
Sudah lebih dari dua bulan sejak kejadian teror, keadaan kembali damai. Aku tak memikirkan Sanusi dan keluarganya, karena konsekuensi yang mereka dapatkan merupakan hasil dari perbuatan mereka sendiri. Satu doaku semoga kejadian kemarin tidak menutup jalan rezeki mereka.
Tok … tok …. Pintu ruanganku diketuk dari luar. “Masuk!” aku memberi izin. Johan, anak buahku masuk membawa sebuah totebag, “mohon izin, Ndan. Ini ada undangan pengajian dari Kolonel Teguh.” Johan memberikan totebag itu padaku. Aku menerimanya lalu membaca sebuah undangan pengajian 100 hari wafatnya cucu pertama dari Kolonel Teguh yang akan dilaksanakan hari Kamis malam besok. Undang tersebut diatasnamakan kesatuan, yaitu Komandan Raider, tidak tertera namaku pada totebag itu. Dalam tas itu ada sebuah masker N95, handsanitizer, dan buku yasin yang terdapat foto seorang anak kecil yang sedang duduk bersila menggunakan baju koko, sarung, dan peci. Airlangga Utama Sukoco Bin Irvan Firdaus Sukoco. Umur tiga tahun mestinya sedang lucu-lucunya, tingkah menggemaskan, sayang umurnya tak panjang.
Aku bertanya pada teman-teman danton lainnya, apakah mereka menerima undangan yang sama. Ternyata semua danton mendapat undangan serupa.
Kamis sore, aku belum memutuskan untuk datang langsung atau mewakilkan kehadiran pada Hendrik hingga Kapten Bagas memberi perintah untuk memesan papan ucapan bela sungkawa. Aku menghubungi Hendrik yang dari siang tidak terlihat di kantor, “halo, Ndan!”
“Dimana?” tanyaku.
“Mohon izin, Ndan. Fiona sakit diare dari pagi. Sekarang menuju ke rumah sakit, kondisinya sudah sangat lemah!” jawab Hendrik.
“Oh, iya. Semoga lekas sembuh. Berobat aja atau mau rawat inap?” tanyaku lagi.
“Kayaknya dirawat, Ndan. Ibunya nangis terus nih, jadi saya harus mendampingi terus.” Hendrik menjelaskan.
“Iya, gapapa. Maaf saya belum bisa menjenguk, ada undangan dari Kolonel Teguh malam ini,” aku memancing rasa penasaran Hendrik.
“Undangan apa? Undangan khusus atau umum? Ada angin segar nih kayaknya,” Hendrik mulai kepo.
“Undangan pengajian 100 hari wafat cucunya. Saya diminta Kapten Bagas untuk memesan papan ucapan belasungkawa, pesan dimana ya?” tanyaku, semoga Hendrik mau menggantikan kehadiranku disana.
“Atas nama Kapten Bagas atau atas nama Komandan? Sepertinya kok sangat terstruktur? He … he ….”
“Atas nama Kapten Bagas dong, saya cuma diminta memesankan aja lho!”
“Pesan dua aja Ndan, satu dari Kapten Bagas, satu dari Komandan,” usul Hendrik.
“Danton yang lain gak ada yang ngirim papan ucapan itu, gak usah terlalu mencolok. Kalau Fiona gak sakit, saya ingin kamu mewakilkan kedatangan saya nanti malam!”
“Iya, maaf. Saya gak bisa datang. Istri saya gampang down lihat anaknya kenapa-napa.”
“Ya sudah, dijaga anak dan istrinya, semoga semuanya sehat!”
“Iya, Ndan. Terima kasih.”
__ADS_1
Aku memesan papan ucapan belasungkawa untuk Kapten Bagas, lalu mengirim fotonya.
‘Saya sedang dinas ke Jakarta bersama Kapten Syukur, tolong wakilkan kehadiran saya disana. Untuk bingkisan sudah saya pesankan pada Saskia, tolong dikoordinasikan. Kemudian tolong serahkan bingkisan itu dan sampaikan ungkapan belasungkawa pada Kolonel Teguh.’
Waw, perintah yang sangat sulit ini. Berarti nanti harus bertemu langsung dengan Kolonel Teguh dan keluarganya, termasuk Resti, keluarga Sukoco? Waduh, aku mengusap wajah dengan kedua tangan.
***
Bu Saskia, seorang danton senior di kompi raider datang membawa beberapa paket yang dikemas dalam kardus dan beberapa parcel buah. Acara dimulai pukul 19 malam, tapi bu Saskia memaksa untuk datang lebih awal agar pemberian bingkisan tidak mengganggu jalannya acara pengajian.
“Assalamu alaikum,” aku memberi salam ketika sampai di depan pintu rumah Kolonel Teguh.
“Waalaikumsalam,” jawab seseorang yang tak kukenal dari dalam.
“Bisa bertemu dengan Kolonel Teguh?” tanyaku seraya bersalaman dengan orang tersebut.
“Oh, iya. Akan saya panggilkan Bapak. Maaf dengan siapa ya?” orang itu bertanya dengan sopan.
“Kami utusan dari kompi A,” jawabku.
“Imam dan bu Saskia,” aku menjawab dengan tersenyum.
“Baik, tunggu sebentar,” orang itu masuk ke dalam.
Tak lama Kolonel Teguh dan istrinya keluar menyambut kami. Aku memberi hormat pada Kolonel Teguh, tapi Kolonel Teguh langsung memelukku. Ehm, jadi bahagia nih. Lalu aku bersalaman dengan bu Komandan, begitu juga dengan bu Saskia.
“Silahkan duduk!” Kolonel Teguh mempersilahkan kami duduk diatas karpet yang terbentang lebar.
“Kami mewakili Kapten Bagas dan Kapten Syukur menyampai salam dan ungkapan belasungkawa sedalam-dalamnya. Beliau tidak dapat menghadiri pengajian malam ini karena sedang berdinas di Jakarta,” kataku pada Komandan. Kolonel Teguh mengangguk-anggukkan kepala.
“Ini juga ada bingkisan dari Kapten Bagas,” bu Saskia memberikan sebuah bingkisan pada bu Komandan dan diterima secara simbolis, sedang paket yang lain dibawa oleh anak buah bu Siska.
“Terima kasih atas bingkisan dan kehadirannya, tolong sampaikan salam kembali untuk Kapten Bagas dan Kapten Syukur,” ucap Kolonel Teguh.
“Jika ada yang perlu dibantu dalam kegiatan ini, anggota kami siap membantu,” bu Siska menambahkan.
__ADS_1
“Sudah, sudah cukup semua. Kebetulan pengajian ini diadakan di dua tempat, jadi disini tidak terlalu sibuk. Insyaallah sudah siap semua, Ustadnya juga sudah ada di dalam, tinggal menunggu tamu saja,” kata bu Komandan.
“Baik, kalau begitu kami akan menunggu di luar,” aku meminta izin. Ketika aku dan bu Saskia berjalan menuju pintu depan, Kolonel Teguh memegang pundakku dan berbisik, “kamu disini saja, temani saya!”
Bu Saskia sudah berada di teras, aku masuk lagi ke dalam rumah bersama Kolonel Teguh, sedang istrinya kembali masuk ke belakang.
Di ruangan yang luas ini telah terhampar karpet tebal. Lurus di seberang pintu masuk terdapat karpet berukuran tiga meter sepanjang dinding, lantainya lebih tinggi dari lantai lainnya. Di karpet yang lebih tinggi itu Kolonel Teguh mengajakku duduk. “Keluarga besan mengadakan pengajian sendiri dirumahnya, makanya saya buat pengajian disini, bukan dirumah Resti seperti sebelumnya,” ucap Kolonel Teguh tanpa kutanya.
Beberapa tamu mulai berdatangan, aku tetap diminta Kolonel Teguh tetap disampingnya menerima tamu bersama bu komandan. Mendekati pukul 19 malam, Resti keluar dari kamarnya membawa sebuah bingkai foto besar sambil beruraian air mata. Beberapa orang rekan Resti mendekat, mereka saling berpelukan.
Tak lama kemudian, acara pengajian dimulai. Semua yang duduk di karpet tertinggi ini adalah keluarga besar Kolonel Teguh, aku jadi merasa tak enak hati berada disini. Teman-temanku duduk dibawah tenda yang dipasang didepan rumah Kolonel Teguh, bahkan Danki ada yang duduk dikarpet bagian bawah. Bisa jadi berita heboh nih, liat saja apa celoteh teman-teman besok.
Sepanjang pengajian Resti memeluk bingkai foto dan terkadang menciumnya penuh haru. Atmosfer kesedihan menguar disini, lantunan sholawat yang dibacakan ustad sanggup menguras air mata.
Ketika acara telah selesai, tamu-tamu berpamitan. Sama seperti waktu tamu datang tadi, semua yang datang bersalaman dengan Kolonel Teguh dan keluarga besarnya, termasuk aku. Pada saat teman-teman bersalaman denganku, banyak yang berbisik mengucapkan selamat. Ah, ada-ada saja, coba ngomong yang keras agar Kolonel Teguh dengar, berani gak? tanyaku dalam hati.
Hampir semua tamu telah berpamitan, aku juga ikut berpamitan. “Kamu mau kemana?” tanya Kolonel Teguh, ya mau pulang dong, masa gitu aja kok nanya Ndan.
“Duduk sini dulu!” Kolonel Teguh menepuk karpet disebelahnya.
Resti sudah masuk kedalam, padahal pengen banget bertemu pandang atau sekedar memberi senyum padanya. Tapi dia sama sekali tidak melirikku sama sekali.
Setelah tamu pulang dan suasana lebih sepi, Kolonel Teguh mulai berbicara, “katanya kamu kemarin diganggu besan saya ya?”
Aku tersenyum, “orang iseng aja Ndan!”
“Sudah kamu kasih pelajaran ke orang itu?” selidiknya.
“Yang tertangkap tangan hanya orang suruhannya, bukan yang memberi perintah,” jawabku.
“Ada buktinya?” tanyanya lagi.
“Lengkap, Ndan.”
“Usut sampai ke akarnya, biar dia gak ganggu kamu lagi!”
__ADS_1