Diamku Hanyalah Sebuah Topeng

Diamku Hanyalah Sebuah Topeng
bertambah lagi?


__ADS_3

Satu bulan kemudian


Hari hari keduanya berjalan seperti biasa dan di selah itu mencoba memenuhi keinginan anak sulungnya untuk bisa membagi waktu bersama keluarga.


pagi hari di hari yang ribut dalam kediaman Rania dan Rendy karena keributan yang ditimbulkan oleh Rendy sendiri.


sebab sedari pukul dua pagi Rendy sudah mendekam di kamar mandi karena terus saja mengeluarkan isi perutnya.


howeek


"kamu makan apa sampai kayak gini sih mas?"tanya Rania sambil memijat tengkuk suaminya.


"aku ngga makan aneh aneh , kan dari kemarin juga makan bareng kamu sama an....Howeekk...."ucapan Rendy dengan lemas dan tidak selesai karena kembali muntah-muntah.


jalan terakhir adalah memanggil Sasa adiknya sendiri yang berprofesi sebagai seorang dokter.


"semuanya normal kak,dari mulai tekanan darah sampai pemeriksaan menyeluruh semuanya baik"dari hasil pemeriksaan medis yang Sasa lakukan tadi semuanya normal tidak ada gangguan kesehatan.


"menurut mama bagaimana?"tanya Sasa kepada mama Tia. tentu mereka tidak datang sendiri masih ada papa Dian yang menemani mereka karena pagi pagi buta sudah di telpon oleh Rania karena Rendy yang tak kunjung berhenti memuntahkan isi perutnya.


"periksa kakak ipar mu mungkin masalahnya ada padanya"pinta mama Tia kepada anak perempuannya.


"ha? maksudnya ma?"maklum agak loading masih anak gadis.


mama Tia langsung mendekati Rania dan memeriksa denyut nadi.


"sayang coba kamu cek dulu"mama Tia memberikan sebuah testpack kepada Rania,Rania yang tidak mau ambil pusing langsung menuju kamar mandi untuk mencobanya.


"sayang ikut" Rendy pun berlari kecil mengikuti Rania ke dalam kamar mandi. entah kenapa dia tidak bisa jauh dari istrinya rasanya akan mual bila berjauhan lebih dari satu meter saja.


ceklek


pintu terbuka dan arah pandangan tertuju kepada Rania.


"gimana sayang?"tanya mama Tia kepada menantunya itu dengan wajah penuh harapan.


Rania engan mengeluarkan suara langsung memberikan benda tersebut kepada mertuanya.


"positif...pa cucu kita nambah"teriak mama Tia.

__ADS_1


"aku belum menikah kok kamu udah nambah anak sih ay"gerutu Sasa padahal mereka punya impian untuk punya anak yang memiliki umur yang sama.


"mau gimana lagi,kakakmu terlalu over kalau buat"Rania langsung menutup mulutnya karena kelepasan bicara.


"cepatlah menikah dengan Demian mungkin bisa menyusul dengan jarak beberapa bulan saja"sahut Rendy yang merasa Demian sudah masuk semua kriteria.


"gimana mau menikah, papa saja masih sering mengusir kak Ian yang sering datang ke rumah"gerutu Sasa sambil melihat sang papa yang dari tadi tersenyum tanpa dosa.


"perjanjian sudah papa perpanjangan tiga tahun sebagai waktu yang papa minta untuk bersamamu"jawab papa Dian setelah satu tahun perjanjian pertunangan berlangsung. ternyata papa Dian meminta memperpanjang selama tiga tahun untuk menikmati waktu dengan Putri satu satunya sebelum melepaskan pada jenjang pernikahan.


"sudah,ayo kita keluar dulu mungkin lebih nyaman mengobrol di ruang keluarga"mama Tia langsung keluar dari kamar Rendy dan Rania.


mereka memutuskan untuk sarapan bersama dan nanti malam mungkin mengadakan kumpul keluarga untuk merayakan anggota keluarga baru yang akan hadir.


pada siang hari semua penderitaan Rendy mereda , tetapi karena Rania mengantikan suaminya mengurus pekerjaan secara diam diam, saat Rendy beristirahat di kamar anak anaknya. Rania menyegerakan menyelesaikan tugas suaminya yang tertuduh.


tok.


tok


tok


"masuk"


ceklek


"aku tidak sakit Sasa,mengapa kau berada di sini?"Rania balik bertanya.


"aku ingin membantu persiapan untuk nanti malam"jawab Sasa sambil duduk di hadapan Rania.


"apa kamu masih banyak pekerjaan?"Sasa melihat begitu serius Rani melihat laptop miliknya dan juga ada setumpuk berkas di sebelahnya.


"kau bisa lihat sendiri"Rania menjawab tapi tangan dan matanya masih berkutat dengan pekerjaannya.


"makan sianglah terlebih dahulu anakmu juga butuh makan"Sasa tau kalau kakak iparnya itu belum makan karena menunggu suami dan anak anaknya bangun dari pelayan rumahnya.


"sebentar lagi"Rania masih duduk terpaku di kursi kerjanya dengan nyaman.


"ayolah ay,ini sudah lewat jam makan siang dan juga apa kak Rendy tidak melarang untuk bekerja"Sasa terus saja bertanya dan mengomel kepada Rania.

__ADS_1


"berisik,diam... mas Rendy tidak tau kalau aku di sini"sahut Rania dengan cepat.


tok


tok


tok


"nyonya ini saya"ucap kepala pelayan dari luar ruangan milik Rania.


"masuklah"


ceklek


kepala pelayan tersebut langsung membukukan sedikit untuk memberikan sapaan kepada Rania selaku majikannya. baru satu bulan kepala pelayan itu bekerja di kediaman mereka karena Rendy ingin Rania fokus dan urusan rumah di serahkan kepadanya. panggil saja kepala pelayan Tan.


"maaf menganggu, tuan sudah mencari anda sejak keluar dari kamar para tuan muda"lapor kepala pelayan Tan kepada majikannya itu.


"apakah kamu memberitahukan keberadaan ku?"tanya Rania.


"tidak nyonya"jawab kepala pelayan Tan.


"bagus, kamu boleh kembali"sambungnya dan kepala pelayan Tan langsung membungkuk hormat dan Mergi dari ruangan tersebut.


"ayo kita keluar dari sini"pinta Rania sambil mengambil ponsel dan menutup laptop miliknya.


"sayang kamu dari mana saja?"tanya Rendy yang berada di meja makan karena lelah mencari istrinya.


"aku dari taman bersama Sasa"jawab Rania sambil duduk di sebelah kursi suaminya.


"taman? mengapa kamu ke taman? kamu itu sedang hamil jadi harus banyak istirahat dan juga ini kenapa kamu belum makan siang padahal ini sudah hampir jam dua?"omel Rendy yang membuat Sasa yang di depan meja mereka menatap iba ke arah sahabatnya itu.


"maaf...tapi aku hanya ingin ke taman,aku hamil bukan berarti harus di perlakukan seperti orang sakit dan juga aku menunggumu bangun untuk makan bersama ku" jawab Rania sedikit terisak dengan mata yang sedikit berkaca kaca.


"sa...sayang... aku tidak bermaksud untuk memarahi mu, maafkan aku ini juga salahku. jangan menangis ya.."Rendy meraih tubuh Rania dan membawanya ke dekapannya.


"sudahlah aku pulang saja kalau jadi nyamuk di sini"Sasa mulai membuka pembicaraan karena sudah jengah dengan adegan mesra di depannya.


"eh... tunggu dulu, kamu pasti ke sini mau bantu bantu untuk nanti malam kan?"tanya Rendy kepada adiknya dan Sasa hanya mengangguk pelan sedikit was was dengan pertanyaan kakaknya.

__ADS_1


"kebetulan kakak ipar mu sepertinya harus istirahat,jadi kamu saja yang membeli menu apa saja untuk nanti malam"ucap Rendy deng lancar.


"kenapa sial sekali, aku tadi hanya ingin menghindari seseorang dengan alasan membantu tapi malah seperti ini kejadiannya. sungguh kakak yang sangat menyebalkan "gerutu Sasa dalam hati dengan sedikit banyak memaki kakak sulungnya.


__ADS_2