diculik?" tanya Frans.
"Ya gak tau juga, katanya jendela kamarnya dirusak dari luar. Barang berharganya juga banyak yang hilang," jelasku lagi.
__ADS_1
"Dendam banget pastinya dokter Harun sama komandan, undangan sudah disebar. Malah ilang lagi calon pengantinnya," tandas Hendrik.
"Kalau Utami sengaja kabur, berarti dia masih berharap sama kamu Mam!" kata Suryo.
"Iya, tapi kalo gini kan malah bikin hubungan dia sama orang tuanya rusak," kataku.
"Kalau dibantu orang lain, siapa kira-kira yang bisa menyembunyikan Utami?" tanya Hendrik.
"Dimana Utami sekarang ya? Aman gak dia, dah makan apa belum?" aku memandang kosong ke arah depan.
"Sudahlah Mam, doakan saja yang terbaik untuk Utami," kata Suryo.
"Tadi saya datang ke kosannya Utami yang dulu, kata penjaganya, barang-barang Utami sudah gak ada lagi dikosan itu. Sudah lama dibersihkan, bahkan kamarnya sudah ada orang baru yang menempati," kata Hendrik.
"Bisa aku bayangkan gayanya Danki, pasti dia seneng banget kamu terlibat Mam, dia kan jealous banget sama kamu, karena kamu deket sama Danyon," kata Erwin lalu tertawa, yang pun ikut tertawa, hanya aku yang masih terdiam memikirkan Utami.
"Jadi gini, dulu aku pernah mimpi, Utami disekap di sebuah rumah, aku berhasil masuk dan melumpuhkan para penculik Utami, tapi akhirnya bos penculik itu malah menembak mati Utami. Sampe sekarang aku masih inget banget sama mimpi itu, mimpi itu kayaknya nyata banget. Terus semalem Lita bilang kalau besok aku bakal dipanggil dan dihukum Danki, rasanya semua kok berkaitan dan sangat nyata," aku menatap kosong ke arah depan.
"Mimpi itu hanya bunga tidur, gak ada kaitannya sama dunia nyata!" kata Suryo.
"Nah, kalo yang dibilang Lita itu gimana?" tanya Hendrik.
"Pas kebetulan aja!" jawab Erwin.
"Tapi Danki juga gak ngasih hukuman kan! Cuma manggil doang. Besok kayaknya dia diperiksa, soalnya tadi aku ngobrol sama kolonel Teguh, dia bilang besok dipanggil di Mako Pomal. Kalo Danyon dipanggil berarti Danki juga dipanggil kan?" tambah Suryo.
"Masa?" tanyaku, "besok itu jadwalku diperiksa lagi bareng orang tua Utami dan Harun lho!"
"Besok balik kesana lagi Ndan?" tanya Frans.
"Iya, untuk pertama kalinya ketemu sama orang tua Utami dalam suasana yang gak enak banget," jawabku.
"Lho, dari dulu gak pernah ketemu?" tanya Hendrik.
"Gak, Utami selalu menghindar kalo aku minta ketemu sama orang tuanya, padahal dia dah berkali-kali ketemu sama orang tuaku," jawabku.
"Ya sudah kalau besok masih ada penyidikan lagi, sebaiknya malam ini istirahat. Kita gak tau besok pemeriksaan sampe jam berapa. Besok kita kumpul lagi disini ya," Suryo memberi komando.
"Gak usah repot-repot besok ya, ditemenin malam ini aja aku dah seneng banget kok!"
__ADS_1
"Tenang aja bro, besok pokoknya kita kumpul lagi, Dimas, Ritonga malem ini gak dateng, besok mesti mereka datang. Kita semua dukung kamu Mam!" kata Erwin menepuk pundakku.
"Makasih ya!" teman-teman menyalamiku satu per satu lalu pulang.