
"Kalo menurut aku sih kayaknya sekarang posisi Utami masih mengkhawatirkan tapi tenang aja, kami pasti cari info yang terbaik untuk kamu," kata Hendrik mengalihkan pembicaraan.
"Yang bener?" tanyaku ragu.
"Tunggu info lengkapnya dari komandan Suryo aja. Udah ya, selamat istirahat." Hendrik memutuskan panggilan sepihak.
Ah, sial. Seenak-enaknya aja Hendrik memutuskan panggilan, kan aku duluan yang menelpon. Sekarang coba kita telpon Suryo, beberapa kali memanggil tapi tak ada jawaban. Entah memang sedang tidak pegang ponsel atau sengaja tak mau mengangkat.
Aku berjalan-jalan ke lingkungan sekitar, berkenalan dengan warga yang berpapasan. Ketika sedang mengobrol dengan warga, ada panggilan telepon masuk, dari Suryo.
“Halo,” sapaku.
“Apa kabar Ndan? Tadi nelpon ya? Maaf lagi dijalan,” kata Suryo.
“Iya, ada perkembangan apa dari kasusnya Utami?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Agak sulit menghubungi orang tuanya Utami. Mereka menutup akses komunikasi dengan kita,” jawab Suryo.
“Siapa yang menjemput Utami di terminal? Bisa dilacak?”
“Gak, Ahyar sama sekali gak tau tentang itu. Hanya Utami dan orang tuanya yang tahu pasti. Ya karena orang tuanya menutup diri, kita stagnan,” terang Suryo.
“Bodoh banget Ahyar, nyerahin Utami sama orang yang gak dikenal, sembarangan aja,” aku mengumpat.
“Bukan salah Ahyar, perjanjian dia memang mengantarkan Utami sampai ke orang tersebut. Adapun tempatnya kebetulan di terminal,” sanggah Suryo.
“Jadi orang yang ditemui di terminal itu bagian dari skenario Utami dan orang tuanya?” aku bertanya.
“Kemungkinan besar iya.”
“Lalu motifnya apa?”
“Belum dapat kita simpulkan. Saya rasa kamu bisa merangkaikan pola dalam kasus ini.”
“Waktu itu Utami mutusin saya karena dia pengen menikah dengan dokter Harun. Bisnis keluarganya banyak dibantu dokter Harun. Bisa dibilang hutang budi. Siti Nurbaya zaman modern,” aku memberikan info yang kutahu.
“Jadi kemungkinan Utami dan ibunya menolak perjodohan itu, begitu ya?” Suryo balik bertanya.
“Kenapa hanya ibunya? Bapaknya tidak terlibat?” aku jadi tambah bingung.
“Selama ini Ahyar hanya berkomunikasi dengan bu Sarah, ibunya Utami. Bapaknya tidak pernah disebut Ahyar,” Suryo menjelaskan.
“Jadi hanya antara Utami dan ibunya?” aku memberi pendapat.
__ADS_1
“Sangat mungkin. Jadi pak Budiman, bapaknya Utami adalah komisaris utama dalam perusahaan milik keluarga dokter Harun,” kata Suryo.
“Utami dan ibunya dalam posisi sulit berarti ya?” hematku.
“Kurang lebih seperti itu. Kalau saja kita bisa mengorek info dari ibunya Utami, kita bisa melacak keberadaan Utami,” kata Suryo.
“Jika orang yang di terminal itu termasuk dalam skenario penculikan itu, berarti Utami dalam keadaan aman dong,” kataku.
“Belum tentu. Saya membaca bahwa bapaknya Utami sangat dominan. Bapaknya berpihak pada Harun cs. Apa yang Utami dan ibunya lakukan sangat mungkin terbaca dan terlacak oleh bapaknya. Orang-orang disekitar mereka semua sudah dilacak dan dimintai info oleh bapaknya bersama orang-orangnya Harun. Jika orang yang menyelamatkan Utami sudah terlacak oleh bapaknya Utami, jelas Utami dalam bahaya,” kata Suryo.
“Kalau bapaknya sudah menemukan Utami, kasus ditutupkan? Kalau sekarang berarti kasus masih dalam proses penyidikan,” balasku.
“Gak sesederhana itu Mam. Ibunya Utami sangat tertutup, kemungkinan rahasia Utami dan ibunya sudah terkuak dalam keluarga mereka dan sudah diketahui oleh Harun. Kita sudah sangat persuasif tapi seakan dia ketakutan sama kita. Itu yang membuatku sangat khawatir,” kata Suryo.
“Jadi menurutmu, Utami sudah ditemukan tapi sekarang dalam kekuasaan Harun dan bapaknya!” aku berusaha menyimpulkan.
“Itu kesimpulan yang bisa kita tarik sementara ini,” terang Suryo.
“Langkah selanjutnya apa?” tanyaku.
“Kita masih memantau gerak gerik keluarga Utami, jika ada kesempatan berbicara dengan ibunya Utami, pasti kita akan gerak cepat,” Suryo menjelaskan. “Sabar ya. Prosesnya mungkin gak bisa cepat,” Suryo menambahkan.
“Iya, aku percayakan semua sama kamu. Tolong bantu temukan Utami. Semoga dia dalam keadaan selamat!” aku rasanya sedih mengingatnya.
“Ga tau Sur. Cuma doa terbaik yang aku panjatkan untuk keselamatannya. Berarti bapaknya Utami gak pro sama anaknya sendiri ya?” aku kembali memastikan.
“Harta dan tahta bisa membutakan siapa saja, termasuk membutakan mata hati pada keluarga sendiri.”
“Terima kasih infonya ya!”
“Baik-baik kamu disana Mam! Besok pestanya Resti dan koh Benny, mau titip salam ga?” kata Suryo sambil tertawa.
“Gak, makasih. Besok malem aja aku telpon video call!” kataku ketus.
“Mau ngintip malam pertama nih? Kuat iman gak kamu? Nanti malah nangis termehek-mehek lagi!” tawa Suryo semakin keras.
“Adanya juga Resti yang nangis pengen balikan lagi sama aku,” kataku cuek.
“Kamu gak punya ladang berlian, mana mau dia balikan sama kamu. Koh Benny itu biar matanya irit tapi emasnya tumpah-tumpah,” kata Suryo.
“Udahlah, ngebahas itu gak ada selesainya. Apalah daya, aku hanya remahan rengginang di kaleng khong guan,” aku hanya bisa merendah.
“Kalo aku masih rengginang utuh lah ya, bukan sekedar remahan kaya kamu. Toplesnya juga pake toples keramik, bukan kaleng khong guan,” kata Suryo.
__ADS_1
“Iya, tapi toples keramiknya sudah retak jadi rengginang yang utuh itu sudah melempem,” jawabku tak mau kalah. Lalu kami tertawa bersama, mengucap salam lalu menutup telepon.
Awalnya tadi kan mau marah sama Suryo, tapi kok gak jadi ya, malah ujung-ujungnya bercandaan. Kayaknya bener kata Hendrik, hanya Suryo yang bisa merubah moodku, bukan menjinakkan lho, memangnya aku liar.
By the way, pantai di depan mata begitu indah, kayaknya enak kalo renang nih. Ada beberapa anak kecil yang bermain di pantai, mari kita bergabung.
Aku mendekati anak-anak yang sedang bermain, “boleh ikut bergabung?” tanyaku pada mereka. Anak-anak itu saling berpandangan.
“Saya bapak tentara yang baru datang bertugas disini. Namamu siapa?” aku memperkenalkan diri lalu menunjuk salah satu dari mereka.
“Dani,” jawab anak yang aku tunjuk tadi, “kamu siapa?” tanyaku lagi pada anak yang lain.
“Syamil, bapak namanya siapa?” anak itu balik bertanya.
“Panggil saya pak Imam ya!” aku memperkenalkan diri, lalu menanyakan nama satu per satu anak yang sedang berenang, lalu kami bermain air bersama. Mereka anak-anak sekitar sini yang tinggal tak jauh dari bibir pantai ini. Renang di pantai merupakan kebiasaan mereka karena lingkungan mereka adalah perairan. Bersama mereka, aku melupakan segala kepenatan dan permasalahan hidup. Anak-anak itu mengajarkan aku menangkap hewan laut yang dapat dikonsumsi, setelah terkumpul udang-udang kecil, kami membuat api lalu membakar udang hasil tangkapan tadi kemudian makan bersama.
“Kenji …!” seseorang memanggil salah satu anak yang sedang makan udang bakar bersamaku. Kenji bersembunyi dibalik pohon bakau.
Pemilik suara tadi menampakkan diri, seorang wanita berambut panjang dengan kaos putih bergambar tokoh kartun dan rok katun lebar. Rok lebarnya tertiup angin membuat siluet yang indah.
“Mana Kenji?” tanyanya pada kami. Aku menengok ke kanan dan kiri tapi tak melihat Kenji. Anak-anak yang ada di depanku tersenyum sambil menahan tawa tapi tak menunjukkan dimana Kenji berada.
“Tadi Kenji ada disini bersama kami, tapi gak sekarang dimana,” jawabku.
“Anda siapa?” tanya wanita itu.
Aku mengulurkan tangan “saya Imam, saya berdinas disini untuk waktu kedepan.”
Wanita itu membalas jabatan tanganku, “saya Wanti, ibunya Kenji. Bapak tentara ya?”
“Cie … cie ….” anak-anak di sekitarku meledek, Kenji juga keluar dari persembunyiannya dan ikut meledek ibunya denganku.
“I..iya,” jawabku gugup lalu melepaskan jabatan tangannya.
“Kita pulang dulu Kenji!” wanita itu tersipu lalu menggandeng Kenji pergi.
Setelah mereka menjauh, anak-anak itu masih senyum-senyum padaku. “Kenapa kalian tersenyum. Gak boleh meledek orang tua seperti itu ya!” aku menasehati mereka.
“Ibunya Kenji itu janda Pak,” kata salah satu dari mereka.
“Janda kembang,” kata anak yang lain.
“Janda ting-ting,” yang lain menambahkan.
__ADS_1