Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
36. Serangan Keluarga Sukoco


__ADS_3

Tengah malam telepon berdering, panggilan dari nomor tak dikenal. Satu kali, dua kali, aku abaikan. Panggilan ketiga aku angkat, tapi tidak ada suara dari seberang, lalu aku tutup lagi. Tak lama telepon berdering, segera aku angkat. Terdengar suara hembusan nafas beberapa kali. Aku tak mau ribut, jadi aku matikan saja ponselnya.


Keesokan harinya, ketika aku ingin berangkat kerja, di pintu depan kemudi ada goresan darah kering. Aku mendekat, tak sengaja aku menginjak ayam yang sudah mati. Darah ayam itu banyak menempel di pintu terutama handle pintu. Aku membersihkan bangkai ayam itu lalu mencuci bagian mobil yang terkena darah. Kegiatan ini membuatku terlambat apel pagi.


Sampai di kantor, di meja terdapat sebuah bingkisan di meja. Aku bertanya pada petugas kebersihan, “Bu Marni, ini paket siapa?”


“Tadi dikirim ojek online, katanya Komandan yang pesan, jadi saya taruh di meja,” jawab bu Marni.


“Saya tidak pesan apapun, apa ada yang dibayar?” tanyaku lagi.


“Tidak ada, Ndan. Katanya ojeknya sudah dibayar. Jadi siapa yang memesan itu ya?”


“Nggak tau juga. Kira-kira apa isinya?” aku mendekati box itu, meraba dan membau dari kotak itu. Kotak tertutup, baunya menyengat.


“Tolong di videokan Bu, saya akan membuka kotak ini!” aku menyerahkan ponsel pada bu Marni.


Perlahan aku membuka kotak yang tertutup rapat ini. Aroma busuk menyeruak, bu Marni menutup hidungnya. Bangkai tikus yang sudah dikerumuni ulat belatung. Bu Midah meletakkan ponsel di meja lalu berlari keluar ruangan, tak jauh dari pintu dia memuntahkan isi perutnya. Beberapa staf yang melihat bu Marni ikut bergidik jijik. Ada juga yang bertanya-tanya penyebabnya. 


Aku menutup kotak tadi, lalu menyegelnya dengan rapat, kemudian meminta salah satu anggota untuk menguburnya.


Aku yakin bahwa keluarga Sukoco dibalik teror itu. Bisa saja aku mengusut dan menindak tapi aku tak mau gegabah, aku masih menghargai Kolonel Teguh.


Tapi semakin lama, teror itu semakin keterlaluan. Aku merasa harus menyelesaikannya, tak bisa diabaikan.


Keluarga Sukoco merupakan salah satu crazy rich Surabayan yang uangnya sering berceceran saking banyaknya.


Memiliki harta melimpah membuat keluarga itu sangat berpengaruh.


Aku mengajak teman-teman berdiskusi menghadapi teror ini. Jika dilanjutkan secara hukum, bisa merusak reputasi Resti dan Kolonel Teguh, tapi jika didiamkan sangat mengganggu.


"Sebaiknya kita lapor Kolonel Teguh saja, biar beliau yang memberi pengertian pada besannya," usul Suryo.


"Iya, tapi kok lemah sekali. Masa urusan kayak gini lapor Komandan," sanggahku.

__ADS_1


"Kita datangi langsung aja Ndan. Minta kejelasan dan maksud dia mengirim teror-teror itu," kata Hendrik.


"Kumpulkan bukti yang lengkap, baru kita ke rumahnya minta penjelasan," Frans juga memberi usul.


"Kita kerahkan kemampuan IT untuk mengusut nomor peneror itu, dari situ kita bisa tindak ke lokasi pengoperasian nomor tersebut!" Suryo menambahkan.


"Ada banyak nomor yang masuk, apa bisa dilacak semua?" tanyaku.


"Selama nomor itu aktif, bisa dilacak keberadaanya. Kalau nomor itu tidak aktif, sulit dilacak."


"Aku rasa lebih baik kita lacak sendiri nomor itu daripada lapor pada Kolonel Teguh!" aku memutuskan.


“Tapi dia tidak menyatakan terang-terangan mengancam!” kata Hendrik.


“Ini bukan teror biasa!” ucap Suryo.  


“Keliru dia, jika menyangka aku takut. Mungkin dia tidak sadar dengan siapa dia berhadapan!” aku meremas kertas yang ada di meja.


“Aku sudah menelponnya beberapa kali, tapi tidak aktif. Ada beberapa nomor juga, lebih dari tiga.” Aku memberikan ponsel pada Frans.


“Bisa kita lacak sekarang,” Frans membuka laptop lalu mengutak-atik di depan kami.


“Ini koordinatnya, terakhir aktif lima jam yang lalu,” terang Frans.


“Posisi kita dimana?” tanya Hendrik.


“Disini,” kataku dan Suryo bersamaan sambil menunjuk sebuah titik yang terdapat dalam layar laptop.


“Ini baru satu nomor yang lacak, coba nomor lainnya. Frans kembali menekuni laptop di depannya. “Nomor ini aktif, dekat dari sini!”


“Siap meluncur!” Suryo berteriak.


Aku, Suryo dan Hendrik segera menuju ke mobil. Hendrik mengendarai mobil, Suryo duduk di samping Hendrik dan terus berkomunikasi dengan Frans di kantor untuk memastikan target masih pada posisi yang sama.

__ADS_1


Mendekati posisi, aku dan Suryo keluar dari mobil mendekati target, sedang Hendrik standby di mobil. Koordinat yang diberikan oleh Frans berada di salah satu perumahan prajurit.


Kami memutar ke belakang rumah, mempelajari situasi, memastikan kebenaran koordinat yang dikirim Frans. Aku membuka pintu samping yang kebetulan tidak terkunci, kami mengendap masuk ke dalam. Aroma masakan tercium menggoda selera, suara dentingan alat masak dan api di kompor yang menyala membuat gerakan kami nyaris tak terdengar oleh si koki di dapur tersebut. Aku melirik ke arah dapur, seorang wanita muda sedang asyik memasak. Suryo melanjutkan langkahnya ke dalam kamar yang diperkirakan sebagai titik pusat koordinat. 


Terlihat ponsel tergeletak di nakas sebelah tempat tidur, sedang si pemilik ponsel tertidur pulas di kasur yang empuk. Aku mengendap ke samping tempat tidurnya hingga ke bawah kolong kasur. Dari luar kamar Suryo berjaga kemudian melakukan panggilan ke nomor itu, memastikan nomor yang pernah menerorku itu adalah benar nomor pemilik rumah ini. Tak ada nada dering di ponsel yang tergeletak di nakas, tapi aku mendengar suara benda bergetar dari dalam nakas, target terkunci.


Suryo langsung masuk ke dalam kamar dan memberikan bogem mentah pada orang yang tertidur pulas itu. Dalam teknik bela diri yang kami kuasai, kami bisa melakukan pukulan yang membuat lawan langsung pingsan. 


Mendapat pukulan tanpa permisi, orang tersebut sontak pingsan tak berbalas. Aku mengamankan ponsel baik yang terletak di atas nakas, maupun yang berada di dalam laci di bawahnya. 


Suryo menggendong orang itu keluar. Aku memberi aba-aba agar kami bisa keluar tanpa diketahui si koki yang sedang masak. Hingga dekat di pintu keluar terdengar, “ayo masuk, jangan main diluar!” wanita itu menarik tangan seorang anak kecil masuk ke dalam rumah. Wanita itu kembali ke dapur dan meneruskan kegiatan memasak. Rasanya tidak mungkin untuk keluar dari pintu yang tadi kami lalui karena anak kecil itu berada tak jauh dr pintu itu. Kami berputar arah menuju pintu depan. Pintu depan terkunci, namun anak kunci menggantung di pintu, sekali putar saja, pintu dengan mudah terbuka. Kami berlari memboyong orang yang tadi ke dalam mobil.


Aku dan Suryo mengapit orang itu di kursi belakang. Hendrik melaju ke mess. Aku dan Suryo memperhatikan orang tersebut. Seorang anggota melakukan teror kejam padaku. Baiklah, akan kita selesaikan segera. Sampai di mess, aku dan Suryo menyeret orang tersebut, mendudukkannya di sebuah kursi lalu mengikatnya.


Hendrik memperhatikan orang tadi lalu melirik ke ponsel miliknya lalu ke belakang mengambil seember air. Dia menyiramkan air itu ke mukanya. 


Orang itu terbangun, kaget. Aku adalah orang pertama yang dilihatnya ketika telah sadar. 


“Siapa yang menyuruhmu?” Hendrik bertanya pada orang itu.


“Apa? Menyuruh apa? Kenapa aku disini?” tanya orang itu.


“Jangan bilang tidak kenal denganku!” aku menarik kursi dan duduk tepat di depannya.


Suryo berada di sampingku membuka ponsel orang tersebut. tapi ponselnya terkunci. Kemudian memberikan ponsel tersebut pada Frans. Frans mengoperasikan laptopnya hingga mendapatkan sandi untuk membuka ponsel itu. Setelah sandi ponsel berhasil dibuka, Frans memberikan pada Suryo. Kami membuka dan memperhatikan chat satu demi satu. “Hentikan, kalian tidak bisa melakukan ini, ini melanggar hukum!” teriak orang itu.


Hendrik meninju mulut orang itu hingga berdarah dan terdiam. 


Dari chat aplikasi hijau terdapat sebuah chat yang menunjukkan perintah, ajakan menebar teror dari pemilik nama Heru. 


“Siapa Heru?” tanyaku.


Orang itu terdiam, Hendrik menoyor kepalanya, “ayo jawab!” tapi orang tersebut masih tutup mulut. Aku melakukan panggilan video ke nomor Heru. Sekali panggilan, tidak diangkat, lalu aku mengulang panggilan lagi. Layar terbuka, seorang pria terlihat kaget saat melihat orang yang kami sandera dalam keadaan terikat dan mulut berdarah, “Bodoh kamu!” lalu dia menutup panggilan video. Aku mencoba memanggil lagi namun nomor yang dituju dalam keadaan non aktif.

__ADS_1


__ADS_2