Diamku Hanyalah Sebuah Topeng

Diamku Hanyalah Sebuah Topeng
32.masalah baru


__ADS_3

"apakah nona abay ada di sini?"tanya Dandi dengan raut wajah yang sulit diartikan kepada salah satu penjaga markas.


"ada tuan, sekarang berada di ruangannya"jawab penjaga itu.


tanpa mengeluarkan satu kata pun Dandi langsung berlari menuju ruangan Rania.


Brakk


pintu terbuka dengan begitu keras membuat Rania yang berada di dalam ruangan itu terkejut.


“ada apa?”tanya rania saat melihat dandi masuk dengan kringat membasahi seluruh wajahnya.


"haa haaa itu haa Demian haa haa.."


"kenapa dengan Demian?"tanya Rania dengan wajah datar.


"haa dia diserang saat menuju bandara"


"apa!! bagaimana bisa"


Rania tidak menyangka hal tersebut terjadi begitu cepat.padahal Demian adalah orang yang cerdik, bagaimana bisa rencana yang disimpan rapat rapat terdengar oleh musuhnya.Rania bergegas menuju rumah sakit tempat Demian dirawat bersama dandi.dia tidak ingin memberitahu Luis karena kemungkinan besar dirinya yang dicari sekarang ini.setelah sampai di rumah sakit Rania bergegas menuju ruangan tempat Demian dirawat diarahkan oleh resepsionis rumah sakit.saat masuk ke ruangan tersebut menampakan Demian yang terbaring di brankas rumah sakit dan dokter sedang memeriksanya.


"mengapa dia berada disini?"gumam orang itu saat melihat Rania masuk ke ruangan Demian dengan mengunakan pakaian seba hitam.rania dapat dikenali karena dirinya terlalu tergesa-gesa dan lupa mengenakan penutup wajah.


"bagaimana kondisinya dok?"tanya Rania.


"pasien mengalami luka tembak di bagian lengan sebelah kiri dan sekarang kami sudah mengeluarkan peluru tersebut.kami menyadari bahwa peluru itu mengandung racun.kami telah memberikan obat penawar racun untuk pasien"jelas dokter itu.


"sekarang pasien sudah melewati masa kritisnya, tetapi.."


"tetapi apa dok?"bukan Rania yang bertanya melainkan Dandi.


"pasien mengalami koma"


seketika Rania dan Dandi dibuat kaget oleh pernyataan dokter tersebut."saya permisi"pamit dokter itu yang hanya dibalas anggukan oleh Rania dan Dandi.


"Dandi perketat penjagaan"perintah Rania.


"baiklah"setelah mendapatkan peringkat dia langsung keluar untuk menelepon anak buahnya.


sekarang yang berada di ruangan tersebut hanya ada Rania dan Demian yang terbaring di brankas rumah sakit.rania mendekati Demian lalu duduk di kursi disebelahnya.


"kau itu orang paling nekat yang pernah aku kenal.bahkan kau pernah hampir korbanin hidupmu buat aku.mungkin kalau ngga ada kamu sekarang aku udah tinggal nama"ucap Rania sambil mengingat hal tersebut dengan senyum hampa.


"kau itu gampang terkecoh kalau menyangkut aku ataupun luis.seberapa berharga sih abay buatmu?"tanya Rania air mata sudah mengalir di pipinya.


sekedar info Demian dan Rania sudah dekat sejak lama kalau di depan orang atau di kantor berbicara formal.sedangkan jika diluar akan mengunakan kau-kamu-aku sama seperti dia berbicara dengan sahabat sahabatnya.


sementara orang yang mengenali Rania saat masuk ke ruangan tersebut masih ada di depan pintu ruang rawat Demian dan mendengarkan semua yang diucapkan Rania.


"mereka mempunyai hubungan apa?, sampai membuat seorang Rania menangis"batin orang itu terus bertanya tanya dan memunculkan pikiran pikiran negatif tentang semua yang dilihatnya tetapi langsung ditepis olehnya.saat terdengar langkah kaki orang itu langsung berlalu pergi,dan benar saja Dandi sedang berjalan menuju ruangan Demian setelah memberikan tugas kepada bawahannya.


“dia kan manager cafe”

__ADS_1


ceklek


"ay pulang sono biar aku yang jaga,ini udah malam banget nanti orang lain curiga lagi"ucap Dandi.


karena perkataan Dandi Rania melihat jam tangan yang berada di pergelangan tangannya.benar saja waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam.


"baiklah,aku pulang.jaga dia dan jangan sampai Luis tahu"ucap Rania lalu berlalu pergi dari ruangan itu.


jika ditanya mengenai tidak memberi tahu Luis,itu karena sifat Demian dan Luis adalah sama sama nekat.sedangkan jika dilihat dari perbedaan sifat lainnya Demian lebih pendiam dan dingin sedangkan Luis humoris dan murah senyum.


sinar matahari terbit memenuhi celah kamar rania.gadis itu masih nyaman dengan selimutnya.


sampai suara ketukan pintu membangunkannya.


tok tok tok


"nona Rania"


"ada apa?"tanya Rania sedikit berteriak dengan suara serak khas bangun tidur.


"tuan rendy menunggu di meja makan"ujar Lidia.


Rania langsung membuat mata sempurna, karena mendengar apa yang diucapkan Lidia.


"baiklah suruh tunggu sebentar"ucap Rania.


"baik nona"


"selamat pagi"sapa Rania.


"pagi sayang, tumben bangun telat biasanya sebelum aku kesini kamu udah rapi?"tanya Rendy.


"tadi malam begadang ngerjain tugas kantor"jawab Rania.


"oh begadang"


lalu Rania beralih ke si kembar yang diletakkan di ruang tamu beralaskan karpet tebal ditambah kasur bayi.rania menempelkan punggung tangannya di dahi baby Ale lalu beralih ke baby Ald.ternyata panasnya sudah turun.


"baguslah"lalu pandangannya beralih kepada kepada kedua babysitter itu"apakah sudah diberi obat?"tanya Rania.


"sudah nona"


"baguslah,jaga mereka jika ada apa apa telpon saja aku"perintah Rania.


"baik nona"


Rania berjalan ke arah rendy untuk sarapan pagi bersama.ternyata Rendy sudah menyiapkan nasi dan lauk untuk Rania,dia tersenyum tipis.


"terima kasih"ucap Rania dibalas anggukan kecil oleh Rendy.


"cepat makan nanti telat Berangkatnya"


setelah sampai di ruangannya Rania langsung mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya.sejak kemarin pikirannya kacau dan tidak tenang.rania mengambil ponselnya dari sakunya dan menelfon seseorang.

__ADS_1


"kenan selidiki tangan kanan Demian Alexander,aku butuh secepatnya"


"baik nona,apakah anda akan ke LA untuk memastikan semuanya"


"hemm, baiklah jika memang tidak bisa mengendalikan situasi"


"baik dimengerti"


"jangan sampai ada yang tahu,aku ingin semua rapi"


"sesuai perintah nona"


"hmm baiklah"


Tut Tut Tut


Rania meletakan ponsel tersebut di meja kerjanya,dia memijat pelipisnya karena sedikit pusing.


"kenapa dia tidak mati saja"ucapannya.


"siapa yang mati kak?"tanya Lana yang baru masuk ke ruangan rania.mendengar hal itu Rania langsung terlonjak kaget.


"kapan kamu masuk?"tanya Rania.


"barusan"jawab Lana santai seperti dipantai.


"kenapa tidak mengetuk pintu?"


"hehehe maaf lupa"Rania hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Lana.


"to the point"ujar Rania.


"ish bukannya ditawari minuman dulu juga"gerutu Lana.


"tuan Lana yang terhormat kantor ini milik anda jadi silahkan pesan sendiri"ucap Rania geram dengan sikap Lana,sudah dari pagi dibuat pusing oleh kakaknya sekarang adiknya juga ikut ikutan.Lana hanya nyengir kuda saat ditatap datar oleh Rania."tenang aku kesini cuma mau mengucapkan terima kasih karena kakak menyelesaikan masalah perusahaan Franziska cops"jelas Lana.


"tidak masalah,ini juga tugasku sebagai direktur di perusahaan ini dan juga tangan kanan kepercayaan di sini"ucap Rania.


"Lana sebaiknya berhati-hati karena kasus ini belum sepenuhnya selesai"ucapannya dengan tatapan serius.


"maksudnya?"tanya Lana sambil menaikkan salah satu alisnya.


"dari para tersangka mereka hanya pion,raja dari permainan ini belum keluar"


"ha? permainan"


"ya kamu harus bisa bedakan mana kawan mana lawan.aku tidak bisa selalu membantumu karena aku juga punya urusan penting lainnya.satu pesanku berhati hatilah dia mengincar seluruh keluarga Franziska"jelas Rania dengan wajah serius.setelah mengatakan semua itu Rania langsung berjalan pergi meninggalkan Lana yang masih berada di ruangannya.saat sampai di di dekat pintu dan membukanya rania melanjutkan ucapannya"oh iya aku ada meeting jika ingin disini silahkan"lalu menutup pintu ruangan itu.


"permainan?"gumam Lana.


***


hayo siapa orang yang mengenali Rania yang berada di rumah sakit.jangan lupa komen ya?

__ADS_1


__ADS_2