Diamku Hanyalah Sebuah Topeng

Diamku Hanyalah Sebuah Topeng
43.Rencana B


__ADS_3

sore hari itu Rendy yang disibukan dengan pekerjaan di buyarkan oleh suara telpon yang menggangu konsentrasinya.dilihatnya tertera nama sang penelepon adalah Lana.


"assalamualaikum,kak cepat pulang!!!"teriak Lana dalam telpon tersebut.


"waalaikumsalam, kenapa teriak..."belum selesai Rendy menjawab Lana sudah lebih dulu menyahuti.


"pulanglah secepatnya Kak Rania dalam bahaya!!!"ucap Lana dalam telpon setelah itu mematikan sambungan telepon.


Tut Tut Tut


"apa!!.."mendengar hal tersebut Rendy langsung bergegas keluar dari ruangan.


"ada apa buru buru sekali?"tanya Nanda kepada Rendy yang berjalan melewatinya saat akan masuk ke ruangan Rendy.


"lanjutkan pekerjaanku,besok naik gaji dua kali lipat"setelah mengucapkan kata itu kepada Nanda Rendy langsung berlari menuju lift.


saat dalam perjalanan Rendy melihat di belakang mobilnya ada yang mengikuti.sebuah mobil berwarna hitam dengan lambang belati dan pistol menyilang.rendy tau itu adalah mobil milik anak buah Rania.


"aku di beri keamanan seketat ini sedangkan dirimu berada dalam bahaya,aku merasa tidak berguna"batin Rendy dengan tangan mengepal setir dengan kuat.


setelah tiba di depan markas Lana langsung masuk ke mobil yang Rendy bawa untuk menyusul rombongan dari dandi.ketika mobil mereka sudah memasuki area hutan sudah terdengar suara tembakan berkali kali itu membuat Rendy semakin cemas.mobil berhenti Rendy langsung berlari untuk melihat keadaan Rania.


matanya tertuju pada seseorang yang berdiri dengan tenaga yang tersisa dan banyak darah hampir di seluruh tubuhnya.ya orang itu adalah Rania yang berada di tengah tengah musuh yang sudah dilumpuhkan.


"sayang, kita ke rumah sakit sekarang"ucap Rendy mengambil ahli untuk membawa Rania.


belum menjawab Rendy, Rania sudah merasakan kesadarannya mulai hilang karena terlalu banyak mengeluarkan darah akhirnya tumbang seketika.


"kumohon tetap sadarlah"ucap Rendy sedikit berteriak.


Rania hanya bisa mendengar sayup sayup suara Rendy berteriak menyebut namanya dengan Isak tangis.dia hanya bisa pasrah sangat berat untuk membuka matanya akibat banyaknya tenaga yang terkuras dan banyak luka yang di dapat Rania.


"kejadian yang tidak asing bagiku"batin Rania setelah itu kehilangan kesadarannya.


...*****...


di depan ruangan operasi seluruh keluarga Franziska,Nanda,Luis,Dandi,dan juga beberapa tim pengawal yang berjaga.mereka semua menunggu dengan keadaan gelisah.sudah hampir tiga jam operasi itu berlangsung tetapi tidak ada tanda-tanda selesai.


Rendy sedari tadi hanya mondar mandir di depan pintu ruangan operasi.


"duduklah,aku tau kau cemas tapi tenangkan dirimu"ucap Nanda membawa sahabatnya itu untuk duduk.nanda sudah tau bagaimana sifat Rendy, baginya dia ingin selalu di sisi sahabatnya itu yang selalu membantu dirinya.

__ADS_1


lampu operasi yang awalnya berwarna merah kini berubah menjadi hijau.pertanda bahwa operasi sudah selesai dilakukan.


ceklek


terlihat dokter Gery keluar dari ruang operasi.dokter Gery adalah dokter pribadi Avega.


"bagaimana keadaannya dokter?"tanya Rendy dengan perasaan was was.


"pasien masih dalam masa kritis akibat beberapa luka di bagian tubuhnya,dua peluru di bagian lengan dan kaki berhasil kami keluarkan.mohon untuk sabar karena kesempatan untuk tetap hidup lima puluh persen, pasien akan kami pindahkan ke ruang ICU untuk penanganan lebih lanjut"setelah mengucapkan penjelasan tentang kondisi Rania,dokter Gery kembali masuk.


Bruk


Rendy,Sasa,dan Luis jatuh terduduk secara bersamaan setelah dokter Gery kembali masuk ruang operasi.kaki Rendy seakan tidak bisa menopang tubuhnya lagi.dia tidak percaya akan kenyataan yang terjadi, hatinya terasa sesak karena mendengar orang yang dicintainya harus berjuang antara hidup dan mati.


mama tia langsung menghampiri Rendy dan memeluknya.mama Tia tau anak sulungnya itu sangat mencintai Rania.


"tenangkan dirimu sayang, semuanya akan baik-baik saja"bisik mama Tia lalu mengelus rambut Rendy.


"aku merasa tidak berguna ma sebagai pasangannya"lirih Rendy menatap kosong ke arah depan.


ceklek


"kuat ya sayang"pinta Rendy lirih sambil melihat wajah pucat Rania.


Derrttttt


saat menunggu di depan ruang ICU ponsel Dandi bergetar menandakan bahwa ada panggilan masuk.


"katakan ada apa?"to the poin Dandi pada orang yang menelponnya di sebrang sana.


"tuan kami ingin melapor kedua tuan muda hilang.kami sudah berusaha mencarinya dari dua jam yang lalu"ujar penelpon tersebut yaitu adalah anak buahnya yang berada di markas Avega.


"apa!!! bagaimana bisa terjadi"pekik Dandi.


semua yang berada di ruang tunggu terkejut karena pekikan dari Dandi.


"ada apa tuan Dandi?"tanya Lana yang duduk berhadapan dengannya.


"aku akan kembali secepatnya, bergerak dengan cepat"perintah Dandi lalu memutus sambungan telepon.


Tut Tut Tut

__ADS_1


"haaa?!"Dandi menghela nafas"kedua anak Rania hilang"Dandi menjawab dengan ekspresi khawatir.


"APA?!!!"semua yang berada di sana memekik kaget.


mendengar hal itu Rendy langsung bangkit dari duduknya mendekati Dandi.


"kau tidak bercanda kan?"tanya Rendy dengan wajah khawatir dan rasa gelisah yang membuncang.


"untuk apa aku bercanda,tetap tenang aku akan berusaha mencarinya"ucap Dandi meyakinkan Rendy.


"bagaimana aku bisa tenang sementara kedua anakku menghilang"sahut Rendy sambil mengusap wajahnya kasar.


sedangkan di ruang rawat inap lain di rumah sakit itu seseorang sedang menelpon anak buahnya akan keberhasilan rencananya.


"bagus,kita akan berangkat setelah Rania diserang untuk ke dua kalinya.bawa mereka berdua ke vila milikku"ucap seseorang itu pada seseorang di sebrang sambung telpon itu.


"baik nona akan kami laksanakan"


Tut Tut Tut


"sesuai dengan permintaan mu akan ku jalankan rencana B"gumamnya dengan senyum menyeringai.


ceklek


dokter Gery memasuki ruang inap tersebut.


"kebetulan sekali ada yang ingin aku bicarakan dokter Gery"pinta orang itu dengan nada tegas.


"baik nona,saya harus memeriksa keadaan tuan Demian terlebih dahulu"jawab dokter Gery dengan sopan.


"hemm silahkan"orang itu keluar dari ruang inap Demian,tidak lupa dengan mengunakan masker untuk melihat keadaan sekitar.


"tuan tunangan dari Rendy xavion mengalami luka serius karena Serangan dari pihak kita"lapor laki laki berbaju hitam yang berada di sudut ruangan rumah sakit itu yang terbilang sepi.


"bagus mulai rencananya secepatnya aku ingin semua beres"perintah tuan dari laki-laki berbaju hitam itu.


"baik tuan"setelah selesai melapor laki laki itu pergi dari tempat tersebut.


keluarlah orang dari baik tembok dengan ekspresi sulit ditebak.


"baik kita lihat sampai mana kau bisa bermain.saatnya aku ikut bermain,rencana B sudah dimulai.kita tunggu dengan santai lalu...Bum...maka semua akan berakhir"ucap orang itu dengan wajah menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2