
Motor berhenti ditaman Rungkut. Situasi masih ramai karena masih belum larut malam.
“Jangan disini Pak, terlalu ramai. Cari yang agak sepi aja biar lebih nyaman,” pinta Lita.
“Mau yang sepi apa yang gelap?” tanyaku pada Lita sebelum turun dari motor, tapi Lita malah mencubit pinggangku, “ada lontong kupang tuh Pak, kayaknya enak!”
“Ya udah turun, pesan kesana. Nempel terus sama saya!”
Lita memukul pundakku lalu turun dan memesan makanan yang dipilihnya tadi lalu kembali lagi ke motor, aku masih duduk dimotor memperhatikan Lita.
“Seru ngebut-ngebutan naik motor gini Pak, dulu kalau ada abang saya, dia yang sering ngajakin ngebut dijalan,” Lita mulai celotehnya.
“Prokimal banyak jalan jelek gitu kok ngebut, rusak motornya dong,” aku menimpali.
“Gak di Prokimal, kita jalan ke Karang, cukup 1 jam 20 menit aja. Padahal kalau naik bis bisa tiga jam perjalanan,” cerita Lita sangat bangga. Aku cuma geleng-geleng kepala, kan jalan lintas, ngebut bareng mobil truk besar, terus terang aku masih trauma teringat kecelakaan yang pernah menimpaku dulu dan menyebabkan patah tulang betis. Tapi dengan kecelakaan itu aku bisa bertemu kembali dengan dokter cantik Utami yang kini entah dimana.
“Pak, Lontong kupangnya dah dateng tuh!” Lita menyadarkanku dari lamunan.
“Sebenarnya saya gak lapar lho.”
“Sama Pak. Apa kita sepiring berdua aja? Piring yang satunya disedekahin ke babang ojol itu?” Lita menunjuk seorang babang ojek yang sedang duduk tak jauh dari posisi kami.
“Boleh, sendok yang ini buat kamu aja, terus pinjem sendok satu lagi buat saya, sekalian kasih satu piring yang satu ini ke ojol yang itu!” kataku serius, tapi Lita malah tertawa terbahak-bahak. Akhirnya kami makan dipiring masing-masing sambil bercanda santai.
“Ta, kapan kamu lulus? Sekarang sudah semester berapa sih?” tanyaku.
“Baru semester tiga Pak, pengennya ya cepet lulus biar bisa cepet nikah sama Bapak!” Lita menjawab santai tanpa intonasi.
“Iya, cepetan lulus. Kamu katanya kan pinter. Ngapain kuliah lama-lama, emang gak bosen?”
“Gak, dikampus ceweknya dikit. Jadi saya termasuk orang yang dikagumi oleh banyak lelaki, baik dosen, kakak tingkat, teman seangkatan maupun mahasiswa yang lain jurusan.”
Aku mencibirnya, “terus kenapa nempelnya sama tentara terus? Gak sesama mahasiswa aja?”
“Berarti pernyataan saya tadi kurang lengkap. Saya banyak dikagumi oleh banyak lelaki, baik dosen, kakak tingkat, teman seangkatan, mahasiswa yang lain jurusan, maupun tentara, seperti anda contohnya!” Lita tersenyum penuh kemenangan.
“Kalau lulus nanti, peluang kerjanya dimana aja ya?” tanyaku lagi.
“Banyak, yang jelas di dunia konstruksi. Di bank bisa, BPK, Pertamina bisa. Banyak peluangnya. Bapak gak perlu khawatir saya gak dapet tempat kerja. Nanti kalau saya sudah jadi istri Bapak, saya bisa jadi bos kontraktor seperti keluarga Bakrie, tapi gak bikin lumpur lapindo ya!”
__ADS_1
“Emang yakin mau jadi istri saya?”
“Asal Bapak setia menunggu saya sampai lulus kuliah, kenapa nggak?”
“Berapa sih umur kamu sekarang?”
“Bapak nih kepo maksimal deh, coba tebak!”
“Kalau sudah umur dua puluh mau langsung saya lamar, boleh kan menikah sambil kuliah?”
Lita garuk-garuk kepala, “yang bener Pak? Saya sudah dua puluh dua.”
“Bohong banget, baru juga lulus SMA kemarin, tua banget dah umur segitu!”
“Bapak udah juga baru lulus kemarin kan? Umurnya baru dua lima kan? cocok berarti kita Pak!”
Kapan sih bisa ngeprank anak satu ini, ujung-ujungnya balik aku lagi yang kena prank.
“Kakak laki-laki kamu ada di Kalimantan kan? Minta nomornya, saya mau nelpon dia sekarang!”
“Mau ngomong apa?” tanyanya sambil melirikku.
“Oh,” Lita membuka ponselnya lalu memberikan nomor kakaknya, “ini Pak!”
Aku menyalin nomornya lalu melakukan panggilan ke nomor itu, Lita melirik ke ponselku, “Pak, beneran?” tanya Lita gugup.
“Iya, beneran dong!” Tapi nomor yang dituju tidak mengangkat.
“Ih, jangan aneh-aneh deh Pak. Tadi saya cuma bercanda. Sumpah! Saya belum ada dua puluh tahun, nih kalau gak percaya lihat KTP saya!” Lita mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan KTPnya padaku. Baru masuk sembilan belas tahun.
“Setahun lagi, gak masalah kan kalau lamarannya dari sekarang. Karena untuk menikah banyak yang harus dipersiapkan. Kita persiapkan dari sekarang,” ucapku tegas dan lantang.
“Ih, gak mau. Lita mau lulus terus kerja dulu baru nikah.” Lita sekarang kelihatan lebih ketakutan. Mau ngomong apa aku kalau tadi kakaknya mengangkat telponku, ha … ha ….
“Kelamaan, saya takut kamu keburu diambil orang!” godaku.
“Eh, bukannya kemarin Bapak yang bilang kalau Bapak mau segera menikah?” Aku mengangguk, “sama siapa Pak?” tanya Lita.
“Kamu,” aku tersenyum.
__ADS_1
Lita mengambil piring yang dari tadi kupegang dengan kesal lalu mengembalikan pada penjualnya.
“Pak, duitnya mana?” teriaknya dari jauh. Aku menghampirinya lalu membayar sejumlah uang pada penjualnya, “beli minuman sana! Saya minta air mineral aja!” Lita meninggalkanku dengan cepat dan wajah yang masam.
Aku menunggu Lita di atas motor, dia menyerahkan sebotol minuman mineral. “Saya pulang duluan naik ojek!” Lita berpaling dan meninggalkanku.
“Jadi pengen beralih kerjaan jadi tukang ojek, biar bisa nganterin kamu kemana aja!” ucapku mengedipkan sebelah mata.
Lita cemberut tapi akhirnya tersenyum dan memukul lenganku. “Ayo pulang!” rengeknya.
“Lagi ada tugas atau ada yang mau dikerjain?” tanyaku curiga.
“Gak ada, saya yang lagi dikerjain sama Bapak.” Lita melipat kedua tangannya didada.
“Banyak yang bilang kalau cewek marah katanya bikin tambah cantik. Kalau saya gak setuju. Yang jelas kalau orang marah pasti tambah jelek, kayak kamu sekarang!” aku meledeknya, Lita menyembunyikan senyumnya dengan membalikkan badannya.
“Sudahlah, kalau mau senyum gak usah pake acara ngumpet segala. Kamu diam aja manis, apalagi kalau senyum, wow, bisa bikin duri zakum berbunga melati.” Lita tertawa terbahak-bahak mendengar ledekanku.
“Sudah berapa banyak cewek yang Bapak godain kayak gini?” tanyanya.
“Banyak, sampe saya dicap sebagai playboy dan akhirnya terlambat nikah karena banyak ngegombal dan kurang serius!” jawabku pasrah.
“Bangga ya?” Lita mencibir.
“Iya, makanya malam ini saya beranikan diri untuk melamar kamu!” jawabku jujur.
“Bawa cincin gak?” Lita mulai serius
“Gak, tapi bisa dibuatin kok!” aku merangkai kuntum bunga untuk dijadikan cincin alakadarnya. Lita memberikan tangannya untuk dipakaikan cincin dari bunga yang baru kubuat.
“Eh, Pak. Tau gak kenapa jari tangan ini ada satu-satu, beruas-ruas?” tanya Lita setelah aku sematkan cincin dari bunga ke jari manisnya.
“Kenapa ya? Gak tau juga!”
“Biar bisa aku genggam!” jawab Lita lalu tangannya menggenggam jari-jari tanganku lalu kami berjalan sambil saling lihat dan tersenyum. Tiba-tiba Lita menghentikan langkahnya dan menjauh, “Pak, mundur Pak!” teriaknya. Aku spontan mundur, “kenapa?” Lita mendekat dan berbisik di telingaku, “Bapak gantengnya kelewatan!”
“Sudah ah, pulang! Sudah malam. Nanti kalau kamu gak boleh masuk sama penjaga gerbang gimana?”
“Nginep di mess Bapak, bolehkan!”
__ADS_1