Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
29. Janji Utami


__ADS_3

“Ada yang bisa saya bantu?” suara dari belakang membuatku menoleh, Utami lalu berlari berlindung di belakang pemilik suara itu. Aku terbelalak melihat apa yang dilakukan oleh Utami. Dia seperti anak kecil yang berlindung pada orang tuanya dari orang jahat.


"Saya ingin bicara dengan dokter Utami," jawabku.


"Silahkan, saya rasa beliau dapat mendengar anda berbicara!" kata orang itu yang kuduga sebagai dokter Harun.


"Kenapa Utami meninggalkan Surabaya dan menghindari saya?" aku bertanya lembut.


"Dokter Utami telah memutuskan tinggal dan bekerja disini. Maaf, dari mana anda kenal dokter Utami?" dokter Harun menjawab pertanyaanku, sedang Utami dari tadi hanya diam dan bersembunyi di balik badan dokter Harun.


"Saya tidak yakin dengan keputusan itu, karena Utami tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya. Izinkan saya berbicara empat mata dengan Utami!" aku menangkupkan kedua tangan di depan dada memohon pada Utami dan dokter Harun.


"Mari ikut keruangan saya!" dokter Harun mempersilahkan aku mengikutinya, Utami menolak tapi dokter Harun menggenggam tangannya. Mereka bergandengan tepat di depan mataku. Selama ini Lita sering sekali melihatku bergandengan tangan dengan Utami, seperti inilah rasa perih yang kurasakan.


Dokter Harun masuk ke ruangannya yang luas, sebuah kursi mewah dibelakang mejanya yang juga mewah dan luas. Di hadapannya ada sepasang kursi yang salah satu kursinya di geser ke bagian samping meja. Dia mempersilahkan duduk padaku di kursi yang berhadapan dengannya, sedangkan Utami duduk di kursi yang samping.


Utami kelihatan gelisah, kepalanya tertunduk menatap ponsel yang sedari tadi digenggamnya.


"Boleh saya tau nama anda?" dokter Harun mengajakku bersalaman.


"Saya Imam," aku membalas jabatan tangannya.


"Harun," orang itu memperkenalkan diri.


"Nah, ini mbak Utami. Silahkan, apa yang mau diobrolin. Ini minumnya juga silahkan diminum!"


Aku menatap Utami yang duduk gelisah, lalu menatap dokter Harun lagi, "saya rasa, saya perlu waktu berdua sebentar dengan dokter Utami."


"Gak bisa," Utami menjawab spontan.


Aku menghembuskan nafas kasar. "Baiklah, Utami. Saya mohon kembalilah padaku, kita teruskan rencana kita kedepan. Kita gak punya alasan untuk menghentikan kisah yang telah kita rangkai bersama. Aku datang kesini untuk meminta maaf atas kesalahan dan kekhilafan yang telah aku lakukan, aku sangat berharap kita bisa kembali seperti dulu lagi," ucapku lirih.


"Gak bisa, aku gak mau!" jawab Utami singkat tanpa sedikitpun mengangkat wajah.


"Kenapa?" balasku cepat.


"Aku mau disini dan menikah dengan dokter Harun!" ucap Utami bergetar.


"Utami, coba lihat aku disini. Coba ulangi kata-katamu tadi dengan melihat mataku. Katakan dengan jujur apa yang ada di hatimu!" 


“Maaf saya sibuk, sebentar lagi ada jadwal praktek. Saya permisi dulu!” Utami berdiri mengangkat tasnya menuju pintu. Aku segera menyusul ke arah pintu, lalu menahan pintu dengan tangan kiri sebelum Utami berhasil membuka pintu. “Tetaplah bersamaku, apapun yang terjadi. Aku gak akan melepasmu, aku cinta mati sama kamu!” aku mendekatkan wajah ke keningnya.

__ADS_1


Dokter Harun berdiri dengan menekan meja, “anda tidak bisa memaksa Utami. Saya tidak pernah memaksa dia untuk mencintai anda ataupun saya, tapi kini dia bersedia menikah dengan saya. Saya harap anda menghormati keputusannya!”


Aku menunduk mendekati wajah mungilnya, “apa kamu dalam tekanan? Aku akan membantumu!” ucapku berbisik.


Utami menjauh dariku. “Aku gak mau seperti ini, jangan dekati aku lagi.”


Aku menarik tangan Utami dan membawanya keluar ruangan dokter Harun, lalu berlari menuju parkiran. 


“Apa-apaan sih kamu, aku gak suka diginiin!” teriak Utami melepaskan tangannya dari genggamanku.


“Kenapa kamu cepat sekali berubah. Apa salahku? Jangan permainkan aku seperti ini!”


“Kan dari awal aku sudah katakan bahwa aku akan menikah dengan dokter Harun. Maka dari itu, menjauhlah dariku!”


“Gak, kamu berbohong. Pasti kamu dalam tekanan, aku tahu itu!”


“Aku sudah bisa memilih apa terbaik untukku, tapi itu bukan kamu!”


Aku terperangah mendengar ucapannya. “Kamu bukan Utami yang kukenal!”


“Iya, memang. Sudah jelas kan? Sekarang, pergilah!” teriak Utami.


“Lepaskan Utami, atau saya laporkan ke pihak yang berwajib!” suara dokter Harun dari belakang ke arah posisi kami berdiri.


Utami berlari ke belakang punggung dokter Harun, “panggilkan petugas keamanan, orang itu berbahaya!” pekik Utami.


“Pergilah, Utami tak ingin lagi bersamamu. Saya harap anda menghormati keputusannya,” kata dokter harun penuh kemenangan.


“Saya minta satu kesempatan lagi, tolong izinkan Utami mengatakan sekali lagi pada saya tentang perasaannya saat ini! Saya sanksi dengan apa yang dikatakan Utami,” aku masih ngotot.


“Saya rasa Utami sudah tidak berpihak lagi pada anda, sebaiknya jangan dipaksa, karena itu dapat membuatnya terganggu!” balas dokter Harun.


“Tidak, anda yang membuatnya seperti ini. Saya yakin Utami mengalami tekanan yang besar di lingkungan ini sekarang!” aku tak mau kalah.


“Mas Imam, terima kasih atas segala yang pernah kita lalui. Saat ini izinkan saya memilih kehidupan saya sendiri. Mohon maaf saya lebih memilih dokter Harun daripada anda. Saya sudah yakin dengan keputusan ini. Saya harap setelah mendengarkan penjelasan ini, anda dapat meninggalkan tempat ini.” Utami berkata dari belakang punggung dokter Harun.


“Katakan alasannya?” pintaku.


“Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, silahkan meninggalkan tempat ini!” hardik dokter Harun.


“Utami, katakan alasannya. Saya hanya ingin dengar apa alasannya, setelah itu saya berjanji akan meninggalkan tempat ini.” Aku masih berharap Utami mau merubah keputusannya.

__ADS_1


“Karena aku tahu, dokter Harun adalh orang yang paling tepat untukku, saat ini dan selamanya!” suara Utami terdengar bergetar.


Aku seperti kehilangan semangat mendengar ucapan Utami itu. Aku berusaha menata hati, berusaha menerima keputusan Utami meski sulit. 


“Baiklah, saya menyerah. Terima kasih atas kesempatan ini.” Aku menyalami dokter Harun, “selamat, anda lah pemenangnya!” dokter Harun membalas jabat tanganku. Utami keluar dari balik punggung dokter Harun. Aku memandangnya, lalu memberikan tangan kanan kemudian dia membalas jabat tanganku, hanya sesaat lalu segera kulepas.


Aku berbalik menuju mobil dengan hati hampa. Utami, mudah sekali kamu berpaling dariku. Apakah kamu jujur dengan apa yang kamu katakan? Aku merasa ini sangat janggal. Aku sungguh tidak mempercayai apa yang terjadi, apa yang dikatakan Utami. Cukup aku yang bersedih, semoga Utami bahagia dan tidak pernah menyesal akan keputusannya. Aku sebenarnya sangat penasaran dengan dokter Harun. Siapa dia? Menurut Utami dulu, dia membantu perekonomian keluarganya, seberapa hutang budi keluarga Utami hingga menelantarkan perasaan hati. 


Suasana mendung gerimis membuat hati ini semakin menangis. Susah banget sih cari tambatan hati yang serius dan berjalan mulus. Tak mungkin kembali bersama Lita, karena mungkin dia sudah bahagia bersama Ricky atau sebaliknya, entah lah.


Telepon berdering, Aisyah adikku memanggil, “Halo.”


“Mas Imam lagi dimana?” tanya Aisyah.


“Lagi dijalan. Gimana dek?”  tanyaku.


“Mas Imam kapan pulang?” tanyanya lagi.


“Gak tau kapan, kenapa? Ada yang penting ya? Mas berhenti dulu sebentar,” aku menepikan kendaraan, “kayaknya ada yang serius ya? Cerita aja, Minggu depan Mas usahakan pulang jika mendesak!”


“Aku mau minta izin,” suara Aisyah pelan sekali.


“Izin apa?” aku agak khawatir dengan kata-kata Aisyah.


“Mas Ardi mau melamarku, aku bilang tunggu izin dari Mas Imam dulu. Kalau Mas Imam mengizinkan, aku terima lamarannya. Jika Mas Imam tidak mengizinkan, aku akan tolak lamaran Mas Ardi!” jelas Aisyah.


“Ha … ha …. Alhamdulillah adik Mas ada yang melamar. Kalau Dek Aisyah senang, bapak dan ibu setuju, ya diterima aja,” kabar baik dari Aisyah meningkatkan mood booster ku.


“Tapi Mas Imam dilangkahi lagi, Mas Imam kapan nikahnya sama dokter itu? Siapa tau Mas Imam bisa menikah lebih dulu daripada Aisyah,” suara Aisyah terdengar ragu.


“Gak usah menunggu Mas lah, yang penting kamu sudah yakin dengan pilihanmu, bapak-ibu setuju, Mas juga setuju!” ucapku sambil tersenyum, teringat masa kecil kami dulu, si bungsu sekarang sudah mau dilamar dan akan segera menikah.


“Mas kesini ya, gak enak ngobrol lewat telepon. Nanti kita buat jadwal yang pas di depan bapak dan ibu.”


“Siap, adikku yang cantik!” aku menggoda adikku itu. “Tunggu agak malam Mas sampai dirumah, tapi gak lama ya. Besok pagi Mas harus memimpin apel.”


“Terima kasih ya, Mas!”


“Iya, sampai bertemu di rumah. Assalamualaikum,” aku menutup telepon.


Disalip Kartika ketika di Lebanon dulu, sekarang disalip si bungsu, nasib. Tapi gapapa, asalkan kedua adikku bahagia semua.

__ADS_1


__ADS_2