Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
Part 5.2


__ADS_3

“Za….Ya ampun, ku kira kamu nggak berangkat. Aku udah khawatir banget lho, tuuh temen kamu si Rosa nggak berangkat. Gara-gara kemarin mungkin, yang pentinng sekarang kamu berangkat.”


“Tenang aja, aku berangkat kok.”


‘Ya udah sana duduk, bentar lagi masuk. Kamu capek ya? Mau aku beliin makanan nggak?”tanya Revan perhatian.


“Nggak ah, makasih. Ku kiraa udah masuk, hgilak capek baget.”


“Belum kok.”


“Huh.”


Zahra meletakkan tasnya di tempat duduknya dan duduk tenang sambil memakan roti yang ia bawa.


“Van, mau? Sini sarapan bareng!”


“Makasih nggak usah, aku udah sarapan tadi.”


“ya udah, aku sarapan dulu ya.”


“Iya, yang banyak biar gemuk.”


“Dasar, kamu.”


Zahra pun melanjutkan sarapannya dan bell masuk berbunyi, semua siswa bergegas masuk ke kelas masing-masing untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran.

__ADS_1


“Permisi…..” seseorang masuk ke ruang kelas Zahra. Zahra sangat terkejut ketika melihat siapa yang masuk ke kelasnya. Ternyata Dava, anak XI IPS 2 entah ada apa anak IPS bisa sampai di kelas anak IPA.


“Masukk…!”perintah guru yang sedang mengajar di kelas Zahra.


“Maaf, Bu menganggu. Saya mau panggil Zahra dan Revan untuk pergi ke ruang kepala sekolah!”


“Ada apa ya?”


“Maaf, saya kurang tahu.”


“Ya sudah, silahkan.”


Zahra dan Revan hanya celingukan, karena jarang-jarang kepala sekolah memanggil muridnya tiba-tiba. Revan, Zahra, dan Dava segera keluar dari kela dan pergi ke kantor kepala sekolah.


Suara derit pintu membuat kepala sekolah langsung melihat siapa yang masuk.


“Owh Revan to, silahkan masuk!”mereka bertiga pun segera masuk dan duduk di depan kepala sekolah.


“Jadi gini, dua Minggu lagi ada olimpiade IPA dan IPS. Nak Revan, Nak Zahraa, dan Naak Dava akan ibu ajukan sebagai kandidat SMA kita. Apakah kalian bersedia menjadi calon kandidat SMA kita?”


“Siap, Bu. “


“Ya sudah, mulai besok kita belajar bersama ya!”


“Baik, Bu,”

__ADS_1


“Ya sudah kalian boleh kembali ke kelas!”


“Baik, permisi.”


Mereka bertiga segera kembali ke kelas masing-masing, hujan turun dengan derasnya. Pelajaran berjalan dengan lancer, kini tiba saatnya jam pulang, zahraa massih menunggu sopirnya di pos satpam seperti biasa. Hujan masih sangat deras, sudah tiga puluh menit Zahraa menunggu sopirnya tetapi belum kunjunnga datang. Diusap kedua tangan Zahra secara bergantian, angin dingin membuat tubuh Zahra kedinginan.


“Ahhh….. Menyebalkannnn…..”gerutu Zahra. Krena tak dapat menahan dingin, Zahra memutuskan untuk pergi ke kantin sekolah yang sudah mulai sepi karena siswa-siswi sudah banyak yang pulang. Ketika di kantin, ia melihat Dava yang tengah duduk sendiri menikmati minuman di depanya, Dava sadar jika ia sedang dipandang oleh Zahra dan Dava tersenyum kepada Zahra. Tiba-tiba Zahra mengetahui jika sedari tadi Dava menyadari perilaku Zahraa, karena menahan malu Zahra hanya membalas senyuman Dava dan kembali ke pos satpam.


Revan baru saja keluar dari perpustakaan, dan segera mengambil mobilnya untuk pulang ke rumahnya. Langit masih gelap, hujan yang tadinya deras kini tinggal butiran-butiran kecil saja. Zahra masih saja berdiam diri di pos satpam untuk menunggu sopirnya datang menjemput.


Kringg…..Kringgg……


Zahra segera membuka ponselnya dan menlihat ternyata telephone dari mamanya, Zahra segera mengangkat telphonenya.


“Halo, Ma. Ada apa ya?”tanya Zahra.


“Kamu masih di seolah?”tanya mamanya.


“Iya, aku masih di sekolah. Ada apaya?”


“Mama jemput di sekolah ya? Mama mau ajak kamu ke restoran buat ketemu sama temen mama, ini ada papa juga.”


“Ya udah, nggak apa-apa. Cepet ya, sekolah udah mulai sepi nih.”


“Iya, sayang.”

__ADS_1


__ADS_2