
"Dandi tetap disini,aku akan pulang sendiri"ucap Rania kepada Dandi.saat ini mereka sedang berada di depan rumah sakit.
"baiklah,tapi kau mau pulang naik apa?"tanya Dandi.
"apa aku perintahkan anak buah sedang berjaga di sini untuk mengantar mu?"tanyanya lagi.
"terserah,aku masih ada urusan di sekitar daerah ini.jadi suruh dia untuk menunggu di depan"jawab Rania berlalu meninggalkan Dandi.
"kebiasaan buruknya selalu saja membuatku frustasi,kenapa aku di berikan teman sekaligus bos yang seperti dia?"gumam Dandi melihat punggung Rania yang berlalu menjauh dari pandangannya.
"aku mendengarnya Dandi"suara Rania naik satu oktaf,dandi langsung menepuk jidatnya karena dia lupa bahwa pendengaran Rania sangat tajam meskipun dia bergumam dari kejauhan pasti dia mendengarnya.
"selamat jalan nona"teriak Dandi memberikan jawaban mencari jalan aman.
"mampus,bisa bisa hancur semua besok tulangku"batin Dandi kembali masuk untuk menjaga Luis dan Demian.
...*****...
Rania berjalan menuju ke sebuah tempat yang sudah cukup lama tidak di kunjungi olehnya,karena banyak masalah yang dihadapi beberapa saat belakangan ini.
"kenapa kau baru muncul sekarang, seharusnya sudah dari lama saja kau ku kubur hidup-hidup"ucap Rania kepada seseorang yang baru muncul di depannya.
"oh ayolah aku juga tidak bisa keluar,kau tau kan aku sudah dianggap mati oleh musuh-musuh keluarga Alexander"balas orang itu dengan nada tidak kalah dinginnya dari Rania.
"tapi dirimu harus memimpin kembali karena Demian koma, sedangkan aku tidak bisa membuat lama karena perasaanku belakang ini tidak enak"ucap Rania sambil berjalan meninggalkan orang itu yang masih berdiri di depannya tapi memang tujuannya saat ini bukan orang itu.
"baiklah,tapi izinkan aku membantumu"orang itu berjalan mengikuti langkah kaki Rania.
"tidak perlu, justru aku sudah mempersiapkan rencana agar kau bisa menyerang musuh keluarga mu.temui bawahan ku yang berada di los angeles"jelas Rania yang masih tetap berjalan menuju tempat tujuannya.
"mengapa? kita kan sudah berteman lama bahkan aku sudah mengenalmu lebih lama dari kak Demian dan juga Luis"ucapannya dengan nada sedih.
"baiklah kalau itu mau mu, tolong bantu aku culik kedua anakku"jawab Rania.
"what?kau gila ya kenapa aku harus menculik mereka"pekiknya kaget karena ucapan Rania.orang itu tau Rania punya anak karena mereka berdua adalah orang yang sering memantau satu sama lain.
__ADS_1
"ini adalah cara agar mereka bisa selamat, pergilah lihat keadaan kakak mu kita lanjutkan pembicaraan ini nanti"mereka tidak bisa berbicara hal yang dianggap rahasia di tempat umum,meski memang tempatnya sepi bisa jadi ada seseorang yang mencuri dengar pembicaraan mereka.
mereka akhirnya berjalan memilih jalan berlawanan arah karena tujuan tempat yang berbeda.
"hah!kau tidak berubah sama sekali nona abay"ucap orang itu dalam hati.
...*****...
...*D**ari sekian sumber rasa sakit, kenapa yang berasal dari keluarga paling mengesankan rasa sakitnya....
...Luka yang mereka berikan begitu dalam dan sangatlah membekas....
...keluarga yang harusnya menjadi tempat aku berkeluh kesah kini malah menjadi tempat ditemukanny rasa luka.Karena orang terdekat adalah potensi paling besar untuk melukai kita.karena keluarga yang harusnya tempat buat pulang tapi nyatanya jadi tempat paling tidak nyaman dan menyakitkan*....
...keluarga sendiri bisa menjadi boomerang untuk kita, mereka lah yang pertama kali membuat mental ini menjadi sakit sangat sakit hingga susah disembuhkan....
tok
tok
tok
terlihat seorang wanita cantik berjas putih sedang berdiri didepan rania.mereka terlihat membalas senyum sapaan satu sama lain.
"silakan masuk nona Rania"wanita itu mempersiapkan Rania masuk.
"bagaimana perkembangan penyembuhan anda nona?"tanya wanita tersebut.
"tidak banyak, karena belakangan ini banyak kejadian yang tidak terduga"ucap Rania kepada dokter Vivi seorang psikolog yang direkomendasikan yang direkomendasikan oleh dokter Gery pada saat Rania masuk rumah sakit karena kejadian Rendy menyatakan perasaannya.
Rania sudah dua kali menemuinya tanpa diketahui oleh orang terdekatnya.karena dia selalu membuat janji dengan dokter Vivi malam hari dan dokter Vivi bisa menyanggupi.
selama ini Rania berjuang menghilangkan rasa trauma dalam dirinya demi rendy dan kehidupan normal pada umumnya.dia sudah merasa cukup lelah di hadapan dengan trauma yang selalu menghantui pikiran dan mempengaruhi mentalnya.
mungkin dia terlihat baik baik saja dan profesional di pandangan orang pada umumnya.tapi keadaan hatinya hanya dia yang tau.mungkin dulu dia bisa melawan trauma terhadap lingkungan baru demi karier.tapi trauma tentang keluarga lebih dalam dari itu.
__ADS_1
setelah selesai menemui dokter Vivi Rania langsung bergegas untuk kembali ke rumah sakit.memamg rumah sakit dan rumah dokter Vivi masih satu daerah.
ketika Rania baru sampai di depan rumah sakit dan mencari bawahan yang diperintahkan Dandi untuk mengantarnya pulang.ternyata yang menunggu bukan Anak buahnya melainkan Rendy yang sedang menunggu dirinya.
"kenapa mas rendy ada di sini?"tanya Rania yang baru saja mendekat ke arah rendy dan menetralkan rasa terkejutnya.
"karena aku menghawatirkan kamu sayang"jawab Rendy sambil mendekati Rania lebih dekat hanya berjarak lima centimeter saja.
"mundur"ucap Rania sambil mendorong tubuh Rendy dengan jari telunjuknya.sedangkan Rendy hanya tertawa geli karena perlakuan Rania padanya saat ini.menurutnya mereka jarang bercanda seperti ini.
"kenapa sih yang,kan biasanya bisa sampai peluk"goda Rendy sambil tersenyum jahil kepada Rania.
"apaan sih,udah ayo kembali"ucap Rania menghindar lalu masuk ke dalam mobil untuk kembali ke markas.
selama di perjalanan pulang hanya ada suara deru mesin mobil saja.mereka saling diam tetapi Rendy menggenggam tangan rania.mobil yang digunakan adalah mobil milik Rania yang memang berada di markas.sedangkan di apartemennya hanya ada satu motor sport dan satu motor matic.
"yang,kata anak buah mu ini adalah mobilmu"ucap Rendy membuka suara memecah kesunyian di antara mereka.
"memang benar"jawab Rania.
"malam ini aku butuh semua penjelasan kamu, termasuk tentang dirimu yang tidak aku ketahui.kalau tidak kamu tidak akan bisa tidur sampai pagi"ancam Rendy dengan nada datar.
"hah! iya sayang"jawab Rania dengan spontan.
ciiittttttt
tiba tiba mobil itu diberhentikan oleh Rendy secara mendadak karena jawaban Rania tadi.
"aduh kenapa rem mendadak mas?"tanya Rania.
"maaf maaf ngga sengaja,kamu ngga papa kan?ngga ada yang luka kan?atau lecet?"jawab Rendy tetapi setelah itu muncul kata tanya beruntun darinya.
"aku ngga papa"balas Rania dengan wajah datar.
"Jangan gitu dong wajahnya,aku tadi begitu juga karena kamu bilang sayang"ucap rendy.
__ADS_1
"sudah, jalankan mobilnya"
"iya"