Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
52. Menyelesaikan masalah dengan mertua Resti


__ADS_3

Selamat pagi dunia


Selamat pagi Resti, kekasih yang tak sampai


Selamat pagi Utami, cinta terindahku


Selamat pagi Lita, pelipur laraku


***


Koh Benny membangunkan aku, matahari mulai menyeburkan sinarnya dari celah ventilasi, “Mam, subuhnya dah kelewatan. Aku pulang dulu ya!” 


“Kok baru bangunin sekarang sih!” aku langsung berdiri tegak ketika koh Benny meninggalkan kamar.


“Kamu tidurnya kayak orang pingsan, alarm bunyi dari tadi juga gak bangun. Dah ya, makasih tumpangan tidurnya. Assalamualaikum,” koh Benny keluar dari mess dan langsung pergi.


Sampai dilapangan ternyata tidak ada satu orangpun anak buahku, mungkin aku sudah terlalu siang datang kesini, mereka pasti sedang pemanasan keliling markas. Dipinggir lapangan aku melakukan pemanasan sendiri lalu membuka ponsel. Beberapa pesan masuk karena dari semalam belum dibuka sama sekali.


Banyak sekali pesan dari ibu mertua Resti, masih dengan kata-kata fitnahnya yang kemarin. Aku meneruskan pesan tersebut pada Resti.


Tak lama sebuah panggilan telepon dari Resti masuk, “halo,” aku menjawabnya.


“Mas, itu tadi pesan dari siapa?” tanya Resti.


“Mertuamu, tolong selesaikan. Gak usah libatkan saya lagi,” jawabku malas.


“Gak usah diambil hati ya Mas, diabaikan saja, diblokir juga boleh,” Resti memberi saran.


“Itu urusanku. Urusan kamu adalah menyelesaikan masalah itu!” ucapku tegas.


“Ih, galak banget sih. Kalo mami ngomong itu gak usah terlalu ditanggapi Mas! Saya dah biasa menghadapi mami. Mami memang seperti itu, nanti juga diem sendiri kok!” kata Resti santai.


“Gak bisa, kamu segera menyelesaikan masalah ini sendiri, karena masalah ini sangat mengganggu saya!” 


“Ya makanya, Mas Imam blokir aja nomor itu!”


“Memblokir nomor itu mudah, kalau dia tiba-tiba datang kesini lagi, gimana? Saya gak mau hal itu terulang lagi. Katakan pada mertuamu bahwa kamu gak jadi menjual rumah itu. Selesai kan urusannya.”


“Tapi rumah itu kan milikku, aku bebas melakukan apapun pada semua yang aku miliki.”


“Gak bisa gitu, dalam harta peninggalan Irvan, ada sebagian milik orang tuanya. Jika ingin menjualnya, kamu harus bermusyawarah dulu. Gak bisa sepihak begitu, apalagi saya jadi sasaran kesalahanmu.”


“Emang salah salah aku apa Mas?”


“Dari sini kamu belum mengerti apa yang tadi saya jelaskan?”


“Gak ngerti!”


Aku menahan nafas, keras kepala sekali Resti.


“Mas Imam,”


“Uruslah mertuamu, jangan sampai dia mengganggu saya lagi!”


“Iya, tapi tolong blokir nomor itu juga ya!”


“Gak akan saya memblokir nomor itu, karena dengan hal itu saya bisa memantau sejauh mana kamu menyelesaikan urusan rumah itu dengan mertuamu! Jelas?”


“Kok gitu sih?”


“Daripada kamu menghabiskan waktu ngobrol dengan saya, sebaiknya kamu selesaikan masalah ini dengan mertuamu!”

__ADS_1


“Ya sudah tutup aja telponnya kalau gak mau dengar suara Resti lagi!”


Klik, aku segera menutup panggilan telepon Resti.


‘Kenapa dimatiin?’ Resti mengirim pesan padaku, kan dia yang mengizinkan aku untuk menutup telponnya, aneh. Aku mengabaikan pesannya lalu bersiap untuk meneruskan latihan kembali, pasukanku sudah mulai memasuki lapangan.


Ketika istirahat siang, aku membuka ponsel lagi. Koh Benny beberapa kali melakukan panggilan suara ke nomorku, dan beberapa pesan yang memintaku untuk menjawab panggilan telponnya, pasti ada hubungannya dengan Resti dan mertuanya.


‘Maaf tadi lagi latihan, ada apa?’ aku mengirim pesan itu pada koh Benny. Koh Benny langsung menelpon balik.


“Mam, kamu apain Resti?” tanya koh Benny.


“Ngapain? Gak diapa-apain kok, kenapa?” aku balik bertanya.


“Katanya tadi kamu marahin dia,” tuduh koh Benny.


“Apa alasan saya untuk marah ke dia?” 


“Kamu kalau ditanya kok balik tanya sih, sebenarnya apa yang terjadi tadi?”


“Saya cuma minta dia selesaikan masalahnya dengan mertuanya tanpa melibatkan saya, itu aja!”


“Kok dia sampe nangis gitu?”


“Masa? tadi pas ditelpon gak nangis sama sekali!”


“Kamu ngomong ke dia terlalu keras, jadi kesannya kamu marahin dia. Kalau ngomong sama perempuan itu yang halus, hati perempuan itu lembut, dibentak ya mesti nangis.”


“Sandiwara banget, ngomong sama saya gak nangis, ngomong sama koh Benny nangis-nangis. Minta dilindungi dia, garap aja segera!”


“Ya saya gak terima kalau kamu ngomong kasar sama dia.”


“Kenapa kamu tertawa?”


“Orang lagi jatuh cinta itu aneh, gak kenal logika. Siapa yang salah, siapa yang disalahkan.”


“Sudahlah, sekarang kamu minta maaf sama dia!”


“Minta maaf itu gampang, masalahnya dia belum menyelesaikan urusan dia dan mertuanya yang melibatkan saya!”


“Makanya kamu jangan ikut campur urusan dapur orang.”


“Hadeh, kayaknya banyak kesalahpahaman disini.”


“Dimana-mana laki itu harus minta maaf duluan meski gak salah.”


“Koh, kayaknya kita harus menyelesaikan masalah ini. Saya gak mau dituduh hal-hal yang gak bener.”


“Ya sudah, kamu antar Resti kesini, kita ketemuan ditoko saya aja!”


“Gak mau, kalau saya disuruh dateng sendiri, saya mau. Tapi kalau berdua kesana sama Resti, saya angkat tangan.”


“Sip, kamu bener. Nanti sore kita ketemuan aja deket kantormu biar Rest gak kejauhan.”


“Ya, atur aja!”


***


Sekitar pukul enam belas lewat, aku menginjakkan kaki di Takopi cafe di bilangan Perak, tak jauh dari markas. Aku menyisir lokasi hingga menemukan sepasang insan yang sedang bersenda gurau, maju apa balik lagi nih, malas amat kalau jadi obat nyamuk terus-terusan.


“Mam,” teriak koh Benny dari jauh.

__ADS_1


Resti tampak cantik dengan balutan dress tutu warna pink setengah betis dan bando pita berwarna biru, senada dengan sepatu ketsnya yang juga berwarna biru. Ketika aku hendak duduk, Resti menelpon seseorang lalu berdiri seperti mencari seseorang.


“Duduk, Mam. Mau pesan minum apa?” tanya koh Benny.


“Espresso,” jawabku.


Resti lalu datang dengan ibu mertuanya lalu mengajakku dan koh Benny bersalaman.


“Mi, kenalkan ini koh Benny,” kata Resti. Mertua meneliti kami berdua. Aku hanya mengenakan celana chinos abu gelap dan kaos hitam polos, sangat kontras dengan koh Benny yang menggunakan setelan jas lengkap.


“Mi, Resti minta maaf. Resti gak jadi jual rumah itu.” Aku yang sedang menyesap kopi langsung berhenti, gampang banget ngomongnya.


“Dari kemarin kan Mami juga sudah bilang, jangan pernah menjual harta benda milik Irvan, Mami gak setuju.”


“Iya, Mi. Disini Resti ingin meluruskan hal itu.”


“Kalau mau ngomong itu, kenapa harus ada mereka berdua?” mertua Resti menunjukku dan koh Benny. 


“Jadi gini Te, sebelumnya Resti pernah cerita pada saya, bahwa dia gak berani tinggal dirumah itu sendiri. Terlalu banyak kenangan dengan Angga yang membuatnya selalu bersedih. Nah, dari situ Resti berniat menjual rumah itu, takut kepikiran Angga terus. Tapi karena Tante melarang untuk menjual rumah itu, saya berusaha membujuk Resti agar tidak menjual rumah itu. Saya berharap Tante mau memaafkan khilafnya Resti kemarin,” koh Benny angkat bicara.


“Kamu siapa?” tanya mertunya Resti.


“Saya temannya Resti. Mulai sekarang tolong jangan libatkan Imam dalam urusan Resti. Karena Imam banyak gak tau tentang Resti,” jawab koh Benny tegas.


“Kamu … seperti kita pernah bertemu ya?” mertua Resti penasaran.


“Mungkin! Kemarin saya baru menggelar pameran berlian di JW Marriot. Apa Tante ikut hadir disana?” kata koh Benny.


“Oh iya, kemarin saya diajak Stefany lihat pameran berlian itu. Berarti kita pernah bertemu ya! Kamu kerja disana juga?” tanya mertua Resti mulai kagum.


“Saya penyelenggara pamerannya!” jawab koh Benny.


“Ini lho salah satu cincin yang kemarin dipamerkan disana kemarin,” Resti menunjukkan cincin mungil yang berderet batu mulia di jari manisnya.


Aku yang mendengar obrolan itu cuma bisa garuk-garuk telinga yang gak gatal aja.


“Kalian sudah bertunangan ya?” tebak mertua Resti.


“Gak,” jawab Resti dan koh Benny bersamaan, Resti menyembunyikan tangan kanannya ke bawah meja.


“Doakan yang terbaik aja Te,” koh Benny memberikan senyumnya pada mertua Resti. 


“Ah, tentu itu. Sebagai orang tua, Tante pasti selalu mendoakan yang terbaik untuk Resti. Oh ya, tante mau juga sih order cincin kayak punya Resti,” mertua Resti menepuk tangan koh Benny.


“Sudah sold out Tante, tapi masih bisa pre order sih. Ke toko aja!” koh Benny menyingsingkan lengan bajunya sehingga memperlihatkan sebuah jam rolex yang mungkin harganya puluhan atau bahkan ratusan juta, warga missqueen sepertiku cukup jadi pendengar setia aja.


“Tokonya dimana?” 


Koh Benny mengeluarkan sebuah kartu nama yang terdapat alamat toko perhiasan milik koh Benny.


“Besok Tante main kesana ya!”


“Silahkan, dengan senang hati saya akan memberi pelayanan yang terbaik untuk semua konsumen.”


“Oke deh, kalau begitu Tante pulang duluan ya.” Mertua Resti mengajak koh Benny bersalaman dengan penuh senyum, sedangkan denganku hanya bersalaman tanpa melirik sama sekali.


“Ingat Resti, jaga rumah itu, jangan sampai jatuh ke tangan orang miskin!” kata mertua Resti sambil cupika cupiki dengan menantunya itu lalu melenggang pergi.


Setelah mertua Resti meninggalkan tempat, kedua orang itu langsung tertawa ngakak, entah apa yang telah direncanakan pastinya telah berhasil membuat orang itu bertekuk lutut. Kemudian Resti melepas cincin yang tadi digunakan dan mengembalikan pada koh Benny. Koh Benny mengeluarkan kotak cincin dari sakunya.


“Cuma dipinjemin Mam, jangan kamu pikir ini beneran!” kata koh Benny sambil menyimpan cincin berlian itu ke dalam kotak lalu memasukkan ke sakunya kembali.

__ADS_1


__ADS_2