
“Ta, kamu mau temani aku ke pesta ulang tahun itu?”
Lita menengok ke arahku, “gak ah, malu.”
“Iya ya, saya juga malas datang kesana. Teman-teman yang diundang semua pada bawa anak kecil,” kataku lesu.
“Semua teman Bapak bawa anak kecil, dan Bapak bawa anak kayak aku?”
“Saya gak menganggap kamu kayak anak kecil.”
“Nanti Bapak mau ngenalin saya sama teman-teman Bapak sebagai apa?”
Aku garuk-garuk rambut, “kamu maunya sebagai apa?”
“Pacar, tapi malu,” Lita terkekeh.
Aku tersenyum melihatnya, cantiknya paripurna. Mungkin kalau Lita sudah mengenal make up seperti Resti, Lita bisa lebih cantik.
“Pak, tapi sebenarnya tugas saya tu banyak banget. Bukannya sok sibuk tapi…” Lita mendesah galau.
“Iya, selesaikan aja tugasmu. Saya besok datang sendiri.”
“Bapak gak marah kan?”
“Nggak, makasih ya sudah menemani belanja. Sekarang bungkusnya dimana?”
“Disini aja, tadi saya sudah beli semuanya,” Lita mengeluarkan apa yang tadi dibelinya.
Lita membungkus boneka beruang itu, dibagian dalam dia menuliskan ucapan selamat ulang tahun, dibagian paling atas plastik sengaja dilebihkan lalu diikat dan diberi pita warna orange.
“Bisa aja sih kamu bungkus kayak gitu, jadi manis banget ya!”
“Lita gitu lho!” Lita menyangga dagunya di antara jari jempol dan telunjuknya, dan menekuk ketiga jari lainnya.
“Bonekamu dibungkus kayak gini juga bagus Ta!”
“Gak usah dibungkus segala, nanti kalo pake plastik malah gak enak dipeluk, kresek-kresek bunyinya, brisik!” Lita memeluk boneka itu, “kayaknya meluk boneka ini bisa bikin nyenyak tidur!”
“Kok bisa? Ada-ada aja kamu!”
“Aslinya saya ngantuk banget sekarang Pak, tapi pusing tugas.”
“Saya ganggu waktu kamu ya? Ya sudah kita pulang aja, kamu tidur, besok pagi terusin lagi tugasnya.”
Lita menguap lalu menganggukkan kepala.
***
__ADS_1
Dress code merah hitam ala mickey mouse, aku memilih menggunakan kaos merah lengan panjang dipadu dengan kemeja hitam tanpa mengaitkan kancingnya dan celana pendek hitam selutut. Rumah Dimas sudah dihias dengan dekorasi serba pernik mickey mouse, lucu juga ya. Baru turun mobil aja teman-teman sudah heboh melihatku yang jomblo abadi ini. Aku mengabaikan olok-olok mereka, dengan memeluk boneka beruang yang terbungkus rapi, aku masuk kedalam area yang sudah terdekor indah mencari anaknya Dimas, “mana Nada? Om punya boneka cantik nih!” teriakku karena yang punya acara ternyata sedang dipojok ruangan tengah asyik memainkan boneka beruang yang mirip dengan boneka yang aku bawa bersama Resti dan Eka, istrinya Dimas. Perbedaan boneka yang kubawa dengan yang dimainkan Nada hanya ukurannya lebih besar dari yang kubawa. Aku jadi agak kaget juga melihat persamaan bentuk dan warna boneka itu.
“Wah, terima kasih Om, Nada suka banget sama boneka beruang, sama ya dengan pemberian tante Resti,” ucap Eka, istri Dimas.
Resti tertawa, “kok bonekanya bisa sama?”
Aku mengangkat kedua bahu.
“Ini mamanya, ini anaknya!” ucap Nada sambil memegang kedua boneka yang sama persis itu.
“Selamat ulang tahun Nada, semoga panjang umur dan tambah disayang mama-papa!” aku mengelus kepala Nada yang berbalut pita merah seperti minnie mouse.
Acara perayaan ulang tahun Nada, anak Dimas digelar sangat meriah. Banyak anak kecil yang hadir turut memeriahkan acara tersebut, ibu-ibu juga gak kalah heboh, ikutan narsis diberbagai spot foto yang ada. Hampir semua pasangan yang hadir berswafoto dengan keluarga kecil Dimas itu, termasuk koh Benny dan Resti. Seharusnya aku yang ada disitu, eh gak deh, sudah ikhlas kok, tapi kok bete lihat kedekatan koh Benny dan Resti. Masih banyak view lain yang bisa dilihat, kenapa harus memperhatikan mereka.
“Bro, gak ikut foto?” Suryo menyenggol lenganku.
“Tadi kan udah, waktu rame-rame tadi.”
“Lita gak diajak?”
“Gak, lagi sibuk tugas.”
“Kata koh Benny, kado kamu sama kado Resti sama persisi, kok bisa ya?”
“Mungkin selera Lita sama Resti sama.”
“Yang milih boneka itu Lita?”
“Iya, tapi gak lama. Dia lagi super sibuk.”
“Jadi sedih nih?”
“Agak.”
“Ndan, sudah foto sama Nada?” tanya Frans pada komandannya.
“Sudah tadi, kamu?” Suryo balik bertanya.
“Baru aja foto dengan mereka,” jawab Monika ikut bergabung bersama kami.
“Mas Imam, itu beneran Resti sudah jadian dengan koh Benny?” Monika mulai kepo.
“Mungkin,” aku mengangkat kedua bahu.
“Kok bisa sedekat dan secepat itu ya? Padahal dulu kan dia lengket banget sama mas Imam?” tanya Monika, Frans menyenggol Monika, mungkin berniat mengingatkan Monika untuk diam.
“Koh Benny pake mustika pemikat yang gak aku miliki,” aku tertawa diikuti yang lain.
__ADS_1
“Apaan sih, Mas Imam kok ngelepas Resti dengan mudah gitu juga sih, bukannya dipertahankan!” desak Monika.
“Sudah gak cocok lagi, buat apa dipertahankan? Sekarang kalau mereka sudah cocok, mau apalagi? Ya silahkan dilanjut!” aku menjelaskan sesantai mungkin.
“Ada lagi nih yang gak kalah seru!” Suryo tiba-tiba ikut bicara.
“Apa?” ucap kami bersamaan.
“Kadonya Nada dari Resti sama Imam sama persis, seleranya sama berarti. Ya gak?” Suryo berbisik.
Monika melotot ke arahku, sedang yang lain tertawa terbahak-bahak. “Yang bener Mas?” Monika pasang mode kepo lagi.
“Gak sengaja, mana tau kalau Resti ngasih boneka kaya gitu juga!” jawabku sewot.
“Mas Imam milih boneka itu sendiri?” tanya Monika lagi.
“Gak,” jawabku singkat.
“Jadi siapa yang memilih boneka itu untuk kado?” Monika masih penasaran.
“Lita!” jawab Suryo.
“Siapa lagi Lita itu?” tanya Monika.
Suryo dan Frans senyum-senyum gak jelas gitu. Jadi malas jawab pertanyaan Monika.
“Siapa Lita?” Monika bertanya pada Frans.
“Gebetannya komandan dong, masa kalah sama koh Benny!” jawab Frans sambil melirikku.
“Nah, gitu dong. Jangan mau ditikung Resti, segera gaet Lita itu. Seharusnya diajak kesini juga Mas. Biar Resti tau kalau mas Imam sudah move on dari mas Imam.” Monika memberiku semangat.
“Adanya juga Resti yang belum move dari aku!” ucapku sesombong mungkin.
“Masa? Tapi kayaknya Resti lengket banget sama koh Benny!” Monika memperhatikan Resti dan koh Benny di ujung sana.
“Itu karena ada saya disini, kalau gak ada saya, paling juga mereka gak sedekat itu!” kataku sewot.
Suryo dan Frans kini tertawa lebih keras hingga yang lain memperhatikan kami.
“Kayaknya mas Imam gak ikhlas deh, makanya kenalin Lita sama kami semua. Jadi bisa pamer kemesraan seperti mereka itu!” Monika menunjuk Resti dengan dagunya.
Semua ibu-ibu yang hadir foto bersama dengan Nada dan Eka di podium utama. Gak bisa dipungkiri, dari semua ibu-ibu yang sedang berfoto, Resti yang paling cantik dan rupawan. Jadi teringat apa yang dikatakan Monika barusan, kenapa melepas Resti? Ya tuhan, berikanlah hambamu keikhlasan, doaku dalam hati sambil mengusap wajah.
“Ayo sekarang bapak-bapak foto!” ajak Dimas sambil berteriak.
Koh Benny yang berada didekat podium sudah ambil posisi. Suryo berdiri lalu mendekati podium. Setelah semua bapak-bapak berada di podium mereka berfoto bersama.
__ADS_1
“Lho, kok gak ikut foto?” tanya Resti ke arahku.
“Belum pernah jadi bapak-bapak, jadi gak ikutan foto!” jawabku.