
"Letda Ricky pernah berkata bahwa Komandan suka mainin perempuan, suka gonta ganti perempuan!"
"Kamu percaya?"
"Iya Ndan, foto kemarin telah membuktikan!" suara Wisnu bergetar.
Aki mengetuk-ngetuk tangan di meja.
"Sepertinya kamu ada kedekatan khusus dengan Ricky ya?" tanyaku lagi.
"Kami berteman sejak sekolah dulu," jelas Wisnu.
"Mungkin kalau saya diposisi yang sama, saya juga akan menshare foto-foto itu."
Kini Wisnu berani menatapku, "tapi ada baiknya juga cross check setiap info yang di dapat sebelum share info tersebut," aku menambahkan lagi.
Wisnu memainkan jari tangannya dipangkuannya.
"Oh ya, kepo dong. Setau kamu, siapa aja cewek yang pernah deket sama aku?" aku tersenyum untuk menghangatkan suasana.
Wisnu kelihatan gugup lagi.
"Kayaknya kartu saya banyak yang kamu ketahui nih, iya gak?" tanyaku.
"Ricky banyak cerita tentang cewek yang Komandan dekati, tapi baru kemarin yang terbukti ada fotonya."
"Jangan-jangan kita saingan ngerebutin cewek nih, ha …."
Wisnu melotot, "tolong jangan dekati pacar saya Ndan, sebentar lagi saya akan menikah."
"Wih, berani nyalip Komandan kamu. Ngomong-ngomong kapan mau nikah?"
"Siap, dua bulan lagi."
"Wah, sudah dekat doang, kalau ada persiapan yang perlu saya bantu bilang aja, saya siap membantu."
"Siap, Ndan."
__ADS_1
"Oke, terima kasih waktunya. Nanti kalau Wandan macem-macem sama kamu, lapor saya aja ya. Saya harus memastikan kamu bebas dari ancaman atau tindakan tidak menyenangkan dari siapapun."
"Siap, Ndan." Wisnu memberi hormat lalu pergi.
***
Mungkin Lita masih marah padaku. Aku memandang ponsel, ingin sekali menelpon Lita, menanyakan kabarnya hari ini. Aku melihat foto profil yang dipasang Lita adalah foto Lita bersama Ricky. Lita benar-benar nekat nih, Ricky juga keterlaluan.
“Halo,” Lita mengangkat telponku.
“Lagi dimana?” tanyaku.
“Kampus Pak, ada angin apa nih nelpon saya?” suara Lita ketus sekali.
“Lagi sama Ricky ga?” tanyaku lagi.
“Kepo banget sih!” klik telpon diputus dari seberang sana.
Aku menghembuskan nafas kasar. Lalu bergegas menuju kawasan Kampus Lita.
‘Saya sudah di kampus, kamu dimana?’ aku mengirim pesan pada Lita.
“Saya khawatir sama kamu Lita!” aku menekan kata-kata di ujung kalimat.
“Kalau khawatir sama saya, seharusnya biarkan saya bahagia. Saya gak butuh perhatian lalu ditinggalkan!” Suara Lita berada dibelakangku. “Maksud Bapak apa sih?” Lita memutuskan panggilan dan berbicara sambil menatapku.
“Saya cuma ingin kamu tau kalau Ricky itu licik, dia gak pantas buat kamu.”
“Terus? Apa Bapak pantas untuk saya?” Lita berteriak menjauh. Aku menarik tangan Lita, “maafkan saya!”
“Sekarang lihat mata saya, bilang kalau Bapak gak pernah ada rasa sama saya!” pinta Lita.
Aku mengusap wajah kasar, “iya, saya suka sama kamu. Tapi maaf, saya lebih dulu berkomitmen dengan Utami sebelum kita bertemu.”
“Jadi mana yang lebih licik? Bapak atau mas Ricky?”
“Aku jahat, tidak pantas untukmu. Tapi Ricky lebih tidak pantas untukmu.”
__ADS_1
"Kalau Bapak bisa berkomitmen sama mbak Utami, saya juga bisa berkomitmen sama mas Ricky. Gak perlu persetujuan Bapak!" Lita berteriak seolah menantangku.
"Jangan gegabah dalam melangkah. Kalau dia pantas untuk kamu, saya gak bakal kayak gini," aku memelankan suara.
"Bapak cemburu sama mas Ricky kan?" Lita melipat tangannya dan membuang muka.
"Dia itu sukanya sama Utami, karena saya dekat sama kamu, dia berusaha mainin kamu, agar saya menjauh dari Utami," terangku.
"Jadi Bapak pilih saya apa mbak Utami?" Lita meninggikan suara dan menatap wajahku.
Aku menariknya masuk ke dalam mobil.
"Kalau sudah ada mbak Utami ya gak usah deketin saya, php doang. Giliran saya dah suka seenaknya aja ninggalin saya. Saya bukan anak kecil yang seneng dikasih perhatian tanpa tindak lanjut. Apa pantas Bapak bermesraan dengan mbak Utami di depan saya? Pak, saya tuh gak ngerti sama Bapak!” Lita berkata ketika aku sudah masuk ke dalam mobil juga.
“Saya mengaku bersalah. Kamu berhak bahagia, tapi tolong banget. Jangan sama Ricky, dia gak beneran suka sama kamu, dia cuma mau mainin kamu aja!” Aku memelankan suara.
“Itu cuma akal-akalan Bapak doang. Nanti kalau saya dekat dengan pria lain, palingan Bapak bilang begitu juga!” Lita menatap ke jendela.
“Jadi begini Lita, awalnya Ricky terang-terang memberi hadiah untuk Utami di depan saya. Besoknya Ricky sengaja menjemput Utami untuk diantar kerja. Setelah itu kami ribut dijalan, saya dapat hukuman dan dia dimutasi ke dapur. Dari situ dia dendam pada saya, kebetulan juga Utami lebih memilih saya daripada dia. Ricky berusaha membalas mutasinya dengan berbagai cara, termasuk mendekatimu. Dia gak beneran suka sama kamu, seperti yang saya bilang tadi, dia cuma mainin kamu aja. Saya minta tolong sama kamu untuk menjauh dari Ricky. Karena kamu punya hak untuk bahagia, makanya kamu jangan pernah sampai sakit hati, itu harapan saya.”
“Apa Bapak bilang? Yang buat saya sakit itu Bapak, sekarang mati-matian melarang saya dekat dengan mas Ricky. Berapa kali lipat sakit yang saya rasakan akibat keserakahan Bapak? Jangan melarang kalau tidak memberi alasan dan solusi yang tepat.” Lita berbicara sambil menunjuk-nunjuk aku.
“Maaf,” hanya itu yang bisa kukatakan.
“Biarkan saya meneruskan kehidupan saya dengan jalan pilihan sendiri, anda sama sekali tidak mencegah pada apa yang sudah saya pilih.” Lita membuka pintu mobil tapi aku lebih cepat meraih tangannya dan menariknya ke dalam mobil lagi lalu mengunci pintu.
“Saya gak punya alasan untuk gak suka sama kamu. Semua yang kamu punya, saya sukai.” Aku menggenggam kedua tangan Lita.
“Lepasin,” Lita berteriak. “Coba bilang sama mbak Utami kayak tadi, Bapak berani gak? Kalau tidak berani biarkan saya pergi dan jangan pernah dekati saya lagi. Dasar orang serakah!”
Perlahan aku melepaskan tangan Lita. “Kalau Bapak masih mengganggu saya, saya gak segan-segan merusak hubungan Bapak dengan mbak Utami!” ancam Lita. “Sekarang buka pintunya!”
“Beri saya waktu untuk memilih!”
“Saya bukan pilihan! Saya mau keluar sekarang.”
Aku menatap Lita, alasan utama kenapa aku suka pada Lita adalah karena Lita berparas seperti Resti, tutur katanya yang apa adanya, semua yang ada padanya jelas aku sukai. Kenapa aku bertahan pada Utami? Hanya karena dia baik dan pernah menyelamatkan hidupku. Kedudukan Utami sebagai dokter juga memberi porsi lebih, lebih bergengsi. Kenapa aku memilih gengsi, padahal hati ini lebih nyaman berlabuh pada mahasiswi yang kini berada di hadapanku.
__ADS_1
Aku membuka kunci mobil dan membiarkan Lita keluar. Kurasa sudah saatnya Utami mengetahui apa yang ada di dalam hati ini.
Entah sejak kapan Ricky berada di kampus, tak lama setelah Lita keluar dari mobilku, Lita segera naik ke motor yang dibawa Ricky. Baiklah Ricky, kali ini mungkin kamu berhasil merebut Lita dariku, tapi akan kupastikan hal itu tak akan terjadi lagi.