
“Kalau Benny jadi menikah dengan Resti, Imam mau dimutasi kemana Yah?” tanya bu komandan yang membuat seisi ruangan seketika terdiam.
“Kamu mau tetap disini apa pindah Mam?” kini komandan bertanya padaku.
“Dimana saja negara menempatkan, saya siap Ndan!” jawabku ringan.
“Abdi negara banget!” kolonel Teguh memberikan dua jempolnya padaku, aku hanya membalas dengan senyum kecut. Dulu dinas ke Lampung apa termasuk campur tangan beliau juga? gapapalah, berkah kok, buktinya bisa berkenalan dengan banyak orang baik disana, termasuk juga dengan si cantik Lita.
Koh Benny mulai terlihat lebih rileks ngobrol dengan orang tua Resti, tinggallah aku sebagai obat nyamuk disini, duduk manis sambil ngeteh dan makan kacang. Sudah mulai larut malam, tapi obrolan belum juga ada tanda-tanda berakhir. Ngantuk banget, sudah berkali-kali menguap tapi gak ada satupun yang respon, mana gak ada kopi lagi. Obrolannya masih hots aja. Pengen pulang duluan tapi gak bawa kendaraan sendiri, nasib orang nebeng.
“Mam, Imam!” koh Benny membangunkan aku yang duduk tertidur disampingnya. Aku membuka mata, ah ternyata masih dirumah kolonel Teguh.
“Kasian nunggu sampe ketiduran, pulanglah, sudah malam,” kata bu komandan.
Aku mengucek mata, menegakkan punggung, masih ada rasa nyeri saat dibanting Hasyim tadi pagi. “Saya datengnya memang sudah malam Bu, kalau sekarang masih malam, berarti mainnya kurang lama,” kataku sambil menghabiskan teh yang tinggal sedikit itu.
“Ya sudah, temani ayah main catur dulu!” ucapan kolonel Teguh membuatku mendongakkan kepala, ayah? lagi ngomong sama aku apa sama koh Benny?
“Gantian Mam, tadi aku dah kalah. Sekarang kamu yang main!” ujar koh Benny.
“Gak, ampun. Saya nyerah, capek saya, ngantuk, tadi habis jatuh juga,” aku menyerah sebelum kolonel Teguh memasangkan pion-pion dipapan catur.
“Jatuh dimana Mas?” tanya Resti. Sebal sekali ditanya, sok perhatian.
“Tadi dibanting anak buah,” jawabku.
“Kok bisa? Lancang sekali anak buahmu!” bu komandan berkomentar.
“Tadi lagi sparing taekwondo, mertuanya Resti datang mengamuk, jadi konsentrasi saya pecah, remuk badan sekarang.”
“Jadi badannya sakit karena jatuh kan? Bukan karena omongan mami?” Resti meledekku, gak lucu, tapi yang lain malah tertawa.
“Ya sudahlah, sudah malam. Kalian pulang saja. Besok main ke sini lagi ya,” kata bu komandan.
“Iya Bu,” jawab koh Benny.
Di dalam mobil aku merebahkan badan lagi, lumayan selisih waktu perjalanan untuk tidur.
Tiba-tiba koh Benny membangunkanku, “sudah sampai Mam!”
“Oh, sudah sampai ya? Makasih ya!” aku turun dari mobil, tapi ternyata koh Benny juga turun dari mobilnya lalu mengikutiku sampai depan pintu mess.
__ADS_1
“Aku tidur sini ya Mam,” pinta koh Benny.
Aku memperhatikan keseriusan diwajah koh Benny, “tumben, ayo masuk!”
Koh Benny mengikuti kemana aku pergi di dalam mess, mungkin dia gak terbiasa diruangan sempit seperti messku ini, di mess ini aku tinggal bersama empat orang rekan yang kadang ditempati kadang mereka tidur diluar.
“Mam, katanya kamu ngantuk, kok belum tidur?” tanya koh Benny.
“Iya, sebentar lagi juga mau tidur. Ini bantalnya, baru saya ganti sarung bantalnya,” jawabku.
“Mam, Resti itu baik banget, cantik lagi, keluarganya juga baik. Kok kamu mau melepas dia untuk aku sih?” koh Benny masih penasaran rupanya.
“Ya saya ngerasa gak pantas aja buat dia, koh Benny lebih pantas. Dah itu aja.” Aku kembali tidur lalu membelakanginya.
“Gak tepat Mam, aku merasa ada sesuatu yang kamu tutupi! Tolong beritahu saya!” koh Benny menggerak-gerakkan tubuhku. Aku bangun lalu duduk, “saya sudah terlanjur sakit hati karena ditinggal nikah sama dia, rasa kecewa saya sudah meluap dan gak bisa dikembalikan lagi!” jelasku.
“Tapi setelah suaminya meninggal, kan kamu bisa balik lagi sama dia!” tambah koh Benny.
“Tapi jelas dia memilih koh Benny kok, kita sudah buktikan bersama!” ucapku kesal dan kecewa.
“Belum tentu Mam, dia masih perhatian gitu kok sama kamu!”
“Dia itu baik banget, cantik, perhatian, dari keluarga terpandang, aku gak bohong kalau masih kagum sama dia, tapi rasa kecewa ini sudah malas untuk berdekatan lagi sama dia!”
“Beri dia kasih sayang dan kesetiaan, pasti dia akan membalas apa yang telah kita berikan padanya. Coba deh!”
“Kamu kurang baik apalagi sama dia dan keluarganya, tapi ujung-ujungnya dia ninggalin kamu juga!”
“Ya itu karena saat itu aku gak ada ditempat, selain itu dia punya kesempatan untuk menikah dengan Irvan. Mulai sekarang, jangan pernah lengah, jangan pernah beri dia kesempatan untuk berpaling dari kamu. Jaga dan selalu beri perhatian!”
“Dari tadi aku kepikiran, kenapa orang sebaik dan secantik Resti kok kamu relakan untuk aku?”
“Karena aku tau, kamu mampu memiliki dia. Cintai dia sepenuh hati dan jiwa. Aku ikhlas jika kamu yang memiliki dia.”
“Tolong jujur, apa yang membuatmu merasa gak pantas untuk Resti?”
“Kalau kata Suryo, sebaiknya aku cari yang perawan aja. Ha … ha ….”
“Cuma itu? Cuma kata Suryo, kalau kata hatimu?”
Aku mengusap wajah lalu memejamkan mata, “aku bukan orang kaya, Resti memilih Irvan karena Irvan bergelimang harta. Menurut saya, hanya koh Benny yang mampu menyaingi kekayaan Irvan.”
__ADS_1
“Jadi dia matre?”
“Gak,” jawabku cepat.
“Lalu apa?”
“Aku dan kolonel Teguh lebih mengutamakan kesederhanaan, tapi Irvan telah membiasakan dia dengan harta yang tidak pernah diberikan ayahnya.”
“Ya sama aja, aku gak mau diperas sama cewek matre!” wajah koh Benny mulai berubah.
“Koh, saya minta tolong. Cintai Resti dengan segenap jiwa, aku ingin dia bahagia. Aku merasa gak sanggup membuatnya bahagia seperti yang dilakukan Irvan dulu. Yakinlah kalau dia gak bakal memeras harta kekayaan koh Benny. Aku sangat mengenal dia dengan baik. Apa yang aku lakukan semata-mata hanya ingin yang terbaik untuk kalian. Koh Benny teman baik saya, gak mungkin saya dan teman-teman menjerumuskan koh Benny pada orang yang tidak baik. Resti adalah wanita yang pernah mengisi hati saya, pasti saya ingin memberikan dia yang terbaik, seperti koh Benny.”
“Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?”
“Saya yakin sepenuh hati!”
“Bagaimana jika Resti masih menyimpan rasa suka sama kamu?”
“Hati ini kita yang punya, kita yang mengaturnya, oleh sebab itu jangan pernah beri dia kesempatan untuk memikirkan aku. Berikan dia kasih sayang sampai dia lupa bahwa ada orang seperti aku disini.”
“Coba yakinkan aku lagi kalau dia gak bakal memeras hartaku nanti,”
Aku terdiam, bingung juga cari jawaban yang tepat. “Yang jelas apa yang dimiliki Irvan dari dulu sampai sekarang masih utuh, Irvan gak pernah kekurangan atau bangkrut. Apa yang diinginkan Resti pasti masih dalam jangkauan koh Benny lah.”
“Apa yang paling dia sukai? Yang paling menghabiskan uang?”
“Baju, perhiasan, make up gitu lah. Dia itu gak berjiwa tentara Koh, cita-citanya pengen jadi model. Intinya kebebasan diluar dunia militer.”
“Yang bener?”
“Itu yang menjadi daya tarik Irvan untuk Resti, dia memberi kebebasan dalam memilih. Dia fashionable banget kan! Pantes banget jadi peragawati.”
“Jadi dia pengen berhenti dari tentara?”
“Gak tau juga kalau itu, yang jelas dia suka dunia fashion gitu Koh!”
“Cocok bersaing sama mantan istriku!”
“Nah, paling gak jauh beda gayanya Veronika sama Resti, bedanya Resti Islam!”
Koh Benny mengangguk-anggukkan kepala, “Resti lebih cantik dari Vero, apalagi kalau dia pakai kerudung!” koh Benny senyum-senyum sendiri lalu rebahan.
__ADS_1
“Tenang koh, gak bakal beli kucing dalam karung. Resti itu orang baik dan dari keluarga yang baik. Bisa jadi Resti lebih sederhana dari Vero, saya kenal banget sama sikap dan sifatnya,” aku menengok ke arah koh Benny, tapi yang diajak ngobrol ternyata sudah terlelap, tidur apa pingsan nih orang, cepat banget tidurnya.