
Praang, Suryo melempar asbak ke dinding disampingku. Aku melihat pecahan asbak di lantai lalu keluar ruangan memanggil OB untuk membersihkannya. Keterlaluan Suryo, marah-marah kok diruanganku. Aku sengaja meninggalkannya sendiri disana.
‘Dek Resti dimana? Saya jemput sekarang!’ Pesan itu kukirim ke nomor Resti.
‘Mau apa?’ jawab Resti.
Aku menelponnya, diangkat tapi tak ada suara. “Aku menuju ke kantor mu sekarang, sendiri. Gak ada Suryo, Adek dimana?” aku tau Resti takut mengeluarkan suara jika ada Suryo.
“Siap, aku menunggu didepan kantor,” jawabnya singkat lalu telpon diputus dari seberang.
Dari jauh aku melihat Resti menggunakan seragam biru dan rok selutut lengkap dengan baret. Ya ampun cakep banget sih, aku mengusap wajah dan menyangga tangan disetir mobil, lalu menghentikan laju mobil tepat ditempatnya berdiri. Resti melongok ke dalam mobil sebelum naik, aku menurunkan kaca jendela, “aku sendirian, naiklah!”
Perlahan kendaraan yang kukendarai melaju keluar markas, membelah kota pahlawan ini. Diam, itu yang kami lakukan dalam mobil, meski sudah berkilo-kilo jalan yang dilalui.
“Mas,” Resti menoleh ke arahku dengan hati-hati. Aku menatapnya lalu mengangkat dagu seolah bertanya tapi tak bersuara.
“Kita mau kemana?” tanyanya pelan.
“Kemana aja asal berdua sama Adek!” jawabku tegas dengan memandang lurus kedepan tanpa menoleh ke arahnya. Resti mendekatkan wajahnya ke arahku, mungkin dia gak yakin dengan apa yang dia dengar, “maksudnya?”
Aku memberikan senyum yang termanis yang pernah kumiliki pada sosok cantik disampingku ini. “Apa sih!” Resti menepuk tanganku lalu menoleh kearah jendela. Dari samping aku bisa lihat pipinya kini lebih merona karena malu.
Memasuki jalan yang tol yang leluasa, aku memegang tangannya untuk mengendalikan tuas kopling tangan mobil agar mobil melaju lebih cepat, lalu melepaskan dan menyangga dagu dengan tangan kiri di setir tanpa menoleh ke arahnya lagi, takut copot jantungku lihat senyumnya itu.
Resti mulai menyalakan tape mobil dan memilih beberapa lagu, kelihatannya dia mulai rileks, “mau lagu apa?” tanyanya.
“Apa aja yang menurut Adek bagus,” jawabku.
“Dengar, gak ada orang yang memanggilku dengan sebutan ‘Adek’ selain mas Imam.”
“Artinya apa?”
Dia tersenyum jahil, lalu ikut menyanyikan lagu yang diputarnya. Aku gak hafal liriknya, jadi pendengar aja lebih baik.
“Semua adik-adikku dirumah aku panggil ‘adek’ juga kok, gak cuma Dek Resti!” aku menyahut.
Aku menikmati waktu bersama Resti, meski tak banyak obrolan, rasanya nyaman. Mendekati rest area, aku memperlambat laju mobil lalu berbelok ke area parkir.
“Mau pesan minuman?” tanya Resti ketika mobil telah berhenti. Aku menggeleng, aku masih belum berani menatapnya, hanya sekilas aja, gak kuat iman melihat kecantikannya.
“Kenapa dari tadi mas Imam lihat ke arah depan terus? Gak noleh-noleh sih?” tanyanya.
__ADS_1
Aku memalingkan wajah ke arah Resti, “apa?” aku berbalik tanya. Dia tersenyum, aku jadi meleleh kan! tapi berusaha tetap konsisten gak tersenyum walau sulit.
“Jangan melihatku seperti itu? Pasti mas Imam mau marah-marah ya?” dia menunduk. Aku menghembuskan nafas kasar, “iya, saya gak bisa melupakan pengkhianatan yang dulu pernah Adek lakukan! Tapi saya juga gak bisa bohong bahwa hati ini masih cinta sama Adek!” ucapku.
“Maaf!” hanya kata itu yang keluar dari mulutnya yang tertutup sebagian rambutnya dari samping.
“Gak mudah menghilangkan trauma itu Dek, sakitnya belum hilang dari sini!” aku menepuk dadaku.
“Terus aku harus bagaimana supaya Mas Imam mau memaafkan aku?” dia melirikku.
“Dari dulu saya sudah maafin kok! Cuma kadang heran aja, Adek kok gampang banget berubah hatinya? Dari saya, pindah ke Irvan, terus balik ke saya lagi dalam waktu yang singkat. Saya masih ragu sama Adek yang sekarang. Apa bisa selamanya hati Adek untuk saya?”
“Gak ada lelaki lain yang aku sukai selain mas Imam!”
Aku mencibir lalu menatap kedepan lagi, Resti menepuk lenganku. “Gak percaya? Apapun akan kubuktikan!”
“Dulu ngomong gitu juga ke Irvan?”
“Nggak, Irvan gak pernah nanya, jadi aku gak perlu ngomong kaya gitu!”
“Kadang gombalan cewek lebih dahsyat dari cowok yang ngegombalin ya!”
“Kan kemarin aku sudah jelasin semua, Irvan itu cinta pertamaku. Mas Imam yang terakhir.” Aku tertawa mendengarnya.
“Terbalik, Adek yang lebih banyak.” Lalu kami tertawa bersama.
“Kita mau ngapain sih kesini?” tanya Resti lagi.
“Kan tadi sudah dibilang, kemana aja yang penting bisa berduaan sama Dek Resti” aku mengerlingnya.
“Jangan bilang gitu, nanti aku terbang!”
“Terbang aja, nanti aku liatin dari bawah,” aku tersenyum jahil.
“Aku pake rok span, gak bakal kelihatan dari bawah.”
“Yang mau dilihat kan cuma kamu aja, apa hubungannya dengan rok span?” aku balik meledeknya, lalu dia mencubitku. “Pasti pikirannya kotor, ngaku!”
“Hanya pikiran Adek aja ah yang kotor, aku gak!” aku mencibirnya.
“Udah yuks, kita balik ke kantor lagi. Nanti dicariin lagi!”
__ADS_1
“Siapa yang nyari? Tinggal matiin hp,” kataku lalu menonaktifkan ponsel, Resti mengikuti apa yang aku lakukan. “Oke, siap Ndan. Ayo kita jalan lagi!”
"Dek," panggilku.
"Iya, apa Mas?"
"Jangan bilang-bilang sama siapapun apa yang kita lakukan hari ini ya!"
"Kenapa?"
"Sementara ini jangan dulu, kita yakinkan hati kita masing-masing."
"Mas Imam belum yakin sama Resti?"
"Belum yakin sama diri sendiri! Kalau kita sudah yakin pada diri sendiri, apapun yang terjadi, pasti kita bisa melewati semua rintangan, termasuk keluarganya Irvan."
"Kenapa sih dari kemarin Mas Imam selalu memperhitungkan mereka. Irvan sudah gak ada, Angga juga gak ada lagi."
"Gak boleh begitu Dek. Mereka orang tuamu, dulu, sekarang dan selama-lamanya."
Resti membuang muka mendengar penjelasanku, "kalau gak boleh bilang tentang hari ini, aku setuju. Tapi kalau urusan mami dan keluarganya, aku gak setuju."
***
Malam ini aku gak bisa tidur, masih keingetan senyuman manis Resti. Seperti inikah yang disebut jatuh cinta? Kayak jaman remaja dulu aja. Nanti kalau aku nikah sama Resti gimana ya? Aku mengulum senyum yang tak ada habis. Aku mengambil ponsel, pengen telponan, ngobrol lagi sama Resti. Nomornya aktif setengah jam yang lalu, mungkin sekarang sudah dia sudah tidur.
'Masih online Pak? Kita ngopi yuk,' sebuah pesan masuk dari Lita.
'Lagi gak pengen ngopi,' aku membalas pesan dari Lita. Tak lama kemudian Lita melakukan panggilan video, refleks aku mengangkatnya. "Hayo pak Imam lagi ngapain? Tumben malam-malam online," Lita memainkan rambutnya.
"Ya sudah, sudah malam. Tutup aja telponnya. Saya lagi gak pengen diganggu."
"Pak Imam kayaknya lagi seneng nih, bagi-bagi dong rasa senengnya."
"Nanti kamu cemburu, nangis-nangis,"
"Yang bener Pak? Pasti pak Imam sekarang cuma suka sama Lita aja kan? Gak ada yang lain?"
"Pede banget kamu, kan sudah saya bilang kalau saya mau nikah. Kamu jangan sedih ya kalau saya tinggal nikah!"
Lita melongok mendengar kata-kataku, lalu memutuskan panggilan sepihak tanpa permisi. Aku memperhatikan profil kontak Lita yang fotonya tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
'Kok putus?' aku mengirim pesan pada Lita, ceklis satu. Aku mencoba memanggilnya tapi gak bisa, diblokir?