Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
Part 2.2


__ADS_3

“Ketemuuu….”teriak Zahra dengan girangnya. Ketiga temannya memusatkan perhatiannya kepada Zahra.


“Apanya yang ketemu, Za?”tanya Revan.


“Eh…Engg…Enggak kok.”Zahra semakin salting dan segera menghabiskan makanan yang sudah ia pesan, setelah makan selesai Dava segera beranjak dari tempat duduk. Lima belas menit kemudian, ia kembali lagi menemui ketiga temannya dan mengajak untuk keluar dari rumah makan tersebut untuk meneruskan perjalanan.


“Eh, Va. Kita kan belum bayar!”


“Udah… Tenang aja, Dah yuk lanjutin perjalanan.” Mereka saling bertatap muka dan menruti perkataan Dava.


Tiga jam sudah mereka di perjalanan, dan kini mereka telah sampai di Bogor. Sekitar tiga puluh menit lagi, mereka bertiga sampai di vila milik papanya Revan. Udara dingin sudah mulai terasa, dan kini mereka telah sampai di vila papanya Revan. Revan segera memarkirkan mobilnya dan mereka berempat keluar dari mobil Revan, udara dingin dan angin sejuk menyambut baik kehadiran mereka berempat.


“Ya udah, ayo masuk dan kalian bisa beristirahat. Nanti malam kita bakar jagung di samping vila, kamarnya aku sama Dava kamu sama Rosa!”perintah Revan. Mereka semua masuk dan segera mencari kamar masing-masing, Zahra dan Rosa segera meletakkan barang bawaannya di lantai dan mereka membaringkan badannya di tempat tidur yang sangat empuk. Rosa sudah sangat kelelahan dan kini ia sudah tertidur pulas di ranjang. Zahra segera membereskan barang-barangnya dan segera membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Seketika vila jadi sepi, Revan berjalan-jalan di vila milik papanya, ternyata bangunanya tidak ada yang dirubah. Suasannya masih sangat sejuk dan asri karena masih ditumbuhi pepohonan yang rindang, hujan turun dengan derasnya, membuat sore ini semakin sejuk. Zahra terbangun dari tidurnya, ia beranjak darri tempat tidur Karena ingin melihat-lihat isi vila milik papanya Revan.

__ADS_1


“Revan, di luar lagi hujan?”tanya Zahra dan menghampiri Revan yang sedang menikmati kopi hangat di depan TV.


“Eh…. Kamu udah bangun, Za? Mau minuman hangat nggak? Aku buatin, kebetulan di luar juga masih hujan nggak mungkin kalo mau keluar liat sekeliling vila.”


“Nggak usah, Van. Nanti aku buat sendiri aja, oh iya BTW vila papa kamu luas juga ya.”


“Hahaha… Iya, sebenarnya ini bukan vila papa. Ini vila kakek yang dikasih ke papa setelah kakek meninggal.”


“Ohhh… Suasananya tambah dingin ya.”kata Zahra sambil mengusap kedua tangannya.


“Bawa, tapi di kamar.”


“Dipake donk! Nanti masuk angin, kalo mama kamu tahu nanti aku yang dimarahin lho.”


“Iya… Iya… Bawel. Bentar aku ambil jaket dulu.”

__ADS_1


Zahra pun masuk ke dalam kamarnya. Hujan masih saja bertahan untuk membasahi bumi ini, udara di puncak semakin dingin, Zahra segera memakai jaketnya dan kembali duduk bersama Revan di depan Tv


“Mau aku buatin minuman hangat, Za. Supaya badan kamu hangat?”tanya Revan sembari menatap lekat wajah Zahra.


“Nggak usah, Van. Nanti aku buat sendiri aja, lagian udah nggak begitu dingin lagi kok.”


Zahra dan Revan pun duduk bersamaan dengan menikmati cemilan dan gelak tawa yang memecahkan suara rintik hujan. Hari mulai menjelang malam, hujan juga sudah berhenti sejak tadi, dilirik jam masih menunjukkan pukul 20.15, Rosa dan Dava baru saja bangun dari tidurnya. Revan segera mengajak ketiga temannya untuk pergi ke halaman depan untuk membaut api unggun kecil, itung-itung malam mingguan sama sahabat kecilnya itu. Revan dan Dava pergi mengambil kayu bakar dan menyiapkan korek api, sedangkan Zahra dan Rosa mengambil jagung yang mereka bawa dari rumah.


Lima belas menit kemudian, api dan jagung telah siap, kini giliran Dava pergi ke kamarnya utuk mengambil gitar untuk mereka menyanyi bersama-sama di bawah terangnya bulan dan hangatnya api yang menyala. Malam kian sepi, tetapi canda-tawa mereka semua dapat memecahkan kesepian di malam ini.


“Kuy, aku udah ngantuk nih. Tidur yuk!”ajak Rosa dengan matanya yang sudah merah.


“Ah aku belum ngantuk. Tidur aja duluan, nanti aku susul.”kata Zahra sambil memakan jagung yang masih tersisa.


“Ya udah, aku duluan ya.” Rosa pun segera masuk ke kamar dan ia langsung berbaring kemudian tertidur dengan nyenaknya.

__ADS_1


Zahra masih menikmati indahnya malam bersama kedua pangeran tampan. Angin malam berhembus dengan lembutnya, Revan dan Dava massih bercanda ria karena mereka belum mengantuk.


__ADS_2