Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
32. Duka Resti


__ADS_3

Airlangga Utama Sukoco bin Irvan Firdaus Sukoco. Aku melihat nisan yang akan dipasang pada pusara yang telah disiapkan. Meski aku belum pernah memiliki anak kandung, rasa sakit kehilangan anak sekecil itu terasa perih. Semoga Resti kuat untuk dirinya dan mendampingi sang suami yang kini sedang dirawat.


Jenazah telah sampai di rumah duka semalam, pagi ini akan dikebumikan. Pemakaman ini dilakukan dengan sederhana karena keluarga besar Irvan dan Resti menolak untuk mengadakan upacara secara militer meski Kolonel Teguh telah mempersiapkan pasukannya. 


Aku dan pasukan lainnya bersiaga dari fajar menyingsing hingga iring-iringan ambulance pembawa jenazah datang. Rombongan keluarga turun dari mobil, aku tak melihat sosok Resti dalam mobil keluarga. Ternyata Resti berada pada mobil jenazah yang membawa putranya, dia mendampingi putranya yang telah terbalut kain kafan. Tepat pukul sepuluh pagi, Kolonel Teguh masuk ke liang lahat menerima jenazah cucunya. Saat itu Resti pingsan dan membuat situasi menjadi tidak kondusif. Ibu komandan berusaha menguatkan Resti. Di dalam liang lahat ada dua orang yang mengatur jenazah anak kecil itu, kurasa satu orang lainnya itu adalah ayah mertua Resti. Pasti sakit sekali rasanya, mungkin suami Resti belum melihat kondisi anaknya atau bahkan tidak tahu kabar kematian anaknya karena dikabarkan dalam kondisi kritis. 


Setelah Kolonel Teguh dan besannya naik ke permukaan, tanah mulai menutupi liang lahat. Resti ikut membuang tanah untuk mengubur jenazah anaknya. Kali ini bergantian, ibu komandan yang pingsan melihat cucunya dikubur. Isak tangis terdengar nyaring mengiringi kepergian anak kecil itu. Doa terbaik dipanjatkan, semoga menjadi bekal tameng di akhirat bagi kedua orang tuanya.


Tabur bunga dan siram air kembang dilakukan keluarga besar dan handai taulan. Matahari semakin tinggi, para tamu pelayat satu per satu meninggalkan pemakaman. Begitu juga pasukan lainnya. Ingin sekali mendekat dan menguatkan Resti tapi kurasa tidak tepat saat ini, kebetulan Suryo juga mengajakku meninggalkan tempat.


***


Sudah sepekan dari meninggalnya anak Resti, duka masih belum juga usai. Menurut kabar yang kudengar, setiap malam diadakan pengajian di rumah Resti, tapi aku sengaja tidak pernah mendatangi rumahnya untuk menjaga hati ini.


Suryo menelponku, “halo,” jawabku.


“Dimana posisi?” tanya Suryo.


“Masih dikantor!” 


“Lagi sibuk gak?”


“Gak, kenapa?”


“Tadi aku bertemu Kolonel Teguh, beliau meminta untuk menjenguk menantunya di rumah sakit!”


“Kamu aja yang jenguk, ngapain ngajak aku. Kamu aja kan yang disuruh Kolonel Teguh!”


“Gak, justru Kolonel Teguh memintaku menemani kamu untuk menjenguk menantunya. Beliau minta kamu yang jenguk, aku yang menemani!”


“Masa Kolonel Teguh bilang begitu?”


“Iya, bener kok. Aku juga heran, beliau langsung menyebut namamu.”


“Bilangnya gimana?”


“Pas bertemu, Kolonel Teguh langsung tanya kabarmu, terus bilang ‘tolong antarkan Imam menjenguk Irvan menantu saya di rumah sakit’. Aku sanggupi permintaan Kolonel Teguh itu. Kelihatannya Kolonel Teguh masih berduka, pokoknya gak bersemangat gitu deh. Masa ketemu aku, malah kamu yang ditanya. Pokoknya kamu banyak disebut Kolonel Teguh deh tadi.”


“Aslinya aku males ketemu suaminya Resti, muak rasanya!”


“Kolonel Teguh yang minta langsung lho, kamu yang diminta menjenguknya!”


“Nanti kalau disana bertemu Resti bagaimana ya?”


“Tujuan kita menjenguk suaminya, jangan main mata sama Resti. Masih jadi istri orang dia!”

__ADS_1


“Ya, iya. Kapan jadi kita kesana?”


“Nanti sore, nanti aku siapkan bingkisan untuk dibawa.”


“Di rumah sakit mana? Bukan dr. Ramelan kan? Aku agak trauma kalau kesana!”


“Halah, tentara kok kenal bahasa trauma. Dia di rumah sakit Bhakti Rahayu. Sudah lupakan Utami, anggap aja dia gak pernah ada!”


“Iyaaaa. Nanti sore aku jemput kerumah ya? Istrimu ikut juga gak?”


“Nggak lah, gak boleh bawa anak kecil ke area rumah sakit!”


“Oke, nanti kalau mau jalan, saya kabari lagi!” klik, telepon terputus.


Ketika sore hari, aku masih ada yang harus dikerjakan, jadi setelah magrib aku baru bisa menjemput Suryo lalu pergi bersama ke rumah sakit. Di dalam mobil kami lebih banyak diam, menelusuri pikiran masing-masing. Kejanggalan jelas di depan mata, kenapa aku yang diminta menjenguk suami Resti. Padahal aku sengaja menjauhinya dari dulu.


Tiba di depan ruangan rawat Irvan, suami Resti aku menghentikan langkah. Suryo menatapku, “jaga hati, yang ikhlas biar berkah!”


Aku mengangguk lalu mengetuk pintu beberapa kali. Gorden pintu tersingkap dari dalam, wajah Resti terlihat dari luar lalu pintu terbuka, “assalamualaikum,” aku dan Suryo kompak mengucap salam. “Waalaikumsalam,” Resti gugup menjawab kami, lalu mempersilahkan kami masuk ke dalam ruang perawatan. 


Ruang rawat VIP yang sangat luas dengan brankar utama untuk pasien dan disebelahnya ada sebuah kasur kecil untuk pendamping pasien, di bagian depan terdapat sebuah sofa besar beralaskan karpet lebar yang lembut, kulkas, televisi LED, lemari panjang yang dilengkapi kaca untuk rias, di bagian belakang terdapat kitchen bar, satu pintu menghadap balkon dan satu pintu lagi ke arah parkiran yang terletak di bawah ruang rawat inap ini. 


Suryo menyerahkan parcel buah yang telah dipersiapkan dari rumah tadi pada Resti, “terima kasih ya!” ucap Resti pelan.


“Masih belum banyak perubahan, tadi mengerang kesakitan sepanjang hari. Mungkin sekarang sudah lebih tenang setelah diberikan obat peringan rasa sakit,” jawab Resti sambil mengusap kening suaminya.


Terlihat leher Irvan dibalut, lengan kanannya juga, entah bagian kakinya karena tertutup selimut. 


“Apa saja yang luka?” Suryo ikut bertanya.


“Tangan kanannya patah, lehernya retak. Mungkin pada saat airbag mengembang, posisinya tidak menggunakan sabuk pengaman. Angga terpelanting jauh kedepan!” Resti menunduk dan menutup kedua wajahnya dengan kedua tangannya.


“Di ikhlaskan saja, dia sudah tenang disana!” ucapku lembut, pasti sulit untuk melewati masa-masa ini.


“Sekarang fokus saja merawat mas Irvan ya! Kita doakan untuk kesembuhannya.” Suryo menambahi.


Resti mengambil tisu lalu membersihkan air matanya, “silahkan diminum,” Resti mengambil beberapa toples snack dari dalam lemari lalu meletakkan di meja yang berada di depan kami.


Hmm, terdengar suara mengerang dari Irvan, Resti segera mendekati suaminya. “Sayang, istirahat lagi ya!” 


Aku membuang muka mendengar ucapan Resti yang sangat kubenci.


“Ada siapa?” tanya Irvan.


“Ada teman bunda ingin menjenguk ayah,” jawab Resti.

__ADS_1


“Siapa?” tanya Irvan lagi.


“Letnan Suryo sama Letnan Imam!” Resti memberi celah pada suaminya untuk melihat tamu yang datang menjenguknya.


“Imam? Dimana dia?” Irvan menengok ke arah kami, aku tersenyum padanya. “Aku ingin bicara sama Imam!” ucapnya lirih.


Aku mendekati ranjangnya, Suryo meraih tanganku ketika aku berdiri. Kami mendekati Irvan yang memanggilku.


Aku berusaha tersenyum ke arah Irvan yang terbaring lemah, “iya, saya disini!” ucapku sambil mengelus tangannya, “cepat sembuh ya!”


“Kamu yang membuat keluargaku hancur! Kamu yang membuat anakku mati!” Irvan berteriak. Resti segera menutup mulut Irvan. “Ini kecelakaan, sayang. Mas Imam gak ada hubungannya dengan kejadian ini, dia gak bersalah!” Resti memeluk dan mencium suaminya. Suryo menarikku mundur.


“Dia yang membunuh Angga! Beraninya kamu kesini! Kamu gak akan bisa merebut Resti dariku,” suara Irvan tercekat, dadanya naik turun tak stabil.


“Sayang, jangan begitu. Tenanglah, kamu harus kuat, kamu harus sembuh! Jangan pikirkan yang lain!” Resti menangis memeluk suaminya.


“Matanya tertutup, segera panggil dokter!” Suryo menengahi. Aku masih bingung dengan apa yang terjadi. Suryo mengambil gagang telepon darurat yang terletak tak jauh dari brankar pasien. “Dokter, tolong kesini segera. Pasien dalam bahaya!”


Resti semakin menangis, suaminya tak bergerak. Dokter dan beberapa perawat datang bersamaan ke ruangan. Kami bertiga diminta untuk keluar ruangan.


Resti masih terisak diluar bersama kami. “Sabar ya, Res! Suamimu akan baik-baik saja!” Suryo menenangkan Resti. Lalu Suryo menelepon seseorang, kurasa dia menelepon Kolonel Teguh. Setengah jam berlalu, dokter belum keluar dan kami belum diperbolehkan masuk ke ruangan. 


Tak lama kemudian, Kolonel Teguh dan istrinya datang. “Ada apa?” tanya bu Komandan.


“Irvan kayaknya syok melihat Imam!” Suryo menjelaskan.


Kolonel Teguh menarikku dan Suryo menjauh dari ibu dan anak yang sedang menangis berpelukan.


“Bagaimana kejadiannya tadi?” tanya Kolonel Teguh pada kami.


“Tadi Irvan meminta saya mendekatinya, setelah saya dekati, dia bilang bahwa saya yang menghancurkan keluarganya, saya yang menyebabkan kematian anaknya. Padahal saya sama sekali tidak terlibat dalam kejadian itu!” jelasku.


“Benar begitu?” tanya Kolonel Teguh pada Suryo.


“Siap, benar Ndan!”


“Dia sangat terpukul dengan kematian anaknya! Saya kira dengan kehadiranmu disini bisa memperbaiki keadaan.” Kolonel Teguh mengusap wajahnya.


“Sebenarnya apa yang terjadi pada Irvan? Kenapa kecelakaan itu bisa terjadi? Irvan sendiri kan yang membawa mobil itu?” tanya Suryo.


“Iya, Irvan pergi bersama Angga dari rumah dengan kecepatan tinggi. Kecelakaan tunggal karena menabrak pembatas jalan. Sebaiknya kalian pulang saja. Terima kasih atas kunjungannya.” Kolonel Teguh mempersilahkan kami untuk pulang.


Dokter keluar dari ruang perawatan, “maaf, seperti pasien harus dipindahkan ke ruang ICU!” 


Kami semua yang berada di koridor terkejut. Dengan cepat Suryo berpamitan lalu mengajakku segera meninggalkan tempat.

__ADS_1


__ADS_2