
Hari ini ada turnamen tenis meja yang diadakan Kompi A. Kapten Bagas membuka turnamen ini sekaligus menjadi pemain pembuka. Kapten Bagas menang telak dua set langsung melawan Joko, wandan pleton 2. Aku main di babak selanjutnya melawan Johan, yang kebetulan anak buahku sendiri.
“Ngalah aja Jo, nanti dipecat Komandan lho,” ledek peserta lainnya.
“Kalau kalah dari Johan, turun pangkat Ndan,” anggota yang lain ikut berkomentar menambah kesemarakan ajang turnamen ini.
Ramai sekali hari ini, tapi aku gak menemukan Hendrik disegala penjuru hingga jadwal pertandinganku dimulai. Babak pertama aku bisa menang dengan mudah, di babak kedua Johan mempertajam serangan hingga akhirnya aku kalah. Di babak penentuan aku bisa menang meski sulit, tapi gak tau juga sih kalau Johan sengaja mengalah. Kehebohan pertandingan masih berlanjut setelah aku bertanding, tiba-tiba Hendrik datang dan mendekat, “kemarin kemana Ndan? Saya cari keliling gak ketemu!”
“Kamu sendiri dari mana? Jam segini kok baru datang?” aku balik bertanya.
“Maaf, tadi mertua datang dari Semarang. Ada oleh-oleh juga Komandan, sudah saya taruh di meja,” jawab Hendrik.
“Makasih ya, kapan jadwalmu main? Nanti saya main lagi setelah istirahat siang,”
“Gak tau kapan, belum lihat jadwal. Ndan, kemarin kemana? Ada apa dengan Suryo?”
“Dia ngamuk diruangan saya, melempar saya pake asbak. Masa mau dilayanin? mending saya tinggal pergi aja.”
“Pasti ada sebabnya, kemarin saya disuruh nyari Komandan sampe dapet.”
“Memangnya saya anak kecil,” aku mencibir lalu menjauhi Hendrik, tapi dia malah mengikuti kemana aku pergi. Aku ikut bersorak memberi semangat pada anggota yang bertanding dan mengabaikan Hendrik.
“Jadi Lita apa Resti?” desak Hendrik lagi. Aku menatap Hendrik dengan sorotan tajam, “Utami!” jawabku kesal.
“Tapi katanya dia sudah menikah, mau dikejar lagi Ndan?” Hendrik masih penasaran.
“Coba kamu cari tau, kalau belum nikah, tolong cari cara untuk membatalkan pernikahan mereka!” jawabku ketus.
“Perintah gak bener itu Ndan, salah besar!”
Aku berhenti bersorak, lalu meninggalkan area pertandingan. Hendrik masih ikut mengekor kemana aku pergi. Aku masuk ke kantor, banyak sorot mata para staf yang memperhatikan aku. Ketika hendak masuk ke ruangan, aku berbalik menatap para staf yang dari tadi memperhatikanku. Spontan mereka mengalihkan pandangan atau ada juga yang pura-pura sibuk. Ada apa denganku sehingga semua mata tertuju padaku?
“Kenapa orang-orang melihatku seperti itu,” tanyaku ketika Hendrik telah menutup pintu ruangan.
“Komandan dari kemarin menghilang sih, jadi bahan pertanyaan mereka.”
“Terus, kamu jawab apa ke mereka?” tanyaku.
__ADS_1
“Mereka gak berani tanya saya, kebetulan saya juga keliling mencari Komandan. Sebenarnya kemarin Komandan kemana sih?”
“Saya bukan anak kecil lagi, kalau saya pergi ya ditunggu aja, nanti saya bisa pulang sendiri kok!” timpalku.
“Suryo yang minta saya mengawal Komandan.”
“Jadi sebenarnya kamu wakilnya Suryo apa wakil saya? Kok taat sekali sama Suryo,” tanyaku marah.
“Bukan begitu Ndan, saya penasaran aja. Kenapa asbak kemarin sampai pecah.”
“Suryo menyangka saya balik ke Resti lagi. Gak semuanya benarlah!” aku duduk dengan menaikkan kaki ke atas meja.”
“Komandan yang ngedeketin dia, apa dia yang ngejar-ngejar Komandan?”
Aku menghela nafas panjang. “Jadi kemarin setelah peringatan hari armada itu, siangnya Resti kirim pesan tapi gak saya gubris, akhirnya dia minta bertemu, kebetulan saya lagi sibuk juga, terus lupa. Dia ngambek deh, saya ajak makan malem bareng. Di restoran bertemu Suryo, mulai dari situ dia salah paham. Kalau saya bertemu dengan Resti kan gak selalu berarti balik lagi sama Resti. Sudah saya putuskan kemarin untuk menjauh dari Resti, saya juga minta dia untuk gak menghubungi saya lagi. Udah, selesai urusan,” jelasku panjang lebar.
“Ya kalau memang begitu ya baguslah,” sorot mata Hendrik masih ragu padaku.
“Waktu suaminya Resti baru meninggal, kamu mensuport saya ngedeketin Resti sekarang kok gak lagi?” kataku.
“Kemarin kan cuma bercanda. Kalau saran saya lebih baik sama Lita aja Ndan, masih fresh,” Hendrik tersenyum jahil.
“Lho, masih belum move on dari dokter itu? Gasak mahasiswi aja Ndan, semesta pasti mendukung!”
***
‘Delta XXI, pukul 19.00.’ Aku mengirim pesan itu ke nomor Resti. Lebih dari satu jam tak ada balasan. Kira-kira Resti datang gak ya? Coba kita lihat nanti malam.
Selepas magrib aku memesan ojek online menuju kawasan Genteng. Dengan menggunakan celana tektikal abu tua dipadu dengan kaos polos putih dan outer kemeja polos abu muda, ditambah topi snapback gelap, aku melangkah di Plaza Surabaya dengan balutan sepatu Fila warna putih-orange.
Sampai dilantai paling atas, aku melihat jadwal film yang akan tayang malam ini.
“Mau nonton apa?” Tiba-tiba Resti sudah berada disampingku dengan kemeja kotak-kotak setengah lengan dan celana panjang selutut. High heel yang dipakai seolah sejajar tinggi denganku, tak lupa bucket hat yang membuat sebagian matanya tak terlihat, menyisakan hidung mancungnya.
“Spiderman, mau?” tanyaku.
“Boleh!” jawabnya.
__ADS_1
“Tunggu disini,” aku berlalu dan memesan dua tiket. Kami masuk ke studio yang tertera pada tiket. Resti memesan beberapa snack dan minuman, lalu kami duduk dikursi paling atas.
Film mulai diputar, penonton mulai serius memperhatikan adegan demi adegan yang tayang dilayar, sedang aku lebih senang bergerilya memainkan jari lentik milik bidadari yang saat ini dikirim tuhan untuk duduk disampingku, sambil bergurau ringan.
Setelah film usai, penonton mulai meninggalkan ruangan dan kami menjadi pengunjung yang terakhir keluar dari studio. “Aku ke toilet dulu ya!” Resti meminta izin, aku mengangguk, “Saya tunggu di lobi ya!”
Aku duduk sendiri di sofa lobi lalu membuka hp. ‘Asyik nih yang gandengan di bioskop.’ Sebuah pesan masuk dari Frans. Apa Frans ada disini? Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, tapi tak menemukan sosoknya. Suasana agak ramai, karena pemutaran film belum dimulai. Bahaya nih kalau Frans mengadu ke Suryo. Aku segera menelponnya, tapi tak diangkat. Ah, sial, beberapa kali ditelpon lagi tetap tidak diangkat hingga Resti kembali dari toilet. Aku berusaha menyembunyikan rasa gugup di depan Resti, “tadi kesini naik apa?” tanyaku pada Resti.
“Taxi online, Mas?” Resti balik bertanya.
“Ojek juga, sekarang langsung pulang ya! Terima kasih sudah datang. Tolong jaga rahasia kita malam ini ya!” pintaku, Resti mengangguk dan tersenyum lalu turun lebih dulu.
Aku kembali duduk di sofa, sebuah foto Resti terlihat tampak belakang masuk, dikirim dari Frans.
‘Kamu dimana?’ aku mengirim pesan itu ke Frans.
‘Arah pukul dua,’ Frans membalas. Aku segera mendekatinya, Frans sedang cekikikan dengan Monika, pacarnya.
“Dari kapan kalian disini?” tanyaku.
“Wih, komandan galak banget sih, kan abis seneng-seneng sama si anu,” jawab Monika.
“Siapa tadi Ndan?” Frans malah bertanya.
“Seleranya komandan beda, sukanya sama yang dari kampus,” Monika meledekku, aku mengerutkan kening, kampus? Apa mereka pikir tadi itu Lita? Bucket hat Resti memang menutupi sebagian wajahnya, tapi jika sudah hafal wajahnya pasti tau kalau itu Resti.
“Tenang aja Ndan, rahasia aman kok!” Frans membulatkan jari telunjuk dan jempolnya.
“Jangan bikin Suryo ngamuk lagi!” pintaku.
“Wani piro?” Frans terbahak-bahak. Aku memperhatikan sejoli yang kompak ini, ada rasa khawatir pastinya didalam dada.
“Aman Ndan,” Monika memberikan jari tangannya pada Frans lalu Frans mengelusnya sama seperti yang tadi aku lakukan pada Resti di dalam studio. Aku mengusap wajah kasar, bahaya nih. Frans itu wandannya Suryo, pastinya hubungan mereka lebih dekat.
“Aku titip rahasia ini pada kalian. Jangan beritahu orang lain dulu ya, nanti ada saatnya aku mengumumkan sendiri kedekatanku dengan wanita yang kupilih.”
“Siap, Ndan!” Frans memberi hormat lalu pergi bersama Monika meninggalkanku yang sedang galau.
__ADS_1
Setelah mereka turun dan tak terlihat, sebuah pesan dari Frans kembali masuk. Dia mengirim fotoku dan Resti di dalam mobil ketika di rest area kemarin. Fotonya agak blur, tapi jelas itu aku dan Resti karena foto dizoom. Aku langsung turun ke bawah mengejar Frans, tapi keduanya begitu cepat menghilang. Hadeh, siap-siap diamuk Suryo sama Hendrik besok lagi.