Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
35. Akibat Perbuatan Ricky


__ADS_3

Mobil terhenti di depan kosan Lita, kami memindai gedung dibalik pagar tinggi. “Ini kosannya Ndan? Sudah malam masih boleh terima tamu gak ya?” tanya Hendrik.


“Sudah tidur mungkin, besok aja kesini lagi!” ucapku.


“Sudah sampai disini kok pulang lagi, perempuan itu harus dikejar, jangan dibiarkan datang sendiri!” Suryo menasehatiku.


“Coba saya keluar dulu ya,” usul Frans.


“Eh, gak usah. Ini kosan khusus putri lho!” cegahku.


Frans yang dilarang, justru nekat keluar mobil dan menekan bel yang menempel di pagar, kami memperhatikan dari dalam mobil.


“Cari siapa Pak?” tanya penjaga dari balik celah pagar.


“Pak Imam ya?” suara perempuan dari dalam.


“Oh, Pak Imam. Tunggu ya!” penjaga gerbang membuka kunci, dalam teramang malam mungkin penjaga itu hanya mengira bahwa yang memencet bel itu adalah aku, padahal cuma sama tinggi dan rambut cepak aja.


“Pak Imam!” Lita mendekat ketika gerbang dibuka, melihat Frans yang ada di depan gerbang, Lita mundur selangkah. Lalu aku keluar dari mobil mendekat.


“Frans, ayo!” Suryo membuka jendela mobil dan berteriak, lalu Frans masuk ke dalam mobil.


Lita mendekati mobil melewatiku, “Pak Imam lagi hangout sama teman-teman ya?” tanya Lita dari luar jendela mobil.


“Iya, titip Pak Imam ya Mbak!” pesan Hendrik lalu mobil meninggalkan kami. Apa-apaan lagi sih mereka, aku ditinggalin dikosan putri malem-malem gini.


“Iya, Pak. Siap!” Lita melambaikan tangan pada mobil yang menjauh, tak lama kemudian Lita berbalik badan padaku.


“Kamu kenapa? Lapar? Gak punya duit lagi? Ayo kita cari makan yang dekat sini aja, saya gak bawa kendaraan!” ucapku to the point.


“Nggak!” Lita duduk di trotoar dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Aku duduk disebelahnya, “Kamu labil kalau lagi lapar. Kita cari makan aja yuk!”


“Gak mau, gak lapar kok. Bapak lapar?” Lita menurunkan kedua tangannya menyisakan mata yang terlihat. Sepasang mata yang bulat itu mampu menghipnotisku, aku spontan langsung tersenyum “Nggak juga sih! Kalau gak mau makan juga gapapa.” Aku menunduk rasanya gak kuat disorot dua mata yang indah itu.


Tiba-tiba Lita menyandarkan kepalanya di bahuku, “maafin Lita ya Pak. Dulu Lita nekat pacaran sama mas Ricky. Benar kata Bapak, dia itu gak serius sama Lita.”


Aku menghela napas, “jadi baru sekarang sadar?”


Lita mengangguk-angguk di bahuku.


“Apa yang dilakukan Ricky sama kamu?” tanyaku.


Lita menggeleng lalu menempelkan wajahnya pada lenganku. Aku menggerakkan lengan yang ditempeli wajahnya, “ayo cerita!”


“Dia ninggalin Lita, janjinya mau macarin Lita. Pokoknya apa yang Bapak bilang dulu itu benar. Dia sukanya cuma sama mbak Utami, bukan sama Lita.” Lita masih menempelkan wajahnya di lenganku.


“Kamu terlalu banyak berharap sama dia,” ucapku pelan.


“Abis gak bisa juga banyak berharap sama Bapak!” Lita gak mau kalah.


“Kamu masih kuliah. Belajar yang benar, jangan mikir pacaran!” aku menasehatinya.


Lita menjauhkan wajahnya dari lenganku, “Lita dah besar, masa gak boleh pacaran. Teman-teman banyak kok yang pacaran!”


“Kalau sudah begini, belajarmu terganggu gak? Saya lebih yakin, kamu mandiri dan bisa mengendalikan diri. Sekarang kamu rasakan sendiri apa yang kamu perbuat.”


“Dulu, kapan Bapak pertama kali pacaran?” tanya Lita. Hmm, gampang banget sih anak ini mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Gak pernah pacaran!” jawabku singkat.


“Pantas Bapak telat nikah! Teman-teman Bapak yang tadi sudah menikah semua kan?” dengan polosnya Lita bicara.


“Apa orang yang pacaran lebih cepat menikah? Belum tentu!” 


“Terus kapan Bapak nikah sama mbak Utami?”


Aku tersenyum sinis, harusnya sesegera mungkin, tapi itu tak terjadi.


“Kapan Pak?”


“Gak jadi, kamu telah putus!”


“Yang benar Pak? Kenapa?”


“Karena kamu!”


“Ih, gak mungkin. Yang benar Pak? Bapak sudah putus sama mbak Utami? Kayaknya gak mungkin deh!”


“Gak lama dari terakhir kita bertemu, Utami minta putus, lalu pindah kerja ke Malang, dekat rumah orang tuanya,” aku menjelaskan.


“Kalau Bapak free, berarti aku boleh jadi pacar Bapak dong?” Lita mengalungkan tangannya ke tanganku.


“Free? Malam ini free, besok dinas lagi,” aku melepaskan tangan Lita.


“Ih, kok gitu. Maksudnya, Bapak sekarang gak ada pacar. Pacaran sama Lita aja ya!” Lita berjongkok persis di depanku.


Aku menyangga dagu dengan kedua lengan, “Penting mana pacaran sama belajar?”


“Hmm, lebih penting belajar pacaran!” Lita tertawa riang seperti tanpa beban, membuatku ikut tertawa juga.


“Kalau saya gak mau, gimana?” aku mengabaikan jari kelingkingnya. 


“Bapak pernah jujur sama saya kalau Bapak suka sama saya, jadi karena kita sama-sama suka dan tak ada penghalang lainnya, kita bisa pacaran. Yes!” Lita mengepalkan kedua tangannya.


“Itu kan dulu, sekarang gak suka, biasa aja perasaan saya ke kamu!”


“Ha … ha …. Saya gak percaya. Dari dulu waktu pelajaran olahraga, Bapak suka liatin saya olahraga. Dari situ saya yakin, bahwa Bapak suka sama saya! Iya kan?” Lita mencecarku.


“Saya dekat dengan Utami sebelum dinas di Lampung lho. Sebelum kenal kamu!”


“Tapi ketika di Lampung kan gak ada mbak Utami, jadi sejak saat itu saya lah yang menjadi pelita di hati Bapak!”


Aku spontan tertawa, “kamu pede sekali. Gak semudah itu!” aku mencolek hidungnya.


“Terus, waktu pertama kita bertemu di Tunjungan, wajah Bapak langsung berbinar-binar, tandanya senang ketika melihat saya!” Lita berbicara penuh kemenangan.


“Kamu gampang sekali move on dari Ricky!”


“Karena saya memang gak terlalu suka sama mas Ricky. Saya lebih suka sama Bapak!”


 “Apa kamu jujur?”


”Iya dong, Bapak juga suka sama saya kan? Jujur!”


Hm, ini anak kalau punya keinginan ngotot banget sih. Masa aku terima, ya iya lah. eh, tapi Resti gimana?


“Sebenarnya saya dipanggil kesini untuk apa?” aku menatap mata indah itu, pemilik mata itu malah senyum-senyum. “Kenapa? Mana pake acara nangis segala lagi!” tanyaku lagi.

__ADS_1


“Ya tadi lagi sedih abis diputusin mas Ricky, makanya berharap bapak datang jadi penyelamat saya. Eh, pas kebetulan Bapak juga jomblo. Yaa, sesama jomblo sebaiknya kita jadian aja. Iya gak?” Lita menggerak-gerakkan kedua alisnya.


“Tadi saya bilang sudah putus dengan Utami, tapi bukan berarti gak punya pacar.”


“Bilang aja gak punya sih Pak, biar saya senang.”


“Kok maksa?”


“Ha … ha …. Susah banget nge prank Bapak!”


“Sekarang kamu sudah senang kan? Saya pulang ya, Sudah malam nih!”


Lita diam, lalu menyandarkan kepalanya lagi di lenganku, “terima kasih sudah datang malam ini, kalau Bapak gak datang, mungkin saya masih nangis.”


“Ricky gak pantas untuk ditangisi. Belajarlah yang serius untuk meraih cita-cita setinggi mungkin, jangan pacar-pacaran dulu.”


Lita menganggukkan kepala, “Bapak pulang naik apa? Saya pesankan ojol ya!”


“Iya, boleh juga.”


Aku meninggalkan Lita dengan perasaan yang campur aduk. Malam ini luar biasa, info tentang Resti dari mas Joko, ajakan Lita untuk berpacaran. 


***


Siang ini di kantor, suasana agak ramai di luar ruangan. Aku tak tahu apa penyebabnya, aku masih terus memeriksa berkas dimeja. Pintu ruangan diketuk beberapa kali, “masuk!” 


Pintu dibuka oleh Hisyam lalu seorang ibu masuk dengan tergesa-gesa.


“Anda yang bernama Imam?” tanya ibu itu.


“Iya, benar. Silahkan duduk!” aku mempersilahkan ibu itu duduk di sofa.


“Tidak perlu, saya cuma mau bilang. Jangan dekati menantu saya. Anak dan cucu saya meninggal gara-gara kamu!” ibu itu berbicara tanpa jeda.


“Maaf, anda siapa? Saya tidak kenal dengan anak, menantu dan cucu anda!” ucapku.


“Saya Nyonya Sukoco. Besannya Kolonel Teguh. Jangan mimpi kamu bisa merebut Resti dari mendiang anak saya!” ibu itu menjawab.


“Saya tidak mengerti maksud anda, silahkan duduk dan jelaskan lagi lebih detail,” pintaku.


“Gak usah pura-pura baik, kamu puas kan sudah buat anak-cucu saya celaka,” ibu itu masih memfitnahku.


“Jika sudah tidak ada yang ingin dijelaskan lagi, silahkan meninggalkan ruangan!” aku mulai marah. 


“Keterlaluan, pantas saja Kolonel Teguh gak memilih kamu untuk jadi menantunya. Pokoknya kamu harus bertanggung jawab atas meninggalnya anak dan cucu saya!” Ibu itu melipat tangannya di dada.


“Dan saya tidak punya hubungan dengan anak dan menantu anda, jadi anda tidak berhak meminta pertanggungjawaban apapun dari saya. Silahkan tinggalkan ruangan ini atau saya akan memaksa anda keluar dari sini!" aku menunjuk ke arah pintu.


Ibu itu marah, menginjak-injak lantai beberapa kali lalu pergi.


"Hasyim!" aku memanggil anak buahku yang sedang berjaga.


"Siap, Ndan!" Hasyim masuk ke ruangan.


"Lain kali, jangan biarkan orang asing berulah disini!" aku memberi perintah.


"Siap, Ndan!" 


"Keluarlah!"

__ADS_1


Wah, berani sekali orang sipil mengamuk disini. Ternyata ini yang dimaksud mas Joko kemarin.


__ADS_2