
Istri Sanusi kaget melihat suaminya luka-luka. “Mas, kamu gapapa kan? Jangan siksa suami saya. Dia tak berdosa. Lepasin dia!” Istri Sanusi menangis dan memohon.
“Dia membahayakan anak dan istrinya, oleh sebab itu tadi dia meminta anda untuk menjaga anak anda. Apa anda tau apa yang telah dilakukannya?” tanyaku pada istri Sanusi.
“Saya gak tau apa-apa, jangan sakiti suami saya! lepasin dia!” istri Sanusi berteriak.
“Siapa Pak Heru? Jika anda menjelaskan dengan jujur, sore ini saya antar suami anda kerumah. Tapi jika tidak, mungkin besok jasadnya akan pulang tanpa nyawa!” ancamku.
“Jangan! Saya gak kenal pak Heru, yang jelas dia kemarin ngasih uang dua juta. Katanya Mas Sanu diminta bantu pak Heru. Itu aja yang saya tau, lepasin suami saya,” rengek istri Sanusi.
“Jadi, siapa Heru itu?” tanyaku lagi pada Sanusi. Sanusi masih menunduk.
“Dua juta, cuma buat belanja setengah bulan abis. Nyawa anak-istri dalam bahaya. Pendek sekali pikiranmu!” Suryo menoyor kepala Sanusi, “Lihat, istrimu ketakutan!”
“Kamu yang menelpon saya tengah malam?” tanyaku.
Sanusi mengangguk. “Tentara kok gak ada suaranya, keraskan suaramu. Komandan dan istrimu mau dengar!” Suryo mendongakkan kepala Sanusi dengan tangannya ke arah kamera. Istri Sanusi masih menangis.
“Kamu yang menelpon saya tengah malam?” aku mengulangi pertanyaan.
“Siap, benar!” Sanusi menjawab dengan lantang tapi sorot matanya tidak padaku dan tidak pada istrinya di kamera.
“Berapa nomor yang kamu pakai untuk meneror saya?” tanyaku lagi.
Beberapa saat Sanusi terdiam, lalu berkata, “lima nomor, Ndan!”
“Kamu yang mengirimkan bangkai tikus ke kantor saya?”
“Siap, benar Ndan!” mata Sanusi mulai berkaca-kaca.
“Kamu juga yang melumuri darah ayam dan bangkainya di mobil saya?” aku mengendalikan diri agar tak memukulnya.
“Siap, benar Ndan!” Sanusi memejamkan matanya, istrinya tambah histeris.
“Siapa yang memerintahkan kamu untuk melakukan semua itu?” aku geregetan.
“Siap, Pak Heru.” Sanusi memalingkan wajahnya dari kamera.
“Siapa dia?” aku penasaran.
__ADS_1
“Siap, ajudan Nyonya Sukoco!” jawab Sanusi.
“Berapa uang yang diberikan Heru?” tanyaku.
“Dia menjanjikan lima juta, tapi saya baru terima dua juta,” jawab Sanusi pelan.
Aku menghela nafas kasar, bodoh sekali orang ini, mencelakakan anak dan istrinya.
“Setelah ini, apa yang diperintah Heru padamu?”
“Terus meneror Komandan sampai Komandan menjauh dari keluarga Sukoco,” terang Sanusi.
“Kapan saya mendekat keluarga Sukoco? Kamu tahu?” tanyaku.
Sanusi menatapku, “Menurut pak Heru, anda penyebab kematian dari mendiang putra nyonya Sukoco.”
“Kamu salah. Saya gak kenal dengan keluarga Sukoco. Kalau memang saya pelakunya, kenapa tidak dituntut ke pengadilan? Ya karena tidak terbukti dan tak ada saksi yang membenarkan. Semua itu hanya tuduhan tanpa dasar.”
“Sukoco itu siapa?” Hendrik menyela.
“Gak kenal saya juga. Kok bisa-bisanya memfitnah saya, bayar orang seperti suamimu ini untuk meneror saya!” aku berkata pada istri Sanusi.
“Dia orang kaya, kontraktor besar. Proyeknya dimana-mana. Suami saya sering diminta mengamankan proyeknya,” jelas istri Sanusi.
“Menantunya Kolonel Teguh, pak Irvan,” jawab istri Sanusi.
Aku pura-pura kaget, “ini ada hubungannya dengan Kolonel Teguh? berani sekali kamu!” aku mencolek tangan Sanusi di atas meja. “Yang saya tahu, cucu dan menantu Kolonel Teguh kecelakaan lalu lintas. Benar begitu?” tanyaku pada suami istri itu.
“Siap, benar Ndan,” Sanusi menjawab, sedangkan istrinya menganggukkan kepala.
“Lalu apa hubungan Sukoco, anaknya, Kolonel Teguh dengan Komandan Imam?” tanya Suryo pada Sanusi. Sanusi terdiam. “Kalau dapat perintah, jangan cepat-cepat dikerjakan sebelum tau asal usulnya. Cek dulu mana yang benar, mana yang salah. Sudah babak belur gini, tujuannya gak jelas!”
Sanusi menunduk, “disuruh balikin duit dua juta lagi” Hendrik tertawa.
“Lihat air mata istrimu! dia menangis akibat ulahmu!” aku mendekatkan ponsel didepan wajah Sanusi. Suara tangis istri Sanusi semakin keras.
“Sekarang cari anakmu, jaga dia di dalam rumah. Jangan bukakan pintu untuk siapapun, selain kami. Nanti aku akan antar suamimu pulang!” aku berkata pada istri Sanusi.
Aku meninggalkan ruangan, lalu kembali lagi dengan beberapa helai pakaian. “Mandilah, nanti aku antar pulang. Ingat, jangan coba-coba kabur!” kataku sambil memberikan pakaian itu pada Sanusi. “Lepaskan ikatan kakinya!” perintahku pada Hendrik.
__ADS_1
Setelah tali terlepas, Sanusi menuju kamar mandi. Aku dan Suryo mendekati Frans di depan laptopnya. “Lengkap semua?” tanyaku.
“Siap, lengkap. Saya rapikan dulu foto dan videonya,” jawab Frans setengah berbisik.
“Teliti dengan seksama, jangan ada yang terlewat. Tangkap layar setiap chat dengan Heru!” Suryo menambahkan.
“Siap!” Frans meneruskan pekerjaannya.
Sanusi keluar dari kamar mandi, “duduk dulu! Sembuhkan lukamu” aku menunjuk ke sofa yang telah tersedia meja dengan perban, plester dan beberapa obat untuk pereda rasa sakit dan obat oles untuk luka di kulit. Hendrik membawa nampan berisi lima cangkir kopi dan meletakkan di meja.
“Ngopi dulu San!!” Suryo menyeruput kopi panas buatan Hendrik. “Minum, Ndan!” Hendrik menawarkan kopi padaku. Aku mengambil secangkir kopi, “sebelum kamu meneror saya, kamu kenal gak sih sama saya?” aku masih penasaran. Sanusi yang sedang bercermin menghentikan kegiatannya lalu melirikku, “siap, kenal.”
“Berani sekali kamu melawan Komandan!” Suryo tertawa.
“Sekarang bersihkan ruangan ini, kalau sudah selesai baru boleh pulang!” aku memerintahkan Sanusi.
Sanusi mengeringkan lantai, mengelap meja, dan mengatur letak meja kursi yang tadi berantakan, kami berempat menikmati kopi di sofa sambil memperhatikan kerja Sanusi.
Hari telah malam ketika Sanusi telah membersihkan seluruh ruangan. “Ayo kita pulang, tadi istrimu masak apa ya? Harum sekali!” aku merangkul Sanusi masuk ke dalam mobil. Hendrik mengemudikan mobil, Frans duduk disampingnya. Aku dan Suryo duduk diantara Sanusi. “Jarang-jarang lho ada anggota yang dikawal dua Komandan sekaligus,” Frans tertawa melihat ke arah kami di belakang, aku tersenyum lalu menyikut Sanusi, “nyalimu boleh juga!” Sanusi menunduk.
“Komandan raider kok dilawan!” Suryo ikut tertawa.
Sampai dirumah Sanusi, aku keluar mobil lebih dulu. Anak dan istrinya menyambut Sanusi di depan pintu dengan pelukan hangat. Sesuai perintahku, mereka tidak membukakan pintu pada siapapun termasuk orang suruhan keluarga Sukoco yang mungkin saja membahayakan mereka.
“Silahkan masuk, Ndan.” Istri Sanusi mempersilahkan kami masuk ke dalam rumahnya. Rumah sederhana ini menjadi saksi aksi penculikan yang aku lakukan pada si pemilik rumah.
“Sekarang, saya kembalikan suami anda. Maaf, tadi kami menculiknya dengan cara yang kurang baik. Semua itu akibat dari perbuatan suami anda pada saya. Sebelumnya saya tidak mengenal suami anda sama sekali, tapi suami anda yang lebih dulu mengusik saya. Dengan ini, saya dan teman-teman meminta maaf pada Sanusi sekeluarga atas kejadian hari ini. Semua peristiwa hari ini telah direkam dan diarsipkan agar dikemudian hari tidak ada kesalahpahaman lagi,” ucapku pada istri Sanusi. Sanusi memangku anaknya dan menunduk, istrinya duduk disampingnya dan masih menangis.
“Tadi masak apa? Sepertinya masak besar, kami belum makan malam ini!” kata Suryo tanpa basa basi.
“Oh iya, tunggu sebentar.” Istri Sanusi masuk ke dalam, lalu kembali lagi membawa piring, dan beberapa makanan lainnya. Kami makan bersama dengan lahap, makanan banyak yang terhidang di meja habis dengan waktu singkat. “Baiklah, terima kasih atas jamuannya. Istri saya boleh ya belajar masak kayak gini sama Mbak?” tanya Suryo. Istri Sanusi tersenyum, “boleh, silahkan.”
“Istri Komandan juga mau ikut belajar masak!” Hendrik mengangkat dagunya ke arahku, aku menyikutnya. Yang disikut malah tertawa terbahak-bahak.
“Boleh, siapa saja boleh main kesini, masak bareng-bareng!” ajak istri Sanusi. Dia benar-benar belum kenal aku, aku belum beristri! jeritku dalam hati.
Kami berpamitan, pada istri Sanusi, aku memberikan beberapa lembar uang biru dan mengucapkan maaf sekali lagi.
“Ini untuk makan malamnya!” Suryo juga memberikan uang untuk istri Sanusi.
__ADS_1
Sanusi memberi hormat lalu mengajakku salaman, aku berbisik padanya, “jangan sampai terulang lagi!”
Dia mengangguk, “Siap, Ndan!”