
Resti kelihatan sangat terpukul. Ingin rasanya mendekat, mengasihinya, menjadi sandarannya, tapi semua itu tak mungkin kulakukan sekarang. Kira-kira Resti menganggapku seperti apa ya? Marah gak ya dia padaku.
“Mam, jangan melamun!” Mas Joko menepuk pundakku.
“Owh, iya. Kasian Resti ya!”
“Dia masih suka sama kamu Mam!”
“Saya masih kepikiran ucapan mas Joko kemarin, masa iya saya jadi pemicu pertengkaran Resti dan suaminya. Sudah bertahun-tahun saya gak bertemu Resti ataupun suaminya. Saya selalu berusaha ikhlas dan menjauh dari mereka.” Aku menjelaskan pada mas Joko.
“Tapi Irvan selalu cemburu sama kamu!”
“Dari mana dia tahu kalau saya pernah ada hubungan dengan Resti?”
“Mungkin dari mbak Resti sendiri, saya juga gak tau.”
“Berapa lama Resti pacaran sama Irvan sampai akhirnya menikah?” tanyaku.
“Irvan itu pacar lamanya mbak Resti, dari zaman sekolah dulu.”
“Putus-nyambung gitu ya? Dan saya pernah ada ditengah-tengah mereka? Ribet banget posisi saya ya!”
“Apa yang bikin mbak Resti suka banget sama kamu?”
“Gak tau juga Mas. Setelah tau Resti sudah menikah, saya menjauhinya bahkan saya pernah berpacaran dengan perempuan lain.”
“Jadi sekarang kamu sudah punya pacar? Kapan nikah?” tanya mas Joko.
“Sudah pernah punya pacar, tapi gak tau kapan nikahnya, ha … ha ….”
“Jangan bilang kalau kamu sengaja nunggu mbak Resti jadi janda, Mam!”
“Kenapa sih semua orang bilang seperti itu? Saya belum nikah ya karena memang datang jodohnya, bukan karena nunggu Resti jadi janda!” ucapku kesal.
“Faktanya begitu, Mam. Tapi sebenarnya Komandan dan ibu lebih memilih kamu daripada Irvan.” Mas Joko menoleh ke arahku.
“Apa lagi sih, gak mungkin itu! Kalau komandan lebih memilih saya, kenapa beliau menikahkan Resti dengan Irvan? Gak usah menghibur, Mas.”
“Bener, Mam. Mbak Resti menikah karena permintaannya sendiri. Mbak Resti sendiri yang ngotot ingin segera menikah dengan Irvan waktu itu. Kayaknya dia pengen cepat-cepat menikah, mumpung kamu masih di Lebanon. Padahal Ayahnya kurang setuju sama Irvan.”
“Berarti Resti gak serius sama saya dulu ya?” ada rasa kecewa memenuhi dada.
“Mungkin saat itu pesona Irvan lebih besar ketimbang kamu yang sedang jauh di seberang sana. Itu yang namanya hati, mudah berubah. Ada Irvan, sukanya sama Irvan, Irvan pergi, kamu datang, jadi dia suka sama kamu. Irvan datang, kamu pergi, balik lagi ke Irvan, Sekarang Irvan gak ada, aku yakin dia bisa kembali sama kamu lagi!” Mas Joko tersenyum ke arahku.
__ADS_1
“Iya kalau dia mau sama saya, jodoh siapa yang tau. Meski sama-sama suka belum tentu jodoh, Mas!” ucapku lirih.
“Jangan pesimis, kejar sampai dapat. Aku yakin kamu dapat dukungan penuh dari komandan dan ibu.”
“Menghibur sekali Mas! Tapi aku gak percaya!” aku mencibir pada mas Joko, dia malah tertawa.
“Pokoknya, Mam. Sekarang kamu jangan dekat-dekat mbak Resti dan keluarga besarnya. Besan Komandan kayaknya marah besar sama Resti dan kamu!” mas Joko memperingatkan.
“Lho, apa lagi? Saya gak kenal sama mertuanya Resti, kok dimusuhin.”
“Nama kamu sudah sangat viral diantara dua keluarga besar itu.”
“Coba ngomong yang jujur, Mas!”
“Jadi, Resti yang minta nikah dengan Irvan. Awalnya Komandan dan ibu gak merestui, tapi karena mbak Resti nangis-nangis minta dinikahi Irvan akhirnya Komandan mengizinkan. Tapi kayaknya Irvan itu suka mabuk, jadi mbak Resti suka marah.”
“Berarti pemicu mereka ribut karena Irvan suka mabuk, bukan saya!”
“Gak, yang saya dengar, Irvan sering cemburu sama kamu. Mabuk itu cuma selingan. Gak cuma Irvan sih, keluarganya juga kayak cemburu, dendam sama kamu.”
“Mas Joko ngomongnya tambah asal.”
“Bener, Mam. Aku gak bohong."
Aku menggaruk rambut yang tak gatal, apa iya yang dikatakan mas Joko.
"Kayaknya lagi serius ya!" Hendrik duduk disebelahku.
"Komandanmu lagi galau," ejek mas Joko.
Hendrik menyenggolku, "tunggu empat bulan lagi, langsung lamar, mesti diterima Ndan!” Hendrik cengengesan.
“Gak semudah itu, sekarang aku baru tahu bahwa masalah ini sangat rumit.”
“Apa sih?” Hendrik menoleh ke arahku lalu ke arah mas Joko.
“Komandanmu itu gak percaya kalau dia yang sering bikin mbak Resti dan suaminya bertengkar,” mas Joko membuka cerita didepan Hendrik.
“Masa?” Hendrik kaget.
“Mas Joko kadang suka ngelantur kalau ngomong, Ndrik! Jangan mudah percaya!” sanggahku.
“Aku tau semuanya dari Komandan langsung. Beliau kalau ngomongin mbak Resti, suka sedih sendiri. Irvannya gak bener, mbak Resti mesti curhatnya sama ibu terus disampein ke Komandan. Jadi aku tau dengan jelas semua,” mas Joko tak mau disalahkan.
__ADS_1
“Iya, tapi semuanya aneh Mas!” aku masih belum terima.
“Ada apa ya?” Suryo dan Frans mendekat.
“Kata mas Joko, aku yang buat Resti dan suaminya bertengkar sampai kecelakaan. Mana mungkin? Aku aja gak pernah ketemu lagi dengan mereka setelah tau kalau Resti sudah menikah kok! sudah putus hubungan, ga ada sangkut paut sama sekali!” aku mencoba menjelaskan kesalahpahaman ini.
“Aku gak bohong, Mam!” mas Joko berkelit.
“Mas Joko tau dari mana semua itu?” selidik Suryo.
“Komandan yang cerita langsung. Infonya valid!” jawab mas Joko.
“Berarti kamu harus jaga jarak sekarang, Mam!” Frans memperingati.
“Dari dulu juga jaga jarak. Kalian aja yang ngajak aku kesini!” aku jadi kesal sendiri.
“Tadi Suryo cerita detik-detik sebelum suaminya Resti masuk ICU,” tambah Frans.
“Ya sudah, kita pulang sekarang aja!” ucapku kesal.
“Sekarang pulang, empat bulan kita siap nganter lamaran!” Hendrik senyum simpul, lalu aku menoyor kepalanya dan berjalan ke arah mobil.
Di sepanjang jalan Hendrik bercerita tentang yang dia dengar dari mas Joko, sesekali Suryo menambahi, rasanya muak sekali mendengar kenyataan yang ada.
“Menurutku irvan dulunya baik, kuliah di Amerika membuatnya berubah gaya. Resti menganggap Irvan masih baik seperti dulu, ternyata dapatnya malah zonk.” Frans memberi pendapat.
“Namanya juga sudah terlanjur cinta, badai pun dilawan.” Hendrik menatapku lewat kaca depan, tapi aku buang muka saja.
“Aku rasa, biar Resti sendiri yang menyelesaikan masalahnya dengan Komandan dan mertuanya, sementara kita jangan mendekat dulu!” ucap Suryo. Aku menatap marah ke arah Suryo lalu beralih menatap ke arah jendela.
“Lho? Kok ngamuk?” kata Suryo yang membuat seisi mobil tertawa terbahak-bahak.
“Kalau mau tahlilan gak usah ngajak aku lagi!” ucapku ketus, aku masih marah. Jelas-jelas aku dari kemarin sengaja menjauh tapi dipaksa menjenguk Irvan sampai membuat dia kritis dan meninggal. Sekarang diajak lagi tahlilan, aslinya sudah gak mau banget, tapi mereka tetap aja maksa. Liat aja nanti kalau aku berhasil macarin Resti secara diam-diam, pasti mereka kaget, aku tersenyum dalam hati menyembunyikan amarah.
Teleponku berbunyi, aku membukanya. Panggilan dari Lita, angkat gak ya? Lagi semobil dengan orang-orang rese nih. Panggilan terhenti lalu berdering lagi, “Siapa Mam? Kolonel Teguh ya?” tanya Suryo.
“Bukan!” aku memasukkan ponsel ke kantong tapi panggilan masuk lagi.
“Angkat, Ndan!” Frans menganjurkan. Mungkin sudah lebih dari lima kali telpon berdering, lalu aku mengeluarkan ponsel dari kantong yang langsung direbut Suryo, “telpon dari mahasiswi itu ternyata," Suryo langsung mengangkat telpon itu, ĺhalo!”aku berusaha merebutnya tapi terhalang badan Suryo. Suryo membesarkan suara di ponselku, Terdengar suara isakan tangis di ujung telepon sana. “Bapak bisa kesini sekarang gak?” suara Lita agak serak karena menangis.
“Bisa!” jawab Suryo, Frans dan Hendrik bersamaan, lalu telepon ditutup dari seberang sana. Setelah telpon terputus, mereka semua tertawa.
“Puas?” tanyaku pura-pura marah sambil merebut ponsel itu dari tangan Suryo, padahal ya senang juga diharapkan kedatangannya oleh si cantik Lita.
__ADS_1
“Ndrik, kita lanjut ke kawasan mahasiswi. Penasaran aku sama mahasiswi gebetan Komandan!” Frans memerintahkan Hendrik yang sedang mengemudikan mobil.
“Siap!” jawab Hendrik terbahak-bahak lalu memacu mobil lebih cepat.