Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
31. Pernikahan Aisyah


__ADS_3

Acara penutupan giat latihan bersama Pasmar 1 di Lantamal V Surabaya telah berakhir. Dari giat ini tampillah prajurit-prajurit tangguh Angkatan Laut yang terlatih. Beberapa penghargaan pada prajurit pilihan telah disematkan oleh DanKorMar, termasuk Suryo. Sahabatku itu memang memiliki keterampilan khusus yang tidak banyak dimiliki prajurit lainnya. Seorang prajurit taifib yang berhasil memberdayakan anak buahnya sehingga peleton yang dipimpinnya kerap unggul di setiap ajang latihan bersama. Kisah hidupnya juga sempurna, seorang bidadari cantik telah hadir dalam keluarga kecilnya. Suryo lah yang selama ini menguatkan aku ketika aku lemah dan terjatuh, semangatnya tinggi, meski terkadang dia dan kawan letingku sering mengejek kehidupan pribadiku yang sudah beberapa kali gagal.


Setelah pelepasan pasukan ke Jakarta, aku segera menuju ke rumah untuk menghadiri acara lamaran Aisyah. Sampai dirumah, kursi dan meja sudah ditempatkan di teras, ruang tamu dan ruang tengah sudah dikosongkan dan digelar karpet lebar. Beberapa hidangan juga tersaji apik.


Aku menyalami kedua orang tuaku, ibu tampak meneteskan air mata saat aku mencium punggung tangan kanannya. Aku mengusap air mata dari pipi ibu, “ini hari bahagia Aisyah, jangan ada air mata.”


“Semoga kamu segera mendapatkan jodoh!” ibu memelukku. 


“Aamiin, apalagi yang harus disiapkan Bu?” tanyaku.


“Ganti baju saja sana! Sebentar lagi rombongan calon besan datang!” ucap ibu.


Aku menggunakan baju batik lengan panjang berwarna hitam bercorak emas dipadu dengan celana hitam, dan peci hitam. Aku keluar dari kamarku menuju kamar Aisyah yang sedang bersolek.


“Mas Imam!” Aisyah yang sedang duduk di depan cermin menoleh ke arahku. “Wih, cantiknya dik Aisyah!” aku mengusap kepala adik bungsuku.


“Ganti bajunya Mas! Jangan pakai baju itu!” pinta Aisyah.


Aku melihat baju yang aku pakai, “kenapa?”


“Mas Ardi yang mau lamaran, kalau Mas pakai baju seperti itu kayak sudah siap akad nikah. Melebihi orang yang mau lamaran!” Aisyah berkata cepat seperti kereta ekspres.


“Baju baru ini, baju ini sengaja Mas pakai untuk acara ini!”


“Nggak Mas, ganti! Aisyah gak mau Mas pakai baju itu!”


“Pakai yang mana dong?”


“Terserah, yang penting jangan batik lengan panjang seperti itu!”


Hana, anak dari Kartika memeluk kaki kananku dari belakang, “hore, Pakde sudah datang!”


“Wah, anak sholihah pakde cantik sekali!” aku menggendong keponakanku itu. “Bulek Aisyah mau  menikah, didandani cantik banget!”


“Hana mau juga didandani seperti bulek?” tanyaku pada Hana.


Hana mengangguk beberapa kali, menggemaskan sekali, berulang kali aku menciumnya.

__ADS_1


“Mas, cepat ganti bajunya.” Aisyah sedikit berteriak.


“Iya, ya. Bulek minta pakde ganti baju, Hana yang pilihkan baju untuk pakde ya!” aku bicara pada Hana, tapi Aisyah malah melotot.


“Pakai baju ayah aja Pakde,” Hana memberi pilihan.


“Baju ayah kalau Pakde yang buat cuma segini, nanti pusar Pakde kelihatan,” ucapku sambil mengukur perut menggunakan tangan.


Akhirnya aku memakai kemeja abu-abu lengan panjang lalu digulung setengah lengan, lalu bersiap untuk shalat magrib sebelum rombongan tiba.


Orang tua Ardi menyampaikan lamaran yang langsung diterima oleh bapak. Dulu ketika lamaran dan pernikahan Kartika, aku tidak ikut sama sekali. Lamaran ini digelar dengan penuh khidmat. Kedua calon pengantin tampak mengumbar senyum bahagia, ha … ha … kamu kapan Mam? aku bertanya dalam hati.


Keluarga Ardi meminta untuk segera dilaksanakan akad dan resepsi pernikahan karena sebenarnya acara lamaran ini sudah ditunda sekian lama. Akhirnya kedua keluarga menyepakati waktu sebulan lagi untuk melaksanakan pernikahan. Sangat singkat sekali, tapi tak apalah, semakin cepat, semakin baik.


Setelah rembuk tanggal dan pernak-pernik teknis acara resepsi, acara ditutup dengan berfoto bersama dan makan-makan. 


Ketika makan bersama, Ardi duduk disebelahku. Kami bersalaman, “Mas Imam ya?” sapanya. “Iya,” aku membalas jabatan tangannya. “Kemarin saya menelpon beberapa kali tapi diangkat, Mas!”


“Oh ya? Saya jarang pegang hp. Kebetulan kemarin juga lagi sibuk, ada tamu dari Jakarta. Maaf ya, jadi gimana nih?” aku jadi sungkan karena tak menjawab panggilan teleponnya.


“Aisyah minta saya menghubungi Mas Imam sebelum malam ini, tapi sampai sekarang belum ngobrol,” Ardi tersenyum malu padaku. 


“Mas,” Ardi menjeda kata-katanya, lalu menatapku kemudian menunduk. 


“Kenapa? Ada yang penting untuk disampaikan?” tanyaku.


“Saya mau minta maaf karena memaksa Aisya menikah, sehingga Mas Imam jadi dilangkahi Aisyah.” Ardi masih menunduk ketika berbicara denganku.


“Gapapa lho. Kamu hebat, sudah berani melamar cewek. Saya kalah langkah.” Aku tertawa mencairkan suasana. Ardi tersenyum malu-malu, “terima kasih Mas!”


***


Sebulan setelah lamaran, acara akad nikah dan resepsi digelar. Persiapan singkat ternyata telah matang direncanakan oleh Ardi dan Aisyah, aku sangat kagum pada mereka. Semua mereka handle dengan baik dan tersusun rapi, mulai dari kartu undangan, hidangan, dekorasi, panggung, baju dan rias pengantin, seragam untuk keluarga dan panitia, musik hiburan, souvenir untuk tamu, kepanitian, dokumentasi,semua terprogram dengan baik. Aku merasa mereka memang sudah tepat saatnya untuk menikah.


Pagi pukul delapan akad nikah digelar dengan sakral. Aku tak menyangka adik bungsuku yang dulu manja, kini bersanding dengan pria pilihannya di hadapan penghulu. Bapak menghadap Ardi dan berjabatan tangan, kedua mengucap janji untuk menikahkan Aisyah. Ibu terlihat meneteskan air mata terharu melihat anak bungsunya yang kini telah resmi menikah. Setelah akad dilaksanakan, kedua mempelai meminta restu pada kedua pasang orang tua. Suasana khidmat penuh haru. Setelah meminta restu pada  orang tua, kedua mempelai itu berkeliling menyalami dan meminta restu pada sanak saudara, termasuk aku.


“Selamat ya Bro, titip Aisyah!” aku menyalami Ardi lalu mengepalkan tangan bersama.

__ADS_1


“Iya, Mas. Terima kasih atas kepercayaannya.” Ardi membalasku.


Ketika Aisyah sampai di hadapanku, air matanya masih berlinang. “Cie … cie …. Yang sudah menikah! Sudah punya suami kok nangis!” Aisyah mencium punggung tanganku lalu menundukkan kepalanya di dadaku, aku memeluknya. “Alhamdulillah, adik Mas sudah nikah sekarang!”


“Makasih ya, Mas!”


Hari mulai siang, resepsi mulai digelar. Tamu-tamu mulai banyak berdatangan, mulai dari sanak saudara, tetangga, handai taulan, teman dari Aisyah dan Ardi yang kebetulan berasal dari satu tempat kerja yang sama. 


Satu yang paling kutunggu adalah teman-teman letingku dan anak buah. Hendrik dan istrinya datang paling awal. Mereka tak lama karena perjalanan jauh dan membawa bayi. Hingga malam hari tak ada lagi teman-temanku yang datang di acara ini, begitu juga dengan anak buahku.


Ketika sudah larut malam, tamu-tamu telah pulang. Beberapa kursi tamu telah dibersihkan, tapi tak ada lagi tamu dari batalyonku yang datang. Ada apa ya? Penasaran juga, aku membuka hp, banyak sekali pesan masuk dalam grup peleton yang kupimpin maupun grup para komandan di batalyon.


Aku membuka satu per satu pesan. Ternyata, informasi yang kudapat adalah kecelakaan maut yang menimpa anak dan menantu Kolonel teguh. Kedua mengalami kecelakaan parah yang membuat cucu Kolonel Teguh meninggal di tempat. Aku bergidik ngeri melihat foto kejadian. 


Aku menelpon Suryo, “Halo,” suara Suryo di seberang terdengar lemah.


“Kemana aja bro, kok tadi gak datang kerumah?” tanyaku santai.


“Kamu gak tau kalau suami dan anaknya Resti kecelakaan? Tadi di sepanjang tol macet total. Aku mengarahkan anggota untuk berbalik arah untuk mengurangi kemacetan.”


“Yang bener Sur?” aku memastikan.


“Aku masih siaga di rumah Resti menunggu kedatangan jenazah. Besok pagi akan dimakamkan.” Suryo sedikit berbisik.


“Berarti tadi Hendrik kesini sebelum kejadian ya?” tanyaku lagi.


“Mungkin iya, sampai sekarang aku belum ketemu Hendrik. Semua batalyon berduka. Aku gak bisa membayangkan perasaan Resti saat ini. Kamu segera kesini aja, Mam.”


Aku membisu, ingin kesana tapi pasti tak tega jika bertemu Resti. “Aku selesaikan acara disini dulu, Sur. Besok aku langsung ke pemakaman aja.”


“Ya, perintahkan Hendrik untuk siaga disini menggantikanmu! Besok kita jenguk suaminya Resti”


“Siap!” aku menutup telepon dari Suryo lalu kembali melihat ponsel yang masih menyimpan foto dan video kecelakaan anak dan suami Resti, lalu menelpon Hendrik. “Siap, Ndan.” jawab Hendrik.


“Dimana posisi?” tanyaku.


“Siap, di lokasi pemakaman. Beberapa anggota telah diperintahkan untuk menggali kubur untuk cucu dari Kolonel Teguh,” Hendrik menjelaskan dengan detail. 

__ADS_1


“Baik, lanjutkan. Besok saya akan langsung datang ke lokasi pemakaman.” Aku menutup telepon Hendrik. Resti, yang kuat ya! kataku dalam hati.


__ADS_2