
"kak di mana kakak ku,kenapa semua orang tidak mau menjawab ku"ucap seseorang yang baru datang merusak suasana damai sepasang kekasih itu.
"ka..kakak"Rendy yang mendengar ucapan dan melihat orang tersebut merasa terkejut.
"oh ada tuan Rendy, selamat malam"ucap Luis.
Luis merasa terkejut dengan kehadiran Rendy di sana sedang bersama Begitu pun dengan Rendy, pikirnya mengapa Luis memanggil Rania dengan sebutan kakak.
"mas,akan ku jelaskan nanti kamu pergilah ke kamar mu"ucap Rania sambil mendorong pelan Rendy.
"memangnya ada apa?"tanya Rendy dengan wajah sulit diartikan.
"pergilah terlebih dahulu, oke"ucap Rania dengan wajah penuh keyakinan.
"baiklah"Rendy terpaksa mengalah dengan permintaan Rania, hatinya terlalu lemah untuk curiga dan berprasangka buruk kepada orang yang dicintainya.
Rania menarik Luis untuk masuk ke dalam ruangannya.
"ada apa?"tanya Rania dengan muka datarnya.
"dimana kak Demian?"tanyanya dengan wajah memelas.
"haaa"Rania menghela nafas dengan kasar.rania merogoh sakunya untuk mengambil ponsel.lalu menekan nomor Dandi yang tertera di ponselnya.
"siapkan mobil dan ikut denganku"Rania.
"mau kemana malam malam begini"Dandi.
"menemui Damian"Rania.
__ADS_1
Tut Tut Tut
"ganti pakaian mu,aku tunggu di depan"ucap rania berlalu pergi menemui Dandi.
"mau kemana kak?"tanya Luis sedangkan Rania langsung menghentikan langkahnya.
"bertemu Demian"jawabnya singkat lalu kembali melangkahkan kakinya pergi dari ruangan itu.
...*****...
setelah menempuh perjalanan beberapa saat setelah itu akhirnya mereka sampai di rumah sakit yang di tempati untuk merawat Demian.
"kak kenapa kita ke rumah sakit?"tanya Luis dengan wajah gelisah.
Rania tidak menjawab pertanyaan dari Luis malah melirik ke arah Dandi yang ada di sampingnya.dandi yang peka akan hal itu akhirnya menjawabnya.
seakan lidahnya kalut untuk mengatakan kebenaran tentang keadaan saat ini.hatinya tidak tega melihat apa yang akan terjadi nanti sehingga dia hanya diam dan memasang wajah datar dan dingin.
saat di perjalanan untuk menuju ke ruangan Demian, Rania terpaksa membuka suara karena suatu hal.
"Dandi panggil dokter Gery"perintah Rania kepada Dandi.
"baik,aku akan menyusul setelahnya"setelah mengucapkan kata itu Dandi langsung pergi dengan jalur yang berbeda.
setelah sampai di depan pintu ruangan yang mereka tuju, Rania hanya berdiri menatap pintu ruangan tersebut sehingga membuat Luis bingung dan gelisah.
"masuklah,kau akan tau nanti"ucap Rania tanpa memandang Luis dan mundur dua langkah untuk membiarkan Luis untuk masuk.
ceklek
__ADS_1
Luis membuka pintu ruangan itu dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Demian yang terbaring dengan berbagai alat medis melekat di tubuhnya.tentu saja itu semua membuat mata Luis membola dan lidahnya seketika kalut untuk mengucapkan pertanyaan apa pun.
Luis berlari mendekat ke arah Demian yang sedang tak sadarkan diri, dengan wajah pucat dan lemah tak berdayanya.luia terduduk lemas sambil menggenggam tangan Demian yang terpasang infus dengan hati hati.
Rania mengikuti Luis masuk ke ruang rawat Demian dengan langkah berat, karena perasaan tidak tega melihat Demian yang belum bangun dari koma yang sedang lebih dari dua Minggu lamanya.
"apa yang terjadi dengan kakakku?"tanya Luis dengan suara lirih tetapi masih bisa di dengar oleh Rania dengan posisi yang masih sama seperti tadi.
sayang seribu sayang tetapi Rania tidak membalas ucapannya.dia hanya menampakan wajah datarnya saja tanpa ada rasa ingin menjawab pertanyaan Luis sedikit pun.
"kenapa kak?"suara Luis mulai terdengar berteriak dengan bercampur Isak tangis.
"biar dokter yang menjelaskan"jawab Dandi yang baru saja masuk ke ruang rawat itu dengan dokter Gery di sampingnya.luis langsung berdiri dari duduknya menuju ke arah dokter Gery berdiri, sedang Rania hanya diam tak berbicara tetapi langsung mengambil posisi duduk di sebelah brankas milik Demian.
dokter Gery menjelaskan dengan detail apa yang sedang di alami oleh Demian saat ini kepada luis.dari kenyataan yang dikatakan oleh dokter Gery,Luis menjadi merasa bersalah tidak bisa berbuat apa pun untuk kakaknya dan hanya menjadi beban bagi Demian pikirnya.
setelah tugasnya selesai dokter Gery pamit undur diri dari ruangan itu.luis sedang mencerna apa yang apa yang dokter Gery katakan dengan pikiran yang agak kacau.
"Luis,kau tidak perlu merasa bersalah.apabyang dilakukan kakakmu semata mata ingin melindungi mu,dia tidak mau kehilanganmu.sudah cukup dia kehilangan semua orang yang disayangi di waktu lalu"ucap Rania sambil memainkan tangannya dan tidak menatap ke arah Luis.sedangkan Luis hanya diam tidak bisa berkata apa apa.
"karena memang ini adalah pertarungan darah dan juga martabat,jadi tidak heran jika ada yang sampai terluka bahkan kehilangan nyawa"jelas Rania menatap ke arah Luis.begitu pun dengan Luis menatap Rania dengan penuh kesedihan.
"ini adalah jalan yang sudah ditempuh seluruh keturunan Alexander, dendam dan kebencian tanpa ada rasa perdamaian selalu hadir di setiap masanya.kakak mu tidak bisa menyangkal takdir itu,tapi dia sebisa mungkin untuk menjauhkan mu dari masalah yang ada agar dirimu aman"sambungnya.
Rania bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju ke arah Luis berdiri.dia menatap Luis dengan tatapan yang sulit diartikan.
"berjuanglah, saatnya darah keturunan Alexander yang ada pada dirimu bekerja.aku akan berada di belakang mu untuk membantu"setelah mengucapkan kalimat itu Rania menepuk pundak Luis lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan diikuti oleh Dandi di belakangnya itu agar Luis bisa berfikir dan menjaga kakaknya.
"Dandi tetap disini,aku akan pulang sendiri"
__ADS_1