Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
65. Litaku sayang


__ADS_3

“Ndan, kalau boleh meminta, saya ingin ditugaskan ditempat yang jauh dan gak kembali lagi kesini!”


“Kamu serius dengan ucapanmu?”


“Iya Ndan. Rasanya saya gak sanggup berlama-lama disini.”


“Kenapa sih kamu dari dulu gak mau menikahi Resti? Saya sangat menyesal ketika kamu sengaja melimpahkan Resti untuk Benny. Saya dan istri sangat berharap kamu bisa jadi bagian dari keluarga kami.”


“Gak bisa Ndan, Resti itu baik tapi tidak untuk dimiliki.”


“Kenapa?”


“Hati saya tidak bisa menerimanya meski hati ini masih ada padanya!” 


“Apa Resti terlalu buruk untukmu?”


Aku menggeleng, “hati gak bisa dipaksakan.”


“Seberapa besar luka yang Resti torehkan sehingga kamu belum bisa memaafkannya?”


“Saya sudah memaafkan Resti sejak dulu. Komandan gak perlu terlalu serius menanggapinya.”


“Ini hal yang serius. Kamu masih suka sama anak saya, tapi kamu sengaja membiarkannya dengan orang lain.”


“Bukan membiarkan Ndan, justru saya memberikan dia yang terbaik yang saya punya untuknya.”


“Tapi kamu tidak memikirkan diri sendiri!”


“Saya sudah punya rencana ke depan sendiri. Saya yakin bisa menciptakan bahagia untuk diri sendiri. Gapapa Ndan!” aku tersenyum meyakinkan kolonel Teguh atas ucapanku ini.


“Ibu dirumah pernah menangis semalaman, dia merasa sedih, kenapa Imam gak mau lagi sama Resti!”


“Kalau ibu menangis semalaman, mungkin saya sudah pernah lebih dari itu. Kekecewaan ini sudah menjadi luka yang sulit disembuhkan. Biarkan saya mengobati luka ini dengan menjauh dan tak kembali lagi kesini.”


“Mudah bagi saya memindahkan seseorang dari sini, termasuk kamu. Tapi sebaiknya kamu pikirkan lagi masak-masak. Terima kasih telah mengenalkan orang baik seperti Benny untuk anak saya.”


Aku memejamkan mata sesaat lalu mengangguk. “Sudah cukup kisah saya bersama Resti. Tolong bantu untuk menutup akses saya untuk bertemu Resti kembali. Saya benar-benar tidak sanggup hidup berdampingan dengan mereka.”


“Baiklah, saya tunggu tiga hari lagi keputusanmu. Kalau kamu tetap ingin mutasi, saya bisa bantu. Tapi kalau kamu masih mau disini, tetap lapor saya ya.”

__ADS_1


“Siap, Ndan.” 


Aku berdiri lalu memberi hormat pada komandan. Kolonel Teguh berdiri lalu memutari meja dan berdiri tepat dihadapanku. Lama kami saling berpandangan, lalu kolonel Teguh memelukku, “terima kasih, Ayah!” bisikku pelan di telinganya.


Kolonel Teguh melepaskan pelukannya, “selamanya kamu tetap saya anggap sebagai anak sendiri!” kolonel Teguh memegang kedua bahuku.


“Saya pamit undur diri. Tiga hari lagi saya akan kembali!”


***


Gerimis tipis mengiringi langkah ketika aku keluar dari gedung. Langit gelap siap menumpahkan rahmat untuk seluruh alam. 


“Ta, kamu dimana?” aku bertanya dari balik telepon.


“Mau pulang dari kampus, tapi hujan jadi masih neduh di jalan.”


“Tunggu, aku akan menjemputmu!”


Lita sudah tampak dipinggir sebuah toko, aku keluar membawa jaket untuk menutup kepala, hujan sangat deras. “Ayo, ikut bersamaku!” aku menaungi kepalaku dan kepala Lita dengan jaket menuju pintu mobil.


“Makasih ya Pak!” kata Lita setelah kami sudah masuk kedalam mobil.


“So sweet” Lita menggenggam kedua tangannya di samping pipi kanannya.


Aku tersenyum, ikut bahagia melihat kebahagian di matanya. Saat-saat ini tak akan berlangsung lama, harus menjadi kenangan yang indah dan tak kan terlupakan.


“Pak, kapan terakhir ujan-uajanan?” tanya Lita tiba-tiba.


“Sering, kalau lagi latihan terus hujan, latihannya tetap jalan meski hujan gerimis atau deras. Kenapa?”


“Saya sudah lama gak ujan-ujanan. Seru kali yak!”


“Kamu mau ujan-ujanan sekarang?” aku melirik gadis disampingku. Mata Lita berbinar sambil mengangguk, “bapak ikutan juga ya!”


“Tunggu ya, kita cari spot yang asyik!”


Lalu mobilku menepi dekat sebuah taman, suara geledek dan petir sesekali saling bersahutan membuat Lita ragu. Aku lebih dulu keluar mobil, menatap langit yang sedang menumpahkan hujan. Lita berlari ke arahku, lalu berdiri membelakangiku, “langit bisakah kau turunkan seorang pria tampan yang dapat membuatku bahagia?” Lita berteriak menatap langit sambil menutup mata, kedua tangannya menutup rapat di depan dadanya.


Aku berbisik di telinganya, “doamu terkabul, buka matamu!” aku memberikan senyuman terbaikku. Lita tersipu malu.

__ADS_1


“Saya mintanya pria tampan, kok Bapak yang ada disini?” ledeknya.


Mataku melebar, “kalo saya gak masuk kriteria tampan, kamu mau cari yang kayak mana lagi?”


Lita menjulurkan lidahnya lalu berlari, ngeledek nih anak, pake acara lari segala. Lita berlari lalu berlindung dibawah pohon, “kejar saya Pak!”


Ah, mudah. Aku berlari ke arahnya, tapi karena terlalu bersemangat dan kurang hati-hati, kakiku tergelincir dan jatuh dalam genangan air. Kami tertawa bersama, “alam semesta gak merestui Bapak menangkap saya!” 


Aku berusaha menangkap tangannya, tapi karena basah tangannya terlepas dari genggamanku. Kami berlari berkejar-kejaran di taman dibawah guyuran hujan deras. Beberapa pedagang kecil yang sedang berteduh ikut tertawa dan menyoraki salah satu dari kami jika terjatuh karena terpeleset. 


Hari mulai gelap, hujan tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, masih deras seperti tadi. 


“Pak, saya punya ilmu menghilang lho!” kata Lita setelah lelah berlarian.


“Oh ya? Coba buktikan!” tantangku.


Lita duduk bersila, kedua tangannya bertautan didepan dadanya, lalu mulutnya komat-kamit membaca mantra. Selesai membaca mantra, Lita mengusap seluruh tubuhnya dengan kedua tangan. “Saya sekarang sudah hilang Pak, ayo cari saya sampe dapat!”


Ah, ada-ada saja. Aku berpura-pura tak melihatnya, kedua tanganku berusaha meraih kesana kesini mencarinya, “Lita kamu dimana?”


Lita menggeser posisi agar tubuhnya tak dapat kuraih, Lita tertawa riang seolah menang.


Aku meneruskan pencarian, masih pura-pura tak melihatnya, membalikkan dahan pohon, menyingkap ayunan di taman untuk mencarinya.


“Lita, jangan pergi dulu. Permainan kita belum selesai!” 


Lita berdiri didepanku, melambaikan kedua tangannya di depan wajahku, tapi aku masih pura-pura tak melihatnya.


“Lita, ayolah. Kembali kesini, hari belum malam, kita masih punya banyak waktu bersama!” aku berdiri ditengah taman.


Lita memelukku dari belakang, “saya disini Pak! Tetaplah disini bersamaku selamanya. Saya tau Bapak akan pergi jauh, tapi saya gak berharap itu terjadi. Tetaplah disini sama saya Pak! Lita mengeratkan pelukannya di dadaku dan meletakkan wajahnya di pundakku. Aku menggenggam kedua tangan Lita didada. “Maaf aku harus pergi, mungkin tak kembali.”


“Gak Pak! Bapak gak boleh pergi,” Lita melepaskan pelukannya, aku membalikkan badan menghadapnya.


“Terima kasih atas semua yang telah kamu berikan, aku sayang kamu!” tangan kananku mengelus pipi kirinya yang mulus.


Tangan kiri Lita menangkap tangan kananku, lalu menciumnya.


“Saya pergi dinas ya!” Lita menggeleng, matanya berkaca-kaca, “Bapak gak boleh pergi!”

__ADS_1


“Bila kita berjodoh, pasti nanti akan bertemu. Jangan pernah khawatir akan masa depan! tangan kiriku mengelus rambutnya yang basah karena air hujan lalu menariknya ke dalam pelukan.


__ADS_2