Diamku Hanyalah Sebuah Topeng

Diamku Hanyalah Sebuah Topeng
kejadian


__ADS_3

Selepas dari perusahaan Franziska Rendy ikut pergi ke pusat perbelanjaan karena permintaan Rania yang ingin membeli sesuatu. sedangkan Reandra ikut dengan Lana untuk pulang ke kediaman Franziska.


"apakah harus sekarang?"tanya Rendy padahal tadi dia ingin sekali mengajak istrinya untuk ke perusahaan miliknya dan menemaninya bekerja.


"seperti tidak ikhlas mengantarku...kalau gitu aku pulang saja tadi tidak usah mengantar aku"jawab Rania dengan menggerutu.


"baiklah... baiklah....kita pergi"Rendy akhirnya mengalah tidak bisa berkata apa-apa karena melawan sama dengan merusak mood ibu hamil satu ini.


"hentikan mobilnya di depan toko kue itu"pinta Rania yang langsung di turuti oleh Rendy.


setelah mobil itu berhenti Rania langsung keluar dari mobil di ikuti oleh Rendy seperti dia akan menjadi asisten pribadi Rania seharian ini.


"selamat datang ......"


"mbak saya mau beli semua kue"ucapan Rania membuat penjual toko itu menjadi kaget bukan kepalang.


Begitu juga dengan Rendy yang tau bahwa istrinya itu kurang suka makanan manis tapi kenapa sekarang malah membeli semua kue itu.


"sayang untuk apa kamu beli semua?siapa nanti yang akan menghabiskannya?"tanya Rendy dengan heran. Bukan soal uang bahkan membeli toko kue itu bisa Rendy lakukan dalam sekejap, tapi kan sayang kalau tidak ada yang menghabiskan.


"tiba tiba aku ingin yang manis manis"ucapnya dengan cepat sambil mengadakan tangan kanannya kepada Rendy. Dia langsung mengeluarkan dompet miliknya dari saku jas dan memberikan semuanya untuk Rania.


blackcard


Itulah yang keluar dari dompet milik Rendy, penjual roti tersebut tercengang dengan apa yang di pegangnya.


"kapan lagi aku bisa pegang kartu sultan ini,ngga bakal cuci tangan sebulan"batin penjual itu.


"tolong bungkus sepuluh cheese cake sekarang, sisanya antara pada alamat ini ya mbak"ucap Rania setelah mengambil blackcard itu kembali lalu menulis alamat kediaman Franziska.


"baik kak"


"mas tunggu di sini jaga aku mau kesana sebentar"ucap Rania yang menenteng lima box berisi cheese cake lalu menunjuk ke arah jalan sebrang.


"aku temenin aja ya"pinta Rendy sedikit khawatir dengan istrinya.


"ngga usah ,kamu terus lima cheese cake sisanya ke mobil saja"rania tetaplah Rania yang keras kepala dan tidak mau di bantah sama sekali.


Cittt


Brakk


Rendy yang tadi memasukkan pesanan istrinya ke mobil fokusnya teralih pada suara keras tersebut.


"sayang...."


Di pikirannya hanya terfokus satu orang saja yaitu Rania, tanpa ba bi bu dia langsung berlari ke arah kerumunan yang baru saja terbentu karena sebuah kejadian.

__ADS_1


"permisi....."Rendy membela kerumunan tersebut dan saat melihat siapa yang tergeletak di aspal itu kakinya terasa lemas.


"Rania ..."


"apakah anda keluarganya?"tanya salah satu ibu ibu yang menolong korban tersebut.


"saya suaminya Bu..."setelah berucap hal tersebut Rendy langsung mengangkat tubuh Rania untuk di larikan ke rumah sakit.


"sayang....buka matamu....."ucap Rendy sambil meneteskan air matanya.


"biar saya yang menyetir"usul salah satu seseorang yang menolong Rania. Rendy segera mengiyakan karena dia tidak mungkin menyetir dalam kondisi kacau.


"tolong ke rumah sakit xxx saja"pinta Rendy lalu menelpon adiknya untuk bersiap.


"akh...sa..kit"rintih Rania yang terbangun dari pingsannya. tangannya yang masih berlumur darah mencoba memegang perutnya yang teramat sangat sakit.


"sayang.... akhirnya kamu sadar....yang mana yang sakit"tanya Rendy sambil matanya menatap intens istrinya.


deg


jantung Rendy terasa berhenti berdetak sejenak, dalam sekejap langsung melihat ke arah pahanya yang sedang memangku Rania mengalir darah segar.


mata Rendy seakan ingin keluar dari tempatnya,"pak tolong lebih cepat...."teriak Rendy dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.


Ternyata di rumah sakit sudah di tunggu oleh Sasa di pintu masuk dengan membawa brankar. di dorongnya brankar tersebut menuju ruang gawat darurat atau UGD.


Rendy Mondar mandir tidak jelas seperti orang kebingungan.


papa Dian dan mama Tia datang dengan tergopoh-gopoh, apalagi saat melihat anak sulungnya kelihatan sangat kacau dengan bercak darah di mana mana. Mereka tau tentang kecelakaan Rania di beritahu oleh Sasa yang menelpon sebelum kakaknya sampai di rumah sakit itu.


"bagaimana kondisi istrimu?"tanya papa Dian.


Rendy hanya menjawab dengan gelengan kepala,seakan suaranya tercekat untuk berbicara.


"sudah kamu di sini saja,mama akan coba periksa keadaan di dalam"sahut mama Tia yang menang profesinya juga seorang dokter di rumah sakit itu pula.


Setelah mama Tia masuk Rendy yang tadinya hanya berdiri di seret papa Dian untuk duduk.


"bagaimana ini bisa terjadi?"tanya papa Dian dengan serius.


"Rendy tidak tau pa,tadi aku di suruh meletakan kue di dalam mobil setelahnya hanya ada suara tabrakan yang begitu keras"jelas Rendy dengan tatapan mata yang sudah mulai hampa.


"singkirkan rasa sedih itu sejenak,cari pelakunya papa yakin ini bukan murni kecelakaan"saran papa Dian.


mendengar penjelasan itu Rendy teringat bahwa istrinya itu memiliki banyak musuh. Dengan segera dia langsung menghubungi Dandi selaku tangan kanan rania dan juga Demian untuk meminta bantuan mereka.


.

__ADS_1


.


.


.


.


ceklek


setelah menunggu beberapa jam di depan ruang UGD akhirnya pintu tersebut terbuka dan menampakkan mama Tia dengan raut wajah yang sedih.


"ma, bagaimana keadaan istriku?"tanya Rendy beranjak dari duduknya.


"sayang,maaf mama tidak bisa menyelamatkan bayimu"jawab mama Tia sambil memeluk anak sulungnya.


"ma... maksud mama ayya keguguran?"tanya papa Dian. Sedangkan Rendy diam mencerna segala yang dikatakan oleh sang mama.


"iya pa,benturan yang di dapatkan Rania saat kecelakaan itu terjadi sangat keras. sedangkan usia kandungannya masih rentan."jelas mama Tia.


ceklek


"kak..."panggil Sasa yang juga keluar dari ruang UGD. Rendy menatap mata adiknya yang masih menatapnya sendu.


"sebentar lagi Rania akan di pindahkan ke ruang rawat, tolong kuatkan hati kakak Rania juga butuh sandaran"sambungnya sambil memeluk Rendy.


Tak terasa setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.


"aku gagal menjaga mereka"Isak Rendy terdengar paruh bersamaan dengan ucapan lirih yang terdengar.


"semua sudah ada pada garis takdir"mama Tia mengusap Surai rambut hitam milik putra sulungnya untuk menenangkan hatinya.


Akhirnya Rania di pindahkan ke ruang rawat dan sekarang hanya ada Rendy yang menjaga.


"mas....."panggil Rania dengan nada lirik diiringi dengan kelopak mata yang terbuka.


Rendy yang tadinya menundukkan kepalanya sambil menggenggam salah satu tangan istrinya pun mendongak.


Pandangan mata mereka bertemu, pada kedua mata tersebut hanya mengisyaratkan sendu kesedihan yang terpancar jelas.


"maaf....."kata kedua yang keluar dari mulut Rania.


"maafin aku mas....kalau aku ngga keras kepala mungkin dia masih hidup"suara isakan terdengar semakin keras keluar dari mulut Rania.


Rendy hanya menatap nanar sang istri lalu mencoba untuk menenangkannya.


"sutt... kamu ngga salah. semua sudah terjadi, sekarang kamu istirahat ya!!"ucap Rendy dengan nada lembut. sebenarnya hatinya juga hancur mendengar hal itu,tapi mau bagaimana lagi Rania lebih terpukul hatinya karena dia yang membawa bayi itu dalam kandungannya.

__ADS_1


"mom..."


__ADS_2