Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
67. Membeli kenang-kengangan


__ADS_3

Bapak, ibu, Kartika dan keluarganya, Aisyah dan suaminya malam ini menginap di mess yang sudah aku persiapkan. Sertijab Danton sudah dilaksanakan tadi siang, Hendrik kini menjadi penggantiku sebagai Komandan pleton 3 batalyon raider. Karena keberangkatanku sangat mendadak, jadi sementara Hendrik belum punya wakil komandan. Bukannya senang mendapat jabatan baru, Hendrik malah uring-uringan karena merasa gak pantas dan gak mau aku tinggalkan. Berkali-kali aku menasehatinya agar mengurangi sifatnya yang temperamen, demi kebaikan sendiri. Tapi Hendrik masih juga gak terima dengan rencana kepergianku.


Siang ini aku membuat janji dengan Lita untuk membeli beberapa kenang-kenangan untuk sahabatku, sore acara makan-makan sekalian perpisahan dengan anak buahku yang kini menjadi anak buah Hendrik. Malamnya waktuku dengan keluarga sebelum keberangkatanku besok pagi.


“Kok gak bawa motor sih Pak? Jalanan macet, susah kalo pake mobil,” protes Lita ketika aku menjemputnya.


“Banyak yang mau dibeli, susah bawanya kalo pake motor!” aku memberikan alasan.


“Apa aja yang Bapak mau beli untuk saya?” tanya Lita dengan mata berbinar-binar.


“Maunya apa? Pilih sendiri nanti ya!” jawabku.


“Seperangkat alat sholat dibayar tunai!” jawab Lita sambil mencibir.


“Iya, boleh,” aku mengerling sosok cantik disampingku.


Yang dilirik malah membuang muka.


“Ta, kira-kira untuk anak dan istrinya Hendrik dikasih apa ya?” tanyaku memecah keheningan.


“Ibu-ibu biasanya suka tas, anaknya laki apa perempuan? Umur berapa?” jawab Lita.


“Anaknya perempuan, sekitar tiga tahunan. Boneka lagi?”aku balik bertanya.


“Nanti kita liat ditoko mainan yang bagus. Eh, kenapa cuma anak dan istrinya aja? Pak Hendrik gak dikasih?”


“Rencana saya mau beli alat pancing untuk Hendrik. Kalo untuk teman-teman saya, ga bingung mikir hadiahnya, saya dah tau kesukaan mereka!” aku memarkirkan mobil di depan toko alat pancing.


Lita mengikuti langkahku memilih alat pancing. Satu alat pancing telah kupilih, lalu kami ke kasir dan membayar satu set alat pancing.


“Pak, itu gak salah? Harganya dua juta lho!” tanya Lita ragu.


“Iya, tadi dengar kan pelayannya bilang. Pancingan itu sanggup mengangkat ikan hampir setengah kuintal. Wajar kalau harganya mahal.”


“Setengah kuintal itu saya Pak! Harganya mehong banget.”


“Gapapa, sekali-kali. Hendrik sudah banyak membantu saya. Sekarang kita ke toko burung ya!”


“Siapa yang suka burung Pak?”


“Erwin, Danton 2.”


“Harga burungnya berapa? Jangan bilang dua juta juga!”


“Cari yang dibawah itu harganya, kita liat nanti!”


Setelah berkeliling memilih beberapa jenis love bird, pilihan Lita jatuh pada sepasang love bird berwarna warni, masih belum dewasa, jadi agak murah, cuma dua ratus ribu berikut kandangnya.


Kami berkeliling membeli semua hadiah untuk teman-temanku. Waktunya mencari sesuatu yang spesial untuk Lita.


“Pak, kayaknya Bapak mau pergi jauh dan gak kembali lagi sih?”


Aku membalasnya dengan senyum, “kamu gapapa kan?”


“Ya jelas apa-apa dong, nanti kalau Bapak disana ketemu cewek yang kinclong terus nikah, gimana?”


“Ya, gimana dong? Sudah waktunya saya nikah Ta. Cuma belum ada yang cocok.”

__ADS_1


“Termasuk saya ya? Gak cocok buat Bapak?”


Aku mengelus kepala Lita. “Pak, Lita bukan akan kecil lagi! Jangan pegang kepala.” Lita menjauhkan kepalanya dari jangkauanku.


“Maaf ya, selama ini saya gak serius sama kamu!”


“Iya!” Lita membuang wajahnya.


Aku memarkirkan mobil di depan toko tas dan sepatu. “Kita beli tas disini untuk istrinya Hendrik ya! Kamu kalo mau tas juga, bisa milih disini.”


Lita masih diam ketika turun dari mobil, lalu memilih-milih tas untuk istrinya Hendrik.


Sebuah handbag berwarna kuning keemasan polos. Biasa sekali pilihan Lita, tidak seperti wanita lain pada umumnya, tapi kalau dibantah, takut dia kecewa. Sebelum membayar tas tersebut, aku memilih sebuah tas hitam gucci. Menurutku bagus tasnya, elegan dan tampak mewah dengan bulu rubah sebagai gantungannya.


“Bapak mau beli tas itu? Untuk siapa?” tanya Lita.


“Kamu, mau ya!” jawabku.


Lita meraih tas itu, dia memperhatikan detail tas tersebut. “Nggak Pak. Ini harganya satu jutaan!” Lita menggeleng lalu menaruh tas itu ditempat semula.


“Gapapa, tas spesial untuk orang spesial!” jawabku.


“Nggak. Bukan tipe saya pake tas kayak gitu. Mending Backpack aja!”


“Kamu perempuan Ta, sedikit demi sedikit berubahlah lebih feminin.”


“Iya, tapi itu harganya mahal banget Pak! Udah berapa juta yang dibelanjain hari ini. Beli jam aja empat kali tiga ratus, pancingan, burung, belum tas ini. Aduh banyak banget Pak, nanti uang Bapak abis lagi. Saya gak dibeliin hadiah juga gapapa kok, asal dapet Bapak dalam keadaan utuh aja, saya dah bahagia banget.”


“Keadaaan utuh? Maksudnya?” aku garuk-garuk rambut yang tak gatal.


“Bercanda, saya gak mau tas itu. Kemahalan.”


“Jangan! Banyak banget sih buat pak Hendrik.”


“Ya sudah, pilihkan satu yang terbaik untuk istrinya Hendrik.”


“Ini aja ya!” Lita memilih Tas besar berwarna biru dongker dengan gantungan boneka beruang putih disalah satu handlenya.


“Gak kegedean?”


“Gak, biasanya kalo punya anak kecil itu bawaannya banyak. Jadi tasnya harus besar!”


“Cocok, angkut!”


“Pak Suryo dikasih apa Pak?” tanya Lita.


“Di gramed ada Al Qur’an yang bisa printing nama di covernya. Saya pengen pesan itu untuk Suryo.”


“Lama gak prosesnya. Katanya Bapak sore ada acara.”


“Kita coba ya, semoga gak lama. Oh ya, kamu belum beli apa-apa, mau apa?”


“Gak usah Pak. Duit Bapak sudah keluar banyak, takut abis, nanti gak sampe ke Natuna lagi.”


“Gak lah, sudah saya perhitungkan semua. Pilih dong, saya bingung kalo disuruh cari hadiah untuk perempuan.”


“Gak romantis ah!”

__ADS_1


“Kok gitu sih, tadi kan saya sudah mau beliin kamu tas yang item tadi, tapi gak mau. Jadi maunya apa?”


“Harganya mahal gitu, gak maulah saya.”


“Ya sudah, balik lagi aja ya. Kamu pilih yang sesuai dengan seleramu.”


“Gak usah Pak. Beneran deh. Saya gak usah.”


“Iya iya. Sekarang kita beli hadiah untuk anaknya Hendrik, sekalian di gramed aja ya!”


Aku memesan sebuah Al Qur’an bertuliskan nama lengkap Suryo pada covernya, lalu berkeliling mencari hadiah untuk anaknya Hendrik. Lita memilih seperakat anak masak masakan, unik juga mainan anak sekarang. Aku meminta Lita memilih dua set, satunya untuk Hana, keponakanku dari Kartika.


Sambil menunggu pesanan Al Qur’an untuk Suryo, kami berkeliling lagi. Aku berhenti disebuah etalase jam tangan.


“Ta, lihat jam warna orange itu. Bagus ya! Kamu mau kan?”


“Kalo mahal gak mau ah!”


“Enam ratus ribu, mau ya! Cocok tuh cewek maskulin kayak kamu!”


“Maskulin? Pejantan tangguh kali!” Lita tertawa renyah.


Akhirnya Lita mau menerima pemberian jam tangan Baby G warna orange dariku.


“Makasih ya Pak, jamnya bagus banget!” Aku mengangguk dan tersenyum melihat Lita begitu bahagia dengan pemberianku itu. “Bapak mau menerima hadiah dari saya?”


“Memang kamu punya apa?”


Lita mengeluarkan bungkusan dari tasnya. Sepasang gelang prusik warna biru kehitaman, “satu untuk saya, satu untuk Bapak!” Lita memakaikan gelang itu di tangan kiriku. “Ini couple lho Pak!”


“Makasih ya!” aku tersenyum memperhatikan gelang yang terpasang ditangan kiriku.


“Ini murah Pak, gak ada seberapanya dibanding jam pemberian Bapak.”


“Jangan dilihat harganya, lihat aja siapa yang ngasih, cewek cantik!”


Lita tersipu malu lalu mencubit tanganku.


Pertama, aku kerumah Erwin menyerahkan sepasang lovebird. Erwin tak ada dirumah, jadi aku menitipkan burung itu pada istrinya. Lalu kami kerumah Ritonga memberikan jam tangan untuknya. Setelah itu aku kerumah Dimas memberikan jam tangan padanya, kebetulan Dimas ada dirumah, istrinya sangat heboh ketika aku datang bersama Lita. Untuk menghindari obrolan panjang kali lebar, aku segera angkat kaki dari rumah Dimas.


Tujuan selanjutnya adalah rumah Suryo, “Sur, aku pamit ya. Ini untukmu, terima kasih untuk semuanya.”


“Wah, bagusnya. Bu, ayah dikasih Qur’an sama om Imam,” teriak Suryo seraya memanggil istrinya.


Istrinya Suryo keluar dengan membawa sebuah kotak besar, “itu tandanya Ayah disuruh baca Qur’an terus tiap hari! Oh ya, ini untuk om Imam dari kami.”


Aku menerima bingkisan itu, sebuah bingkai foto dengan foto ketika kami sedang masa pendidikan dulu, sampai pelantikan, pada saat seleksi taifib sampai foto terbaru kami. Perjalanan karir yang tertuang dalam foto yang terhimpun dalam sebuah bingkai. ‘Friendship never end’


“Kok bisa ngumpulin foto segini banyak, eh ini Hendrik ya? Lugu banget dulu dia ya!” aku menunjuk seseorang dari foto itu.


“Santoso yang nangis-nangis minta pulang waktu pendidikan,” Suryo menunjuk foto itu.


“Dia sekarang di Papua, cocok banget sampe punya istri orang sana!” kami tertawa bersama dengan menyimpan keharuan didalam dada.


“Ini untuk mbak Lita dari koh Benny!” istrinya Suryo menyerahkan sebuah kotak kecil pada Lita.


“Apaan ini mbak? Dari siapa tadi?” tanya Lita.

__ADS_1


“Buka aja, itu dari koh Benny, temannya mas Imam, temannya mas Suryo juga!” jawab istrinya Suryo.


Lita membuka kotak tersebut, mulutnya menganga kaget melihat isinya.


__ADS_2