
"Saya gak mau kamu jadi perusak hubungan Resti dengan Benny!" hardik kolonel Teguh.
“Siap, saya tidak akan mengulangi lagi!” jawabku lantang.
“Kalau kamu masih mau berdinas disini, jaga sikapmu!” kata kolonel Teguh sinis.
“Siap, laksanakan!” jawabku.
“Sekarang pergilah!” usir kolonel Teguh.
“Siap!”
Aku berdiri dari kursi lalu hormat, tanpa menunggu balasan hormatnya, aku meninggalkan ruang dengan kesal. Maksudnya apa coba? Yang ngajak makan siapa, kenapa aku yang kena. Memangnya dia sudah nanya Resti, apa yang terjadi tadi? Apa jangan-jangan Resti memutar balikkan fakta di depan ayahnya? Apa Resti sengaja memfitnah sehingga kolonel Teguh marah besar padaku? Kalau benar itu terjadi, mungkin Resti harus minta maaf padaku di depan ayahnya.
“Imam!” kolonel Teguh memanggilku lagi sebelum aku keluar ruangannya.
“Iya, Ndan,” aku berhenti didepan pintu yang telah terbuka.
“Bilang pada Benny, saya menunggu keseriusan dia!” kolonel Teguh memberi pesan.
“Siap, akan saya sampaikan.”
Aku segera keluar dan menutup pintu sebelum ada perintah lanjutan.
Setelah shalat magrib aku sengaja mengajak koh Benny bertemu lagi. Rasa kesal karena kata-kata kolonel Teguh tadi masih melekat dihati.
“Ada apa Mam? Kayaknya ada yang penting!” kata koh Benny.
“Iya, tadi sudah saya sampaikan pesan yang kemarin ke Resti,” jawabku.
“Kamu bilang apa?” kata koh Benny.
“Saya bilang koh Benny mau melamar dia, saran saya ke dia ya sebaiknya diterima aja.”
“Dia mau nerima saya?”
“Awalnya nggak, tapi setelah saya jelaskan lebih lanjut dia agak melunak.”
“Berarti dia belum positif menerima saya.”
“Ayolah, jangan pesimis kayak gitu. Dia gak punya alasan untuk menolak koh Benny.”
“Selama kamu masih hidup, pasti dia punya alasan untuk menolak saya!”
“Apa saya harus pergi dulu dari sini agar kalian bisa bersama?”
“Aku gak ngusir kamu Mam, jangan gitu dong. Maaf kalau aku salah ngomong tadi.”
Aku terdiam, tak menanggapi koh Benny.
“Mam,” koh Benny menepuk punggung tanganku.
“Tadi pas ngomong berdua sama Resti, ayahnya melihat kami. Sore tadi saya dipanggil ke ruangannya,” aku menatap koh Benny.
“Memangnya kamu ngapain? Kok sampe dipanggil?” koh Benny penasaran.
“Cuma ngobrol sambil makan doang!”
“Mesti ada yang lain, gak mungkin ayahnya sampe manggil kamu tanpa sebab.”
“Gak tau Koh, kayaknya biasa aja. Saya cuma bilang ke Resti bahwa koh Benny mau melamar, tolong diterima. itu aja, gak ada yang lain.”
__ADS_1
“Masa? Pegang-pegangan tangan juga ya?”
“Nggak, Resti yang pegang tangan saya, tapi cepat saya lepasin kok.”
“Tu kan ngaku juga!”
“Resti yang mulai!”
“Tapi kamu juga mau kan?”
“Nggak lah, amit-amit. Dia pegang tanganku langsung saya lepasin.”
“Ha … ha ….” Koh Benny tertawa mendengarnya. “Nanti saya tanya Resti aja langsung,”
“Iya, tanya aja!” tantangku.
“Kalau dia bilang, kamu yang duluan pegang-pegang tangannya!”
“Saya cium aja sekalian biar dia seneng.”
“Parah nih!”
“Jangan mudah memfitnah!”
“Wih, emosi nih. Iya, aku percaya kok.” Koh Benny masih menertawakan aku.
“Tadi kolonel Teguh titip pesan,” kataku.
“Apa?”
“Dia minta keseriusan koh Benny pada Resti. Sama seperti yang disampaikan Suryo kemarin.”
“Menurut saya iya begitu.”
“Iya ya. Kemarin-kemarin Resti pernah cerita, banyak laki-laki yang ngedeketin dia. Bahkan ada yang siap melamar, ada yang sudah ngomong ke ayahnya langsung.”
“Berarti harus gercep Koh!”
“High quality widow!”
“Tunggu apalagi? Gas poll.”
“Pengen melamar Resti dengan cara yang romantis, banyak yang lihat, jadi kemungkinan menolak lebih kecil.”
“Kalau dia menolak didepan orang banyak malah tambah malu Koh, ha ….” aku tertawa puas membalas ledekan koh Benny tadi.
“Meremehkan sekali,” koh Benny sewot.
“Eh, Koh. Tadi kolonel Teguh juga sempat mengancam saya.”
“Ngomong apa dia?”
“Jangan ganggu hubungan Resti dengan Benny! Terlalu banget kata-katanya.” Koh Benny langsung tertawa mendengar ucapanku itu.
“Iya, kamu tu ganggu pendiriannya Resti. Sudah bener dia sama aku, masih juga kamu deketin!”
“Yang minta disampein pesan kan koh Benny kemarin. Tau gitu saya gak mau lagi disuruh-suruh lagi urusan Resti.”
“Ah, gampang sekali kamu merajuk!” koh Benny mengelus pundakku.
“Apa saya mutasi aja dari Surabaya seperti yang diusulkan bu komandan malam itu!”
__ADS_1
“Ya gak harus begitu Mam! Yang penting kamu gak deket sama Resti lagi sudah cukup.”
“Tapi saya juga mau lihat kalian sering-sering jalan berdua. Kita temenan, gak mungkin saling menjauh hanya karena gak mau lihat Resti. Apalagi nanti kalau kalian benar menikah, saya gak mau datang!” aku menutup wajah dengan kedua tangan.
“Hal yang seperti itu yang aku hindari Mam. Aku gak pengen punya istri tapi kehilangan teman.”
“Mungkin kita bisa atur agar kita gak kehilangan sesuatu demi mendapatkan sesuatu hal tersebut.”
“Kalau misalnya mutasi, pindah kemana?”
“Ya gak tau juga, atasan yang mengatur itu.”
“Gak bisa minta sendiri? Pindah ke Jakarta aja kalau bisa.”
“Terus Lita bagaimana?”
“Siapa Lita?"
"Mahasiswi itu lho!”
“Kamu serius sama dia? Kenal dimana?”
“Dia anak Lampung, kuliah disini. Dulu saya pernah dinas deket rumahnya, makanya kenal.”
“Ya sudah disini aja, tunggu sampai Lita lulus kuliah baru pergi setelah kalian menikah.”
“Saya juga pengen cepetan nikah, masa ditikung terus, kok gini amat ya naseeb!”
“Ha …. Kelamaan kalau nunggu anak itu lulus ya?”
“Gak cuma kelamaan Koh, tapi saya juga tambah tua. Nanti orang menyangka kami ayah-anak lagi!”
“Resiko Mam, yang penting kamu punya istri. Atau cari perempuan lainnya. Eh, dokter itu belum ketemu juga ya?”
“Belum, kasian ya. Apa kabar dia, aman selamat apa nggak. Kadang gak bisa tidur juga mikir keadaan Utami."
"Semoga dia aman ya." Aku mengangguk.
"Mam, Resti kenal Utami atau Lita?" tanya koh Benny.
"Nggak, Resti cuma tau Utami aja. Kayaknya mereka gak pernah bertemu. Kalau Lita mungkin gak kenal sama sekali. Kenapa?" jawabku.
"Buat alasan ke Resti, bahwa kamu sudah punya cewek," koh Benny tersenyum.
"Pernah lihat saya jalan bareng Lita?"
"Pasti kayak bapak sama anak!" koh Benny terkekeh.
"Lita itu tinggi, gak pendek kayak Utami. Mungkin kalo saya sama Utami dari belakang kayak bapak anak. Tapi kalo sama Lita nggak lah, dia tingginya mungkin sama dengan Resti."
"Jangan bilang kalo kamu suka sama Lita karena dia mirip Resti!" tebak koh Benny.
"Anda benar!" aku mengedipkan sebelah mata.
"Pengen lihat Lita Mam, punya fotonya?"
"Nggak, gak suka koleksi foto cewek."
"Penasaran aku Mam! Coba ajak video call!"
Aku membuka ponsel, koh Benny sengaja mendeket, ingin melihat apa yang terlihat di ponselku. Ternyata foto profil Lita adalah fotoku bersama Lita. Kode keras.
__ADS_1