
Pagi hari di sambut dengan senyuman mentari yang menyinari bumi. Mengharuskan semua mahluk di bumi kembali beraktivitas. Dimana rania yang memulai hari paginya dengan menyiapkan keperluan para lelaki tampannya, hal itu di lakukan rania karena rendy melarang untuk melakukan segala aktivitas yang menurutnya berat.
Hingga akhirnya dia hanya boleh menyiapkan keperluan rendy dan putra putranya, sedangkan hal lain yang diperbolehkan adalah bekerja dari rumah.
"sayang!! Aku berangkat sekalian nganter anak anak sekolah" pamit rendy kepada istrinya yang sedang ngambek karena segala larangan yang mengharuskan istrinya hanya berdiam diri.
"sayang!!..."panggil rendy sekali lagi tetapi kali ini dengan nada sangat lembut.
"iya.."jawab rania singkat dengan keadaan muka cuek.
"kok cuma begitu, mana senyum sama kecupan selamat bekerja untuk ku"ucap rendy dengan nada menggoda.
"ngga ada untuk hari ini, aku lagi bad mood sama kamu" sahut rania dengan nada kesal.
Rendy sekilas menoleh ke arah lift dan anak tangga, lalu berujung mendekat ke arah istrinya itu yang sedang duduk bersinggungan arah dengannya.
" bumil ngga boleh bad mood dong, gimana kalau ikut ke kantor sama aku?" tawar rendy sambil berjongkok dan memeluk rania dari belakang dan mengusap perut yang sekarang di huni oleh buah hati mereka.
Rania sebenarnya ingin menolak perlakuan suaminya itu, tapi entah kenapa hal romantis tersebut membuatnya seakan luluh dan merasa tenang.
"ngga aku mau kerja di rumah aja" ketus rania. Masih kesal saat mengingat negosiasi dengan suaminya dini hari tadi di mana rania hanya punya dua kesempatan kegiatan saja. Pertama bekerja di rumah dan kedua saat pagi hari hanya boleh menyiapkan keperluan pribadi suami dan anak anaknya. Sisanya hanya bisa di lakukan kalau ada rendy dan seizin rendy.
Benar benar merasa terkekang melebihi saat mengandung reandra. Hal itu sudah dia utarakan kemarin, tapi lagi lagi dengan santai rendy menjawab "dulu aku belum terlalu mengenal sifat licik kamu dan gampang kamu bohongi tapi sekarang kejadian itu tidak akan pernah terulang lagi"
"haa....sayang ini semua demi kebaikan kamu, kamu mengerti ya...."
Cup
Cup
Cup
Tiga kecupan mendarat di kedua pipi dan kening rania saat rendy memposisikan duduk berhadapan dengannya.
Entah mengapa rasanya pipinya memanas saat melihat senyum manis suami posesifnya ketika dia sedang marah pada rendy.
Rona wajah rania bisa terbaca oleh rendy karena sifat malu malu istrinya itu yang membuat rendy tergoda untuk mencium bibir merah istrinya.
Cup
Satu kecupan tak terelakan hingga kecupan itu berubah menjadi luma**n bagi keduanya.
__ADS_1
Ting
Tetapi sayang sekali karena pintu lift memberi tanda akan terbuka rania langsung mendorong dada rendy hingga ciuman panas itu terlepas.
Nafas keduanya tidak stabil hingga menghirup udara dengan rakus.
"daddy sen sama kembar udah siap" ucap arsene yang keluar dari lift bersama kedua adik kembarnya dan juga pengasuhnya.
"mommy sama daddy sakit?" tanya putra sulungnya dengan nada cemas karena melihat kedua orang tuanya dengan pipi bersemu merah dan nafas tersengal sengal seperti habis lari maraton.
"ngga kok sayang, kalian udah mau berangkat ya. ini bawa juga bekal kalian ya"ucap rania mengalihkan pembicaraannya sambil menunjuk tiga kotak bekal di atas meja.
"makasih mommy, miss you" ucap mereka dengan serempak.
Mereka pun berangkat ke tujuan masing masing, sedangkan rania memilih melihat putra bungsunya yang sedang di mandikan oleh pengasuhnya.
Setelahnya dia masuk ke dalam ruang kerjanya untuk melakukan rapat bulanan secara daring dengan seluruh perwakilan divisi yang berada di kantor miliknya.
Dilanjutkan dengan menghubungi beberapa tangan kanannya yang tersebar di beberapa pekerjaan yang di pegang olehnya.
Merasa semua sudah selesai di kerjakan olehnya, akhirnya memutuskan untuk mencari reandra di lantai bawah.
"tapi nyonya...tuan tidak mengizinkan keluar barang sekali tanpa izin darinya" jelas kepala pelayan yang ada di belakang rania.
"aku hanya ingin ke kantor tuan kalian, jadi jangan khawatir"jawab rania dengan lugas.
"tapi nyonya..."kepala pelayan seakan ragu untuk berkata 'ya' karena peringatan tuannya untuk tidak tertipu oleh nyonya mereka.
Mendengar jawaban ragu dari kepala pelayan membuat rania spontan mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor suaminya.
"iya ada apa sayang, apakah perlu sesuatu?" tanya rendy yang menjawab teleponnya di sebrang sana.
"aku ingin mengunjungimu apakah tidak boleh?"pertanyaan langsung terlontar dalam sekali ucap.
"tentu saja boleh, kemarilah aku sedang ada di perusahan papa"jawab rendy cepat.
"baiklah, mungkin dalam setengah jam aku kan sampai" ucap rania, setelah perbincangan telpon tersebut rania langsung menganti pakaiannya dan meluncur menuju perusahaan Franziska cops bersama putranya.
Sesuai dengan perkataannya dia tiba dalam setengah jam karena jarak mansion dengan perusahaan sang mertua lumayan dekat.
Ternyata dirinya sudah di tunggu oleh Nanda tangan kanan Rendy sekaligus sahabatnya.
__ADS_1
"selamat siang nyonya"sambutnya Rania hanya menganggukkan kepalanya.
"Rania?.."panggil seseorang di sofa ruang tunggu dekat resepsionis.
Rania yang merasa namanya di panggil langsung menoleh ke sumber suara itu. Rania menaikan satu alisnya karena tidak ingat dengan wajah orang yang berjalan di depannya.
"mengapa kau bisa berada di sini?"tanyanya dengan wajah angkuh.
"anda siapa?"Rania engan menjawab pertanyaannya karena merasa tidak mengenal orang tersebut.
"apa kau bilang kau tidak mengenalku? aku ini Dewi bagaimana kau bisa lupa"Rania ingat sekarang Dewi adalah salah satu orang yang selalu sombong dan menjadikannya bahan pembicaraan waktu masih duduk di bangku SMA dulu.
"oh aku tau sekarang pasti kau kelamaan tinggal di desa jadi tidak mengenalku berbeda denganku yang tinggal di luar negeri dan baru kembali sekarang"ucapnya dengan nada mengejek.
"jaga bicara mu"ucap Nanda yang berada di belakang Rania.
"siapa kau? apa dia suamimu? pasti dia bisa masuk ke sini karena dirimu menjilat sahabatmu sendiri yang ternyata anak orang kaya kan?"tuduhnya kepada Rania sedangkan Rania hanya diam menatap datar ke arahnya.
"bagaimana dia bisa ada di sini?"tanya Rania pada resepsionis yang sedang bertugas.
"nona ini berkata sedang menunggu kekasihnya yang sedang meeting bersama tuan muda"jawab resepsionis itu dengan sopan karena sudah tau siapa Rania.
"kenapa kau menanyakan padanya?aku ada di depanmu apa kau takut dengan ku?"ucapnya lagi karena merasa Rania takut dengannya karena tidak menyahuti ucapannya.
"aku tak terlalu tertarik dengan ucapan mu"jawab Rania.
"sudahlah aku tidak ingin berdebat denganmu, ayo Nanda"Rania tidak ingin meladeni ucapan teman lamanya itu karena menurutnya anaknya yang lebih penting. karena saat ini Reandra merengek kepada Rania untuk bertemu dengan daddy-nya.
Dewi yang penasaran terus mengikutinya, hal tersebut Rania sudah tau bahkan saat Nanda ingin mengusirnya tidak di perbolehkan oleh Rania.
Ting
Saat sampai di depan ruangan CEO ternyata Rendy baru kembali dari ruang meeting di sebelah ruangan CEO.
"sayang.. apa kamu sudah menunggu lama?"tanya Rendy mendekat ke arah Rania.
"Daddy.."teriak Reandra senang karena bertemu dengan Rendy.
"wah....jagoan merindukan Daddy ya"ucapnya sambil mengambil anaknya dari gendongan istrinya.
"whattt.... Daddy?...."
__ADS_1