Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
66. Hangout


__ADS_3

Izin dari orang tua telah kukantongi, sebagian dari anak buah telah aku pamiti. Hendrik masih belum terima dengan kepergianku. Setiap aku mengatakan hal tentang mutasi ini, dia selalu marah dan mengalihkan pembicaraan. Teman-teman yang lain juga saling bertanya, namaku tidak ada dalam daftar mutasi kemanapun. 


Tekadku sudah bulat untuk meninggalkan kota pahlawan sejuta kenangan ini. Selamat tinggal semua kisah indahku ….


Resti, wanita tercantik yang pernah kumiliki, kisah kasih tak sampai ….


Utami, wanita manja dengan pesona yang sangat aku kagumi


Lita, wanita tangguh yang tak kenal menyerah meski terkadang rapuh dihadapanku


Selamat tinggal semua kekasih hatiku.


“Mam, kamu serius ingin pergi?” tanya Suryo.


“Iya,” jawabku.


“Kemana? Kata Hendrik namamu belum ada di daftar mutasi.”


“Biar kolonel Teguh yang urus hal itu, gak usah khawatir!”


“Jadi kamu memintanya untuk mengatur mutasi kamu?”


“Iya, sebelum pernikahan Resti aku harus sudah pergi dari sini.”


“Seberat apa sakit hatimu sama Resti? Kenapa kamu harus pergi dari sini?”


“Keputusanku telah bulat Sur, aku pergi untuk kebaikan semua.”


“Masih ada Lita disini kan? Masih ada tempat untukmu disini, jangan mudah mengutarakan keinginan, kamu lagi emosi.”


“Kamu kan gak tau apa yang pernah aku lakukan sama Resti, aku gak mau hal itu terulang, gak baik untuk hubungan Resti dan koh Benny.”


Suryo tertawa mengejek, “dah kamu apain anaknya komandan? Berani banget! Komandan tau gak?” 


Aku menggeleng, “hanya aku dan Resti yang tau, kamu gak perlu tau. Jangan pernah sampai terdengar oleh koh Benny.”


“Kurasa Frans banyak tau apa yang terjadi sama kamu dan Resti!” Suryo menyeringai puas.


“Oh ya?” aku menautkan kedua alis, “semoga gak semuanya, hanya sebagian aja ya!”


Suryo tertawa lebar. “Eh, kapan kamu terakhir ngobrol sama koh Benny?”


“Belum lama, kenapa?”


“Dia ngerasa gak enak karena kamu pergi dari sini. Sebaiknya kamu meluruskan masalah ini sama dia.”

__ADS_1


“Ini bukan suatu permasalahan lho, kenapa begitu banget sih!”


“Nanti malam kita kumpul di cafenya Tomi ya!”


“Besok malam aja, setelah aku memastikan mutasiku sama kolonel Teguh.”


“Aku yakin kolonel Teguh gak akan mengizinkanmu pergi dari sini.”


“Ya asal aku dibolehin gangguin anaknya!” aku menatap Suryo sambil tersenyum.


Suryo menghela nafasnya, “ya, lebih baik kamu pergi dari sini daripada gak bisa menahan diri.”


Langkahku mantap menaiki anak tangga ke ruangan Danyon yang selama ini aku hormati. Tok … tok ….


“Masuk!” pemilik ruangan telah mengizinkan aku masuk. Aku memberi hormat lalu kolonel Teguh mempersilahkan aku duduk.


“Bagaimana?” tanya kolonel Teguh sambil meletakkan pulpennya dimeja setelah aku duduk dikursi dihadapannya.


“Saya sudah mantap untuk mengajukan mutasi. Saya berharap saya bisa meninggalkan kota ini sebelum pernikahan Resti!” jawabku tegas dengan sorot mata yang mantap.


Kolonel Teguh terdiam lalu meneruskan kembali kegiatannya yang terhenti akibat kedatanganku. Beberapa saat keadaan ruangan sangat sunyi, kami sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hanya suara goresan pena yang ditulisan kolonel Teguh pada bukunya. Detak jam seolah memburu waktu, namun kolonel Teguh tetap tak menghiraukan kehadiranku di depannya hingga pintu diketuk, Mayor Hartono masuk membawa sebuah berkas lalu menyerahkan berkas itu pada kolonel Teguh.


“Draftnya ada dua Ndan. Silahkan diperiksa.”


Kolonel Teguh membaca berkas yang diberikan Mayor Hartono, “silahkan pergi, nanti kalau ada yang kurang jelas akan saya tanyakan lagi!”


“Draft untuk mutasimu sudah siap, bacalah!” kolonel Teguh memberikan berkas yang tadi diberikan oleh Mayor Hartono. Natuna satu minggu lagi, aku membacanya berulang kali lalu menganggukkan kepala dan menyerahkan berkas itu kembali pada kolonel Teguh.


Tanpa bicara, kolonel Teguh menandatangani draft usulan tersebut, “kembalikan berkas ini pada Hartono, TL segera!”


“Siap, laksanakan!” aku menerima berkas tersebut lalu pergi meninggalkan ruangan. Sebelum membuka pintu untuk keluar, aku membalikkan badan ke arah kolonel Teguh, tapi beliau masih menunduk menulis pada bukunya, sama sekali tidak menghiraukan akui “Ndan,” panggilku.


Kolonel teguh mengangkat kepalanya, “cepatlah, prosesnya mungkin tidak sebentar!” lalu kolonel Teguh menulis lagi. Aku kembali mendekat ke mejanya, kolonel Teguh menutup wajahnya dengan tangan kiri. 


“Kamu berubah pikiran?” tanya kolonel Teguh.


“Tidak Ndan! Saya sangat berterima kasih atas proses mutasi ini!” aku memberi hormat pada Danyonku itu. Mata kolonel Teguh berkaca-kaca lalu berdiri dan membalas hormatku. Kolonel Teguh mengulurkan tangan kanannya, kusambut dengan mencium punggung tangannya. Kolonel Teguh menepuk pundak kananku, “kapanpun kamu kembali kesini, saya selalu terbuka untuk menerimamu.”


“Siap, terima kasih Ndan!”


***


“Wah, pesta bujang nih!” 


Aku baru sampai di cafe Tomi ketika teman-teman telah berkumpul.

__ADS_1


“Mana ada pesta bujang, yang bujang cuma kamu doang kok! Yang lain gak ada yang bujang!” kata Dimas diikuti tawa yang lainnya.


“Jadi apa judulnya kita kumpul disini nih?” tanya Ritonga.


“Makan-makan ditraktir Imam!” kata Erwin.


“Hendrik yang mau syukuran, komandan baru lho!” kataku meledek Hendrik yang kini berubah air mukanya.


“Nanti kalau saya lagi marah, siapa yang akan nenangin?” Hendrik tambah galau.


“Anak buah jangan sering-sering ditonjok, anggap mereka seperti saudara sendiri. Kita meminta maaf pada mereka, belum tentu selesai urusan. Masalah gak akan selesai dengan kekerasan!” aku memberikan sedikit nasehat pada calon komandan baru penggantiku ini.


“Denger tuh Drik. Komandan senior kalau bicara gak boleh dibantah!” kata Andrew sambil menyenggol Hendrik.


“Siapa aja yang sudah pernah disiksa sama Hendrik Mam?” tanya Erwin.


“Banyak, anak buah belum ketahuan salah apa nggak udah keburu digebukin. Bonyok anak orang!” kataku tertawa.


"Selama saya kenal, kamu gak pernah marah sampe emosi tinggi. Gimana caranya?" tanya Hendrik.


"Ah, gak penting itu. Yang penting adalah iman dan taqwa!" aku melucu.


"Mana nih koh Benny, kok belum datang. Kamu ancam apa Mam?" tanya Suryo.


"Gak ada ancam mengancam. Coba cari dia, jangan-jangan syndrome married," kataku.


"Coba kamu yang telpon dia Mam, kayaknya dia takut sama kamu!" kata Erwin.


"Aku gak makan orang lho, ngapain juga dia takut sama aku. Ah, jadi gak enak nih!" kataku.


“Telpon Mam, ajak gelut disini. Saya mulai duluan, saya pasang Imam dua ratus ribu. Ayo siapa lagi yang mau masang?” kata Ritonga sambil melemparkan dua lembar uang merah.


“Saya seratus ajalah untuk koh Benny!” Frans ikut menyahut.


“Aku lima ratus lah untuk Imam!” kat Erwin.


“Aku sejuta untuk koh Benny, Imam kalahan aja, males aku belain Imam. Cemen, gak berani melamar cewek!” Suryo mencibik.


“Oh gitu ya? Ya sudah aku pasang lima puluh ribu aja untuk Imam!” sela Andrew.


Asemlah teman-teman ini, tapi teman yang kayak gini yang bikin kangen, masa-masa ini tak lama lagi akan berakhir, entah kapan lagi aku akan menginjakkan kaki disini dan berkumpul dengan mereka.


Tak lama koh Benny yang ditunggu-tunggu datang juga.


“Dari mana aja koh? Ditungguin dari tadi lho!” kata Dimas.

__ADS_1


“Kita sudah ngumpulin uang taruhan nih! Ayo cepet dimulai” kata Hendrik.


“Maaf ya saya telat. Tadi baru beli pelampung buat Imam, takut dia tenggelam di laut lagi kalo ditinggal nikah Resti!” jawab koh Benny.


__ADS_2