
Aku dengar Hendrik dan Jordan, komandan regu satu sedang menginterogasi Ahyar. Hendrik dengan wataknya yang temperamen sudah pasti terampil memainkan tangannya bila ada sesuatu hal yang salah atau melanggar hukum. Hm … pasti babak belur deh tuh si Ahyar.
Aku masuk kedalam ruangan dimana Ahyar sedang diinterogasi, saat ini Jordan sedang duduk diatas Ahyar yang sedang push up, “cukup, hentikan!” teriakku. Keduanya spontan menghentikan kegiatan yang sedang berlangsung.
Ketiga berdiri lalu memberikan hormat padaku, “duduk,” aku memerintahkan ketiga untuk duduk.
“Ahyar, aku dengar ayahmu meninggal dunia, benar?” tanyaku.
“Siap, benar Ndan,” jawab Ahyar.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, kapan meninggalnya?” aku bertanya basa basi.
“Siap, hari Rabu minggu lalu,” ahyar menjawab.
“Saya mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Oh ya, kenapa kemarin pergi tidak izin sama saya? Kan saya bisa ngasih uang transport kalau kamu izin ke saya,” ucapku.
“Iya Ndan, saya minta maaf,” kata Ahyar pelan sambil menunduk.
“Kalau ngomong yang keras!” Hendrik mendongakkan kepala Ahyar yang tertunduk.
“Dari berita acara yang saya baca, ayahmu meninggal tanggal lima, dan tanggal lima itu juga kamu pergi dari sini?” aku memastikan sambil melihat wajahnya.
“Siap, benar Ndan,” Ahyar menjawab lantang kali ini.
“Oke, saya ingin dengar apa yang kamu lakukan selama tanggal lima itu sampai hari ini!” aku menutup berkas yang ada di meja lalu bersiap mendengarkan penjelasan Ahyar.
“Siap, Ndan. Hari Rabu kemarin saya masih ikut apel pagi seperti biasanya. Sekitar pukul sebelas saya mendapat telepon dari Tuan Guru di kampung, beliau mengabarkan bahwa ayah saya telah meninggal sebelum fajar. Selama saya berdinas disini, saya sama sekali belum pernah pulang, terakhir saya berpamitan ketika akan pantohir tiga tahun silam. Sangat sulit berkomunikasi dengan keluarga di kampung, karena disana susah sinyal. Saya hanya bisa bertukar kabar lewat Tuan Guru yang tinggal di kecamatan. Jarak rumah Tuan Guru dengan rumah saya sekitar sepuluh kilometer namun dengan perjalanan darat memakan waktu kurang lebih dua jam karena medannya sangat berat. Inaq dan Amaq sangat sayang pada saya. Saya berharap bisa bertemu, membahagiakan dan membuat inaq-amaq bangga memiliki anak seperti saya, namun saya kehilangan kesempatan itu,” mata Ahyar berkaca-kaca, tiba-tiba Hendrik menoyor kepala Ahyar, “gak usah drama. Bapakmu mati tapi kamu masih bertingkah juga! Kemana saja kamu selama ini? Bilang sama Komandan!” teriak Hendrik.
“Siap, saya pulang ke Lombok kerumah orang tua saya!” sebutir air mata menetes dari mata Ahyar.
“Kalian keluarlah!” perintahku pada Hendrik dan Jordan.
“Siap, Ndan!” jawab keduanya.
Kini di ruangan tinggallah aku dan Ahyar yang sedang menunduk. “Angkat wajahmu!” ucapku. Ahyar menegakkan duduknya lalu mengangkat wajahnya dan melihatku.
“Berapa lama perjalanan dari Surabaya menuju rumahmu?” tanyaku sambil membaca berkas yang ada dimeja.
__ADS_1
“Siap, dua hari perjalanan darat!”
“Kapan kamu mulai berangkat dari Surabaya?”
“Pukul satu siang, selepas shalat zuhur.”
“Dari Surabaya lalu kemana?”
“Banyuwangi, sampai disana saya mencari pinjaman uang untuk pulang dari beberapa teman dan kerabat, tapi tak ada seorangpun yang memberikan saya pinjaman uang. Hingga akhirnya, Jum’at pagi saya baru menyeberang ke Bali. Di Gilimanuk saya meneruskan perjalanan Sabtu malam dengan menumpang kapal nelayan ke Mina Tanjung. Sampai di Mina Tanjung Senin pagi. Saya membantu nelayan menurunkan ikan, menjual hasil tangkapan hingga Senin malam. Sampai dirumah, Sekatong Tengah Selasa malam sekitar pukul sebelas dengan menumpang kapal nelayan lagi dan menumpang truk pengangkut hasil bumi. Kamis sore saya pergi dari rumah dengan diongkosi tiket pesawat oleh Tuan Guru. Hari Jum’at pagi saya sampai di bandara Juanda, lalu melapor pada Danru sampai saat ini.” Ahyar menjelaskan panjang lebar.
“Keteranganmu ini sangat sulit dilacak karena tak ada manifes yang jelas di moda transportasi umum, jadi wajar jika Danru dan Wandan tidak mempercayaimu. Saya hanya ingin menanamkan jiwa patriot padamu, pegang teguh Sapta Marga, Sumpah Prajurit, keimanan dan ketaqwaan. Jangan pernah mengatasnamakan orang tua atas kesalahan yang kamu perbuat. Jika benar ayahmu meninggal, maka buatlah beliau bangga memiliki anak yang sholih tanpa pernah berbohong, setia pada NKRI.” Aku menasehati Ahyar, kini dia tertunduk.
“Kini coba ikuti kata-kata saya : Ayah, aku bersumpah di depan Komandan, bahwa yang saya katakan tidak bohong!” ucapku. Air mata Ahyar semakin berderai, “katakanlah! Ingat saya tidak akan pernah melindungi siapapun yang melakukan kesalahan. Tidak ada orang yang istimewa dimata hukum!” Aku menekankan kata-kataku.
“Ayah, aku bersumpah di depan Komandan, bahwa yang saya katakan tidak bohong!” ucap Ahyar terbata-bata.
“Ulangi kata-kata itu dengan menatap mata saya, saya juga tidak mau melihat laki-laki menangis. Hapus air matamu!” aku meninggikan suara.
Ahyar menghapus air matanya lalu berkata dengan tegas, “ayah, aku bersumpah di depan Komandan, bahwa yang saya katakan tidak bohong!”
“Baiklah, kita sama-sama tau dan mengerti hukum jika melakukan kesalahan. Apapun yang kamu katakan tentang kejujuran, saya akan menerimanya. Apa yang kamu lakukan adalah tanggung jawab saya. Kejujuranmu akan saya bawa ke Danki, saya akan membelamu meski sulit dibuktikan!”
Ahyar masih sesegukan, aku menandatangani laporan pemeriksaan, “berikan laporan ini pada Danru!” ucapku lalu memberikan laporan tersebut pada Ahyar. Aku berdiri hendak meninggalkan ruangan, Ahyar memberikan hormat lalu mengajakku bersalaman, aku membalas hormatnya lalu berjabatan tangan, Ahyar mencium punggung tanganku dengan khidmat, aku menepuk bahu kanannya dengan tangan kiri, “sudahlah, jangan pernah ulangi kesalahan lagi!” aku melepas jabat tangan Ahyar lalu meninggalkan tempat.
***
‘Ta, makan yuk!’ aku mengirim pesan pada Lita malam itu. Lama tak dibalas, hingga akhirnya aku terlelap. Hanya air mineral dan sedikit cemilan yang mengganjal lambungku. Entah rasanya malas makan.
Sudah hampir larut malam, akhirnya Lita menelponku, “Pak Imam,” sapanya dengan ceria.
“Hm,” jawabku malas.
“Ih, ngambek ya? Maaf baru buka hp. Tadi sibuk tugas, gak sempet lihat hp. Bapak sudah makan belum?” tanya Lita.
“Belum,” jawabku singkat.
“Bapak nunggu makan bareng saya ya? kuylah, aku siap!” ujar Lita.
__ADS_1
“Sudah malam, besok lagi!” Aku segera menjawab.
“Bapak lagi sensi nih, kayak mbak Utami aja! Kalo marah irit ngomong!”
“Sekarang sudah malam Lita! Sudah jam sepuluh lebih. Tidurlah, Masih ada hari besok kok!” aku mencoba memanjangkan kalimat agar gak dibilang irit kata.
“Pak, kalau disuruh milih. Bapak milih saya apa mbak Utami?” tanya Lita tiba-tiba.
“Utami,” jawabku.
“Kok gitu sih? Kenapa gak milih saya aja?” Lita gak terima.
“Kamu kan tanya, jadi saya jawab dengan jujur. Lagipula orangnya juga gak ada kok. Kalaupun ada, belum tentu juga dia mau sama saya!” jawabku tegas.
Lita terkekeh, “Ya sudah, met malam Pak. Mimpiin saya ya!”
“Lagi gak pengen mimpi buruk!” jawabku sambil mengulas senyum.
“Emangnya kalo saya masuk mimpi Bapak, bisa bikin mimpi buruk?” Lita mulai emosi.
“Mungkin, gak ada yang bisa memprediksi!” jawabku asal.
“Ya udah, gak usah tidur aja, biar Bapak gak mimpiin saya. Kita ngobrol sampe pagi, siap?” tantang Lita.
“Haduh, kayaknya gak bisa, Ta. Hp saya habis baterai. Kamu buat rekaman video aja, besok setelah saya selesai ngecas hp, saya download deh video kamu!” aku menahan tawa.
“Saya sumpahin besok Bapak dipanggil sama Komandan Bapak, terus dihukum!” kata Lita.
“Kok gitu? Tiap hari juga saya biasa dipanggil Danki, kalo dihukum ya enggak lah, gak ada kesalahan saya perbuat kok, jadi gak dihukum dong!” sanggahku.
“Bapak bersalah! Karena menyia-nyiakan saya malam ini!” balas Lita.
“Oh iya juga ya, bagaimana caranya biar gak sia-sia?” tanyaku.
“Kesini sekarang, saya kangen!” suara Lita berbisik.
“Oke, sekarang tarik selimut, bobok! Dah malem!” aku memutuskan panggilan, takut gak kuat iman.
__ADS_1