Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
33. Kematian Irvan


__ADS_3

Irvan dipindah ke ruang ICU, aku mencuri pandang saat pindah ruang. Tapi Suryo menarik tanganku untuk menjauh. “Ayo pergi, Mam! Ini bahaya buat kita.”


“Aku justru mau menjelaskan bahwa kita gak terlibat apapun, kalau kita kabur kayak gini malah terlihat seperti cuci tangan.”


“Udah biarkan saja, aku yakin Kolonel Teguh memihak kita.”


“Kalo nggak, gimana?” tanyaku ketika diparkiran, aku enggan masuk ke dalam mobil sebelum membersihkan nama dari lokasi.


Suryo meraih kunci mobil dari tanganku, “gampang aja, kita santet, selesai urusan!” Suryo segera menyalakan mobil dan langsung tancap gas.


***


Selesai apel pagi, pangkalan dihebohkan dengan kabar duka dari meninggalnya menantu Kolonel Teguh yang juga sebagai suami Resti. 


Dikabarkan bahwa Irvan meninggal tengah malam setelah lebih dari lima mengalami koma. Ada rasa bersalah dalam hati akan kematian Irvan, tapi rasanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Yang menjadi pertanyaanku, bagaimana sikap Kolonel Teguh padaku? Apa benar yang dikatakan Suryo bahwa Kolonel Teguh bakal membelaku? Kemudian, Resti dendam gak ya sama aku, jangan-jangan dia berpikir bahwa akulah penyebab kematian suaminya. 


Kesal banget sama Suryo yang main kabur aja semalam, seharusnya standby di lokasi, menjelaskan ulang kronologis kejadian pada keluarga besar. Kalau ketahuan, bisa rusak reputasiku. Dimusuhi Resti, Komandan, hadeh! Cari gara-gara aja nih Suryo!


"Ndan!" Hendrik menepuk pundakku, refleks aku menoleh.


"Ada kesempatan mengubur sang pelakor nih, mau ikutan gak?" Hendrik cekikikan.


"Pelakor? Siapa?"


"Yang dulu pernah merebut sang kekasih, mumpung sudah gak bernyawa, ditimpa tanah yang banyak terus diinjak-injak, ha … ha …."


"Jangan asal bicara, gak pantas didengar orang." Aku sedikit berbisik, tapi Hendrik semakin keras tertawa.


"Pokoknya nanti kalau Komandan nikah sama si janda itu, saya izin mau nyanyi semalaman bareng anak buah!"


"Suaminya belum dikubur kok dah membahas menikahi istrinya. Gak bener kamu!"


"Jujur, Ndan! Pasti Komandan senang dapat berita ini kan?" Hendrik semakin memojokkanku. Aku hanya tersenyum, "mau bilang 'iya' takut dosa!"


Kami tertawa bersama. Jangan sampai ada orang lain yang tau, apa yang kami bahas, bisa turun pangkat atau bahkan dipecat karena melanggar kode etik kesopanan.


Aku memerintahkan pada anak buah untuk berada di bagian belakang dari pasukan lainnya, kebetulan juga Komandan tidak memerintahkan pada seluruh anggota untuk mengadakan upacara pemakaman.


Saat pemakaman, aku hanya bersiaga di daerah parkir, sengaja enggan mendekat. Di parkiran tersebut aku bertemu dengan Mas Joko, ajudan Kolonel Teguh. Mas Joko berpangkat serka itu duduk-duduk bersamaku sambil ngobrol santai. 


“Kok gak ikutan sibuk di depan Mas?” tanyaku pada mas Joko.

__ADS_1


“Kolonel Teguh aja cuma sebentar di bagian depan, banyak menerima tamu daripada ikut sibuk di pemakaman,” jawab mas Joko.


“Kenapa begitu?” aku jadi heran.


“Semua yang mengatur keluarga Pak Sukoco, Kolonel Teguh terima beres, lain waktu cucunya meninggal kemarin, super sibuk.”


Aku mengangguk-anggukkan kepala, “sakitnya kemarin parah ya?” tanyaku pura-pura tidak tahu.


“Kamu belum jenguk? Padahal yang aku dengar Kolonel memerintahkan Suryo untuk jenguk bareng kamu lho!”


Waduh, mas Joko tahu sejauh apa nih.


“Coba kamu jenguk, siapa tau bisa membawa kedamaian untuk rumah tangga mbak Resti dan suaminya. Tapi ya sudah ajalnya, umurnya cuma sampai tadi malam. Walau dijenguk ya segitu juga umurnya.” 


“Memang rumah tangganya Resti kenapa Mas? Apa hubungannya dengan saya?” tanyaku penasaran.


"Aku tuh kadang heran juga sama Irvan dan mbak Resti, sukanya ribut-ribut terus. Kalau sudah ribut, mbak Resti pulang ke rumah nangis-nangis atau kayak kemarin, Irvan yang kabur bawa anaknya. Karena emosi, nyetir asal nabrak pembatas tol, bikin celaka anaknya kan!"


“Jadi, sebelum kecelakaan maut itu, mereka bertengkar?” tanyaku hati-hati.


“Iya!” jawab mas Joko pasti.


“Komandan yang cerita, katanya sebelum kecelakaan itu mbak Resti nelpon ibu nangis-nangis minta ibu datang ke rumahnya.


“Mereka sering bertengkar seperti itu?”


“Yang aku tau sih sudah beberapa kali. Aku kasian sama anaknya, anak kecil gitu sering dengar orang tuanya bertengkar.”


“Berarti rumah tangganya tidak harmonis ya?” aku memastikan.


“Irvan itu suka cemburu sama kamu!” ucap mas Joko yang membuatku terperanjat.


“Kok bisa? Saya gak pernah bertemu dengan Irvan atau Resti lho! Jangan sembarang ngomong!” aku membela diri.


“Nah itu. Kamu gak terlibat apa-apa tapi Irvan itu cemburu sekali sama kamu. Belum lagi ibu mertuanya mbak Resti, kalau ngomong pedes banget.”


“Jadi rancu gini sih? Terus, Kolonel Teguh tau gak tentang ini semua?”


“Ya tau, makanya kamu diminta jenguk Irvan ketika sakit kemarin untuk menjelaskan bahwa kamu dan mbak Resti gak ada apa-apa. Tapi kamu belum jenguk Irvan, dia keburu dead.”


Aku jadi serba salah. Kemarin Suryo gak bilang padaku untuk menjelaskan apapun, tapi aku belum ngomong apa-apa, Irvan juga sudah menuduhku yang bukan-bukan kok. Memang sudah ajalnya datang, aku jenguk atau nggak, waktunya meninggal ya gak bisa diundur juga.

__ADS_1


“Tuh, kamu lihat! Kolonel Teguh cuma nerima tamu yang bela sungkawa aja, gak lama-lama di dalam. Udah ya, kayaknya komandan sudah mau meninggalkan tempat.” Mas Joko meninggalkanku.


“Salam untuk komandan, Mas!” aku menepuk pundak mas Joko.


Aku tak sabar mencari Suryo dan menceritakan semua yang kudengar dari ajudan Kolonel Teguh. 


"Jadi Kolonel Teguh belum sempat cerita sama mas Joko bahwa kita sudah menjenguk Irvan semalam," terka Suryo.


"Kayaknya begitu! Kamu gak bilang kalau Kolonel Teguh titip pesan untuk mendamaikan Resti sama Irvan!"


“Komandan gak bilang sama sekali kok, Gak beres nih mas Joko. Kok sekarang dia bilang kalau ada kata-kata tambahannya. Nanti malam coba kita datang ke pengajian suaminya Resti, kalau ada mas Joko, kita tanya bareng-bareng."


"Anaknya meninggal aja aku gak mau dateng, apalagi pengajian suaminya. Nanti disangka ngarep jandanya Resti lagi. Maleslah!"


"Kita datang kesana untuk mencari jawaban yang benar dari mas Joko!"


"Owh, aku kira mau mengharap besekannya!" jawabku malas.


"Itu juga sih, katanya mertua Resti itu tajir melintir lho, mesti hidangannya banyak!"


"Kop**k!" aku menendang Suryo kesal, dia hanya cekikan melihat aku marah.


"Pokoknya nanti malam aku jemput, bareng sama yang lain kita kesana! Jangan sampe nggak!"


Aku berlalu meninggalkan Suryo tanpa mempedulikannya.


Malam harinya, aku dijemput dimess oleh kawan-kawan leting. Mereka menyemangatiku untuk ikut tahlilan. Dengan hati yang menggondok, akhirnya aku ikut bersama mereka. Sepanjang jalan mereka bercanda riang mengomentari dan menyindirku, tapi sama sekali tidak menggugah selera humorku.


Sampai di rumah Resti suasana mulai ramai, banyak orang sipil yang tidak kami kenal. 


Ketika akan memasuki pagar rumah Resti, kami dicegat mas Joko, ajudan Kolonel Teguh. "Jangan masuk ke dalam!"


"Kenapa?" tanya Suryo.


"Situasi di dalam tidak kondusif, saya berjaga disini diperintahkan Komandan untuk melarang kalian masuk dalam rumah mbak Resti, kalau mau diluar sini saja, silahkan!"


"Jadi gak bisa ikut pengajian?" sela Hendrik.


"Sebaiknya tidak usah!"


Aku melihat ke dalam rumah, tampak Resti sedang memegang bingkai foto, sesekali dia mencium dan memeluk foto tersebut. Kasihan sekali, pasti sakit rasanya ditinggal orang tersayang.

__ADS_1


__ADS_2