Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
49. Diinterogasi Komandan


__ADS_3

"Imam, saya tunggu diruangan saya sekarang juga!" suara kolonel Teguh tiba-tiba dari samping kami.


"Pak Teguh, anda dengar sendiri kan, seperti apa calon menantu yang anda banggakan itu. Dia sangat ingin merebut harta milik Irvan!"


Kolonel Teguh tidak mempedulikan apa yang dikatakan besannya, dia pergi meninggalkan lapangan tanpa kata.


Aku menghentikan kegiatan hari ini dan meminta Hendrik untuk menggantikanku memimpin latihan. 


“Hati-hati Ndan, kolonel Teguh kayaknya marah besar kalau sampai tau rencana kita,” Hendrik mulai ketar ketir.


“Gak masalah, yang kita berikan ke Resti bukan orang yang buruk, malahan bagus sekali. Saya rasa mereka cocok kok!” kataku sambil mengganti baju yang basah dengan yang baru.


“Good luck!” Hendrik memegang pundak dan menatapku.


“Namanya senjata makan tuan, sudah jatuh tertimpa tangga pula, ha ….” aku berlalu meninggalkan Hendrik dan anak buah lainnya dilapangan.


Aku mengetuk pintu ruangan kolonel Teguh dua kali, pemilik ruangan berkata, “masuk!” Aku masuk dengan memberi hormat kepada Komandan, “duduk!” netranya menusukku.


Kolonel Teguh memperhatikanku dengan seksama, “siap, Ndan!” suaraku lantang memenuhi ruangan.


“Apa benar yang kamu katakan tadi? Kamu akan segera menikahi Resti?” tanyanya serius.


“Siap, tidak!” jawabku tegas dan lantang.


Kolonel Teguh melotot, “apa maksudmu?” 


“Mohon izin untuk meminta maaf, tadi saya terpancing emosi. Yang saya katakan tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam hati saya.”


“Jadi kamu mempermainkan anak saya?” tanya kolonel Teguh penuh tekanan.


“Siap, tidak Ndan. Saya telah mengenalkan seseorang yang cocok untuk Resti!” jawabku.


“Lelucon apalagi ini? Saya semakin tidak mengerti apa yang kamu katakan. Coba jelaskan, jangan berbelit-belit!” bentak kolonel Teguh.


Aku mendehem dan menegakkan punggung. “Saya tidak benar-benar ingin menikahi Resti. Saya sudah mengenalkan Resti dengan orang yang lebih pantas dengannya daripada saya. Sampai saat ini Resti menerima orang tersebut meski baru perkenalan.”


“Siapa orang itu?” tanya kolonel Teguh.


“Teman saya, namanya Benny, seorang mualaf, pengusaha perhiasan sukses. Dia seorang duda, anaknya ikut dengan istrinya karena dia tidak mau ikut memeluk agama Islam bersama Benny.”


“Apa yang membuatmu merasa dia lebih baik dari kamu?”

__ADS_1


“Benny seorang mualaf yang taat beragama, shalat, puasa dan sedekahnya tertib, tidak kalah dengan kita yang sudah lebih dahulu belajar Islam. Akhlaknya saya saksikan baik, dia masih muda, umurnya tak beda jauh dari saya, parasnya juga tampan. Dan dia lebih kaya daripada saya.” Aku menekankan pada kalimat terakhir.


“Kamu yakin Resti mau menerima dia?”


“Sampai saat ini respon Resti baik pada Benny. Mereka sudah beberapa kali bertemu dan berkomunikasi lewat hp. Saya rasa awal yang baik dan saya berharap selanjutnya akan lebih baik.”


Kolonel Teguh terdiam menatap kosong ke depan, “inikah yang disebut karma?”


“Bukan!” jawabku cepat. “Ini adalah anugerah tuhan yang indah. Tak mudah mendapatkannya. Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk Resti, bukan orang sembarangan yang saya tidak kenal asal usulnya. Saya sangat mengenal Benny, Islam telah menuntunnya ke arah yang lebih baik meskipun dulu dia sudah baik, tapi sekarang dia jauh lebih baik.”


“Lalu apa maksudmu jalan bersama Resti beberapa waktu yang lalu?”


“Resti lebih dulu yang mengajak bertemu, menurut saya saat itu saya adalah saat yang tepat untuk mengorek seperti apa karakter Resti yang sebenarnya.”


“Jadi menurutmu, karakter Resti seperti apa?” tanya kolonel Teguh.


Aku menatap netra kolonel Teguh dengan hati-hati sambil mengatur kata-kata yang tepat agar beliau menerima penjelasanku. “Komandan yang sangat saya hormati, saya dan anda memiliki karakter yang tidak jauh berbeda, yaitu karakter kemiliteran yang kental. Dan itu tidak terjadi pada Resti mesti dia seorang tentara. Dia lebih suka dunia diluar militer, fashion, glamor, dan sebagainya. Saya rasa komandan sudah mengerti seperti apa Resti sebenarnya. Saya merasa kami tidak bisa bersatu. Irvan terlahir dari keluarga kaya, bisa mewujudkan semua mimpi Resti. Saya hanya anak petani, bisa apa saya?” aku merendahkan suara.


Kolonel Teguh terdiam, lalu menelpon, “ke kantor ayah sekarang juga!” 


Kolonel teguh masih diam, hingga pintu diketuk. “Ada apa Yah?” sapa Resti yang baru tiba tampak kaget karena aku ada diruangan bersama ayahnya.


“Duduk disini!” Kolonel Teguh menunjuk kursi disampingku, Resti duduk agak gugup dan menggeser kursinya dari kursiku.


Resti menatap ayahnya lalu berganti menatapku. “Benny siapa?” Resti malah balik bertanya. 


“Kalian selesaikan urusan ini! Saya masih ada kegiatan lain diluar.” Kolonel Teguh meninggalkan kami berdua di ruangannya.


Aku mengusap wajah dengan kedua tangan, terselip rasa rindu, rasa kecewa dan benci berbaur menjadi satu.


“Ayah ngomongin apa sih? Kok mas Imam bisa ada disini?” tanya Resti.


“Kamu mau jual rumah peninggalan Irvan? Mertuamu gak terima, tadi datang kesini,” jawabku sesantai mungkin.


“Itu kan rumah saya, kenapa dia yang sok kuasa. Terus apa hubungannya dengan Benny?” Resti menatapku.


“Saya bilang bahwa kamu lebih pantas dengan Benny daripada denganku,” aku menjawab tanpa memandang wajahnya.


“Kok gitu? Mas Imam kenal Benny?”


“Dia teman saya. Dia orang yang baik, menurut saya dia selevel dengan Irvan, tapi dia lebih taat beragama.”

__ADS_1


Resti geleng-geleng kepala, “aku maunya sama mas Imam! Gak mau yang lain!”


“Terima kasih. Tapi saya tidak bersedia. Saya harap kamu bahagia bersama Benny, dia orang yang tepat untuk menggantikan Irvan.”


Resti meneteskan air mata, “Kamu tega Mas! Kamu jahat!”


“Kalau aku jahat, kamu gak akan aku kenalkan dengan orang sehebat Benny. Aku memberikanmu yang terbaik untukmu.”


“Jadi kamu sengaja melakukannya?”


“Iya!” aku memberanikan menatap matanya yang beruraian air mata. “Kurang baik apalagi aku sama kamu? Aku minta Benny untuk dekati kamu, dan kamu menerimanya dengan baik dibelakangku. Adil kan?”


“Gak, kamu jahat!” Resti membungkuk lalu menangis dipahaku.


“Dengan kedekatanmu sama Benny, meyakinkan aku bahwa kita sudah sangat tidak cocok lagi bersama. Bukalah hatimu untuk Benny, aku yakin dia yang terbaik untukmu.”


“Gak, Mas. Aku maunya sama kamu.”


“Kamu sudah berkali-kali nyakitin aku. Aku gak mau hal itu berulang lagi. Kamu punya semua yang disukai laki-laki termasuk aku. Tapi aku gak mungkin bersamamu lagi.” Aku menggerakkan kaki yang menjadi tempat untuk Resti menangis.


Resti mengangkat kepalanya dari pahaku, lalu menyeka air matanya, pipi dan hidungnya menjadi semu, wajah itu yang membuatku tergila-gila.


“Jadi aku harus bagaimana? Apakah aku terlalu hina untukmu?”


“Terimalah Benny, dia akan memberikanmu kebahagian, asal jangan ulangi lagi membandingkan dia denganku atau orang lain.”


“Terus yang di bioskop itu apa?”


“Iya, itu adalah aku yang belum tahu reaksimu ketika didekati Benny.”


“Kamu munafik.”


“Iya, aku mengakuinya. Bertahun-tahun memendam rasa ini, tapi tuhan telah memberitahu aku, seperti apa sebenarnya kamu.” 


“Kamu puas sekarang?”


“Enggak. Aku ingin kamu bahagia, karena cintaku tak harus memiliki kamu, yang penting kamu bahagia. Aku kenal baik dengan Benny, dan aku percayakan kamu padanya.”


Resti kembali menangis, kini ini meletakkan kepalanya diatas tangannya dimeja. Aku mendekatkan tisu ke tangannya, dia meraih tisu itu lalu membersihkan air matanya kemudian duduk tegak kembali.


“Aku minta maaf atas semua kesalahan yang aku lakukan selama ini!” Aku menyodorkan tangan kananku untuk bersalaman, Resti menerimanya. Tangannya kaku dan dingin, dia mencium punggung tangan kananku.

__ADS_1


Tiba-tiba kolonel Teguh masuk dan bertepuk tangan, “nah, begitu kan akur. Enak lihatnya!”


__ADS_2