Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
50. PDKT Dengan Camer


__ADS_3

“Aku minta maaf atas semua kesalahan yang aku lakukan selama ini!” Aku menyodorkan tangan kananku untuk bersalaman, Resti menerimanya. Tangannya kaku dan dingin, dia mencium punggung tangan kananku.


Tiba-tiba kolonel Teguh masuk dan bertepuk tangan, “nah, begitu kan akur. Enak lihatnya!”


Aku segera melepas jabat tangan dengan Resti dan berdiri, "maaf, saya hanya meminta maaf pada Resti. Gak ada yang lain."


"Saling memaafkan itu baik. Jadi bagaimana kelanjutannya?" kolonel Teguh duduk dikursinya dengan melipat tangan dimeja.


Aku kembali duduk dikursiku yang tadi, "masih sama seperti sebelum Komandan pergi tadi, saya memutuskan untuk menjauh dan menjaga jarak dengan Resti. Untuk Resti silahkan meneruskan hubungan dengan Benny. Doa saya semoga menjadi pasangan yang cocok dan saling melengkapi."


Raut wajah kolonel Teguh kembali masam, tidak seceria pada saat bertepuk tangan tadi. "Bagaimana denganmu Resti?" kolonel Teguh mengalihkan pandangan ke anak perempuannya. Mata Resti masih sembab lalu mengangguk tanpa kata.


"Kamu setuju dengan apa yang dikatakan Imam?" kolonel Teguh memastikan.


"Gak, Resti maunya sama mas Imam!" Resti kembali menangis.


"Dulu waktu mau nikah dengan Irvan kamu nangis-nangis seperti ini, seolah Imam gak dianggap. Sekarang tolong hargai pendapat dan keinginan Imam. Kamu gak bisa memaksakan kehendak. Apa yang menurutmu baik, belum tentu baik untuk orang lain!" kolonel Teguh menengahi.


Tangis Resti semakin menjadi. "Kamu sekarang rasakan apa yang pernah Imam rasakan dulu, rasa kecewa, rasa marah dan sedih, semua sudah Imam rasakan!" kolonel Teguh menambahkan.


"Dia sengaja ngejodohin Resti sama temannya Yah!" kata Resti sesegukan.


"Coba ajak Benny kerumah, ayah ingin berkenalan,"


"Minta tolong sama dia aja, dia temannya," kata Resti ketus.


"Tapi kamu juga punya nomor dia kan? Coba telpon dia sekarang, ayah mau dengar suaranya!" kata kolonel Teguh, skakmat untuk Resti.


Terpojok, akhirnya Resti menelpon Koh Benny didepan kami.


"Halo, Koh. Lagi sibuk ya?" sapa Resti.


"Besarkan suaranya, ayah mau dengar!" pinta kolonel Teguh, lalu Resti menyetel loudspeaker di ponselnya.


"Masih jaga toko, ada apa ya?" tanya Koh Benny dari ujung telpon.


"Ayah ingin berkenalan sama Koh Benny," kata Resti.


"Oh ya, kapan?" suara koh Benny agak tercekat.


"Nanti malam," kolonel Teguh menyela.


"I..iya," koh Benny semakin terdengar gugup.


"Oke koh, terima kasih. Assalamualaikum," Resti menutup panggilannya.


"Nanti malam kamu ikut juga Mam!" perintah kolonel Teguh.


"Jika ada yang ingin dibicarakan lagi, sebaiknya sekarang saja Ndan," balasku.

__ADS_1


"Kamu gak mau ikut nanti malam?" 


"Sebaiknya tidak."


"Temani Benny, mungkin dia sungkan."


"Baiklah, nanti malam saya akan datang."


"Oke, sekarang kalian kembali ke tempat tugas masing-masing."


Resti meninggalkan tempat dengan lesu tanpa kata, sedang aku menunggunya sampai keluar dari pintu kemudian memberi hormat dan bersalaman dengan kolonel Teguh kemudian meninggalkan ruangan.


***


"Mam, nanti aku ngomong apa sama ayahnya Resti?" tanya koh Benny.


"Perkenalan diri, biasa aja Koh, santai," aku menepuk punggung tangan koh Benny untuk menenangkannya. Bertemu dengan calon mertua bikin grogi, apalagi camer tentara perwira menengah, bikin koh Benny keringat dingin.


"Galak gak?"


"Gak galak, tegas aja, gapapa kok."


Sampai dirumah kolonel Teguh, kami disambut hangat oleh kolonel Teguh dan istri. 


"Yah, Bu. Ini Koh Benny temannya mas Imam," Resti mengenalkan koh Benny pada orang tuanya, tapi ngapain juga pake nyebut namaku segala sih.


"Saya tinggal di Orchard, Pakuwon Indah," jawab koh Benny.


"Sudah lama kenal dengan Resti?"  tanya kolonel Teguh.


"Baru sebulan ini Pak," jawab koh Benny.


"Maaf, yang saya dengar dari Imam, anda sudah bercerai. Apa itu benar?" kolonel Teguh memastikan.


"Iya, benar Pak."


"Apa alasan cerainya?"


"Mantan istri saya gak mau ikut memeluk agama Islam bersama saya, jadi kami memutuskan untuk berpisah."


"Sudah berapa lama Islamnya?"


"Kalau masuk Islam sudah hampir tiga tahun ini, tapi saya resmi berpisah dengan istri sekitar tahun lalu."


"Surat-surat administrasi perceraiannya sudah beres?"


"Sudah Pak, bahkan mantan istri saya sudah menikah lagi lebih dulu."


"Jadi panas dikit lah ya, ditikung mantan istri!" kolonel Teguh mencairkan suasana.

__ADS_1


“Gas pol,” tambahku.


“Mari silahkan dicicipi hidangannya,” bu Komandan mempersilahkan.


“Gimana ceritanya bisa jadi Islam Koh?” tanya Resti.


“Ada hukum dalam Islam yang mengatakan bahwa untuk melihat seseorang, maka lihatlah teman disekelilingnya. Teman saya orang-orang shalih seperti mas Imam, Suryo, Dimas, Erwin, jadi saya terpengaruh oleh kebaikan-kebaikan mereka,” jawab koh Benny. 


“Bisa aja sih!” aku menyikut koh Benny. 


“Saya merasa tentram dan nyaman ketika hangout dengan mereka, ternyata yang membuat kenyamanan dalam hati adalah Islam,” koh Benny menambahkan.


“Sirkelnya orang-orang baiklah ya!” kata kolonel Teguh.


“Sirkel apaan sih Yah?” tanya bu komandan.


“Hemm, sirkel itu temen gaul disekelilingnya. Kalau sirkel Ayah tuh, bapak walikota, Emil Dardak, gitu lho Bu!” kolonel Teguh menjelaskan, spontan kami semua tertawa. Gaul juga nih mantan camer, sayang gak pernah jadi menantunya.


“Eh, kalau orang tua bagaimana?” tanya bu Komandan.


“Papa saya sudah lama gak ada, mama saya masih ada tapi belum mau ikut Islam. It’s okey, yang penting tidak melarang saya. Di keluarga besar saya, hanya saya yang Islam,” koh Benny menerangkan.


“Berapa bersaudara?” tanya bu Komandan lagi.


“Empat, saya anak kedua. Kakak perempuan saya ikut suaminya di Taiwan. Adik saya yang laki sudah menikah, yang bungsu perempuan belum menikah. Adik-adik saya tinggal bersama mama di Pakuwon, gak jauh dari apartemen saya.”


“Benny, Resti kalian sudah tidak muda lagi, sama-sama sudah pernah berumah tangga. Jika saat ini ingin meneruskan ke jenjang yang lebih dari sekarang, silahkan diperkirakan sendiri, disiapkan dirinya masing-masing. Ayah dan ibu tidak dapat menentukan atau memaksa kalian, kalian sendiri yang menentukan masa depan kalian.” Kolonel Teguh memberikan nasehat.


“Apaan sih Yah, baru juga kenalan dah ngomong sampai situ aja!” Resti menyanggah.


“Itulah bedanya, kamu dengan gadis. Kalau masih gadis, masih malu-malu. Hari ini bilang iya, besok bilang enggak, padahal mau,” kolonel Teguh berkata sambil makan kacang dengan santai.


“Ibu percaya dan yakin dengan pilihan nak Imam, pastinya nak Benny orang yang baik!” bu komandan menambahkan, aku yang sedang minum teh tiba-tiba tersedak ketika namaku disebut.


“Pemberi rekomendasinya sudah tepat ya Bu?” koh Benny menyenggol tanganku jahil.


“Terserah yang mau ngejalanin!” aku berusaha secuek mungkin.


“Setelah ini gak ada panggilan seleksi taifib atau kopaska lagi kan Mam?” ledek kolonel Teguh.


“Pengennya langsung diangkat jadi Komandan Taifib sekalian, biar bisa ngasih perintah ke pasukan taifib sesuka hati saya,” aku menjawab sambil tersenyum.


“Bisa saya rekomendasikan kok!” kolonel Teguh memainkan alisnya.


“Siap, ditunggu hasil rekomendasinya Ndan! Ha … ha ….” Kita kembalikan lagi ledekannya.


“Kalau Benny jadi menikah dengan Resti, Imam mau dimutasi kemana Yah?” tanya bu komandan yang membuat seisi ruangan seketika terdiam.


 

__ADS_1


__ADS_2