
hari keberangkatan untuk berangkat ke los angeles pun tiba,hal tersebut membuat Rendy tidak bisa tenang memikirkan nasibnya.
"sayang,apa ngga bisa aku ikut saja?"tanya Rendy saat berada dalam mobil menuju bandara.
"jangan ikut,anak anak sama siapa?terus yang ngurusin perusahaan siapa?hemm?"tanya Rania sambil mengusap-usap punggung tangan Rendy.
kalau ditanya kemana anak anak mereka?tentu saja berada di kediaman keluarga Franziska untuk di titipkan kepada omah dan opanya. ya kali ikut bisa bisa Rania tidak akan bisa pergi.
kalau ditanya soal Arsene dia benar benar berangkat kemarin lusa bersama Demian dan Sasa ke Italia. meskipun dalam hati Rania terasa berat mengikut sertakan anak sulungnya tapi ini adalah konsekuensi yang harus ditanggung olehnya.
"hari gini masih aja kayak pengantin baru, padahal punya anak empat"sindir Nanda yang dari tadi menjadi obat nyamuk bagi kedua pasangan itu.
"dasar perjaka tua"balas Rendy yang sudah pasti membuat sahabatnya sekaligus asistennya itu merasa sangat meratapi nasibnya.
"aww... rasanya hatiku tertusuk belati,dan tertampar oleh kenyataan"akting dramatis pun di lakukan oleh Nanda sebagai candaan.
"gara gara kau aku jadi tidak berselera makan"sahut Dandi yang ada di sebelahnya.
"diam kau!!!! asisten kucing"Nanda menyebutnya asisten kucing karena Dandi selalu ikut kemana pun Rania pergi misalnya ke markas atau ke kantor meski pun sudah ada Elsa yang menangani.
"dasar asisten perjaka karatan"sudah tau kan mengapa panggilan itu tersemat kepada Nanda,ya karena sudah pasti karena dia masih sendiri di usia yang hampir memasuki kepala tiga.
"diam kalian, perhatikan jalan"ucapkan Rania membuat kedua asisten itu diam tak berkutik. sedangkan Rendy hanya tertawa kecil sambil memeluk Rania, hitung hitung pelukan hangat sebelum perpisahan panjang.
drrrt...drrrt
suara ponsel Dandi bergetar saat keadaan mobil sunyi dan hanya terdengar mesin mobil saja. dia langsung membuka ponselnya dan melirik ke kaca spion depan mobil untuk melihat ke arah atasannya itu.
ternyata Rania sudah melihat kaca itu sejak ponsel Dandi bergetar.
isyarat mata pun menandakan bahwa ada sesuatu yang sedang mereka bicarakan lewat mata yang hanya sekali lihat.
sesampainya di bandara ternyata sudah ditunggu oleh Kenan yang sudah diperintahkan Rania sejak jauh jauh hari.
"selamat datang nona abay dan tuan xavion"Kenan membungkukkan sedikit badannya bertujuan memberi salam kepada mereka berdua.
"semua sudah siap?"tanya Rania sambil menyerahkan kopernya kepadanya.
"sudah nona, sesuai perintah anda"jawab Kenan sambil memberikan sebuah earphone kepadanya.
Rania mengisyaratkan kepada Kenan dan Dandi untuk pergi terlebih dahulu. tentu saja dia harus menyempatkan bicara kepada Rendy akan suatu hal untuk berjaga jaga mungkin saja ada perpanjangan masa tinggal di los angeles.
__ADS_1
"aku berangkat,jaga kesehatan kamu dan anak anak.jangan sampai telat pulang kantor dan awas sampai telat makan"nasihat serta ancaman diberikan kepada Rendy dari Rania yang sudah pasti susah kalau tidak Rania turun tangan untuk bicara dan mencoba merubah kebiasaan buruknya.
Rendy menunjukkan pipinya mengunakan jari tangannya untuk kode Rania agar menciumnya.rania langsung menuruti keinginan suaminya itu tetapi dengan jahil Rendy malah berbalik hingga bibir mereka bertemu.
cup
Rania tidak begitu terkejut karena begitulah tingkah Rendy saat mereka sedang berduaan.tetapi Nanda langsung terkena syok berat karena atasnya itu.
"iya sayang,kamu juga cepat pulang ya"Rendy tentu saja langsung memeluk erat Rania sambil mendekatkan wajahnya di leher Rania.
merasa hal yang tidak enak akan terjadi Rania ingin segera melepaskan pelukannya,tetapi usahanya digagalkan rendy malah pelukannya semakin erat.
cup
Rania dan Nanda melotot mendengar suara itu,bisa bisanya Rendy memberikan tanda merah di leher Rania sebelum berangkat.
cup
satu tanda diberikan oleh Rendy lagi di leher Rania sebelahnya.
"sayang apa yang kamu lakukan"Rania sontak melepaskan pelukannya dan memegangi leher yang memiliki bekas merah dengan dengan kedua tangan.
"ya ampun mata ku ternodai,nasib ku kenapa seperti ini"jerit Nanda dalam hati sambil menutup sebelah matanya.
"itu agar kamu tidak macam macam di luar sana dan itu sebagai hadiah keberangkatan mu hari ini"ucap Rendy dengan genit sambil mengedipkan sebelah matanya.
"untuk apa aku macam macam kalau suamiku saja sudah setampan ini"gumam Rania yang masih bisa di dengar oleh Rendy.
hatinya langsung berbunga bunga mendengar ungkapan dari istrinya itu.
"kalau begitu aku berangkat"ucap Rania melambaikan tangannya sambil melangkah menjauh.
sesampainya di dalam pesawat Rania langsung meminta bedak kepada Veronica.
"pinjamkan bedak mu sebentar"pinta Rania.
"buat ap.....wow merah sekali lehermu itu Nia"goda Veronica yang baru saja melihat ke Rania.
"cepat berikan jangan banyak bicara"Rania sudah kesal karena godaan dari Dandi ditambah lagi oleh Veronica juga ikut menggoda dirinya.
Brukkk
__ADS_1
seorang pria berbaju layaknya seorang pramugara dijatuhkan oleh Kenan di depan Rania dengan keadaan mata ditutup, mulutnya di tutup mengunakan lakban dan tangan serta kakinya diikat.
"apakah hanya satu orang?"tanya Rania kepada Kenan yang sedang mengambil sebuah senjata pada pria itu.
bukan menjawab dengan perkataan tetapi Kenan menjawab dengan gerakan tubuh yaitu gelengan kepala.
perlu di ingat Rania mengunakan jet pribadi milik Rendy,memang awalnya dia mengunakan pesawat umum tetapi untuk berjaga jaga saja Rendy menyarankan menggunakan jet pribadi miliknya.
"cepat ubah rute penerbangan sekarang juga"ucap Rania dengan nada dingin.
dengan gerakan cepat Rania langsung meraih leher pria yang mengenakan seragam pramugara itu dan langsung merampas kalung miliknya.
kalung itu diberikan kepada Veronica setelah dirinya mematikan alat penyadap suaranya. setelah itu tentu dirinya meminta Veronica untuk mengubah arah lacakan pada alat itu.
terdapat alat pelacak dan penyadap suara pada bandul kalung itu. gerak gerik itu sudah Rania ketahui sejak Rania membicarakan perubahan rute tetapi pria itu tetap tenang dan tidak menunjukkan kerutan di dahinya sebagai ekspresi terkejut.
"tetap pada rute penerbangan awal,bawa dia pergi dari hadapan ku"perintahnya kepada Kenan.
"baik nona"Kenan langsung berlalu pergi dari tempatnya.
setelah melewati perjalanan kurang lebih dua puluh jam perjalanan akhirnya mereka sampai dan sekarang menuju hotel terdekat untuk beristirahat.
saat keluar dari lift sesuatu yang tidak direncanakan terjadi begitu saja.
Bugghh
Bughhh
Bughhh
satu pukulan yang mengenai kepala Rania dan Veronica tidak terelakan dan berujung pingsan.
dua orang pria yang memukul mereka langsung menangkap tubuh mereka yang limbung.
"bawa mereka keluar mengunakan pintu belakang"perintah sang ketua yang baru saja keluar dari salah satu kamar hotel tersebut.
"*kau tidak akan bisa menghindar bahkan lari dariku lari dariku"
tap
tap
__ADS_1
tap*