Diamku Hanyalah Sebuah Topeng

Diamku Hanyalah Sebuah Topeng
trauma


__ADS_3

"setidak patuh apa diriku?"tanya Rania dengan nada datar.


"seharusnya kamu duduk manis diam dan biar pendamping hidupmu yang melindungi mu. kamu tidak perlu lagi berjuang lebih keras seperti dulu"jelas Demian dengan nada halus.


"setelah semua yang pernah ku lalui? sebelum aku mengenal dirimu, aku sudah terlatih karena teror ataupun kejadian aneh yang selalu datang dari orang orang yang menyimpan dendam padaku. bertahun-tahun harus hidup resah dan gundah tetapi diriku di paksa kuat"ucap Rania dengan nada hampa.


"sampai suatu hari aku harus hidup pada lingkungan baru, dan apa? di sana pun aku harus kuat bertahan hidup. jika saja waktu itu aku tidak bertemu denganmu mungkin diriku sudah tamat. dan dari satu kejadian itu aku membangun semua pondasi tinggi ini. dimana aku setidaknya bisa melindungi apapun dengan semua kemampuan ku meskipun harus masuk dunia bawah. dan sekarang kau menyuruhku untuk berhenti menurutku sudah terlambat karena sekarang termasuk masa mempertahankan"sambungnya dengan nada sedikit tinggi. Demian hanya diam mendengarkan semuanya.


Sejenak Demian lupa kalau Rania pernah di posisi jatuh,tetapi dengan secarik harapan dia bisa bertahan hingga jadi seperti sekarang. Karena kalau berhenti sekarang maka banyak yang akan tumbang.


Sedangkan di luar ruang rawat yang sedikit terbuka pintunya, Rendy mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut Rania.


Seketika dia merasa kurang mampu untuk bisa melindungi istrinya,yang sangat sulit untuk didapatkannya dulu. Sekilas dia ingat bagaimana segala cara Rania untuk menolak Rendy agar tidak terlibat bahaya. Namun dirinya memaksakan segala cara untuk mempertahankan cinta pertamanya itu.


Ya sekarang memang tidak bisa mundur, karena semua yang terjadi adalah masalah yang harus mereka hadapi bersama sama. karena jalan ini yang mereka ambil maka akan ada resiko yang muncul.


Ceklek


kedua pembicara itu menoleh ke arah pintu dan Rendy pun muncul dari pintu tersebut.


"sayang, kamu udah makan?"tanya Rendy mendekati Rania.


"belum"jawab Rania.


"ini tadi dari mama, makanan dari rumah. kamu makan ya!"ujar Rendy sambil membuka kotak bekal yang di bawanya.


Demian hanya menatap Rendy dengan perasaan penasaran, dan Rendy yang merasa di tatap pun menoleh. Demian menanyakan tujuan awal Rendy dengan isyarat mata tetapi Rendy mengisyaratkan dengan gelengan pelan yang artinya dia tidak jadi pergi


"aku pergi dulu ya"ucap Demian.


"jangan kembali ke markas,pulang ke rumah"ucap Rania dengan nada sedikit ketus.


Demian hanya menganggukkan kepala dengan cepat lalu pergi dari pasangan suami istri itu.


"maafin aku ya sayang"ucap Rendy dengan nada lirik.


Rania yang tadi hanya fokus pada makanannya beralih ke Rendy dengan tatapan tidak mengerti.

__ADS_1


"kalau aku lebih kuat mungkin kamu ngga akan seperti ini"lanjut Rendy.


"apa maksud mu?"tanya Rania dengan nada dingin.


"aku minta maaf atas semua yang terjadi, mungkin dulu kalau aku tidak memaksakan ini semua tidak akan berantakan seperti ini"ucap Rendy lagi.


"tarik kembali ucapanmu itu"balas Rania dengan nada semakin dingin.


Rendy yang tidak mengerti maksud Rania pun hanya diam.


"tarik kembali ucapanmu!!!! apa kamu menyesal memilih hidup bersamaku?!!!"teriak Rania dengan nada tinggi. untung saja mengunakan ruangan VVIP jadi tentu kedap suara dan tidak menggangu pasien lainnya.


"sayang,aku tidak bermaksud seperti itu. kamu salah faham"Rendy meletakan kedua tangannya di pipi istrinya dan mereka saling menatap satu sama lain.


"lalu kenapa kamu meminta maaf seolah keputusan menikahi ku adalah masalah untukmu"ucap Rania dengan nada suara yang sedikit bergetar.


"hai,.. bukan begitu aku hanya merasa bahwa kurang dalam melindungi mu dan calon anak kita"Rendy langsung membawa Rania ke dalam pelukannya. Tanpa di sadari air mata Rania kembali mengalir.


"sudah, lanjutkan makan lalu istirahat agar cepat sembuh. anak anak pasti menunggu kita pulang.oke"sambung Rendy sambil menepikan anak rambut istrinya.


Satu kecupan mendarat di kening Rania,suasana ruangan itu yang tadinya tegang kini kembali seperti semula.


Dua Minggu berlalu Rania yang telah dinyatakan pulih akhirnya bisa pulang. hal itu disambut dengan bahagia oleh seluruh keluarga.


Bahkan anak anaknya sampai merengek ingin ikut menjemput sang mommy.


"aku mau ikut.... pokoknya ikut"ucap Ale dengan nada merengek.


"ald juga"sahut ald kembarannya.


"kakak juga"bahkan Arsene juga ikut mengucap dengan nada lantang.


"ha!!sudah ajak saja mereka. gunakan satu mobil saja di sana sudah ada mobil kakakmu"ucap papa Dian kepada putri keduanya.


"benar sayang, biar mama sama papa yang jemput keponakan barumu"sahut mama Tia.


Dari kejadian kemarin menyebabkan duka yang dalam bagi keluarga mereka karena kehilangan anggota yang bahkan belum lahir. Tetapi seminggu setelahnya anak dari Lana dan Elsa lahir sehingga kebahagiaan itu kembali hadir. anak tersebut berjenis kelamin laki-laki.

__ADS_1


Tapi anak itu harus lahir di kota kelahiran ibunya karena saat itu Elsa meminta kepada Lana ingin mengunjungi makan orang tuanya. Meskipun jauh dari HPL tetapi perkiraan mereka melesat dan berakhir melahirkan di sana.


Sementara di tempat yang berbeda yaitu rumah sakit, Rendy sudah mengemasi barang istrinya.


"Sayang kamu bener udah ngga papa"tanya Rendy dengan raut wajah cemas.


"aku udah sehat kok,tadi kata dokter juga bisa pulang sekarang"sangah Rania.


"tapikan kamu yang minta"bantah Rendy.


"sudah tidak ada masalah,jadi dokter mengizinkan. setelah ini pasti mereka sudah sampai"jawab Rania. Rendy hanya menjawab dengan anggukan.


Ceklek


"mommy"teriak ketiga anak laki-laki yang berlari ke arahnya.


"mom udah sembuh?"tanya si sulung Arsene.


"sudah sayang"jawab Rania.


"mana Andra?"tanya Rendy kepada sang adik.


"ikut mama sama papa jemput keponakan baru"jawab Sasa.


"oh... ya sudah ayo kita pulang ke mansion ku saja"sambung Rendy.


"loh Daddy...kita ngga lihat Dede bayi pulang"sahut Ale dengan nada polos.


"besok saja ya boy, sekarang kita pulang dulu kalian tidak rindu rumah?"bujuk Rendy.


"rindu....apalagi kalau ada mommy sama Daddy"yang menjawab hal itu bukan Ale tapi si sulung Arsene.


"ayo,kita pulang"akhirnya mereka memutuskan untuk mengunakan satu mobil dan mobil milik Sasa di tinggal di basemen rumah sakit khusus pemilik rumah sakit.


Semua hal ini di lakukan agar Rania bisa menata hati, pasti dia masih merasa sedikit trauma dengan kejadian beberapa Minggu belakangan.


Rendy mencoba untuk memahami kesiapan hati istrinya. Bisa jadi Rania kembali terpuruk dan menyalahkan dirinya sendiri. satu Minggu yang lalu saja Rania hampir menggores tangannya setelah mendengar suara tangisan bayi di taman rumah sakit. Dia masih merasa seolah bertanggung jawab atas kepergian calon anaknya dan juga karena tidak bisa melindunginya.

__ADS_1


__ADS_2