
Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk, ‘Kembalilah separuh jiwaku.’ Aku membuka profil dari pengirimnya, Almayra Restita Tunggadewi. Aku segera melakukan panggilan ke nomor tersebut. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam lebih, panggilan tak dijawab. Sudah terlalu malam, mungkin dia sudah tidur. Waktunya pulang juga.
Sampai di mess, aku gak bisa tidur memikirkan pesan yang dikirim Resti tadi sore. Kalau dilihat waktu pengiriman, dia mengirim pesan tersebut saat defile. Resti bekerja pada divisi dokumentasi dan publikasi, mungkin pada saat meliput tadi, dia melihatku lalu mengirimkan pesan ini. Nomorku masih disimpannya, sebenarnya seperti apa perasaanmu padaku dulu dan saat ini? Dulu waktu mendekatinya sangat sulit, perlu waktu yang lama untuk meyakinkan dia bahwa aku pantas jadi pacarnya, ketika ada pergi dinar ke Lebanon, dengan mudahnya dia melupakanku dan memilih menikah dengan Irvan. Apalagi menurut cerita mas Joko, dia sampai nangis minta dinikahkan dengan Irvan. Belum genap enam bulan dari kepergian suaminya, dia minta aku kembali. Aneh.
Bukannya aku gak menerimanya, tapi hatinya seperti apa sih?
Adzan subuh berkumandang, nomor Resti belum juga aktif. Aku memanjatkan doa terbaik untuk kehidupanku dan keluarga besar, terselip juga doa untuk calon tulang rusukku yang entah siapa dan sedang dimana.
Hingga apel pagi selesai, tak ada balasan dari nomor Resti kemarin. Terakhir aktif pukul 08.13, berarti dia sudah melihat panggilanku. Mungkin masih sibuk membuat dokumentasi acara kemarin, biar saja, aku juga masih sibuk dengan pekerjaanku sendiri.
***
Mentari hendak kembali ke peraduan, aku baru menyelesaikan pendataan alat yang digunakan kemarin, sebuah panggilan suara masuk, “Mas Imam dimana? aku dah tungguin dari sore tadi!” suara Resti.
“Ini siapa?” tanyaku memastikan.
“Aku Resti, Mas sudah lupa ya? Pesanku belum dibaca!” suara Resti bergetar.
“Saya belum buka hp, tunggu sebentar ya, setelah shalat magrib saya kesana!” jawabku.
“Gak usah, besok lagi aja!” Resti memutus panggilan telepon. Hm, gini nih kalau cewek ngambek, aku segera ke mobil lalu melaju ke kantin. Semoga Resti masih berada disekitar kantin.
Tepat Resti keluar dari kantin, aku memberhentikan mobil dekat Resti berdiri. Aku keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Resti, “naiklah!” lalu Resti naik ke mobil. Diam, itu yang kami lakukan sepanjang jalan. Aku mencari cafe yang privat, tak jauh dari markas.
Cafe tersebut terdiri dari dua lantai, aku menggandeng tangan Resti ke lantai dua meski dia menolak.
“Pesan makanan disini, saya mau shalat dulu. Tunggu sebentar ya!” aku meninggalkan Resti sendiri untuk menyembah pada yang Maha Kuasa. Tak lama aku kembali, tapi belum ada makanan yang terhidang dimeja.
“Sudah pesan makanan?” tanyaku, Resti mengangguk, “sekarang saya izin mau shalat dulu,” Resti berlalu sebelum aku memberi izin.
Tak lama kemudian, Resti datang bersamaan dengan makanan yang tadi telah dipesan.
“Silahkan makan!” aku mengambil makanan kemudian memakannya tanpa menunggu Resti, kami makan dengan diam. Setelah selesai makan, aku baru membuka ponsel. Ternyata, Resti mengajakku bertemu di kantin tadi sore. Pesan dikirim dari siang, tapi aku sama sekali tidak menyentuh ponsel. Resti menungguku di kantin sampai magrib, wajar jika marah.
__ADS_1
“Maaf ya, aku baru pegang hp. Baru lihat pesanmu,” aku menunjukkan ponselku pada Resti, dia melihat ponselku lalu mengangguk, aku belum memberi nama pada nomor Resti di ponselku.
“Ehm, ada yang ingin dibicarakan dengan saya?” tanyaku basa-basi.
Resti mengangkat kepalanya, menatap wajahku, “aku kirim pesan kemarin,” Resti menunduk lagi.
Aku mengusap wajah, “kamu yakin dengan apa yang kamu katakan itu?”
Resti mengangguk malu. “Tanah kuburan suamimu belum kering!” ucapku spontan. Resti menatapku kemudian menunduk lagi. “Aku tau, masa iddahmu telah selesai. Tapi aku merasa itu kurang pantas.”
“Baiklah, terima kasih.” Resti berdiri hendak meninggalkan meja, tapi tanganku lebih cepat meraih tangannya, “duduklah! Mungkin ada yang lain untuk dibicarakan,” aku mendudukkan Resti pada kursi yang tadi ditempatinya.
“Apa?” tanya Resti singkat.
“Apa kamu yakin dengan pesan yang kamu kirim kemarin?” aku berusaha menatap mata indahnya, ada kehangatan saat melihat dua bola matanya yang teduh itu.
“Sebenarnya saya malu untuk mengatakannya, apalagi tadi Mas Imam bilang itu tak pantas!” Resti menunduk, ada butiran air mata yang terjatuh. Refleks aku menyentuh tangannya lalu menggenggamnya. “Sudahlah, jangan menangis. Maaf, aku yang tidak pantas berkata itu.” Aku memberikan tisu pada Resti, lalu dia menghapus air matanya.
“Irvan dah gak ada lagi Mas!” Resti membalas genggaman tanganku.
“Coba ceritakan perasaanmu dulu pada Irvan dan padaku. Aku ingin kamu jujur, banyak info yang aku terima tentangmu dan Irvan, tapi aku ingin tau semua darimu dengan lengkap.”
“Mas Imam kayak ayah aja!” kedua tangan Resti masih menggenggam tangan kananku.
Aku tersenyum, “ceritakanlah!”
“Aku gak mau membicarakan tentang Irvan lagi!” Resti berkelit.
“Baiklah, kita pulang sekarang!” aku pura-pura berdiri, tapi Resti menarik tanganku lagi.
“Iya, saya mau cerita, tapi jangan diejek ya!” ucap Resti, aku mengangguk.
“Irvan itu pacarku ketika SMA dulu, dia kuliah ke Amerika saat kita pacaran dulu,” terang Resti.
__ADS_1
“Sebelum aku pergi ke Lebanon dulu, aku berjanji untuk menikahimu setelah selesai bertugas. Tapi kenapa kamu lebih menikah dengannya sebelum aku pulang?” aku menelan saliva yang terasa pahit.
“Maaf,” Resti mengendurkan genggaman tangannya. “Saya minta penjelasanmu, bukan sekedar permintaan maaf,” ucapku.
“Mas Imam dinasnya terlalu lama, awalnya bilang enam bulan, ternyata lebih dari dua tahun,” jawabnya.
“Kamu tahu sendiri kan, yang menugaskan aku itu negara, bukan mauku berlama-lama disana!” aku menekan kata-katanya, lalu menghembuskan nafas kasar.
“Irvan kembali ke Indonesia saat Mas Imam di Lebanon, kami kembali dekat dan memutuskan untuk menikah!” suara Resti jelas kudengar meski dia berkata sangat pelan.
“Kenapa kamu lakukan itu, apa perasaanmu padaku telah hilang saat itu?” aku menahan amarah kekecewaan.
Resti terdiam dan menunduk, dia kembali menyeka air mata, “dari dulu aku gak suka dunia militer, aku gak suka tentara. Ayah selalu memaksaku untuk menjadi tentara. Dulu ayah memaksa aku ikut tes AAL, padahal aku lebih suka dunia model dan fashion. Aku gagal AAL, tapi ayah memaksaku ikut secaba. Aku semakin benci dengan militer, sampai akhirnya aku bertemu mas Imam. Dari mas Imam aku mulai mencintai pekerjaan dan merasa bangga jadi salah satu bagian dari Angkatan Laut. Tapi ketika mas Imam pergi, Irvan mendekatiku, memberi fasilitas untukku ke dunia modeling seperti yang aku cita-citakan dulu. Tanpa mas Imam, aku kembali seperti dulu, terjun ke dunia modeling dan kembali membenci dunia militer yang bikin kulitku hitam dan rusak. Irvan menjadikanku ratu, hal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku berpikir, nantinya mas Imam pasti seperti ayah, keras, suka memaksa dan tak suka dunia fashion. Kurasa menikah dengan Irvan adalah pilihan yang paling tepat. Tapi ternyata aku salah,” Resti meminum minumannya di gelas.
“Kenapa?” tanyaku.
“Setelah pulang dari Amerika, ternyata tabiatnya sangat berbeda dengan dulu. Benar kata ayah dan ibu, dia terlalu bebas, suka mabuk dan sering menghabiskan waktu malamnya untuk hal-hal yang tidak berguna. Aku gak suka.”
“Kenapa kamu menceritakan aku padanya?” tanyaku.
“Aku gak suka dia pulang larut malam dengan bau alkohol, menyulut kemarahanku, padahal Angga baru lahir. Aku membandingkan dia dengan mas Imam dan ayah. Ternyata tentara itu baik, disiplin, jauh dari hal-hal negatif yang dilakukan Irvan. Orang tua Irvan selalu membelanya ketika aku mengadu apa yang dia lakukan. Setiap kami bertengkar aku selalu menyebut nama ayah dan mas Imam, bagiku ayah dan mas Imam adalah yang terbaik. Irvan juga bilang kalau maminya lebih baik dariku. Malam sebelum kecelakaan itu terjadi, Irvan mabuk sampai hampir subuh. Aku marah sekali, aku bilang dia gak boleh berdekatan denganku dan Angga, dia gak terima, lalu merebut Angga dariku, mengajaknya pergi entah kemana,” Resti menangis sesegukan, “akhirnya terjadilah kecelakaan yang membuat Angga pergi selamanya!” Resti menundukkan kepala diatas tangannya di meja.
“Maaf, aku membuatmu jadi menangis,” aku jadi merasa bersalah membuat Resti jadi menangis seperti ini.
Resti mengangkat kepala lalu menggeleng, “aku kehilangan anak yang sangat aku sayangi karena Irvan lalai, mabuk. Sempat aku berpikir, kenapa tuhan hanya mencabut nyawa anakku saja, kenapa gak Irvan sekalian. Tapi ayah dan ibu menasehatiku untuk tetap berbuat baik pada suami. Aku menjaga selama dirumah sakit bersama mami. Mami memarahiku, selalu membela Irvan, menjelek-jelekan mas Imam di depanku. Pada saat mas Imam menjenguk waktu itu, untungnya gak ada mami. Kalau ada mami, pasti mas Imam dimarahi juga!”
“Sekarang apa perasaanmu pada Irvan?” rasanya kelu bibir ini untuk mengatakan.
“Aku gak bohong kalau dialah orang yang pertama memberiku kebahagian yang tak pernah aku dapatkan. Dia baik, aku bersyukur pernah menjadi istrinya. Keluarganya memberikan semua fasilitas mewah yang gak pernah aku rasakan sebelumnya. Dia hebat, akulah satu-satunya ratu dalam hidup Irvan! Aku sayang Irvan,” Resti menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Irvan baru meninggal empat bulan yang lalu, secara agama kamu sudah boleh menikah dengan pria manapun. Tapi semudah itukah kamu melupakannya? Semudah itukah kamu menyatakan cinta padaku? Bukan aku gak suka sama kamu tapi ya jelas berbeda dulu dan sekarang, gak semudah itu. Dari dulu aku berusaha ngelupain kamu, sengaja menjauh, aku berusaha ikhlas dengan apa yang kamu lakukan. Rasanya berat, sakit yang gak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku hampir kehilangan nyawa saat tenggelam dulu, sulit sekali menghapus namamu didalam hati ini. Kamu mengerti kan? Semua perlu waktu, tidak mudah menyembuhkan luka.”
“Om Imam!” teriak anak kecil memanggilku.
__ADS_1