
“Om Imam!” suara anak kecil memanggilku, aku mencari sumber suara. Dona, anaknya Suryo mendekatiku lalu mengajakku bersalaman. Anggi, istrinya Suryo berlari mengejar Dona. “Oh, ada om Imam disini. Kita cari meja lain aja ya!” katanya Anggi pada Suryo yang bersamaan mendekati meja kami karena Dona sudah duduk manis disampingku.
“Duduk sini juga boleh kok!” aku tersenyum pada Anggi dan Suryo. Tanpa kata Suryo mengangkat anaknya yang telah duduk disampingku dan berlalu menjauh.
“Kami permisi dulu ya,” Anggi meminta izin pada kami. Dona melambaikan tangannya padaku. Suryo jarang-jarang sinis kaya gitu, istrinya doang yang menyapaku. Gapapa lah, aku mau menyelesaikan urusan dengan Resti dulu.
“Mas, saya permisi izin pulang, sudah malam,” Resti meminta izin.
“Bilang sama ayahmu, kamu sedang bersamaku. Nanti aku antar pulang!” jawabku.
“Saya merasa gak enak disini!” Resti mencubit hidung mancungnya.
“Kenapa? Apa mau pindah tempat? Kemana?” tanyaku.
“Kayaknya Pak Suryo gak suka lihat saya, lebih baik saya pulang saja!”
“Dia sudah turun, mungkin cari meja dibawah, biarin aja. Saya ingin tau pasti apa yang ada di hati kamu, saya gak mau dengar dari orang lain biar gak ada kesalahpahaman lagi antara kita,” ucapku.
“Apalagi yang mas Imam ingin ketahui dari saya?” Resti melirikku.
Aku terdiam, memperhatikan raut wajah indah milik Resti, tapi ga tau hatinya. Dulu aku cinta mati banget sama wanita ini, tapi kok dia tega banget ninggalin aku dan dengan mudahnya memilih menikah dengan mantan pacarnya dulu. Materi? Jelas aku kalah dengan suaminya.
“Saya hanya anak petani, bukan orang kaya. Mungkin saya gak pernah menjadikanmu ratu seperti yang dilakukan Irvan dulu. Kamu yakin hidup dengan saya yang gak punya apa-apa ini,” aku mencoba menantang Resti.
“Saya gak matre Mas,” Resti terlihat kecewa.
“Terus terang saya merasa tersinggung tadi ketika kamu bilang bahwa Irvan yang bisa bikin kamu jadi ratu. Berarti dia bisa memberikan apapun yang kamu mau, mewujudkan semua mimpimu yang selama ini dilarang ayahmu. Mungkin apa yang telah dilakukan ayahmu gak beda jauh dengan gaya hidupku, nanti kalau kamu bosan sama aku gimana?” aku melipat tangan di dada.
“Tadi kan saya sudah jelaskan, saya telah sadar bahwa didikan ayah itu benar, selalu disiplin dan sederhana!” Resti menjawab dengan tegas.
Ealah cah ayu, kata-kata dan perbuatan gak sama, masa aku disuruh percaya, susah menerimanya.
“Mas Imam gak percaya sama saya ya? Apa saya gak punya kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahan?” Resti memelas.
“Bukan begitu, tapi sebaiknya tunda dulu rasa ini. Yakinkan diri kita masing-masing sebelum bertindak lebih jauh lagi. Orang tuamu sekarang bukan hanya ayah dan ibumu saja, tapi kamu juga punya mertua yang selama tetap jadi orang tuamu, mereka juga perlu dimintai restu!”
“Kenapa harus melibatkan mereka? Pasti mereka gak akan setuju saya dekat-dekat dengan mas Imam.”
“Ya harus. Mertua itu selevel dengan orang tua. Meski suamimu dah gak ada, selamanya mereka tetap orang tuamu.”
Resti terdiam mendengar apa yang kukatakan, wajahnya kelihatan cemas. Ponsel Resti bergetar, ibunya menelpon. Resti memberikan ponselnya padaku.
__ADS_1
“Kamu aja yang angkat!” aku menolaknya.
Resti mengangkat panggilan tersebut, “Iya, Bu. Ini lagi makan sama mas Imam. Iya, Bu.”
Resti memberikan ponselnya padaku, “Ibu mau ngomong!” aku mengambil alih ponsel Resti.
“Halo” sapaku.
“Nak Imam sedang makan dengan Resti ya?” tanya bu Komandan.
“Iya, Bu,” jawabku singkat.
“Ngobrolnya disambung dirumah saja, sekarang sudah malam. Minta tolong Resti diantar pulang sekarang!” pinta bu Komandan.
“Siap, baik Bu. Saya akan antar pulang sekarang!” kataku lalu mengucapkan salam dan menutup panggilan ini.
“Ibumu minta saya mengantarmu pulang sekarang!” aku berdiri menuju kasir tanpa menunggu jawaban dari Resti.
Sampai diparkiran, aku menyisir mobil Suryo, tak ada disini. Aku segera meluncur pergi.
“Pulangnya kerumahmu atau kerumah Komandan?” tanyaku.
“Kerumah ayah. Dirumahku sepi, gak ada teman. Sejak kejadian itu saya gak pernah bermalam disana.” jawab Resti.
Aku menengok kearahnya. “Kamu cantik, semua pria pasti suka dengan kecantikanmu, begitu juga denganku!” mobil memasuki pekarangan rumah Kolonel Teguh.
“Titip salam untuk ayah dan ibumu, terima kasih sudah menemani makan malam hari ini!”
“Mas Imam gak turun dulu, bertemu dengan ibu?”
“Gak, lain kali saja,” aku tersenyum padanya, tapi Resti belum juga turun dari mobilku.
“Jadi mas Imam hanya suka karena saya cantik aja? Bukan yang lain?” tanya Resti lagi.
“Ibumu sudah menunggu didepan pintu!” aku menunjuk ke arah pintu rumah, tapi bu Komandan malah mendekat mobilku, “masuk dulu Nak Imam!”
“Lain kali saja Bu, sudah malam,” tolakku. Resti turun dari mobil. Ibu dan anak itu melambaikan tangan ketika aku meninggalkan rumah mereka.
***
Pagi-pagi sekali Suryo datang ke kantorku, “apa-apaan kamu semalam? Kamu mau balikan lagi sama Resti?” tanyanya tanpa basa-basi.
__ADS_1
“Nggak kok, kebetulan aja lagi makan bareng,” jawabku pura-pura sibuk.
“Jangan mau balik sama dia, kayak gak ada perawan lain aja. Bekas orang kok mau. Harga diri Mam!” Suryo membentakku.
“Iya,” jawabku singkat.
“Mending kamu sama mahasiswi itu, cantik, masih muda, daripada sama orang yang pernah mempermainkan kamu. Pokoknya aku gak setuju kalau kamu balikan lagi sama Resti!” Suryo masih ngegas.
“Tenang, aku dah nolak dia!” aku menepuk pundak Suryo.
“Nolak? Memang dia duluan yang nembak kamu?” Suryo penasaran. Aku mengangguk.
“Gila, berani banget. Gak inget apa dia waktu ninggalin kamu? Disangkanya kamu anak kecil yang diiming-imingi terus langsung suka? Ih, ilfil banget liat cewek kayak gitu.”
“Kalau dia ngejar aku terus, gimana?” tanyaku.
“Buktikan kamu bisa move on tanpa dia. Dah deh, deketin mahasiswi itu, aku dukung!”
“Kalau gak ada dia, bisa aja ngomong kayak gini. Tapi kalau ada orangnya didepan mata kayak semalam, susah juga. Dia punya semua yang aku suka.”
“Dia punya semua yang kamu suka? Termasuk hobinya mempermainkan kamu? Kamu ada, disukain, kamu gak ada, dia suka sama orang kayak suaminya. Kayak gitu yang kamu suka? Bangun bro, dunia ini luas, cewek gak cuma satu. Sebatalyon ini banyak kowal singel yang bisa dijadiin istri!” Suryo menepuk pipiku berkali-kali, lalu aku menjauh, “iya, aku berusaha gak terpancing sama kata-kata dia!”
“Nah, gitu dong!”
“Dia bilang, gak suka sama tentara. Makanya dia milih Irvan daripada aku, lucu ya?”
“Alasannya gak masuk akal.”
“Dia dipaksa jadi tentara sama ayahnya, mungkin itu yang membuatnya benci dunia militer.”
“Terus, kenapa dia gak keluar dari AL aja sekalian dari dulu? Aneh!”
“Ya karena ayahnya pasti!”
Tiba-tiba ponselku yang tergeletak dimeja bergetar, aku mengambilnya. Nomor yang belum kusimpan, “Resti menelpon,” kataku pada Suryo, Suryo langsung merebut dan mengangkatnya, “Halo, mau apa lagi? Ini aku, Suryo” tanya Suryo lantang. Tak ada balasan dari ujung sana. “Jangan dekati Imam lagi ya Mbak!” kata Suryo lagi, aku meraih ponsel dari tangan Suryo. “Maaf, tadi Suryo yang mengangkat teleponnya. Ada apa?” tanyaku.
Suryo tampak marah lalu duduk dan mengangkat kakinya ke meja. Tak ada suara dari seberang sana.
“Baik, jika tak ada lagi yang ingin dibicarakan, saya tutup telponnya. Terima kasih.”
Suryo bertepuk tangan, “jangan lemah didepan cewek, cewek harus tunduk sama kita.”
__ADS_1
“Siap. Aku dah nolak dan berusaha menjauh darinya, tapi aku gak bisa bohong kalau aku masih cinta dia!”
Praang, Suryo melempar asbak ke dinding disampingku.