
waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam yang menandakan semua orang sudah terlelap pada mimpi mereka masing masing.
tetapi tidak dengan Demian dan juga rendy yang masih terbangun dan memutuskan untuk mengobrol di balkon tepat di kamar Rania.
"jadi siapa pelakunya?"tanya Rendy dengan nada serius, setelah beberapa saat hanya membicarakan tentang bisnis.
"tidak berbahaya,hanya saja musuh yang tumbuh dari perseteruan masa lalu.tetapi sungguh aku tidak bisa mengatakan siapa dia."jawabannya sambil menyeduh kopi yang di siapkan oleh adiknya siapa lagi kalau bukan Veronica.
"ngomong ngomong, apa nia hanya tidur saja sejak tadi siang?"sambung Demian mengalihkan pembicaraan agar Rendy tidak membahas persoalan tersebut.
"tidak,tadi saat menjelang malam dia terbangun karena merasakan sakit di kepalanya, lalu aku memberi obat padanya"otomatis setelah di berikan obat oleh Rendy, Rania akan tertidur kembali itu adalah pesan dokter tadi siang yang memeriksa Rania.
dia mungkin belum banyak terisi energi dan terakhir kali hanya mengandalkan infus saja. jadi Rania di sarankan untuk istirahat total selama kurang lebih satu Minggu ini.
"syukurlah, sepertinya Rania harus menemui dokter Maya"ungkap Demian dengan nada rendah.
"siapa itu dokter Maya?"tanya Rendy yang tidak mengerti tentang hal itu.
"dia adalah dokter psikologi yang menangani Rania beberapa tahun yang lalu sampai dia di nyatakan sembuh"jelas Demian sambil memperlihatkan sebuah file pribadi milik Rania yang berada di apartemen ini.
'jadi saat bertemu denganku dia mencoba menghapus traumanya,apa aku terlalu jahat dengan keputusan terburu buru' benak Rendy mulai bertanya tanya, semua ini adalah pasti bukan sebuah kebetulan dan pastinya dilihat dari semua ini Rania juga berkorban sangat banyak untuk hubungan mereka.
Uhukk uhukk
terdengar suara batuk yang berasal dari kamar Rania membuat keduanya langsung menghampiri dan menanyainya seribu satu pertanyaan.
"sayang apakah kamu baik baik saja?apa ada yang sakit? apakah lukamu terasa sakit?"tanya Rendy secara beruntun.
Demian pun juga begitu"kau baik baik saja? apakah kau butuh sesuatu? bagaimana keadaanmu saat ini?"hal itu membuat Rania bingung menjawab, padahal dirinya baru saja bangun belum juga mengatakan sesuatu sudah di tanya banyak hal.
"hentikan!!aku bingung menjawab kalian"jawab Rania dengan nada pelan sedikit serak.
"aku ingin ke kamar mandi"sambungnya lagi meminta bantuan kepada suaminya.
"baiklah, ayo ku gendong"ucap Rendy dengan sigap langsung mengambil posisi untuk mengendong Rania.
"aku tidak lumpuh"jawab Rania tentu saja dia hanya butuh bantuan untuk berdiri saja.
Rendy yang tidak suka menerima bantahan karena keadaan Rania pun langsung menggendongnya ala bridal style dan langsung membawanya menuju kamar mandi.
__ADS_1
melihat hal itu Demian hanya menatap mereka dengan intens sampai menghilang dari balik pintu.
"aku jadi ingin pulang, lalu menemui Risa" batin Demian sambil mengelus dadanya pelan.
beberapa saat kemudian Rania dan Rendy pun keluar dari kamar mandi. sedangkan Demian masih tetap sama menunggu sambil duduk di sofa dekat tempat tidur.
"Nia apa kamu lapar?"tanya Demian saat Rendy memetakan Rania di kasur king size miliknya.
"tidak,aku masih kenyang"ucap Rania tetapi Demian menatapnya dengan tatapan sendu.
"tenanglah, dia akan baik baik saja"sahut Rendy yang tau kekhawatirannya tentang Rania yang dianggap adik sama seperti adik kandungnya Veronica.
"baiklah,aku keluar dulu selamat malam"Demian tau situasi ini saatnya Rania dan Rendy bicara empat mata tentang kejadian beberapa hari terakhir.
Ceklek
"sayang,apa kamu butuh sesuatu?"tanya Rendy mengalihkan pembicaraan agar bisa sampai inti pembicaraan serius.
"tidak,aku hanya ingin istirahat saja"ujar Rania sambil bersandar sandaran kasur sambil memejamkan matanya. tentu saja Rania sudah tau inti pembahasan suaminya itu akan mengarah ke mana.
Rendy langsung duduk di dekat Rania yang sedang bersandar di sandaran kasur,lalu membelai lembut pipinya yang sedikit tirus.
"sayang gemoy kamu kok hilang"sungguh satu pernyataan dari Rendy kali ini sangat membuat rusak suasana baik dan romantis. padahal memang benar tubuh Rania dulu agak berisi setelah melahirkan putra pertamanya.
"apaan sih mas"pekik Rania sedikit bingung dengan perkataan suaminya itu.
"beneran loh sayang, sekarang kamu ingin makan apa?"tanya Rendy dengan nada lembut sambil tersenyum.
"aku tidak lapar"jawab Rania singkat.
"sayang..."panggil Rendy pada Rania dengan nada panjang nan lembut.
"maaf,besok saja ya mas"ucap Rania dengan nada agak lirih. dia belum cukup berani untuk menjelaskan.
"baiklah,ayo sekarang tidur saja"Rendy langsung membantu istrinya berbaring dan dia juga berbaring di samping istrinya sambil memeluknya.
"selamat tidur istri kecilku...cup"ucapnya sambil mencium keningnya,saat istrinya kembali terlelap karena efek obat yang diminumnya.
keesokan harinya
__ADS_1
hari berjalan seperti biasanya kecuali dua pasang insan yang sedang saling diam karena tidak mau memulai pembicaraan terlebih dahulu.
sedari pagi hingga menjelang siang hari hanya tindakan yang dilakukan oleh keduanya tetapi tidak dengan pembicaraan.
"ada apa dengan kalian berdua ini?"tanya Veronica yang mulai geram dengan sikap keduanya.
"bisakah kalian berdua berada di kamar saja jangan keluar rasanya dingin mulai menjalar ke seluruh ruangan ini"sambungnya lagi sedikit menyindir.
"kau diamlah vero"sahut Demian yang berada di sebelahnya.
"kau juga kak sama sama kutubnya"ujarnya sambil menyuapkan cemilan ke mulutnya.
Rania berdiri dari sofa untuk menuju ke dalam kamarnya,dari pada meladeni omongan temannya itu.
dengan ambil tindakan cepat Rendy langsung mengendong Rania ala bridal style dan langsung membawanya ke kamar dengan langsung mengunci pintu kamarnya.
"sampai kapan kamu akan diam"ucap Rendy membuka pembicaraan lalu kedua tangannya memegang pada sela pipi Rania.
"sayang...aku sudah tau semuanya, maafkan aku dulu yang terlalu egois untuk memilikimu"sambung Rendy dengan nada suara rendahnya.
"tidak mas...aku yang seharusnya tidak pantas dimiliki oleh siapa pun"jawab Rania sambil menundukkan sedikit pandangannya.
"hei...hei...tatap aku sayang,kamu adalah orang berharga dalam hidupku. tolong jangan berpikir seperti itu"mereka berdua bertatapan sangat lama mencari sebuah arti kebenaran yang sesunguy dan akhirnya Rendy langsung membawa Rania ke dalam pelukannya.
Tangis Rania mulai pecah dan langsung membalas pelukan erat suaminya itu.
"aku. tidak sanggup hidup dilandaskan rasa sakit..hiks....lalu pada akhirnya anak anakku yang menjadi korbannya....hiks..."tangisannya membuncah bagai sebuah ombak besar yang menerpa tepi laut yang luas.
"suttt ..tenang sayang kamu harus kuat,ada aku dan anak anak yang terus mendampingi mu. ingatlah kita memang seorang manusia yang tidak luput dari sebuah kesalahan"kata kata yang diucapkan oleh Rendy seketika membuat Rania kembali menatap suaminya itu.
"lantas apakah kesalahan yang berulang bisa di sebuah hal wajar?...."
.
.
.
Happy reading
__ADS_1