
"Saya cuma pengen tau keadaan Utami sekarang!" aku membentak Suryo.
"Besok, kami pastikan kamu dapat info lengkapnya. Sekarang pulanglah!" kata Dimas.
"Bukan besok, tapi setelah Imam sampai di Natuna," sanggah Suryo.
"Lama banget!" aku gak terima.
"Tinggalkan tempat ini sekarang, atau kami akan bubar dan tak akan ada info secuilpun tentang Utami!" ancam Suryo.
Aku menghembuskan nafas kasar lalu pergi meninggalkan ruangan, Hendrik mengikutiku dari belakang, “kita pake mobil Dimas aja ya, nanti saya antar kemana pun bapak dan ibumu mau pergi malam ini. Ada yang perlu diambil dari mobilmu?”
Aku hanya diam, lalu mengambil beberapa barang milikku sebelum mobil itu menjadi hak milik Hendrik besok.
Rasanya kesal sekali pada semua, kenapa juga Hendrik memanggil Suryo dan Frans. Sudah cukup Erwin dan Dimas yang tau masalah ini. Kenapa juga Ahyar baru bilang malam ini, kalau dari kemarin, mungkin sudah ada titik terang tentang keberadaaan Utami, sehingga aku bisa pergi besok dengan tenang. Kalau begini keadaannya, mana bisa aku pergi dengan pikiran yang tenang.
Di mess yang aku sewa untuk keluarga sudah ramai, bapak, ibu dan adik-adik telah menunggu kedatangannku diteras. “Saya mandi dulu,” kataku lalu masuk.
Hendrik mengantar kami jalan-jalan di Tunjungan sesuai permintaan Hana, anak dari Kartika.
Selama di Tunjungan aku hanya diam, lelah dengan pikiran yang tak menentu. Ada baiknya juga Hendrik disini, bisa menjadi tour guide keluargaku meski bajunya masih basah karena ulah anak buahku.
Hendrik mengantar kami pulang hingga larut malam. “Besok pagi saya jemput lagi,” pamitnya, aku hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Bagaimanapun juga Hendrik telah banyak membantuku malam ini.
***
Keberangkatan pasukan ke Natuna kali ini sebanyak satu kompi dipimpin oleh Mayor I Putu Sudana. Apel keberangkatan oleh Kolonel Tubagus Hendrawan, banyak saran dan nasehat yang beliau sampaikan untuk bekal tugas kami selama bertugas. Setelah itu kami diberi waktu terakhir bersama keluarga. Aku berpamitan dengan kedua orang tuaku, adik-adik dan keponakan. Ini sudah ketiga kalinya aku berdinas meninggalkan pulau Jawa. Namun keberangkatanku kali ini tidak akan membawaku kembali bertugas disini, dan mereka tak ada yang tau tentang hal itu.
Waktu untuk keluarga hampir selesai, aku melambaikan tangan pada mereka lalu berbalik badan menuju pangkalan. Tiba-tiba aku diserbu teman-teman leting, mereka memelukku bersamaan, padahal anggota lain tak ada yang seperti aku. Sejenak kami melupakan kejadian semalam. Hendrik, Dimas, Erwin, Danu, Ritonga, Tikno, Frans dan Suryo, kami membentuk suatu lingkaran kecil sambil berpelukan pundak lalu memutar sambil menyanyikan yel-yel. Frans meletakkan kameranya ditengah-tengah lingkaran. Benar kata istrinya Suryo, kalau dekat bermusuhan kalau jauh pasti kangen. Tak lama panggilan untuk naik ke dalam armada berkumandang, kami bersalaman dan mengepalkan tangan bergantian.
__ADS_1
Dari jauh aku melihat sosok gagah yang memperhatikan apa yang kami lakukan dilapangan sebelum berangkat. Aku berdiri tegak lalu memberikan hormat dari jauh, semua temanku berbalik melihat ke arah orang yang kuberi hormat. Serentak teman-teman juga memberi hormat pada orang tersebut. Orang tersebut adalah Komandan kami, Kolonel Teguh yang sangat kami hormati. Kolonel Teguh membalas hormat kami. Lalu aku naik ke atas kapal.
Hanya Lita yang tak hadir pagi ini, mungkin dia sibuk atau sengaja tak mau datang, semoga dia baik-baik saja.
Baiklah, Natuna selamat datang, selamat menjemput mimpi untuk yang lebih baik. Aku berharap kepergianku membawa berkah untuk semua. Resti dan koh Benny, semoga berbahagia selamanya. Cukup aku saja yang kecewa, yang lain jangan. Apa Lita juga kecewa? Mungkin, tapi dia masih muda dan bisa meraih mimpinya meski tak bersamaku. Utami? Aku percayakan pada teman-teman untuk mengungkap hilangnya Utami. Setidaknya ada kabar jelas tentangnya.
Bila nanti aku mendapat jodoh orang sana, mungkin orang tuaku akan menyusulku kesana. Perhiasan dari koh Benny sudah aku titipkan pada ibu sampai waktunya nanti.
Direncanakan lama perjalanan selama dua hari, sekali singgah di Pontianak. Ah, rasanya sudah lama tidak merasakan diombang-ambing di lautan.
‘Ta, saya berangkat ya! Baik-baik disana.’ Aku mengirimkan pesan pada Lita ketika sudah berada di atas kapal.
‘Iya Pak, tadi saya juga ada di pangkalan, tapi gak ketemu Bapak.’ Lita membalas pesanku.
Aku menepuk wajah sendiri, lalu menelpon Lita. Jaringan tidak stabil, aku sudah berteriak tapi suara Lita tidak terdengar, akhirnya aku memutuskan panggilan.
***
Setelah dua hari perjalanan, kami sampai di pelabuhan Natuna. Kami disambut dengan upacara kedatangan.
Dua hari kami melakukan adaptasi bersama pasukan lama, setelah itu pasukan yang lama akan ditarik lagi ke Surabaya.
Pulau-pulau yang ada di sekitar sini saling berdekatan, untuk ke pulau yang lain bisa diseberangi dengan speed boat, bisa juga dengan menumpang pada kapal nelayan.
Hari pernikahan Resti tinggal menunggu hari, sampai sekarang aku belum menghubungi koh Benny untuk berterima kasih atas pemberiannya. Rasanya malas aja ngobrol sama dia, paling juga nanti dia ngebahas Resti lagi, Resti lagi.
Lebih baik aku menghubungi Hendrik, "halo, apa kabar Ndan?" aku menyapanya.
__ADS_1
"Kok aku jadi melayang dipanggil 'Ndan' ya?" kata Hendrik.
"Ditanya kabar kok malah kegeeran dipanggil 'komandan'. Kan sekarang memang sudah jadi komandan baru!" aku meledek Hendrik.
"Rasanya gak pantes aja," Hendrik tersipu.
"Iya, gak pantes kalo belum menuntaskan kasus penculikan Utami!" aku menghardik.
"Jangan ngegas dong. Pimpinan dari penyidik itu Suryo, bukan aku!" Hendrik berdalih.
"Kok bisa? Ahyar itu anak buahmu, kenapa Suryo yang pegang kendali?" tandasku.
"Iya, tapi Suryo yang mengambil alih. Untuk sementara ini data sudah terkumpul dan dicocokkan dengan riilnya. Tunggu konfirmasi dari Suryo aja." jelas Hendrik.
"Ah, kamu ini! Masa begitu aja gak bisa menyelesaikan sendiri?" sanggahku.
"Serahkan pada ahlinya!" kata Hendrik santai.
"Udah bener kamu manggil Erwin sama Dimas malam itu, ngapain juga manggil Suryo sama Frans? Bikin masalah jadi lebar aja!" aku terpancing emosi.
Hendrik terkekeh, "selama aku kenal kamu, baru sekali pas malam itu aja lho kamu bener-bener kayak orang kesetanan. Biasanya aku yang gebukin anak buah," Hendrik kembali tertawa.
"Kesel banget aku sama Ahyar, keterlaluan banget dia!" jawabku.
"Kamu berapa kali aku pegangin pas waktu ngamuk? Kumat lagi, kumat lagi. Sekali diteriaki Suryo, kamu langsung berhenti ngamuk. Aku sama Dimas ngajakin pulang tapi kamu gak mau. Suryo ngomong sekali, kamu langsung nurut pulang. Jadi kira-kira aku salah gak manggil Suryo buat menjinakkan kamu?" kata Hendrik sambil tertawa.
"Menjinakkan? Memangnya hewan liat," aku mencibir.
"Kalo menurut aku sih kayaknya sekarang posisi Utami masih mengkhawatirkan tapi tenang aja, kami pasti cari info yang terbaik untuk kamu," kata Hendrik mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Yang bener?" tanyaku ragu.
"Tunggu info lengkapnya dari komandan Suryo aja. Udah ya, selamat istirahat." Hendrik memutuskan panggilan sepihak.