
..."bagai sebuah duri yang tumbuh dalam kesakitan, apakah diriku pantas dimiliki sedangkan aku orang yang bisa melukai orang lain"...
...Ay.070822...
.................
..........
.........
........
.......
setelah kejadian dua hari sebelumnya Rania terus mengurung diri di dalam kamar apartemen miliknya yang sudah lama tidak di kunjungi olehnya.
dia terus merenung dan memikirkan apakah dirinya pantas untuk dimiliki atau memiliki keluarga yang utuh?.
sedangkan dirinya dulu adalah keluarga cemara yang rusak. pikiran hanya berporos pada itu hingga tidak memiliki ujungnya.
"lihatlah masa lalu mu yang begitu kelam, apakah kau bisa menjamin anak mu tidak merasakan perjalanan sama seperti mu!!"teriak gio untuk memancing emosi Rania.
"dirimu saja orang yang egois bagaimana anakmu tidak tersakiti,apa ini memang mau mu melihat kehancuran Rania versi dua hahah"gio main menjadi dengan ucapannya.
"cukup gio!!!! kau benar benar gila....kau brengsek"teriak Veronica yang ingin menghentikan gio.
"itu kenyataan yang ada di masa depan, Rania kecil yang pernah tersakiti bisa saja menyakitkan hahah"
Rania kembali menutup kedua matanya hingga tak sadar kalau air matanya jatuh membasahi pipinya.
"haruskah aku hancur lagi"ucapnya lirih sambil mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya.
Seorang gadis kecil sedang duduk memeluk lututnya sambil menangis dalam diam disudut ruangan berdekatan dengan almari dan juga tempat tidur.yang terjadi diluar kamar itu tidak bisa dibayangkan olehnya.betapa hancur hati kecilnya mendengar kedua orang tuanya bertengkar hebat, bahkan sang ayah tega memukul ibunya.dan disaat itu terjadi tangis sang gadis kecil makin menjadi,lantaran merasakan sakit saat ibunya diperlukan seperti itu.
saat pertengkaran itu selesai biasanya terdapat luka di sudut bibir ibunya ataupun dibagian tubuh lainnya.dan ada pula barang yang hancur akibat pertengkaran tersebut.saat melihat luka ibunya dan barang barang yang berantakan hatinya sakit semua peristiwa itu serasa seperti mimpi yang pahit.
Di hati kecilnya dia ingin sekali membela ibunya tapi apalah daya dirinya masih kecil dan tidak bisa berbuat apa apa yang hanya bisa menagis saat itu terjadi.dan ya itupun selalu terjadi tidak ada tahun tanpa pertengkaran.
"akkhhh....kenapa ingatan itu terus berputar"teriak Rania untuk merendahkan rasa sakit hatinya.
__ADS_1
Bukk
pyarr
sebuah bantal di lemparkannya ke sebuah meja yang terdapat beberapa foto foto lama. Hingga akhirnya foto itu terjatuh dan pecah.
Rania mendekat ke arah pecahan kaca tersebut dan mengambil satu foto yang masih berada di atas meja.
seluruh foto yang pecah adalah semua tentang keluarga dan teman masa sekolahnya. sedangkan satu foto yang masih berdiri kokoh di atas meja adalah foto dirinya dan juga rendy saat kelulusan SMA.
dia tersenyum tipis melihat foto apa yang masih utuh. "ya dia harapanku satu satunya sekarang"batinnya.
tetapi Rania kembali meneteskan air mata mengingat pemikiran lain yang membuat dirinya sengsara.
Dirinya takut menjadi duri dalam daging bagi keluarganya sendiri,hingga akhirnya rasa tenang itu kembali sirna dalam keadaan harapan yang pudar.
kapan ini akan berakhir?tentu setelah saat Rania dapat merelakan semua kepahitan masa lalu yang terjadi padanya.
Rania berjalan mendekat ke arah jendela kamar dan mencoba melihat dunia luar setelah dua hari hanya terkurung di dalam kamar.
meskipun menginjak pecahan kaca dia tetap berjalan tanpa rasa sakit meskipun ada darah keluar dan membasahi lantai kamarnya.
Grepp
"sayang,apa kamu baik baik saja?"suara lembut dari seseorang menyapu pendengaran milik Rania. entah apa yang terjadi sebelumnya hingga seseorang itu bisa masuk ke dalam kamarnya yang sudah di kunci dengan rapat olehnya.
Dengan cepat dia mencoba untuk melepaskan pelukan itu tetapi tidak bisa karena terlalu kuat.
"cepat lepaskan aku"lirih Rania sambil melirik ke arah si empunya tangan.
"tenanglah,aku hanya ingin memelukmu agar kamu bisa tenang"bisiknya tepat di telinga Rania.
pelukan itu bertahan begitu lama hingga membuat hatinya sedikit tenang dan nyaman.
setelah yang berada di pelukannya sedikit lebih baik dia langsung melepaskan pelukannya dan memapahnya untuk duduk menjauhi pecahan kaca yang berserakan.
"duduklah,aku akan mengobati lukamu"ucapnya sambil mengelus rambut rania.si empunya hanya mengangguk pelan dan melihat ke arah matanya.
seseorang tersebut adalah rendy yang menyusul Rania yang berada di Italia karena diberitahu oleh Demian.
__ADS_1
POV Rendy
satu hari penuh aku di buat kelipukan karena hilangnya istriku. semua bodyguard dan orang suruhan ku yang berada di luar negeri pun bahkan belum menemukan sampai detik ini juga.
dalam pekerjaan aku tidak bisa fokus,bahkan saat berada di dekat anak anak pun diriku terus teringat akan ibu mereka.
satu hari dua hari pencarian masih tidak menemukan hasil yang pasti tentang keberadaannya.
hingga pada akhirnya telpon dan pesan dari Demian yang berada di Italia memberikan sebuah harapan terhadapku yang sudah menantinya selama dua hari.
POV Rendy end
satu hari yang lalu
Demian yang cemas karena kondisi Rania yang terus saja mengurung diri di dalam kamar.kemarin setelah kembali dari rumah sakit Demian langsung menuju apartemen Rania dan langsung mencoba membujuknya agar keluar tetapi Al hasil dia hanya diam saja tak membalas apa pun.
dan hari ini akhirnya dia menyerah dengan keadaan adiknya itu, jalan terakhir adalah memangil Rendy agar kemari dan membujuk Rania.
"halo,cepat datang ke Italia kalau ingin istrimu kembali"ucap Demian dengan cepat lalu setelahnya langsung mematikan ponselnya sepihak sebelum Rendy membalas ucapannya.
"kak,kau mau meminta tolong apa menaruh perintah sih"protes Veronica yang berada di sebelahnya.
"Rania berada di apartemen miliknya yang berada di Italia, cepatlah kemari dia sangat membutuhkan dirimu"
Veronica langsung mengirim pesan singkat lewat ponsel Demian dengan cepat.
sedangkan Rendy yang mendapatkan telpon singkat dari Demian menjadi sedikit ragu, hingga akhirnya pesan singkat yang membuatnya semakin yakin dan langsung bergegas untuk pergi ke Italia menyusul istrinya itu.
...*****...
setelah beberapa saat semuanya kembali normal karena kedatangan Rendy. meskipun Rania harus drop karena hampir tiga hari perutnya belum terisi sama sekali.
Veronica segera memanggil dokter untuk Rania agar mendapatkan perawatan secara intensif. semua itu pun tak luput dari pengawasan Rendy yang terus berada di samping Rania.
Dengan telaten Rendy menyuapi Rania untuk makan sedikit lalu memberikan obat setelah dia akan bisa tertidur dengan pulas.
Dipandanginya wajah pucat istrinya dengan tatapan sendu.andai saja dia ikut berasa Rania mungkin itu semua tidak akan terjadi.
Rendy bahkan ingin tau siapa orang yang mencoba membuka trauma istrinya itu, kalau saja sampai ketemu mungkin langsung di habisi olehnya.
__ADS_1
memikirkan hal itu membuatnya sedikit emosi, akhirnya dia mencoba berbaring di sisi sebelah kanan tubuh Rania agar tidak terkena selang infus.
Rendy mencoba membelai kepala Rania yang di balut perban dengan sangat lembut dan dia pun ikut terlelap di alam mimpi menyusul istrinya.