
“Kita pulang jam berapa ,Van?”tanya Dava.
“Nanti setelah dzuhur kita otw Jakarta, jangan sore-sore takutnya hujan.”
“Ya udah, okelah….”
Di depan Vila berdiri seorang wanita cantik, yaitu Zahra. Ia sedang menikmati indahnya pagi ini, karena masih banyak pohon rindang yang tumbuh di sekitar sini. Tak hanya pohon besar, tetapi banyak bunga cantik yang tumbuh di sekitar sini.
“Za…. Ayo prepare! Mau pulang nggak?”tanya Rosa sambil berteriak dari jendela kamar.
“Bentarrrrrrrr….”Zahra segera kembali ke kamarnya dan mulai megemasi barangnya.
Diliat jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, Revan menyuruh ketiga temannya untuk berkumpul di ruang tamu dan membagi tugas untuk menyiapkan makan siang.
“Gaesss….Aku bagi tugasnya, ya? Aku sama Dava, buat nasgor. Nanti yang cewek bersih-bersih!”
“Ya udah, ayo.”
__ADS_1
Mereka ber empat segera mengerjakan tugas masing-masing, dilihat awan mendung mulai menutupi sinar matahari. Mereka berempat hanya berdoa dan memohon supaya tidak hujan saat diperjalanan. Namun, hasilnya nihil beberapa meniit kemudian rintik hujan mulai membasahi bumi ini. Tanah yang tadinya kering sekarang menjadi basah karena terkena hujan, hujan kian derasditambah suara petir yang menggelegar. Revan dan Dava segera menyelesaikan memasakknya sedangkan Zahra dan Rosa segera menghentikan aktifitasnya dan pergi ke dapur karena mereka berdua ketakutan.
“Van, kita gimana cara pulangnya kalau kaya gini?”tanya Rosa sambil mendekati Revan.
“Nunnggu hujan agak reda aja, jangan nekat.”jawab Revan sambil mematikan kompor.
“Ya udah, ayo kita makan dulu!”perintah Dava.
Panik masih melanda pikiran Rosa dan Zahra, karena esok adalah hari Senin dan mereka harus sekolah. Mereka berempat segera makan sianng bersama di ruang depan karena keadaan mati listrik, walaupun siang dalam villa terliat agak gelap.
“Za, kamu pake jaketnya kalau dingin!”perintah Revan.
“Nggak kok, aku Cuma takut hujannya nggak akan reda siang ini. Perjalanan juga cukup jauh, besok kita juga harus sekolah.”
“Tenang aja, nanti kalau udah agak reda kita pulang kok.”kata Revan dengan sangat perhatian.
“Tapi, Van.”
__ADS_1
“Udah, nggak apa-apa kok.”
“Kita berdoa aja, semoga bentar lagi hujan berhenti. Dan kita bisa kembali ke Jakarta.”ceplos Dava yang membuat mereka semua menatap wajah Dava dengan lekat.
Jam sudah menunjukkan pukul 14.20, hujan masih belum berhenti Dava dan Revan juga sudah mulai panik karena sudah mulai sore.
“Ya udahlah Van, kita pulang sekarang aja. Hujannya jugga udah nggak terlalu deras, nanti keburu sore!”Dava aangkat bicara dan mendapat respon dari Revan.
“Apa kamu yakin?”
“Dah aku yakin, ayo kita beresin barang-barang terus pulang.”
“Jangan gegabah kamu Van. Nanti kalo ada aapa-apa gimana?”tanya Zahra yang masih khawatir.
“Ya semoga nggak ada apa-apa, udah ayo sekarang berkemas.”
Revan yang sudah kuat dengan pendiriannya, ia tak mau semua membantah. Mereka bertiga hanya mengangguk tanda setuju, dan segera mengemasi barang-barang dan mengeluarknnya dari kamar masing-masing. Setelah semua bersiap, Revan segera mengambil kunci mobil dan kunci Villa. Mereka segera mengeluarkan brang-barang dari vila dan Revan segera mengunci villa itu.
__ADS_1