
POV Hendrik
“Ndan, makasih ya! Tadi istri saya bilang dikasih pancingan dirumah!” kataku.
“Saya bukan komandan lagi, panggil nama aja!” jawab Imam.
“Fiona juga seneng banget dikasih kompor alat masakan,” kataku.
“Lita yang milihin, tasnya ibu Fiona juga Lita yang milih,” kata Imam sambil tersenyum.
“Terima kasih ya! Istri saya seneng banget dikasih tas,” aku menepuk pundak Imam.
“Iya, sama-sama,” jawabnya.
“Bapak ibu sudah datang?” aku bertanya basa-basi pada Imam.
“Sudah dari kemarin malam, tapi seharian ini aku tinggal, banyak yang dikerjain,” Imam mengusap wajahnya
“Mesti cari waktu berdua sama Lita, ya kan?” ledekku.
“Tadi beli ini itu, ya bareng Lita. Mau ngajak siapa lagi kalo bukan dia.”
“Nangis gak dia?” tanyaku kepo.
“Pasti lah, tapi dia kuat kok. Mentalnya sudah terdidik militer dari bapaknya. Oh ya, terima kasih ya foto-foto itu. Tersusun apik dalam bingkai foto. Foto kamu culun banget waktu pendidikan,” Imam balik meledekku.
“Saya cuma ngumpulin foto yang nyusun istrinya Suryo. Sekarang kita semua punya foto itu. Cuma yang punya saya belum dikasih bingkai.”
“Oh, jadi kalian semua punya foto yang sama.”
“Punya dong, untuk kenang-kenangan anak cucu.” aku merangkul Imam dari samping, Imam balik merangkulku.
“Terima kasih ya, terima kasih untuk semua.”
“Sama-sama.”
Sebelum aku pergi, kami didekati oleh Ahyar, salah satu anggota kami.
“Ndan, bisa minta waktunya sebentar,” kata Ahyar pada Imam. Melihat sorot mata Ahyar yang minta privasi, aku segera undur diri dari hadapan mereka.
Baru beberapa langkah dari mereka aku melihat Imam meninju Ahyar berkali kali, bahkan setelah Ahyar tersungkur ditanah, Imam masih juga menampar pipi Ahyar .
“Sabar Ndan, ini tempat terbuka. Bahaya kalau dilihat orang!” aku menarik Imam dari atas badan Ahyar.
“Bawa dia ke pomal sekarang, hukum seberat-beratnya!” Imam berteriak seperti orang kesetanan. Aku masih gak ngerti ada apa dengan mereka berdua, padahal tadi tampak biasa saja.
“Ahyar, ikut saya keruangan!” kataku pada Ahyar. “Kita shalat dulu Ndan. Sudah adzan,”
__ADS_1
aku mengendurkan pegangan tanganku pada baju Imam. Tanpa disangka, Imam kembali menendang Ahyar yang baru bangun dari duduk.
“Ampun Ndan, ampun!” Ahyar berlutut menangkupkan kedua tangannya. Aku masih heran, kenapa Imam yang kukenal selalu sabar tiba-tiba beringas seperti ini.
Suara adzan meraung-raung, Imam menundukkan kepala di mobil lalu memukul kap mobil beberapa kali.
“Kita selesaikan setelah shalat,” aku menarik Imam ke dalam gedung. “Ikut saya!” aku memerintahkan Ahyar.
Imam pergi sholat ke mushola, aku segera mengintrogasi Ahyar. “Bilang apa kamu sama komandan? Kok dia marah sekali?”
“Saya yang membawa dokter Utami pergi dari rumahnya malam itu!” kata Ahyar sambil memegangi pipinya yang tadi menjadi sasaran Imam.
“Celaka kamu! Berani sekali mengusik ceweknya komandan. Kamu gak inget dulu komandan memerintahkan untuk menjadi dokter itu bergantian? Itu bukti kalo komandan sangat protektif sama dokter itu. Kalo kamu sampai menculiknya, berarti kamu berani melawan satu pleton.”
“Ampun Ndan, saya terpaksa. Saya tidak tau kalau orang yang saya culik itu pacarnya komandan. Dulu saya gak kebagian jatah menjaga dokter itu. Inaq saya meninggal, saya gak punya pilihan selain menerima tawaran dari bu Sarah untuk ongkos pulang saat inaq saya meninggal.”
Aku geleng-geleng kepala, lalu menelpon Dimas dan Erwin untuk datang ke kantor karena ini masalah yang sangat genting. Tak lama keduanya datang lalu mengintrogasi Ahyar, semua kaget dengan keberanian Ahyar melakukan hal yang sangat nekat ini.
“Imam dimana sekarang?” tanya Erwin.
“Tadi masih sholat di mushola,” jawabku.
“Coba panggil biar dia lebih tenang dengan mendengar penjelasan dari Ahyar,” kata Erwin padaku.
Aku memanggil Imam yang tengah khusuk berdoa untuk ke ruangan mendengar penjelasan dari Ahyar.
Dengan suara tersendat-sendat Ahyar menjelaskan kronologi kejadian, saat Ahyar mengatakan bahwa dia meninggalkan Utami di terminal, Imam kembali menghampiri Ahyar lalu meninju wajahnya beberapa kali.
Aku, Dimas dan Erwin memisahkan mereka. Tenaga Imam luar biasa besar sehingga aku dan Dimas kewalahan memegangnya. Sedang Erwin menjauhkan Ahyar dari jangkauan Imam.
Imam sangat diluar dugaan, dia gak pernah begini sebelumnya. Aku terpaksa menghubungi Suryo dan Frans, berharap mereka bisa menenangkan Imam dan menguak kejadian ini lebih jelas.
Ahyar menjelaskan, "Sabtu malam saya masuk ke rumah bu Sarah dengan merusak kunci pagar dan jendela kamar dokter Utami. Semua itu sudah saya pelajari selama dua hari sebelum aksi malam itu. Dokter Utami yang mengacak-acak kamarnya sendiri, membawa perhiasan dan surat-surat penting yang sama sekali tidak saya ketahui isinya. Lalu kami ke Ngawi naik mobil yang sudah bu Sarah siapkan. Di Ngawi kami sarapan dan tidur di hotel."
"Gila kamu ya, tidur di hotel sama Utami?" Imam memotong penjelasan Ahyar dan menarik kerah bajunya lalu mencekiknya.
Dimas dan Erwin berusaha melerai.
"Imam, berhenti. Kalo dia mati, kita gak bisa dapet informasi Utami!" teriak Suryo datang tepat waktu.
"Dia keterlaluan, dia …," Imam melepaskan tangan dari leher Ahyar lalu menghadap tembok. Tanpa kesulitan Suryo berhasil menjauhkan Imam dari Ahyar, sesuai dugaanku.
Suryo kembali menginterogasi Ahyar dibantu pengecekan manifest perjalanan mereka oleh Frans.
Aku melihat cahaya dan getaran dari saku Imam, mungkin keluarganya menelpon karena sejak pagi Imam belum pulang, padahal bapak dan ibunya sudah datang ke Surabaya dari kemarin.
"Saya rasa cukup malam ini, biar komandan pulang dan beristirahat dengan keluarga," aku memotong percakapan Suryo dan Ahyar.
__ADS_1
"Gak, saya mau dengar penjelasannya malam ini," teriak Imam.
"Ndrik, antar Imam pulang. Pakai mobil saya, kalo keluarganya Imam mau pesiar malam ini, kamu yang antar berkeliling!" Dimas melemparkan kunci mobil padaku.
"Siap!" aku menangkap kunci yang dilempar Dimas.
Erwin berusaha membujuk Imam untuk meninggalkan ruangan, aku berharap dengan kedatangan Suryo dan Frans, masalah ini lebih mudah terungkap. Tapi Imam masih enggan meninggalkan ruangan ini, bahkan terus meminta agar Ahyar digelandang ke Mako Pomal.
"Kamu gak percaya sama aku?" kata Suryo dengan mengangkat dagu.
"Saya cuma pengen tau keadaan Utami sekarang!" Imam masih tetap pada kemauannya.
"Besok, kami pastikan kamu dapat info lengkapnya. Sekarang pulanglah!" kata Dimas.
"Bukan besok, tapi setelah Imam sampai di Natuna," sanggah Suryo.
"Lama banget!" teriak Imam.
"Tinggalkan tempat ini sekarang, atau kami akan bubar dan tak akan ada info secuilpun tentang Utami!" ancam Suryo.
Akhirnya Imam keluar ruangan dengan wajah masam. “Kita pake mobil Dimas aja ya, nanti saya antar kemana pun bapak dan ibumu mau pergi malam ini. Ada yang perlu diambil dari mobilmu?”
Imam tak menjawab, dia mengambil beberapa barang dari mobilnya lalu membawanya ke mobil Dimas.
Sampai di depan rumah sewaan orang tua Imam, ternyata mereka sudah menunggu di teras. Imam mengucap salam dan mencium tangan kedua orang tua, “saya mandi dulu,” kata Imam melenggang masuk.
“Pak, Bu, maaf tadi acara di markas sampai malam. Ada acara basah-basah tadi, ini baju saya masih belum kering,” aku menerangkan pada keluarga Imam.
“Basah-basahan apa Mas?” tanya ibunya Imam.
“Biasa Bu, penghormatan untuk komandan lama dan baru,” jawabku.
“Jadi Mas ini penggantinya Imam ya?” tanya bapaknya Imam.
Aku mengangguk pelan, “oh ya, ada rencana keluar malam ini?”
“Katanya mas Imam mau ngajak makan di Tunjungan,” jawab adiknya Imam.
“Ayo kalau begitu, saya yang antar ya!” pintaku.
“Lho, mas Imam?” tanya adiknya yang lain.
“Iya, Imam ikut juga. Saya hanya jadi driver, mungkin Imam lelah. Hari ini banyak kegiatan yang dilakukannya!” jawabku. Tak lama Imam keluar dengan wajah yang lebih segar.
“Ayo kita berangkat!” aku mengajak mereka, lalu membukakan semua pintu mobil untuk keluarganya Imam.
Imam masuk ke dalam mobil dan duduk dikursi paling belakang. “Di depan siapa ini Mam?” tanya bapaknya Imam. “Bapak aja, saya sama Ardi dibelakang!” jawab Imam dari dalam.
__ADS_1
“Silahkan Pak!” aku mempersilahkan bapaknya Imam duduk dikursi paling depan. Sepanjang perjalanan keluarga Imam banyak ngobrol sedangkan Imam hanya dia, hanya sesekali menjawab jika ditanya. Benar-benar berbeda dari Imam yang kukenal. Sebegitu besarnya kekhawatiran Imam pada Utami.