Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
55. Apa kabar Utami?


__ADS_3

Tengah malam aku dikejutkan dengan telepon yang berdering, sebuah panggilan video dari nomor tak dikenal.


Dengan duduk bersandar dinding, aku angkat panggilan video tersebut, "Mas Imam, tolong aku. Bebaskan aku dari sini!" Utami terisak sedih, wajahnya sangat kacau, ujung bibirnya kebiruan, mata kirinya membengkak, rambutnya acak-acakan. 


"Utami, kamu kenapa?" tanyaku hati-hati.


"Tolong bawa aku pergi dari sini!" suara Utami mengecil, wajahnya terlihat sangat ketakutan, lalu terdengar suara pintu yang didobrak, lalu panggilan terputus. 


Aku mencoba memanggil nomor itu lagi, namun tak tersambung, tak ada jaringan.


Aku segera menelpon Frans, lama tak diangkat, mungkin dia sedang tertidur lelap. Aku tak bisa menunggu, aku bersiap pergi menuju mess di mana Frans tinggal.


"Frans, bangun! Tolong aku! Ayo bangun!"


Frans membukakan pintunya untukku. "Apa sih?" tanya Frans malas.


"Tolong cek nomor ini, di mana posisi nomor ini! Cepatlah, Utami dalam bahaya!” Aku memelas didepan Frans. Frans memperhatikan raut wajahku lalu masuk ke kamarnya mengambil laptop. Setelah mengutak atik laptopnya, akhirnya koordinat terakhir nomor itu aktif dapat kami peroleh, tak jauh dari lokasi klinik yang dulu pernah aku datangi.


Tak butuh waktu yang lama, aku sampai ditempat tujuan. Sebelum bergerak, aku mencoba memanggil nomor yang tadi digunakan Utami menelponku, masih tidak aktif.


Aku memastikan koordinat yang diberikan Frans telah sesuai dengan posisiku saat ini.


Suasana masih gelap, sebentar lagi masuk waktu subuh. Tak ada pergerakan apapun di sekitar sini. Aku mengendap mendekati sebuah rumah kecil namun sangat asri karena dipenuhi bunga-bunga di sepanjang terasnya. Aku memutar untuk mempelajari kondisi sekitar. Ada sebuah lampu yang menyala disalah satu ruang dalam rumah tersebut. 


Perlahan aku mencoba mengintip dari gorden namun tak ada celah yang dapat membantu melihat isi dalam rumah tersebut. Lalu aku menaiki sebuah kursi untuk melihat ke dalam dari ventilasi.


Dari ventilasi yang sebagian tertutup gorden tersebut, dapat terlihat jelas seorang pria paruh baya tertidur pulas dengan telanjang dada dan tubuh bagian bawahnya tertutup selimut. Sangat kecil celah yang dapat kuintip sebab gorden hampir menutupi semua celah.


Aku mencoba menyingkap gorden tersebut, suasana kamar begitu berantakan, ada pecahan gelas tergeletak dilantai, beberapa helai pakaian juga berhamburan dilantai. Adapula pecahan ponsel didekat pintu kamar.


Dari ujung lemari terdapat tali tambang yang ujungnya berada dibalik kasur.


Aku menggeser posisi kursi yang kugunakan untuk mengintip melalui ventilasi. Ternyata tali tambang tersebut mengikat sebuah kaki yang berada dibalik kasur. Kakinya putih dan kecil, apa itu kakinya Utami? Aku bahkan tak tau siapa pemilik kaki yang terhalang kasur yang berada disebelahnya.

__ADS_1


Aku Bisa saja mendobrak pintu untuk masuk, tapi jika yang berada didalam bukanlah Utami, aku bisa disangka maling.


Meski gorden ini tersingkap semua, mustahil bisa melihat siapa yang berada dibalik kasur tersebut.


Tiba-tiba terdengar suara rintihan, seseorang terduduk dari balik kasur. Ya benar, itu Utami. Wajahnya sangat kacau, memar dimata, pipi, dan bibirnya. Rambutnya acak-acakan, bajunya sobek sehingga sebagian dadanya terlihat. Masya Allah, apa yang tengah terjadi pada Utami?


Aku memutar ke depan rumah. Mudah bagiku mendobrak sebuah pintu, lalu meringsek masuk kedalam rumah dari pintu depan. Di ruang tamu ada beberapa orang yang terbangun karena kedatanganku. Tanpa kata aku melumpuhkan dua orang yang berada diruang tamu tersebut. Dari dalam kamar lainnya ada dua orang lagi datang menghadangku. Dengan waktu yang relatif singkat kedua orang itu juga berhasil aku kalahkan.


Suaraku berkelahi dengan orang-orang tersebut membuat pemilik rumah akhirnya keluar dari kamarnya.


“Siapa kamu?” tanya orang yang tadi sekamar dengan Utami.


“Lepaskan Utami, aku ingin membawanya pergi dari sini!” jawabku.


“Mas Imam! Utami berteriak dari dalam kamar.


“Oh, kamu mau jadi pahlawan? Lawan aku kalau berani!” orang tersebut mengacungkan pistol ke arahku.


Utami keluar kamar dengan kaki terikat tambang, “Mas Imam, tolong aku!” Utami menangis. Ikatan tambang dikakinya terlalu berbelit, mungkin agak sulit melepaskannya.


Aku mengangkat tangan sambil berusaha maju ke arah Utami. “Jangan mendekat!”


Beberapa orang yang tadi sudah aku kalahkan mendekatiku. Mereka bermaksud mengikatku, tapi gerakanku lebih cepat sehingga orang-orang tersebut aku lumpuhkan kembali.


Dor …. suara tembakan memekakkan telinga. Orang tersebut menembak ke arah plafon. Aku refleks merunduk dengan tangan melindungi kepala. Dia hanya menggertak dengan menembak plafon saja, tapi tak berani menembakku atau Utami.


Aku memperhatikan sekeliling ruangan yang ada, beberapa orang yang berhasil aku lumpuhkan tidak bergerak lagi, tinggal satu orang yang memegang pistol di dekat Utami.


Dengan gerakan cepat, kakiku menyapu orang tersebut hingga terjatuh terjerembab dilantai. Aku berusaha meraih senjatanya, tapi orang tersebut semakin kencang memegang pistolnya, kami berebut senjatanya. 


Dor …. Orang tersebut akhirnya memuntahkan peluru ke arah Utami. Mataku nanar melihat Utami yang terkapar tak bergerak dilantai berlumuran darah. Orang itu sekarang mengarahkan pistolnya padaku.


Aku segera menendang tangannya sehingga pistol terlempar jauh dari posisinya yang terlentang. Aku menunggangi orang tersebut lalu menonjoknya berkali-kali dengan penuh emosi hingga orang tersebut tak bergerak lagi. 

__ADS_1


Setelah tak ada lagi perlawanan dari semua orang yang ada diruangan itu, aku mendekati Utami yang bersimbah darah. Aku memegang nadi ditangannya, tidak ada denyutnya. Aku mencoba menyentuh hidungnya untuk merasakan hembusan nafasnya, tidak ada lagi udara yang berhembus dari hidungnya. Aku menyangga tubuhnya dengan badanku.


“Utami ….!” aku berteriak sekeras-kerasnya, menggoyang-goyangkan tubuhnya agar Utami terbangun. “Utami, ayo bangunlah, aku disini, jangan tinggalkan aku!” aku memohon dan memelas, tiba-tiba air mata menetes. Utami tak bergeming sedikitpun. 


“Utami!” aku menangis, memeluk dan mencium keningnya.


“Ndan! Ada apa? Kenapa teriak-teriak?” suara Handoko, adik letingku yang tinggal satu mess denganku menggedor pintu kamarku. Aku terduduk dengan keringat sekujur tubuh, ah hanya mimpi! Aku mengucap syukur, ini hanya mimpi, tapi mimpi ini begitu nyata. Utami, apa yang terjadi padamu sekarang? Kenapa aku tiba-tiba memimpikanmu? Apa kamu baik-baik saja disana?


Aku keluar kamar, Handoko masih menunggu di depan pintu kamarku. “Kenapa Ndan? Kok keringetan gitu? Kenapa teriak-teriak?” tanyanya bingung melihatku.


“Mimpi, kayaknya nyata banget!” aku mengusap peluh dikening.


“Saya kira dikamar lagi gelut sama orang. Heboh banget suaranya! Mengigau rupanya,” Handoko tersenyum.


Aku menenggak segelas air putih lalu duduk termenung, pikiranku kacau. Apa ada kaitannya mimpi ini dengan kondisi yang dirasakan Utami saat ini?   


***


Pagi ini aku tidak bersemangat, mimpi semalam sangat mengganggu. Hendrik menyodorkan berkas pemeriksaan Ahyar, anggotaku yang sudah beberapa hari mangkir tanpa absen. 


“Lagi malas baca, coba ceritakan kronologisnya!” aku meletakkan berkas yang diberikan Hendrik sambil melipat tangan didada.


“Anggota pergi meninggalkan markas sejak hari Rabu tanggal lima, perkiraan siang atau sore, sebab anggota hadir pada apel pagi di hari Rabu tersebut. Lalu anggota datang kembali di hari Jum’at pada tanggal empat belas setelah apel pagi. Anggota meninggalkan markas tanpa perizinan. Menurut anggota, orang tuanya, dalam hal ini adalah ayahnya anggota tersebut, meninggal dunia pada hari Rabu pagi tanggal lima di Kupang. Sampai saat ini kami masih menelusuri kebenaran informasi yang didapat dari anggota.” Hendrik memberikan resume kronologis kejadian dengan jelas. 


“Lanjutkan penelusuran, gali informasi sedetail mungkin! Berikan uang duka ini padanya!” aku memerintahkan sambil mengeluarkan lima lembar uang merah.


“Komandan yakin memberikan uang ini padanya? Penyelidikan masih dilakukan,” Hendrik masih ragu menerima uang pemberianku.


“Jika ayahnya benar-benar meninggal kemarin, saya tidak menyesal memberikan uang ini. Tapi kalau nanti ternyata dia berbohong, pasti ada konsekuensi untuknya!” jawabku sambil duduk dengan menyangga kepala dengan tangan.


“Lagi gak enak badan ya Ndan?” Hendrik menunduk untuk mengintip wajahku yang tertutup tangan.


“Gapapa, pergilah. Tolong urus anggota itu, siapa tadi namanya?” aku membuka tangan yang menutupi wajahku.

__ADS_1


“Siap, Ahyar Ndan!” Hendrik menjawab lalu meninggalkan aku yang masih memikirkan mimpi tentang Utami semalam.


__ADS_2