Diamku Hanyalah Sebuah Topeng

Diamku Hanyalah Sebuah Topeng
Tidak tau diri


__ADS_3

"mom...."


mereka berdua yang tadinya berpelukan,kini menoleh ke arah sumber suara. Terlihat pintu tersebut terbuka dan menampilkan si kecil Reandra yang berada di gendong Lana.


"jagoan kecil kalian dari tadi menangis tidak mau diam. selalu mencari Rania"Lana mendekat dan menjelaskan keadaan putra bungsu mereka yang terlihat sembab dan suaranya sedikit serak sehabis menangis.


Rania langsung merentangkan kedua tangannya untuk menyambut tubuh mungil anak bungsunya.


"sayang.....hiks...hiks"tangis Rania pecah saat si bungsu berada di dekapannya. hatinya terasa teriris,tetapi setelah melihat Reandra kesedihannya sedikit berkurang karena sadar dia masih memiliki keempat putranya.


Rendy langsung menepuk bahu Lana,memberi isyarat untuk keluar bersamanya.


"Lana, tolong handle perusahaan kakak untuk sementara waktu. meskipun tidak ke perusahaannya tolong handle dari rumah "ucap Rendy meminta tolong kepada adik bungsunya.


pasti sehabis ini Rendy akan fokus untuk mengurus kedua perusahaan yang biasa di tangani oleh Rania. karena selama satu bulan ke depan ada proyek besar yang akan di tangani oleh perusahaan RA company. pastinya di sana membutuhkan kehadiran sang pemimpin.


karena Rania harus istirahat penuh dan pemulihan mentalnya jadi mungkin kondisi ini sangat tidak disarankan.


"kenapa kakak tidak minta tolong pada Demian saja?"tanya Lana sedikit tidak enak hati untuk menolak permintaan sang kakak. karena dia juga harus siaga karena istrinya sedang sedang dalam keadaan hamil besar.


"aku sudah meminta tolong untuk mencari pelaku yang mencelakai kakak iparmu. tenang kau hanya perlu menggantikanku memimpin saja,urusan proyek sudah di tangani oleh Nanda"jelas Rendy.


"baiklah,aku akan membantu kakak"jawab Lana.


"kak...."Rendy menoleh,dan ternyata yang memanggilnya adalah Sasa yang sudah rapi kembali dengan baju formal dan lipatan jas dokter di tangannya.


"aku akan menjemput ketiga keponakanku dan membawanya ke rumah"ucap Sasa memberitahu Rendy. rumah yang dimaksud adalah kediaman Franziska.


"baiklah, biarkan mereka menginap.bawa juga reandra "jawab Rendy.


"tidak perlu kak,papa mama masih berada di sini. biarkan dia pulang bersama mereka,Rania masih membutuhkannya"


.


.


.


"mom napa ngis?"tanya bayi berusia dua tahun lebih itu.


"mommy tidak apa apa,oh iya Andra sudah makan?"tanya Rania mengalihkan pembicaraan si kecil.(panggilan reandra di ganti jadi Andra)


"blum mom"jawab Andra dengan cepat sambil memperhatikan tangan Rania.


"mom,Napa angn na da celang na?"pertanyaan itu sudah kedua kalinya,memang tidak mudah menghilangkan rasa penasaran bayi dua tahun lebih itu apa lagi ada bukti terlihat.


ceklek


"aduh, kayaknya Oma sama opa ganggu nih"ucap mama Tia yang baru membuka pintu di belakangnya sudah ada papa Dian dan juga Rendy.

__ADS_1


"Oma...opa...dad...."pekik Andra senang.


mereka pun masuk saat Andra memangil mereka dengan riangnya.


"Andra makan siang dulu yuk sama Oma"bujuk mama Tia. tetapi lagi-lagi tatapan Andra selalu mengarah ke sang mommy.


"mom,angn na akit"ungkap Andra lalu menunjuk tangan Rania yang diberikan infus.


"mommy nanti makan di suapin Daddy"Rendy peka apa yang mau di ucapkan oleh putranya, karena dari tadi dia menguping di depan ruang rawat itu.


......***......


Dengan keadaan Rania sekarang membuat Demian bergerak cepat untuk menemukan pelakunya. dan ya malam hari pelaku yang menabrak Rania akhirnya berada di markas utama. sudah lengkap dalam keadaan terikat di kursi.


"buka" titah Demian kepada bawahannya, saat ini dirinya sudah kepalang emosi dengan keadaan Rania yang bahkan kehilangan calon bayinya.


"siapa dia?"tanya Demian kepada Dandi saat penutup kepala itu di buka oleh bawahannya.


"Dia teman satu angkatan ku dan Rania waktu SMA. dari dulu dia sangat menyebalkan dan selalu mengolok-olok Rania. dari informasi yang ku dapat tadi pagi mereka tidak sengaja bertemu di perusahaan milik keluarga Rendy. kalau menurutku dia masih menyimpan dendam dan iri"jelas Dandi, tadinya dia juga terkejut saat tau siapa pelakunya.


Demian pun berdiri mendekat ke arah orang yang menabrak adiknya dan membuka lakban hitam yang berada di mulutnya dengan keras.


"aww.... sakit siapa kau beraninya menculik ku,apa ku tidak tau siapa aku"teriaknya.


"Dasar wanita sialan.. beraninya kau membentak ku"ucap demikian dengan penuh penekanan.


Aura pekat yang sangat mengerikan dan dingin keluar dan membuat seisi ruangan menjadi merinding. Dia tidak pernah menyakiti perempuan,tetapi itu pengecualian untuk dia yang telah menyakiti anggota keluarganya.


Demian meraih dagu wanita itu dan mencengkeram erat dagu itu dengan tangannya.


"Berani sekali kau melukai adikku,bahkan membuatnya kehilangan bayinya"ucap Demian penuh penekanan lalu menghempaskannya.


ha...ha...ha


Bunyi nafas beraturan itu memenuhi ruangan tersebut.


"siapa adikmu?aku tidak mengenalmu"bantahnya.


"he... wanita jadi jadian, apakah kau tidak mengenalku?"Dandi pun akhirnya ikut bicara.


"kau?..."


"iya aku siapa lagi,yang dia maksud adalah Rania yang kau tabrak tadi siang."jelas Dandi dengan geram.


"a..ap...apa.....ak..u..ti...ti..dak..."


***Brakkk


akh***....

__ADS_1


"Tidak, kau bilang!!!! Dia sampai kehilangan bayinya karena dirimu!!!"Demian yang masih dengan kemarahannya menendang kursi yang diduduki wanita tersebut hingga terjungkal.


"Camkan ini baik baik kau tidak akan lolos dariku, bahkan sekalipun orang di belakangmu berkuasa"ancaman Demian terdengar tidak main main,dia langsung meninggalkan tempat itu diikuti oleh Dandi.


"Siksa dia, biar Rendy yang memutuskan hukumannya. penjara kurang pantas untuknya"setelah berucap demikian dia langsung menaiki mobilnya untuk kembali ke kota menjenguk sang adik.


Beberapa hari ini kedua adiknya itu memiliki masalah yang berat. Veronica pergi entah kemana karena masalah kekasihnya dan sekarang Rania yang bahkan kehilangan bayinya.


Bagi Demian mereka adalah topangan setelah kehilangan orang tuanya.


Drrttt


ponsel Demian berdering menandakan panggilan masuk terlihat nama Rendy yang tertera,dia mengangkatnya dengan mengunakan earphone bluetooth.


"halo?!"


"halo Demian, apakah dia sudah tertangkap?"Tanya Rendy.


"sudah, kau tenang saja."jawab Demian.


"syukurlah, apakah aku bisa menemuinya?" tanya Rendy lagi.


"Dia berada di tempat biasa,aku akan ke sana untuk menjenguk sekalian menjaga Rania"ujar Demian.


"baiklah,aku akan siap siap"


Tut


.


.


.


Ceklek


"kau sudah bangun Nia?"tanya Demian yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rania hanya membalas ucapan Demian dengan gumaman saja.


"oh....tadi keluargamu baru saja pulang, dan Rendy pamit untuk mengantar mereka"memang hari sudah semakin larut malam.


Tadinya orang tua Rania meminta menginap di rumah sakit untuk menjaganya,tetapi Rendy tidak memperbolehkannya. karena lebih nyaman untuk berada di rumah, dan mereka bisa mengunjungi Rania kapan pun.


"apa Veronica baik baik saja?"tanya Rania menatap ke arah Demian.


"Tenang saja dia sekarang bersama Luis jadi tidak akan terjadi hal buruk"jawab Demian.


"kak,jujurlah dengan ku sebenarnya Rendy tidak mengantar keluarga ku tapi ke markas kan"pernyataan Rania tentu bukan hal yang mengagetkan bagi Demian karena memang instingnya tidak pernah main main.


"sudahlah, kali ini biarlah suamimu yang mengurusnya. sudah seharusnya dirimu istirahat dan juga patuh lah mungkin ini menjadikan pelajaran untukmu agar tidak suka membantah"oceh Demian, setelah mendengar cerita detail dari Rendy. Dia jadi tau kebiasaan buruk Rania adalah suka tidak patuh apalagi mungkin karena faktor hormon yang memperparah sikapnya.

__ADS_1


__ADS_2