Diamku Hanyalah Sebuah Topeng

Diamku Hanyalah Sebuah Topeng
Manja mode on


__ADS_3

setelah kelakuan panas dan menggairahkan yang mereka lakukan.akhirnya Rania bisa bernafas lega, untung saja tadi Arsene mengetuk pintu kamarnya karena baby rhea menangis tidak berhenti menangis meski diberi susu sekalipun.kalau tidak dia mungkin sudah tidak bisa berjalan karena ulah Rendy.


entah apa yang membuatnya semakin hari semakin agresif terhadap istrinya itu.dia bahkan tidak mau lepas dari istrinya sedetik pun saat ini.


padahal sekarang mereka sedang berada di ruang keluarga menunggu makan malam disiapkan dan menunggu kepulangan Ale dan Ald.


tadinya Rania ingin memasak tetapi tidak diperbolehkan oleh Rendy, bahkan dia mengancam jika masih saja memasak maka Rendy akan selalu mengikutinya terus menerus ketika di dapur.


"mas lepas dulu pelukannya aku mau buatin susu"ujar Rania saat ini Rendy sedang memeluk pinggangnya dengan erat dan meletakan kepalanya di leher jenjang Rania. sedangkan Arsene yang menjaga adik kecilnya yang sedang tidur pun kasian dengan mommynya.


"ngga mau"jawab Rendy dengan nada manja.


"ngga papa mom biar sen aja yang buatin"Arsene yang melihat Rania kesulitan karena Rendy pun bertindak.


"beneran"Arsene mengangguk cepat.


"oke, makasih kakak"


"bagus boy"Arsene pun membalas dengan senyuman.


"Daddy udah besar masih manja"ujar Arsene yang anak menuju dapur untuk membuat susu untuk baby rhea. sedangkan beberapa saat kemudian Rendy terlelap menyusul putranya ke alam mimpi.


"assalamualaikum,Ale yang tampan ini pulang"teriak Ale yang baru saja memasuki kediaman xavion.


"assalamualaikum,ald pulang"ucap Ald dengan nada normal.


perbedaan sifat si kembar lumayan jauh.dari sifat Ale yang pecicilan,rendom dan suka bergaul.hingga sifat Ald yang lebih tenang,pendiam dan suka sunyi.


sedangkan sifat Arsene sebelas dua belas dengan Ald.


kalau tidak ada Ale mungkin hanya ada kesunyian di dalam keluarga es itu.bagaimana tidak di sebut keluarga es orang tua mereka sudah terkenal dingin dan datarnya di luar sana.ditambah Arsene dan juga Ald,kalau baby rhea belum tau.yang tersisa hanyalah Ale yang sangat rendom itu.


"waalaikummussalam,jangan teriak teriak Ale nanti adek bangun"jawab Rania sambil menunjuk baby rhea yang tertidur di keranjang bayi.


"heheh sorry mom"Ale dan Ald langsung mendekati Rania dan mencium pipinya.


"ini kenapa Daddy tidur disini?"tanya Ald.


"lagi manja"jawab Arsene yang baru saja datang dari dapur membuatkan adiknya susu.


"pulang diantar siapa kalian?"tanya Rania kepada anak kembarnya.


"aunty Sasa sama uncle Demian"jawab Ald lalu mencomot cemilan yang berada di meja.

__ADS_1


"makan cemilannya nanti aja,makan dulu"peringat Rania sambil mencoba melepaskan pelukan suaminya.


"emm...jangan dilepas"rengek Rendy sambil mengusap wajahnya di pundak Rania dan semakin mengeratkan pelukannya.


"ih... Daddy lepasin mommy, mommy punya Ald"Ald yang tadi dilarang untuk mengambil cemilan langsung naik ke sofa dan menarik tangan Daddynya agar menjauh dari Rania.


"diam boy... Daddy sedang malas berdebat, kalian selalu memonopoli mommy sekarang giliran Daddy"setelah berkata demikian Rendy kembali ke posisi awal dan memeluk Rania dengan erat.


"nyonya makan malam sudah siap"ucap salah satu pelayan yang bekerja di mansion itu.


"baiklah,kamu boleh kembali"pelayan itu menunduk hormat lalu pergi.


"sayang bangun,ayo makan malam dulu"rania mengusap Surai rambut hitam milik Rendy agar segera bangun.bukan malah bangun Rendy malah semakin nyaman dengan posisi seperti itu yang membuatnya tidak mau beranjak dari posisinya sekarang.


"kalian ke meja makan dulu saja,habis ini mommy menyusul,dan kamu tolong jaga baby rhea"ucapnya kepada ketiga anaknya dan pengasuh si kembar.


"kalau kamu ngga bangun sekarang,nanti tidur di luar mau"bisik Rania dengan penuh ancaman tentu tentang langsung bangun dan membuat matanya lebar-lebar.


"pintar bayi besar"Rendy hanya menatap Rania memelas, karena ancaman yang diberikan istrinya.


...*****...


pagi hari yang sama dengan suasana seperti kemarin, Rendy yang terus saja menempel kepada Rania bahkan dia tidak ingin pergi ke kantor.


hal itu membuat Rania pusing karena ulah Rendy yang terus saja menempel bahkan ke kamar mandi pun dia ikut juga.


"aduh udah dong mas ini sudah hampir Siang,kalau kamu terus seperti ini bagaimana aku mengurus anak anak"omel Rania yang sejak tadi sudah jegah dengan pelukan suaminya yang tidak ingin lepas.


"masih ada yang pengasuh di rumah ini"ucap Rendy dengan entengnya.


"Rendy xavion Rahardian Franziska"meledak sudah arti kesabaran rania.dari tadi pagi hanya mengurus anak anaknya sebentar sebelum berangkat ke sekolah dan baby rhea dititipkan ke pengasuh si kembar.


tok


tok


tok


kemarahan Rania tertunda karena bunyi ketukan pintu dari luar kamarnya.


"ada apa?"tanya Rania dengan nada menahan kesal.


"ma...maaf menganggu waktu nyonya dan tuan,di luar sedang ada tamu datang berkunjung"jawab pelayan itu dengan gugup.

__ADS_1


"baiklah kamu akan turun sepuluh menit lagi" sahut Rania.


"ada apa Kalian datang kemari?"tanya Rania dengan nada datar kepada beberapa orang yang berada di depannya.


"izinkan mereka untuk bertemu anak kembar kakak ku"jawab Dayyan dengan nada hati hati.


ya yang sedang bertamu saat ini adalah keluarga


chandresh.


"apa kalian tidak ingat yang ku ucapkan tempo hari"balas Rania dengan nada dan tatapan semakin mengintimidasi.


"kami hanya ingin melihat mereka sebentar"ucap Andrian sang kepala keluarga chandresh.


"Jika anda mengingat ucapan seharusnya masih tau malu, bicara saja anda seperti tidak memiliki beban pikiran"balas Rania dengan nada menyindir.


"saya mohon, tolong pertemukan saya dengan anak dari Daniel"ucap Rosa istri dari Andrian, yang tentunya ibu dari mendiang Daniel.


"punya hak apa kalian berbicara seperti itu?"tanya Rania.


"tentu kami punya hak karena dia memiliki darah keluarga chandresh meskipun tercampur darah orang rendahan dari ibunya"ucap Andrian tidak tau diri.


"pa.."Dayyan dan Rosa tak habis pikir dengan ucapan Andrian.


sedangkan Rania sudah mengepalkan tangannya hingga terlihat memutih.


"Anda tidak berhak berbicara seperti itu tuan Andrian chandresh"Rendy sudah emosi dengan ucapan Andrian,dia tau pasti istrinya akan meledakkan amarahnya sebentar lagi.


"saya punya hak kalau perlu kita bertemu di pengadilan untuk perebutan hak asuh"jawabannya dengan penuh keyakinan.


"itu tidak akan terjadi, karena mereka sudah tercatat sebagai anak kami"jawaban Rendy tak kalah menantang.


"kalian hanya keluarga jauh sedangkan kami Kakek dan neneknya"Andrian merasa tidak ingin kalah dari Rendy.


"tetapi Anda tidak punya hak,mencari mereka saja anda tidak pernah"sindir Rendy.


"karena kami belum tau hal itu"kilah Andrian dengan wajah gugup.


"tidak tau atau tidak mau tau......."


...*****...


Happy reading

__ADS_1


__ADS_2