Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
64. Galau


__ADS_3

Aku membuka ponsel, koh Benny sengaja mendekat, ingin melihat apa yang terlihat di ponselku. Ternyata foto profil Lita adalah fotoku bersama Lita. Kode keras.


"Dia punya foto bareng kamu, kamu gak inget foto bareng dia?"


"Foto kapan ya? Oh iya, waktu hari Armada." Aku berbicara sendiri.


"Cakep juga, ajakin ketemuan Mam!"


"Mau ngapain?" aku menutup ponselku lalu menyimpannya disaku.


"Mau ngasih perhiasan,"


"Halah, gak semua perempuan suka perhiasan Koh!"


"Sok tau kamu! Resti sama Lita sama-sama beli boneka yang mirip banget untuk anaknya Dimas, artinya selera mereka sama."


"Sama-sama saya yang disukai mereka," aku tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan.


Tiba-tiba teleponku berdering, Lita menelpon.


"Iya Ta!" aku menjawab.


"Traktir sih Pak! Saya belum makan."


"Ya udah, kamu kesini ya. Kebetulan saya makan bareng temen. Saya share loc."


"Oh sama temen ya? Besok lagi aja deh."


"Kenapa? Saya cuma berdua, kebetulan temen saya pengen kenal sama kamu!"


"Lagi males keluar, makanya tadi saya minta bawain makanan kesini!"


"Oke siap meluncur tuan putri, mau makan apa?"


"Terserah, yang berkuah, anget."


"Nasi rawon ya! Tunggu sebentar, pesanan akan diantar segera."


"Kok diantar? Pak Imam gak kesini?"


"Gak, sekali kali langsung menerobos hatimu aja!"


"Ah Bapak bisa aja, buruan deh kalo gitu!"


"Asyiab!"


"Maaf ya Koh, saya duluan. Ada panggilan!"


"Yo, good luck!"


Seporsi nasi rawon meluncur dengan penuh cinta. 


Didepan rumah jaga kosannya, Lita sudah menunggu dengan secangkir kopi dan segelas teh.


"Pak, kok cuma beli satu?"


"Saya sudah makan, kamu aja yang makan."


"Yang bener Pak? Pasti Bapak ngarep makan sepiring berdua kan?"


"Gak, saya sudah kenyang. Kamu makan aja!"


"Baiklah kalau begitu, selamat makan!" Lita makan dengan lahap, sesekali menawari aku makan.


"Pak, makasih ya. Sebenarnya saya pengen makan bareng Bapak, tapi Bapak gak mau sih, jadi saya abisin semua."

__ADS_1


"Gapapa, biar kamu agak gemuk, gak terlalu tipis kayak gini!"


"Tipis? Emang kertas?"


Aku tersenyum menunggu rayuan gombalnya yang maut itu, tapi Lita hanya diam memandangku.


"Bapak kenapa? Kayaknya ada yang penting untuk disampaikan ya?"


Aku mendengus kasar lalu membuang muka. "Pak Imam!" Lita memanggilku pelan.


"Ta, saya mau pindah tugas," aku menunduk, enggan melihat wajah kecewanya.


"Kemana?"


"Jauh, mungkin kita ga bisa bersama lagi."


"Bapak mau dinas kemana?"


"SK belum turun, saya gak mau gegabah."


"Ya siapa tau aja dinasnya balik ke Lampung lagi."


"Kayaknya yang sekarang lebih jauh Ta! Kamu gapapa kan?"


"Baru aja deket sama pak Imam, masa mau ditinggal pergi."


"Tugas negara, gak bisa diminta, gak bisa ditolak."


"Bapak gak serius kan?"


"Resiko abdi negara, harus siap ditugaskan dimana saja."


"Bapak gak jujur mau tugas dimana, berarti itu hanya wacana. Belum pasti!"


"Ih, kok Bapak bilangnya kayak gitu sih! Saya gak mau ditinggal dinas. Nanti kalau saya sudah lulus, saya siap ikut kemana aja Bapak dinas."


Hatiku terenyuh mendengarnya, seberapa pentingkah aku untuknya? 


***


Latihan kesiapan anggota untuk dikirim ke Natuna digelar. Beberapa orang prajurit telah dipilih. Aku hanya diminta untuk melatih, tidak dikirim untuk tugas disana.


Hampir setiap hari koh Benny menanyakan kabarku, sering dia bercerita tentang kesiapannya untuk lamaran Resti.


Rasanya malas mendengarkan celotehnya, tapi mungkin curhatnya membuat koh Benny lega dihati, atau sekedar membuatku gerah. Ya, semakin lama aku gerah dengan kedekatan mereka.


"Mam, ngopi yuk!" tiba-tiba Suryo menepuk pundakku dari belakang.


"Eh, iya. Sejak kapan kamu disini?"


"Baru aja. Ke kantin yuk, mulut pait nih, pengen ngopi."


Kami berjalan bersama menuju kantin. Di kantin langganan ada beberapa orang pengunjung, lumayan ramai. Tapi mataku tertuju pada sosok wanita yang duduk sendiri menghadap laptop dengan headset di kepala.


"Resti ada disitu," Suryo memberi tahu tanpa kuminta.


"Iya, aku sudah lihat. Kita duduk agak jauh aja, sepertinya dia sibuk.


"Koh Benny mau melamar Resti Minggu depan," Suryo mengawali pembicaraan.


"Dia sudah cerita kemarin."


"Dia minta aku mengantarnya, pak haji Abdullah juga diminta mengantarnya."


"Baguslah kalau begitu!"

__ADS_1


"Dia minta kamu datang juga gak?"


"Nggak, diajak juga aku gak mau. Tapi kayaknya dia juga gak mau ngajak aku kok."


"Kamu gapapa kan?"


"Gapapa, dari kemarin koh Benny selalu cerita step by step prosesi lamaran dia."


"Apa aja?"


"Dia dah melamar Resti secara personal di Sheraton, romantic dinner. Resti dah menerima lamarannya. Besok minggu tinggal acara resmi keluarga aja."


"Kok dia cerita lengkap sama kamu, sama aku nggak?"


"Ya jelaslah, dia mau bikin aku sewot. Dia pikir aku bakalan cemburu gitu? No way!" aku membentangkan lima jari dihadapan Suryo.


"Padahal sih iya juga!" Suryo tertawa lebar meledekku.


"Dari jauh hari aku sudah bilang sama koh Benny, aku gak mau terlibat lagi urusan dia sama Resti. Resepsinya pun, aku sudah izin gak mau dateng."


"Boleh ikut bergabung?" tiba-tiba Resti datang memeluk laptop berdiri dekat meja kami.


Suryo mempersilahkan duduk di depannya, disampingku juga maksudnya. Ketika dia menaruh bokongnya dikursi, aku langsung berdiri dan duduk disamping Suryo, enak aja mau duduk disamping aku. Biar jomblo, aku juga punya harga diri.


"Kayaknya mas Suryo ketawanya bahagia banget!" kata Resti.


"Iya, selamat ya mau lamaran!" Suryo mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Resti menerima uluran jabat tangan dari Suryo, "terima kasih ya! Mas Suryo minggu depan datang ke rumah?" tanya Resti.


"Iya, insyaallah saya akan datang," jawab Suryo mantap.


"Mas Imam?" Resti beralih menatapku.


"Nggak, Suryo aja. Saya rasa itu sudah cukup," jawabku sambil menyeruput kopi.


Resti menganggukan kepala. 


"Nanti kalo Imam ikut, kamu bingung lagi, mana yang mau diterima lamarannya," kata Suryo sambil mengikut lenganku.


"Tenang aja, saya gak bakal datang kok!" aku berdiri lalu pergi meninggalkan Resti dan Suryo.


***


Tiga bulan berlalu dengan sangat berat. Kabar berita hari kebahagian mereka seolah sangat cepat. Aku semakin gak enak hati, mungkin ini yang disebut cemburu. Aku berusaha mencari ganti dengan mendekati Lita, tapi dia selalu sibuk dengan kuliahnya. Tinggallah aku sendiri yang akan ditinggal nikah dan tak dapat perhatian dari pacar.


Sebulan lagi hari pernikahan mereka, aku semakin oleng. Dulu ketika Resti menikah dengan Irvan, aku gak tau, jadi aku gak bisa merasakan hal yang seperti ini. Kini Resti ingin menikah didepan mata, tuhan …, adilkah ini untukku?


Kakiku berjalan entahentah kemana siang ini, tiba-tiba pundakku dirangkul dari samping. Aku menoleh ke orang yang sedang merangkulku, kolenel Teguh.


“Sehat Mam?” tanya kolonel Teguh.


“Nggak Ndan, agak pusing gak enak badan ini!” jawabku.


“Sudah berobat?” tanya kolonel Teguh lagi, aku menjawab dengan gekengan kepala. “Ke ruangan saya aja!” 


Kami berjalan santai ke ruangan Danyon sambil ngobrol ringan.


“Resti mau menikah tanggal dua puluh bulan depan,” kolonel Teguh memulai pembicaraan serius.


“Alhamdulillah, semoga lancar sampai hari H,” kataku sesantai mungkin, rasanya enggan sekali mendengar pembicaraan ini.


“Kamu gapapa kan?” sorot mata kolonel Teguh memindai wajahku.


Aku tersenyum kaku, “gapapa Ndan.” Di depan komandan kali ini sulit sekali menyembunyikan perasaan. Biarlah beliau menangkap kegalauan yang saat ini aku rasakan.


“Ndan, kalau boleh meminta, saya ingin ditugaskan ditempat yang jauh dan gak kembali lagi kesini! 

__ADS_1


__ADS_2